Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
I Miss You Mom


__ADS_3

Bab 87


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "


Akhir nya Fidy mengikuti kemauan Ana, pengobatan dan perawatan Rima di lakukan di rumah Fidy.


Paviliun yang di tinggali mang Ujang, kini di pergunakan untuk tempat istirahat dan pengobatan Rima, dengan memperkerjakan dua orang perawat, dan meminta bantuan penjagaan dari aparat kepolisian, mengingat jika nyawa Ana dan Rima kini menjadi incaran.


Sedangkan Fidy kembali dengan rutinitas nya mengurus perusahaan, sekaligus tetap memantau penyelidikan atas kasus kematian Adrian.


Seminggu sudah Rima di rawat di rumah, dokter Efendi setiap hari datang untuk mengecek perkembangan psikologis Rima


Ana pun dengan penuh perhatian dan kasih sayang ikut membantu merawat mengurus Rima.


Emosi Rima sudah bisa di kendalikan, dia sudah tidak berteriak lagi, tapi sekarang Rima hanya diam saja pandangan nya kosong, kadang dia menangis tersenyum, dan tertawa sendiri.


Dada Ana terasa sangat sesak, melihat keadaan wanita yang sudah merawat nya, hati nya lebih sakit sekarang, dari pada saat dia harus menerima kenyataan, jika wanita yang tak berdaya di depan nya ini, bukan mamah kandung nya.


Hampir setahun mereka terpisah, dan di pertemukan kembali dengan keadaan mereka yang memperihatinkan, tapi hati Ana terasa sangat bahagia, bisa bertemu dan berkumpul kembali dengan kedua orang yang sudah menyayangi dan merawat nya dari bayi.


Tapi kenyataannya kebahagiaan itu terenggut kembali, Ana tidak menyangka keadaan papah nya yang sudah tak berdaya, justru dengan tega di habisi nyawa nya, dan kini mamah nya harus mengalami depresi, karena sangat terpukul dan syock dengan kematian papah nya, air mata pun langsung mengalir membasahi wajah nya.


Ana menghapus air mata nya dengan telapak tangan nya, dia pun melangkah mendekati Rima, yang saat itu sangat susah di beri makan oleh perawat.


"Suster, biar saya saja yang menyuapi mamah.."Ana berkata dengan lembut, saat sudah berada di samping perawat.


"Silahkan, nyonya.."Ucap suster yang bernama Nur, sambil menyerahkan piring yang berisi nasi beserta lauk nya.


Ana tersenyum dan menerima piring dari suster Nur.


"Saya permisi ke kamar mandi sebentar nyonya.."Ucap suster Nur, yang di balas anggukan oleh Ana.


Sepeninggal suster Nur, Ana pun duduk di depan Rima, yang hanya diam membisu, dengan tatapan kosong ke depan.


"Selamat siang mamah ku yang cantik, kita makan siang dulu yuk.."Ucap Ana tersenyum, sambil membelai wajah Rima, dan menatap nya dengan hangat.


Ana segera mengambil sesendok nasi beserta lauk nya.


"Ayo mah, di buka mulut nya..."Ana berkata sambil memberikan satu suapan ke mulut Rima.


Rima yang menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong, berlahan mata nya menatap wajah Ana yang ada di hadapan nya.


Tatapan nanar dengan wajah yang sendu, Ana membalas tatapan Rima dengan senyuman hangat, padahal hati Ana sedang menangis melihat keadaan wanita yang di kasihi nya.


"Mamah makan ya biar sehat, di buka mulut nya..."Ana mengulangi ucapan nya, sambil mendekat kan sendok ke mulut Rima.


Berlahan Rima membuka mulut nya, dan satu sendok nasi berhasil masuk mengisi perut Rima.


Suapan demi suapan pun di terima Rima tanpa penolakan, Ana tersenyum sangat bahagia, apa lagi dia menyuapi Rima sambil bercerita tentang masa lalu mereka yang penuh kebahagiaan.


Akhir nya sepiring nasi pun habis tanpa sisa, Ana pun tersenyum puas, dia pun memberikan Rima segelas air minum, dengan lembut dia mengelap bibir Rima, mencium pipi nya dengan penuh kasih sayang.


"Ana sayang banget sama mamah..."Bisik Ana lembut, di telinga Rima.


