
Bab 98
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
Sebelum nya author mohon maaf jika cerita di novel ini, banyak teka-teki, dan bikin pusing yang baca, sebisa mungkin walaupun cerita nya penuh rahasia, tapi author akan membuat cerita ini semenarik mungkin.βΊοΈβΊοΈ
Karena Ide cerita itu akan muncul sendiri, saat author mulai mengetik satu tulisan.π
Terimakasih banyak yang selalu setia membaca, memberi like, komentar dan dukungan nya pada setiap karya author π₯°ππ
********************
Akhhhh..
Sebuah suara jeritan, membuat semua orang terkejut, dan menoleh ke sumber suara.
Terlihat Aksa memegang perut nya, sebuah belati tajam menancap sempurna di sana.
"Pahhh..."Pekik Laura panik, dia pun langsung berlari menghampiri tubuh Aksa
Terlihat cairan merah keluar dari perut nya, dia mengerang kesakitan sambil memegangi perut nya, dengan sigap para bodyguard langsung membawa Aksa ke rumah sakit.
"Ana, urusan kita belum selesai..!!"Teriak Laura lagi, sambil bergegas mengikuti para bodyguard yang langsung membawa tubuh Aksa menuju mobil.
Ana tidak merespon teriakan dan ancaman Laura, dia hanya diam mematung tak percaya dengan aoa yang baru saja terjadi.
Sedang kan wanita setengah baya itu hanya diam saja, saat polisi meringkus nya, tatapan nya terlihat kosong.
Semua orang tersentak kaget, menatap tak percaya dengan apa yang baru saja di lakukan oleh wanita setengah baya itu terhadap Aksa.
Di tempat umum, banyak orang, bahkan ada empat orang dari pihak kepolisian, tapi wanita setengah baya itu yang tak lain bi Minah, dengan nekat menghujam kan belati nya ke perut Aksa.
Ketika semua orang fokus dengan pertengkaran Fidy dan Laura, di situ lah bi Minah mendapat kesempatan untuk mendekati Aksa, dengan belati pemberian Ayu, saat mereka menangis sambil berpelukan, di samping makam Wira.
Dan saat itu Aksa dan kedua bodyguard nya, sedang fokus dengan Fidy, Ana dan Laura.
Karena semua sedang lengah, dan bi Minah merasa jika itu kesempatan emas, untuk menghabisi Aksa.
Terlalu banyak derita yang dan air mata yang di berikan Aksa kepada nya, dan orang-orang terkasih nya.
"Bi Minah..!!"Ucap Ana dan Febi bersamaan, mereka benar-benar tidak percaya, dengan apa yang baru saja terjadi.
Bi Minah, yang di kenal mereka wanita yang lembut dan keibuan, bisa berbuat senekat ini.
Apa lagi Febi, dia sudah mengenal bi Minah dari usia nya 12 tahun, bahkan sudah di anggap sebagai ibu kandung nya sendiri.
"Ibuuuuu...!!"Jerit Ayu, langsung menubruk tubuh bi Minah, dengan kedua tangan yang sudah di borgol.
"Maaf kan ibu nak, jaga diri mu baik-baik, semoga nyawa lelaki tua kepar*t tu tidak tertolong.."Ucap bi Minah lirih, menatap sendu ke arah wajah cantik Ayu.
Ayu menangis terisak, dalam pelukan bi Minah.
"Maaf, kami harus membawa tersangka ke kantor polisi.."Ucap salah satu petugas kepolisian.
"Ibu harus segera pergi sayang.."Bi Minah berkata dengan suara parau, dan melepas kan pelukan Ayu, dengan cara mendorong tubuh Ayu dengan kedua tangan yang sudah di borgol.
__ADS_1
Seketika tubuh Ayu terdorong menjauh dari bi Minah, dia menangis, sambil menggigit bibir nya.
Bi Minah menatap nanar ke arah Fidy, dan Ana saat sebelum tubuh nya di giring oleh petugas polisi.
Ayu terisak, meratapi langkah bi Minah yang masuk ke dalam mobil polisi.
Ayu semakin meraung, tat kala mobil dengan sirene yang khas, dan pergi meninggalkan area pemakaman.
Ana langsung menghampiri Ayu, dan memeluk nya, mencoba untuk menenang kan nya, tanpa bertanya sedikit apa pun.
Ayu terisak di pelukan Ana, seolah menuang kan semua kesedihan yang sedang menghimpit dada nya.
"Kak Ana, benar-benar wanita yang luar biasa..."Gumam Febi, menatap kagum ke arah Ana yang sedang memeluk Ayu.
Ana terlihat seperti seorang kakak bagi Ayu, dengan lembut dia mengelus punggung Ayu.
"Tidak salah, jika aku jatuh cinta kepada nya.."Ucap Fidy yang sudah berada di samping Febi.
Febi tersentak kaget, kemudian dia menoleh ke arah Fidy yang sudah berada di samping nya.
"Terimakasih, sudah memberikan seorang kakak ipar yang tepat pada ku..."Jawab Febi, sambil menyunggingkan senyuman, dengan kembali menatap ke arah Ana.
