
Bab 22
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
Di sebuah lorong yang gelap,,Ana merasakan diri nya seperti melayang berjalan di atas lantai yang sangat dingin,, suasana yang terasa sepi dan sunyi begitu mencekam.
Di tengah ketakutan nya,Ana seperti mendengar suara seorang meminta tolong dan ampun,, dengan mengumpulkan segenap keberanian nya Ana melangkah kan kaki nya menuju ke arah suara itu.
Ketika dia sampai di lorong yang jauh lebih gelap dan sempit,, teriakan wanita itu semakin terlihat jelas tapi semakin melemah.
Ana mencoba mendekati arah suara itu,betapa terkejutnya Ana, dengan mata nya membulat sempurna dan merasakan jantungnya berdetak kencang,tubuh nya lemas bagai tak bertulang,, keringat dingin dan ketakutan menyelimuti diri nya.
Seorang wanita cantik tampak tak berdaya di bawah siksaan seorang pria yang bertubuh tinggi besar,wanita itu sudah sangat terlihat lemah.
"Ampun.."Ucap wanita itu begitu lirih dan menyayat hati.
Tiba-tiba Ana merasakan sakit sekali hati dan seluruh tubuh nya, seperti merasakan apa yang wanita itu rasakan,tanpa di sadari nya dia menangis terisak.
Sampai akhirnya wanita itu menatap Ana dengan tatapan yang penuh kesedihan,Ana mencoba berani menatap balik wanita itu,,betapa terkejutnya Ana,wajah wanita itu sangat mirip sekali dengan nya.
Ana menggelengkan kepalanya tak percaya,,sambil menutup mulut dan memundurkan tubuhnya.
Tatapan wanita itu semakin sedih,,dan dari tatapan dan wajah nya memberi isyarat jika Ana harus segera pergi dari tempat itu.
Saat itu juga lelaki bertubuh tinggi besar itu, membalikkan tubuh nya menghadap Ana,dan seketika Ana merasakan tenggorokan nya seperti tercekik,kaki nya menjadi lemas tidak bisa di gerakkan.
Lelaki itu menghampiri Ana dan langsung mencekik leher Ana,,antara hidup dan mati Ana terus meronta,, samar-samar dia melihat wanita yang tadi terkulai tak berdaya menghampiri lelaki itu dengan membawa sebuah balok.
Bug
Dengan tenaga yang tersisa,,wanita itu dengan sekuat tenaga memukul kepala dan punggung lelaki itu sehingga Lelaki itu tersungkur tak sadarkan diri,, tubuh Ana pun terhempas ke lantai,Ana langsung terbatuk-batuk dan berusaha mengambil oksigen sebanyak mungkin di lorong pengap itu.
"Lari,, cepat lari.."Perintah wanita itu dengan suara lemah nya.
Ana pun tersadar dan menatap wanita itu, bagaikan menatap diri nya sendiri.
"Lari lah,cepat pergi dari sini nak.."Ucap wanita itu lagi dengan air mata yang sudah mengalir membasahi pipi nya.
Tiba-tiba terdengar banyak derap kaki yang mendekat ke arah mereka.
__ADS_1
"Lari,, selamat kan diri mu.."Ucap wanita itu dengan penuh penekanan,, tatapan penuh kesedihan dan air mata yang terus mengalir.
Suara derap kaki itu semakin terdengar,Ana pun bangkit dengan mengumpulkan tenaga,,dia kembali menatap wanita yang seperti kembaran bagi nya,,duduk bersimpuh di samping lelaki bertubuh besar itu yang sudah terkapar tak berdaya, dengan darah yang mengalir dari belakang kepala nya.
Ana langsung bangkit, dengan langkah seribu ,Ana terus berlari melewati lorong-lorong sempit itu tanpa menengok kembali ke belakang.
Ana terus berlari sampai menemukan sebuah pintu yang tampak cahaya di luar nya,tanpa ragu Ana membuka pintu tersebut,dan seketika cahaya terang pun menerobos masuk ke dalam lorong.
Tiba-tiba terdengar kembali suara banyak nya derap kaki yang mendekati nya,,Ana pun terlihat panik.
