
Bab 60
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih"
Fidy dan Ana saling menggenggam penuh kehangatan, senyum kebahagiaan sangat terlihat di wajah mereka yang sedang di penuhi oleh bunga-bunga asmara.
Bi Minah dan mang Ujang juga penuh kebahagiaan, tampak mereka saling melempar pandang dan tersenyum, seolah-olah ikut merasakan kebahagiaan tuan dan nyonya mereka.
Saat kebahagiaan sedang melanda hati mereka , tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Fidy.
( Ingat kecelakaan ini belum seberapa..??)
( Kamu pasti mengerti arti semua ini.?? )
( Ingat juga dengan keselamatan wanita yang sekarang berada di samping mu..!!!).
Fidy tidak merespon pesan tersebut, dia berusaha menahan amarah nya, karena ada Ana di samping nya.
Tak lama mobil mereka pun sampai di halaman rumah, bergegas Ana dan mang Ujang, membantu Fidy untuk duduk di kursi roda.
Fidy menolak saat perawat membantu nya, dia hanya ingin Ana yang membantu nya.
"Biar istri saya saja..!!"Ucap Fidy dingin, yang membuat Ana tidak enak hati dengan perawat.
Dokter Alan pun memberikan kode kepada perawat yang bernama suster Eva, yang segera mendapat anggukan dari suster Eva tanda mengerti.
Sesampainya di kamar Fidy, Ana langsung membantu Fidy untuk duduk di ranjang.
"Suster Eva akan mengajari Ana cara membuka dan memasang perban mu Fidy, juga cara mengobati luka-luka mu, serta menjelaskan obat yang harus kamu minum..."Jelas dokter Alan.
"Kalau begitu cepat ajar kan istri ku, karena aku hanya ingin di rawat dengan nya .."Ucap Fidy dingin, tanpa sedikit pun melihat wajah suster Eva.
"Mas..!!"Bentak Ana, dengan perasaan tidak enak.
Fidy membalas bentakan Ana, dengan sebuah senyuman dan tatapan hangat.
Dokter Alan hanya bisa menggelengkan kepala.
"Semoga, kamu orang yang mampu mengubah seorang Fidy menjadi lebih baik Ana.."Ucap dokter Alan dalam hati.
Suster Eva pun mengangguk, dan langsung mengajarkan Ana cara membuka perban, mengobati luka Fidy, dan memasang perban nya kembali.
Serta memberitahu Ana cara minum obat-obatan dan vitamin yang di harus di konsumsi Fidy.
"Om akan kesini setiap hari, untuk mengecek keadaan mu..."Ucap dokter Alan saat suster Eva selesai mengajari Ana.
"Baik om, terimakasih.."Ucap Fidy.
__ADS_1
Dokter Alan mengangguk.
"Kalau begitu, om dan suster Eva pamit dulu..."Ucap dokter Alan lagi.
"Sekali lagi terimakasih dok.."Ucap Ana tersenyum.
"Panggil saja saya om, karena Fidy ini keponakan saya, karena kamu sudah menikah dengan nya, jadi kamu juga keponakan saya.."Dokter Alan berkata sambil melirik Fidy, yang sedang menatap nya tajam.
"B..baik om.."Ucap Ana kaku.
Dokter Alan tersenyum.
"Ana.."Panggil dokter Alan.
"I..iya om.."Jawab Ana gugup.
"Tolong jaga suami mu, om percaya kepada mu.."Ucap dokter Alan menatap bergantian Ana dan Fidy.
Ana terpaku, tidak percaya dengan pendengaran nya, dokter Alan menyuruh nya menjaga seorang Fidy Eka Sakti, apa tidak terbalik.
Sedangkan Fidy menatap Ana, ingin tahu jawaban Ana.
Ana melihat ke arah Fidy, dan netra mereka pun bertemu, tampak senyum simpul menghiasai bibir Ana, yang membuat Fidy ikut menyugingkan senyuman nya.
"Saat ijab qobul dan kata sah di ucap kan, maka saat itu juga kewajiban sebagai suami istri untuk saling menjaga..."Ana berkata dengan tegas, sambil menatap bergantian Fidy dan Dokter Alan, dengan wajah yang di hiasi dengan senyuman.
Fidy dan dokter Alan tersenyum puas dan bahagia mendengar pernyataan Ana, suster Eva pun yang dari tadi menjadi pendengar ikut tersenyum bahagia.
"Syukur lah, ternyata keponakan ku Fidy tidak salah memilih ."Ucap dokter Alan sambil menatap Fidy.
"Jodoh tidak pernah salah memilih, saat kita yakin dengan pilihan kita.."Jawab Fidy, menatap penuh cinta ke arah Ana.
