Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Kenangan tentang Satria


__ADS_3

Bab 75


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "


Setelah selesai makan, Ana merasa tubuh nya lebih enak, sesaat dia mengamati kondisi kamar yang sedang di tempati nya.


"Seperti nya ini bukan rumah dia..??"Tanya Ana pada diri sendiri, ketika dia mengedarkan pandangan nya ke setiap sudut kamar.


Tampak ruangan kamar yang tidak besar, dengan cat putih yang telihat pudar, yang di sudut nya terdapat lemari kecil.


Mata nya terpaku pada sebuah meja belajar, tampak ada tumpukan buku, beberapa tas dan lampu belajar, dengan dua figura yang terpampang rapi di meja belajar


Ana pun langsung menurunkan kaki nya dari ranjang, dia menyipitkan mata nya, mengamati sebuah benda yang berada di meja belajar.


Benda yang tidak asing bagi nya, Ana menyentuh semua buku-buku di meja, seketika dia merasakan mata nya mulai memanas.


Buku-buku ini adalah buku-buku kepunyaan nya, Ana sangat mengenali nya, karena di setiap buku ada sticker huruf berinisial S&A, yang arti nya Satria&Ana.


Cairan hangat pun langsung menetes dan membasahi wajah cantik nya, buku harian nya juga terlihat masih rapi, begitu juga dengan tas-tas nya, Ana menyentuh nya, terdengar suara tangisan Ana yang mulai terisak.


Ana pun menatap lampu belajar yang berbentuk bola dunia, jika bersinar begitu indah, dia pun mencoba menyalakan nya, tampak gambar di bola dunia itu benar-benar begitu indah, dari keindahan nya tampak foto nya bersama Satria yang di ikuti oleh lambang love muncul bergantian dengan gambar peta dunia.


Di sela isak tangis nya, Ana tersenyum teringat saat Satria memesan sepasang lampu belajar yang unik, saat merayakan hari jadi mereka yang ke 10 tahun.


"Satu untuk mu, dan satu untuk ku.."Ucap Satria kala itu.


Dia pun beralih ke sebuah bingkai foto, di mana dia dan Satria sedang mencapai puncak gunung, setelah pendakian yang penuh suka duka.


Dengan senyum dan air mata yang menetes, Ana membelai lembut bingkai foto itu, dan saat menaruh bingkai foto itu, Ana terpaku dengan salah satu figura foto yang cukup besar di atas meja belajar nya yang tertempel di sebelah jam dinding.


Ana pun memperhatikan figura itu, dan isakan nya kembali terdengar, berlahan dia naik ke atas kursi untuk mengambil figura yang menempel di dinding yang cukup tinggi.


Sesaat dengan buliran air mata, sambil duduk dan menatap figura itu, terpampang foto nya bersama Satria sedang tersenyum bahagia, memakai baju kebesaran mereka saat wisuda.


Terlihat senyum yang sangat bahagia, tapi ternyata itu senyum kebahagiaan terakhir mereka bersama.


Sambil menangis haru, dia msngusap lembut figura itu, sesaat dia tertegun mengingat sesuatu.


"Seperti nya foto-foto saat wisuda itu, masih tersimpan rapi di galery ponsel ku.."Gumam Ana sambil mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu, dan mengingat di mana ponsel yang beberapa bulan ini di lupakan nya.


"Aku belum sempat mencetak nya, apa lagi membelikan nya bingkai.."Gumam Ana lagi masih terus mengingat.

__ADS_1


"Apakah Satria yang sudah mencetak nya..???"Atau mereka..??"Tanya Ana pada diri sendiri.


Ana menghela napas, mengusap pelan air mata nya, dia pun mendekatkan bingkai nya di dada nya, dan memeluk nya erat, seolah-olah Satria lah yang sedang di peluk nya, sesaat dia melupakan hadir nya Fidy sebagai suami nya.


Di tengah air mata nya, Ana tersenyum bahagia, walaupun kenyataan nya dada nya begitu sesak.


Berlahan Ana kembali berdiri di bangku, dan meletakkan figura itu ke tempat nya semula.


Sesaat Ana menatap figura itu kembali, menatap laki-laki yang sedang menggandeng mesra diri nya, dengan senyum bahagia di antara mereka.


"Apa kabar mu Sat..??"Aku sangat merindukanmu.."Ucap Ana lirih, sambil membelai lembut wajah Satria di dalam foto.