"Kita akan selalu bersama apa pun yang terjadi..."Bisik Ana lagi.

__ADS_1


Rima tidak menjawab, dia hanya menatap Ana dengan mata berkaca-kaca, buliran bening pun jatuh ke wajah Rima yang pucat.


"Hai, kenapa mamah menangis...??"Tanya Ana, sambil menghapus air mata Rima.


"M.. maaf..."Rima berkata, dengan air mata yang mengalir deras di wajah nya.


Sejak berhenti berteriak histeris, baru kali ini Rima berbicara lagi, tentu saja membuat Ana sangat bahagia.


"Ana yang minta maaf mah.."Ana berkata dengan sekuat hati, menahan agar air mata nya jangan sampai mengalir.


Dia menatap sendu wajah Rima yang kini sedang menatap nya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Maaf kan Ana, belum bisa menjadi anak yang berbakti kepada kalian..."Ucap Ana lagi, dia membelai wajah dan rambut Rima.


Rima tidak menjawab, dia hanya kembali menatap nanar wajah Ana, kemudian tangan nya mengelus lembut wajah Ana,


Ana memejamkan mata merasakan tangan lembut, hangat dan penuh kasih sayang sedang membelai wajah nya, tiba-tiba Rima langsung memeluk tubuh Ana dengan air mata yang mengalir di wajah nya.


Ana tersentak kaget, tapi dia membiar kan Rima memeluk nya semakin erat sambil menangis, Ana pun membalas pelukan Rima, sekuat hati Ana berusaha menahan air mata nya, tapi buliran bening itu akhir nya lolos juga dari mata Ana.


Suster yang kaget mendengar tangisan Rima, bergegas mendekati mereka, tapi saat melihat mereka sedang berpelukan, suster pun hanya mampu menatap mereka, Ana juga memberi isyarat kepada suster Nur untuk membiarkan Rima menangis.


Suster Nur hanya mengangguk.


Beberapa saat tangisan Rima pun menjadi sebuah isakan.


"Maaf..."Ucap Rima lagi dengan lirih di telinga Ana, nyaris tak terdengar.


"Mamah tidak pernah ada salah sama Ana.."Jawab Ana lirih, sambil terus mengusap punggung Rima yang naik turun karena isakan tangis nya.


"Ana tidak pernah membenci kalian, karena kalian Ana bisa sebesar ini, Ana sangat menyayangi kalian.."Ucap Ana yang mulai terisak kembali.


Entah lah, tiba-tiba Ana merasa takut kehilangan lagi, dia sudah kehilangan Adrian orang yang sudah di anggap papah nya, dan kini dia tidak mau kehilangan sosok yang sudah di anggap sebagai mamah kandung nya sendiri.


Ana membalas erat pelukan Rima, hati nya merasa ketakutan yang teramat sangat, dia pun tak mengerti dengan perasaan yang datang tiba-tiba.


"Mamah ngantuk An..."Tiba-tiba Rima berkata sambil berlahan melepaskan pelukan nya.


Rima menatap dalam wajah Ana, di belai kembali wajah putri nya, walaupun Ana tidak terlahir dari rahim nya, dan kadang dia merasa cemburu karena perhatian dan kasih sayang Adrian yang di berikan kepada Ana sangat berlebih, tapi tidak pernah sedikit pun menghilangkan rasa cinta dan kasih sayang nya untuk Ana.


"Temani mamah tidur An..."Ucap Rima lirih.


Ana mengangguk dan tersenyum, sambil menggenggam tangan Rima yang berada di wajah nya.


"Mulai sekarang Ana akan tidur bersama mamah..."Jawab Ana lembut.


"Hanya siang ini saja, setelah nya kamu tidak perlu menemani mamah..."Rima berkata dengan suara parau, sambil bangkit dari duduk nya.


Sambil mengerutkan kening nya, Ana juga bangkit dari duduk nya, dan Rima mengajak Ana melangkah masuk ke dalam paviliun.


Ana yang ingin bicara mengurung kan niat nya, dia pun mengikuti langkah Rima.


"Mamah sudah ngantuk sekali, tidur lah di samping mamah An...."Rima berkata sambil naik ke ranjang nya, dan merebahkan tubuh nya sambil tidur terlentang dan memakai selimut sampai batas perut nya.