Ana sangat terharu dengan ucapan Fidy, sampai mata nya berkaca-kaca, tidak menyangka ternyata Fidy menikahi nya karena memilih nya, bukan hanya sekedar balas dendam, karena rasa benci masa lalu, yang tidak pernah Ana ketahui penyebab nya sampai sekarang.
"Om percaya dengan ikatan cinta kalian, semoga kekuatan cinta kalian bisa mendinginkan sesuatu yang sudah terbakar panas puluhan tahun yang lalu..."Ucap dokter Alan sambil menepuk pelan pundak Fidy.
"Aamiin, semoga om."Ucap Fidy, walaupun jauh di lubuk hati Fidy tidak begitu yakin, karena ada seseorang yang benar-benar serakah, yang bisa menghalalkan segala cara.
Ana juga meng Aamiin kan dalam hati, walaupun dia tidak tahu dendam apa yang terjadi di masa lalu.
Kalau dulu Ana sangat kepo dengan apa yang terjadi di masa lalu, sehingga dia harus di korbankan, tapi untuk sekarang Ana akan mencari info pelan-pelan. karena dia yakin dengan berjalan nya waktu, semua pasti terungkap.
Tujuan dia sekarang, menjadi istri yang sempurna untuk Fidy dengan keluarga kecil mereka, karena Ana yakin dengan keikhlasan dan kesabaran, yang Maha Kuasa pasti akan memberikan nya selalu kemudahan.
"Baik lah, om harap kalian bisa saling menjaga, om pamit, ayo suster.."Ucap dokter Alan sambil mengajak suster Eva.
"Saya pamit tuan, nyonya.."Suster Eva berkata sambil mengangguk hormat.
__ADS_1
"Sekali lagi terimakasih om, suster.."Ucap Ana sambil mengangguk juga.
"Jika ada apa-apa, jangan sungkan untuk menelpon saya Ana.."Ucap dokter Alan.
"Baik dokter.."Ana berkata sambil mengangguk.
Dokter Alan dan Ana pun melangkah keluar meninggalkan kamar Fidy.
"Kesini lah istri kecil ku.."Perintah Fidy, dengan suara lembut dan tatapan hangat, saat tinggal mereka berdua di kamar.
Dengan tersenyum malu, dan wajah merona merah, Ana pun melangkah mendekati Fidy.
"Duduk lah.."Fidy berkata sambil menepuk kasur, yang berada di depan nya.
Dengan malu Ana pun duduk di kasur yang di tepuk Fidy.
Dan Fidy pun langsung memeluk Ana.
"Terimakasih sayang, kamu sudah menganggap jika pernikahan kita adalah pernikahan yang suci..."Fidy berkata sambil mencium rambut Ana dan semakin mempererat pelukan nya.
"Dari di rumah sakit, saat ijab qobul terucap dari bibir mu, dan di saat itu lah ikatan suci pernikahan kita di mulai.."Jawab Ana.
"Aku pikir, kamu sangat tertekan dengan pernikahan kita...??"Tanya Fidy.
Ana menghela napas, berlahan mengangkat wajahnya menatap Fidy.
"Awal nya aku sangat depresi, sampai aku berpikir untuk bunuh diri, tapi bagaimana pun aku harus berdamai dengan keadaan.."Ucap Ana dengan suara yang mulai parau.
"22 tahun aku merasakan kehidupan yang sempurna, kebahagiaan dan kehangatan selalu aku dapat kan, tapi Allah hanya sekejap memberikan ku ujian, sebagai manusia aku sudah mengeluh, bahkan sampai menyalahkan Sang Pencipta.."Ana berkata dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Maaf kan aku An, aku sudah merebut kebahagiaan mu.."Ucap Fidy dengan suara yang mulai parau juga.
Fidy merasa sangat bersalah dengan Ana, karena sempat berniat untuk membalas dendam dengan menciptakan neraka dunia untuk nya.
Tapi besar nya cinta dan kasih nya kepada Ana, mampu mengalahkan kebencian yang sudah di tanam kan Aksa selama puluhan tahun.
"Jangan menyalahkan diri mu sendiri, bukan nya tadi mas bilang, jika jodoh tidak pernah salah memilih, dan aku yakin mas jodoh yang sudah di pilih kan untuk ku, walaupun berawal dari proses yang menyakitkan.."Ana berkata sambil menatap nanar Fidy, buliran bening pyn meluncur di wajah cantik Ana.
"Terimakasih sayang..:"Fidy berkata sambil mencium tangan Ana dan mengusap air mata nya, kemudian semakin memeluk Ana dengan erat.
*************
Apakah Fidy dan Ana akan menemukan kebahagiaan...??
Ada yang mau nebak ga.??
Kalau ada komen ya..
__ADS_1
Jangan lupa mampir novel author yang sudah tamat