Kembali buliran bening pun, terjun bebas tanpa bisa di tahan ke pipi mulus nya, sambil menggigit bibir bawah nya, berlahan Ana turun dari kursi.


Ana pun berjalan menuju lemari baju yang sederhana, berlahan membuka nya.


Sontak dia pun langsung terkejut, pakaian nya tertata rapi di sana, walaupun tidak semua pakaian yang dulu ada di sana, karena ukuran lemari ini terlalu kecil untuk menampung pakaian Ana dulu yang sangat banyak.


tiba-tiba mata Ana terpaku pada satu kotak yang lumayan besar di tempat paling bawah lemari, Ana pun segera mengambil kotak itu, dan membawa nya ke meja belajar.


Dengan hati-hati kotak itu di buka nya, Ana kembali terkejut dengan isi kotak itu, barang-barang pemberian Satria beserta album kenangan mereka.


Satria adalah lelaki yang romantis, jika ada sesuatu yang unik dan lucu menurut nya, di setiap waktu terutama di hari ulang tahun dan hari jadi mereka, Satria pasti akan memberi nya untuk Ana.


Kadang Satria tidak segan untuk menabung kan uang nya, untuk memberikan barang branded sebagai kado ulang tahun Ana.


Tapi justru itu tidak membuat Ana merasa tidak nyaman, bagi nya apa pun yang di berikan Satria untuk nya, walaupun barang yang sangat sederhana, tapi mempunyai ke istimewaan di hati nya.


Kembali tangisan Ana pecah, kali ini dia tidak bisa lagi menahan sakit dan sesak di dada nya.


Hampir 15 menit Ana larut dalam tangisan nya, sampai Ana sadar sesuatu.


"Sebenarnya ini rumah siapa..???"Kenapa isi kamar ini seolah-olah kamar ku..??"Tanya Ana sendiri, setelah diri nya lebih tenang.


"Satria..."Gumam Ana lirih


"Apa ini rumah Satria..??"Apa setelah kejadian makan malam itu mereka pindah ke rumah ini..??"Tanya Ana lagi pada diri sendiri, dan mencoba untuk mencari jawaban.


"Tapi tadi yang mengantar sarapan.."Ucap Ana menggantung.


Ana pun segera bangkit dari duduk nya, dengan hati-hati menaruh kotak yang isi nya seribu kenangan bersama Satria itu ke tempat semula.

__ADS_1


Dia pun menghapus air mata nya, sedikit merapikan penampilan nya.


Ana ingin segera melangkah kan kaki nya keluar dari kamar, ingin tahu apa yang sudah terjadi, dan di mana dia berada.


Tidak lupa, Ana pun keluar, sambil membawa nampan bekas dia makan.


Saat keluar dari kamar, Ana menatap keadaan sekeliling, rumah yang sangat sederhana dengan cat yang sudah mulai pudar , jauh sekali dari kata mewah, Ana berniat untuk segera ke dapur.


Lagi-lagi Ana menatap terpaku pada figura besar yang terpasang di dinding ruang tamu.


Tampak di figura itu senyum kebahagiaan menghiasai wajah Ana bersama kedua orang yang telah membesarkan nya.


Kembali mata Ana terasa panas, buliran bening itu pun terjun bebas kembali di wajah nya.


"Kenapa mereka bisa tinggal di rumah ssperti ini...???"Gumam Ana, sambil menyeka air mata.


Ana pun segera melangkah ke arah yang di yakini nya sebagai dapur.


Tapi saat Ana melewati satu kamar, tampak terdengar isak tangis yang menyayat hati, Ana pun mengurungkan niat nya mencari dapur, dia pun meletakkan nya di meja di sekitar tempat itu.


Dengan rasa penasaran, Ana mendekati kamar itu, isak tangis terdengar jelas, saat dia mendekati pintu, ternyata pintu tidak di kunci, bahkan agak terbuka sedikit.


Ana pun segera mengintip, dan........


*********


Dan apa ayo...????


Kepo ya 😁


Maaf ya untuk beberapa bab kita menceritakan tentang keadaan Ana dulu, setelah penculikan di rumah Fidy.


Untuk kematian dokter Aryo, akan di cerita kan di bab setelah nya.


Tentu saja bab hadir nya Satria yang sudah di tunggu-tunggu oleh kalian 😊😊


Maka nya jangan lewat kan setiap bab nya.


Jangan lupa untuk membaca novel yang bikin kepo satu ini 👇


__ADS_1


__ADS_2