Ana yang perasaan nya tidak enak, merasa aneh dengan tingkah laku Rima, tapi dia tidak mau banyak bertanya, karena dia sudah sangat bahagia mendengar suara Rima.

__ADS_1


Ana membantu Rima memakai selimut nya, kemudian Ana pun merebahkan tubuh nya di samping Rima.


"Kamu tahu An, 22 tahun yang lalu, aku dan Adrian di paksa menikah karena kami harus merawat seorang bayi.."Rima berkata sambil mata nya menatap langit-langit kamar nya.


Ana termangu mendengar perkataan Rima, dia sangat tahu siapa bayi yang di maksud Rima.


"Hari itu hari yang sangat membahagiakan untuk ku, karena menikah dengan laki-laki yang sangat aku cintai, apa lagi kami langsung mendapat kan seorang bayi perempuan yang sangat cantik..."Rima berkata dengan senyum merekah, masih terus menatap langit -langit kamar.


Ana tidak menjawab, dia fokus mendengar kan cerita Rima.


"Saat itu, Adrian juga sangat bahagia, tapi bukan karena pernikahan kami, tapi karena kehadiran bayi cantik di antara kami..."Rima berkata dengan suara bergetar, air mata kembali keluar dari sudut mata nya.


Ana pun memutar tubuh nya menghadap Rima, menatap nanar wajah wanita yang sedang bercerita tentang masa lalu nya.


"Kami seperti keluarga kecil yang bahagia, walau pun kami tahu semua akan berakhir dengan kesedihan, karena bayi itu hanya titipan..."Rima berkata lagi sambil terisak.


Ana pun mengusap air mata Rima, dan memeluk tubuh nya dari samping.


"Walaupun kamu bukan anak kandung kami, tapi kami sangat menyayangi mu nak..."Rima berkata, sambil memegang lengan Ana yang memeluk nya, sambil terus terisak.


"Kami juga memutuskan untuk tidak mempunyai anak, dengan cara mengangkat rahim ku, karena kami tidak mau jika kasih sayang kami terbagi dengan anak kandung kami sendiri..."Kali ini Rima berkata, dengan suara serak dan parau.


Ana pun tersentak kaget, saat mengetahui Rima rela mengangkat rahim nya demi diri nya, karena setahu Ana dulu, mereka berkata jika Rima tidak bisa hamil lagi karena ada masalah di rahim nya.


Ana pun semakin mengeratkan pelukan nya, sambil ikut terisak, ternyata kedua orang yang sempat di benci nya, rela mengorbankan kehidupan mereka, terutama Rima yang rela kehilangan rahim nya hanya untuk merawat dan membesarkan nya.


"Jaga diri mu baik-baik sayang, pasti Adrian sangat bahagia di detik-detik terakhir hidup nya masih bisa melihat kamu, anak yang di sayangi nya..."Suara Rima semakin terdengar parau.


"Mamah juga bahagia, masih bisa melihat kamu dalam keadaan baik-baik saja, seperti nya Fidy lelaki yang baik, dia sangat menyayangi dan mencintai mu nak..."Rima tiba-tiba menghela napas.


"Seperti nya kami tenang meninggalkan mu bersama nya.."Rima berkata dengan suara yang sangat parau, sambil tersenyum.


"Mamah bicara apa, kita akan selalu bersama, Ana janji kita tidak akan berpisah lagi, walaupun sekarang Ana berstatus sebagai istri..."Ucap Ana semakin mempererat pelukan nya, dan mencium lembut pipi Rima.


Rima tersenyum.


"Mamah ngantuk sayang..."Ucap Rima sangat lirih, sambil memejamkan mata nya.


"Tidur lah mah, Ana akan menemani mamah di sini..."Jawab Ana, sambil membelai lembut rambut Rima.


Rima tersenyum, Ana terus mengelus rambut Rima, sampai Rima terlelap.


Ana menatap hangat wajah Rima yang sudah terlelap, membelai dan mencium kening nya.


"I miss u mom..."Gumam Ana, yang ikut terlelap sambil memeluk Rima.


****************


Berhubung kemarin Author ga up karena harus lembur kerja, jadi up hari ini agak panjang.


Jangan lewat kan bab selanjut nya, yang pasti nya lebih seru.


Jangan lewat kan juga, novel author yang menguras air mata dan emosi 👇


__ADS_1


__ADS_2