Di tengah kepanikan nya,Ana merasakan tangan kanan dan kiri nya ada yang menggenggam lembut,,belum sempat Ana melihat dua tangan siapa yang menggenggam tangan nya.
Kedua tangan itu langsung menarik lembut Ana membawa nya berlari meninggalkan lorong itu,,yang Ana ingat kedua tangan itu adalah milik dari dua sosok laki-laki yang tidak asing di mata Ana, walaupun dia hanya bisa melihat punggung mereka.
Ana seketika terlonjak kaget dengan napas terengah-engah,, buliran-buliran keringat membasahi dahi nya.
"Ternyata hanya mimpi.."Gumam Ana sambil mengelus dada nya saat menyadari bahwa diri nya berada di dalam kamar rumah Fidy.
Ana merasakan kering di tenggorokan nya,,rasa haus benar melanda nya.
Ana pun turun di ranjang dan memeriksa air di kamar nya, ternyata habis,Ana pun segera bergegas keluar dari kamar menuju arah dapur.
Ana memindai keadaan sekeliling, terlihat sangat sepi.
Karena rasa haus yang sudah tidak bisa di tahan,Ana langsung bergegas ke arah dapur, langsung mengisi gelas nya dengan air putih,Ana meneguk nya sampai tandas, kemudian menuang kembali air putih ke dalam gelas nya.
Ana pun menarik kursi di dapur,dan segera menghempaskan pantat nya,sambil menaruh gelas di meja yang berada di depan nya.
Ana menarik napas dan membuangnya berlahan.
"Kenapa mimpi itu seperti nyata??Ucap Ana Sambil memejamkan mata.
"Siapa orang-orang yang hadir dalam mimpi ku tadi..?"Tanya Ana lagi.
Saat Ana sedang melamun memikirkan mimpi nya,, tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundak nya.
Ana pun terlonjak kaget,dan mata nya segera melihat siapa yang sudah menyentuh pundak nya.
"B..bi Minah,,bikin kaget saja.."Ana berkata sambil menyeka keringat di dahi nya.
__ADS_1
"Nyonya melamun ya..-??"Ucap bi Minah sambil tersenyum.
"Ng..engga kok bi,,tadi hanya pusing saja.."Elak Ana.
"Tapi tadi bibi panggil-panggil Nyonya,tapi Nyonya diam saja..."Ucap bi Minah.
"Apa Nyonya sakit,,biar bibi hubungi tuan Fidy..??"Tanya bi Minah dengan wajah cemas.
"Tidak perlu bi,saya baik-baik saja,hanya pusing sedikit.."Ucap Ana.
"Mungkin Nyonya masuk angin,, nanti setelah makan bibi buatkan susu jahe hangat.."Bi Minah berkata sambil mencuci sayuran di westafel.
"Terimakasih bi.."Ucap Ana sambil tersenyum.
"Oh ya bi,,apa tuan Fidy tidak kesini..?"Tanya Ana.
Bi Minah yang sedang mencuci sayuran senyum-senyum sendiri.
"Apa Nyonya merindukan tuan...?Tanya bi Minah,,masih saja tersenyum menatap Ana.
Wajah Ana pun memerah.
"Iya kenapa aku menanyakan dia ya..??Tanya Ana dalam hati
"Seharusnya aku bahagia tidak bertemu dengan lelaki arogan seperti dia.."Gumam Ana dalam hati.
"Tuan sedang mengurus sesuatu yang penting Nyonya.."Ucap bi Minah sambil menyiapkan masakan nya.
"Tuan juga berpesan,,Jika Nyonya menginginkan sesuatu tinggal bilang saja sama.."Lanjut bi Minah.
"Ternyata Fidy sangat dekat dan percaya dengan bi Minah.."Ucap Ana dalam hati.
"Bibi yang sudah merawat tuan Fidy dari kecil,, dan yang merawat ibu tuan Fidy saat beliau sakit parah.."Bi Minah berkata sambil menutup mulut nya.
**********
Masih banyak rahasia yang belum terungkap ya.
Ikuti terus di setiap bab nya.
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke novel pertama author yang hampir tamat.