Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Kepulangan Jenazah Aksa


__ADS_3

111


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih"


Saat Febi ingin menerus kan perkataan nya, pesanan mereka pun datang.


"Makan lah dulu, nanti saja cerita nya, aku sangat lapar.."Fidy langsung menyantap makanan nya, tanpa mempedulikan Ana, Febi dan dokter Jimmy.


Mereka hanya saling pandang, sampai akhir nya dokter Jimmy memberi kode, untuk segera menyantap makanan mereka.


Mereka pun, makan dalam diam.


Fidy lebih dulu menghabis kan makanan nya, Ana dan Febi pun menghentikan kegiatan makan nya, sedang kan dokter Jimmy, memilih menghabiskan menu makanan nya.


Fidy hanya melirik tajam ke arah piring Ana dan Febi, tapi dia enggan untuk berkomentar.


Sambil menunggu dokter Jimmy menghabiskan makanan nya, Fidy tampak mendapatkan sebuah panggilan.


"Hallo, ada apa..??"


"Oke."


"Urus semua nya.."


Fidy menutup telepon nya, bersamaan dengan selesai nya dokter Jimmy makan.


"Aksa Sakti yang telah membunuh papah ku, agar bisa menikahi mamah ku, dan menguasai semua harta warisan dan perusahaan Angkasa Sakti.."Ucap Fidy, menatap tajam wajah Febi.


Air mata yang di tahan Febi pun, luluh sudah membasahi wajah cantik nya.


Untung mereka, memilih tempat duduk yang letak nya di khusus kan untuk privasi, walau pun ada biaya charge.


Dokter Jimmy, segera menggenggam jemari tangan Febi, sedang kan Ana, menggeser kursi nya lebih dekat ke Febi, dan mengusap air mata Febi dengan tissu.


"Terimakasih kak."Ucap Febi, dengan suara bergetar.


"Aku tidak pernah membenci mu, atau pun Bramantyo, ayah kita memang berbeda, tapi kita terlahir dari rahim yang sama.."Ucap Fidy lagi, dengan tatapan tidak lepas dari Febi.


Febi kembali tidak bisa menahan air mata nya.


"Aku yang akan mengurus kepulangan jenazah nya dan pemakaman nya."Fidy berkata, sambil menatap bergantian Ana dan Febi.


"Kak.."Panggil Febi, menatap lekat Febi.


"Bagaimana pun, papah mu ikut andil dalam merawat dan membesar kan ku.."Fidy berkata lagi, sambil menghela napas.


"Ana, ikut lah pulang dulu dengan Febi dan dokter Jimmy..!!"Perintah Fidy, dengan sorot mata tidak ingin bantahan.


"Tapi.."

__ADS_1


"Tidak perlu khawatir, masalah bu Minah, Laura dan Ayu, aku sudah meminta Robert untuk mengurus nya dulu.."Fidy memotong perkataan Ana.


Ana hanya menatap Fidy, dengan wajah dan tatapan yang cemas.


Fidy kembali menghela napas.


"Soal ginjal, kamu tenang saja, setelah Laura pulih dari operasi nya, kita akan melakukan pemeriksaan ginjal nya,.."Ucap Fidy, sangat tahu apa yang di pikir kan Ana.


Febi pun menghentikan tangis nya, menatap bergantian Fidy dan Ana dengan penuh tanya, begitu juga dokter Jimmy yang mengerut kan kening nya, tidak mengerti apa yang di bicarakan oleh Ana dan Fidy.


"Bagaimana, jika ginjal mereka tidak cocok juga.??"Tanya Ana, dengan suara bergetar, menahan tangis nya.


"Kita akan mencari nya, sampai mendapat kan ginjal yang cocok.."Jawab Fidy, mencoba menyakinkan Ana.


"Tunggu, sebenar nya apa yang kalian bicarakan dan apa yang terjadi..??"Tanya Febi penasaran, kembali menatap bergantian Fidy dan Ana.


Ana tidak menjawab, dia hanya menunduk, sambil menggigit bibir bawah nya, air mata yang di tahan nya, kembali berlinang.


"Kak Ana.."Febi langsung memeluk Ana, yang sedang duduk di samping nya.


"Bu Minah, mengalami gagal ginjal, dan sedang membutuh kan pendonor ginjal.."Jelas Fidy.


Febi dan dokter Jimmy tersentak kaget.


"Aku dan Ana sudah melakukan pemeriksaan, tapi ginjal ku tidak cocok, sedangkan Ana tidak bisa mendonorkan ginjal nya.."Jelas Fidy lagi.


"Sabar dan tenang kak Ana, aku akan membantu mencari pendonor ginjal yang cocok untuk bi Minah.."Febi berkata, sambil mengelus lembut punggung Ana, mencoba menenangkan nya.