Senyum mengembang di bibir Fidy, dia pun melangkah kan kaki nya mendekati sang istri.
"Sayang.."Panggil Fidy lembut di samping Ana, sambil merangkul pundak Ana.
"Mas.."Jawab Ana dengan suara parau, tampak ikut merasakan kesedihan Ayu.
Ana yang sedang fokus, dan merasakan kepedihan Ayu pun, agak terkejut ketika Fidy sudah berada di samping nya.
Tapi saat Fidy ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba dua orang petugas polisi menghampiri mereka.
"Baik pak, kami akan segera ke kantor polisi.."Jawab Fidy, sambil mengangguk.
Fidy menatap Ana, dan Ana pun mengerti.
"Ayu, kita akan ke kantor polisi untuk di mintai kesaksian.."Ucap Ana lembut, dengan tatapan hangat dan teduh.
"T..t-tapi.."Ucap Ayu ragu.
Ana tersenyum.
"Tidak perlu takut, kami juga akan di periksa sebagai saksi.."Ana berkata, sambil mengelus lembut pundak Ayu.
Ayu berpikir sebentar, kemudian mengangguk.
"Terimakasih nyonya.."Ucap Ayu lirih, sambil menyeka air mata nya.
"Tidak perlu ber terimakasih, aku yang seharus berterimakasih kepada mu, karena kamu pernah menjaga dan melayani ku .."Ucap Ana, sambil tersenyum.
Apa yang di lakukan Ana, membuat Fidy terpesona.
Fidy pun semakin erat merangkul pundak Ana, berlahan dia mencium pucuk kepala Ana.
Ana hanya melotot menoleh ke arah Fidy, dia sangat malu.
__ADS_1
Fidy pun tersenyum nakal, Ana hanya menggeleng kan kepala nya, melihat sikap suami nya seperti anak kecil.
"Aku akan menyewa kan seorang pengacara yang bagus, untuk mendampingi bi Minah.."Ucap Fidy tegas.
Fidy akan bersikap tegas dan dingin, saat bersama siapa saja, kecuali dengan Ana.
"Jadi aku harap kamu dan bi Minah bisa berkata, dengan jujur.."Fidy berkata, dengan tatapan elang nya.
"Iya tuan.."Ayu berkata sambil mengangguk dan menunduk, tidak berani menatap mata Fidy yang begitu tajam.
"Kita berangkat sekarang sayang.."Fidy membawa Ana, untuk melangkah pergi, tapi Ana menahan nya.
"Ayo, Ayu kita pergi bersama ke kantor polisi.."Ucap Ana lembut, sambil memeluk lengan Ayu.
Ayu hanya mengangguk, dengan wajah yang masih menunduk.
Fidy menghela napas, berlahan melepas kan rangkulan nya dari pundak Ana.
"Apa kamu mau ikut ke kantor polisi Feb..??"Tanya Fidy, menatap Febi yang hanya diam.
"Sebenar nya, aku ingin sekali ikut ke kantor polisi.."Febi berkata, dengan wajah sendu.
Fidy dan Ana menatap Febi, sambil mengerut kan kening mereka.
"Tapi, aku ga tega lihat bi Minah, dan aku juga pusing dengan apa yang sudah terjadi.."Ucap Febi, dengan bola mata yang sudah mulai berembun.
Fidy kembali menghela napas.
"Pulang lah dengan mang Ujang, tidak perlu memaksa kan diri.."Perintah Fidy.
"Kalau aku di antar mang Ujang, kalian naik apa ke kantor polisi..??"Tanya Febi, dengan wajah yang masih terlihat murung.
"Ambulance.."Jawab Fidy santai.
Hah..
Ana dan Febi, hanya menatap Fidy keheranan, tidak percaya dengan ucapan nya, Ayu yang dari tadi menunduk pun mengangkat wajah nya, mencoba berani menatap ke arah Fidy.
"Dasar wanita, mudah banget di bohongin."Ucap Fidy santai, sambil tersenyum smirk dan menggeleng kan kepala nya.
"Aku sudah menghubungi supir kantor, sebentar lagi sampai, karena aku melihat wajah mu yang kelelahan.."Ucap Fidy lagi, sambil menatap Febi.
Febi pun tersenyum bahagia, karena kakak laki-laki yang selama ini di anggap nya terlalu dingin dan cuek, ternyata begitu memperhatikan nya.
"Terimakasih kak Ana, yang sudah bisa merubah kakak ku, tetap lah selalu berada di samping nya...."Ucap Febi dalam hati, dengan raut kebahagiaan.
**************
Maaf ya cerita nya di gantung.
Bab selanjut nya, kita akan menceritakan rahasia besar antara bi Minah, Ayu dan almarhum Wira, dan hubungan apa mereka dengan Aksa..?
Jadi jangan melangkah pergi ya meninggal kan author.
Tidak bosan, auhor terus promosiin nie dua novel hasil karya sendiri, yang cerita nya tidak kalah seruπππ
__ADS_1