"Setelah Laura pulih dari pasca operasi, kami akan mengajukan pengecekan pada ginjal Laura.."Ucap Fidy.


"Semoga ginjal Laura cocok, karena dia adalah anak kandung bi Minah.."Ucap dokter Jimmy, yang di balas anggukan oleh Fidy.


"Kalau cocok, aku juga bersedia mendonorkan ginjal ku untuk bi Minah, karena beliau sudah ku anggap seperti ibu kandung ku sendiri.."Febi berkata, dengan penuh keyakinan.


Seketika, Ana melepaskan tubuh nya dari pelukan Febi, dan menatap nanar Febi.


"T.. terimakasih Feb.."Ana berkata, dengan suara parau, terlihat rasa haru di wajah nya.


"Sama-sama kak, kita ini keluarga, kita akan menghadapi setiap masalah bersama-sama.."Febi berkata, sambil tersenyum menatap Ana.


"Sekali lagi terimakasih Feb.."Ana kembali memeluk Febi.


Fidy dan dokter Jimmy, tersenyum melihat rona kebahagiaan di wajah kedua wanita yang mereka cintai.


"Kita harus segera kembali ke rumah sakit, untuk membawa jenazah papah Aksa.."Ucap Fidy mengingat kan.


Ana dan Febi melepaskan pelukan mereka.


"Terimakasih kak, sudah memangil kembali dengan sebutan papah ."Febi berkata, dengan binar kebahagiaan menatap Fidy.

__ADS_1


"Sudah lah, jangan drama lagi, sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bisa melihat aku bersedih, apa lagi menangis.."Fidy berkata, sambil menggeleng kan kepala nya, dan bangkit dari duduk nya, menuju meja kasir, untuk melakukan pembayaran.


"Ish, laki-laki aneh."Gumam Ana, dengan wajah sedikit cemberut, di sambut gelak tawa oleh Febi dan dokter Jimmy.


"Aneh, tapi selalu membuat rindu kak.."Goda Febi, sambil menyikut pelan lengan Ana.


"Apaan si Feb.."Tanya Ana, dengan wajah memerah.


Febi dan dokter Jimmy kembali tertawa, sedang kan Ana karena malu di goda, dengan wajah semakin memerah dia pun bergegas pergi meninggal kan mereka dan menghampiri Fidy.


Fidy yang sudah selesai melakukan pembayaran, menoleh ke arah Ana yang sudah berada di samping nya, sambil tersenyum, dia langsung merangkul pinggang Ana, dan membawa nya melangkah keluar dari resto.


Ana yang kaget dengan perlakuan Fidy, tidak menolak nya, justru perasaan nyaman dan hangat mengalir di tubuh nya.


"Benar kata Febi, lelaki aneh tapi sangat di rindukan.."Batin Ana, merasa malu pada diri nya sendiri.


"Tuh khan benar.."Febi berkata, sambil tertawa penuh kemenangan, menatap ke arah Ana dan Fidy.


Tapi seketika, tawa nya terhenti, saat merasakan ada tangan kekar yang melingkar di pinggang nya.


Dengan mata melotot, dia menatap wajah lelaki di samping nya.


Dokter Jimmy, hanya nyengir kuda, saat netra mereka bertemu.


Dengan mendengus kesal, Febi melepaskan tangan dokter Jimmy dari pinggang nya, dan dengan langkah lebar, dia bergegas menyusul Fidy dan Ana.


Dokter Jimmy tertawa melihat kelakuan Febi.


"Dasar wanita."Ucap dokter Jimmy pada diri sendiri, sambil menggelengkan kepala nya, dan segera melangkah menyusul mereka.


*********


Setelah mengurus administrasi dan surat-surat, akhir nya jenazah Aksa pun sampai di rumah duka, yang tak lain adalah mansion keluarga Angkasa Sakti.


Fidy, Ana, Febi dan dokter Jimmy pun tiba bersaamaan dengan mobil jenazah, para pegawai mansion, kerabat dekat, dan relasi bisnis menyambut kedatangan mereka, dan mengucapkan bela sungkawa.


Di tengah-tengah para pelayat yang hadir, tiba-tiba sebuah suara yang tak asing, tapi sudah lama sekali tidak mereka dengar, kini berada dekat sekali di telinga mereka.


"Mas Fidy, kak Febi.."


********


Ada yang tahu ga, itu suara siapa..??🤭😁


Apakah ginjal Laura, cocok dengan bi Minah..???


Tunggu bab selanjut nya 🥰


Melimpir ke cerita lain nya👇

__ADS_1




__ADS_2