Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Kegundahan Fidy


__ADS_3

Bab 84


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "


Di rumah sakit, tampak Fidy sedang menunggu di depan ruang autopsi, sesekali dia mengusap kasar wajah nya.


"Kenapa aku bisa kecolongan seperti ini...!!"Teriak Fidy frustasi, sambil menjambak rambut nya.


"Maaf kan aku An, aku hanya memberikan mu luka dan kesedihan.."Gumam Fidy, sambil menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya.


"Tuan Fidy.."Panggil seseorang.


Fidy pun langsung membuka telapak tangan yang menutupi wajah nya, kemudian dia menoleh ke arah suara yang memanggil nya.


Tampak lelaki tinggi besar, yang merupakan seorang polisi yang berpakaian preman.


"Bisa kita bicara sebentar..??"Tanya polisi berpakaian preman itu.


Fidy hanya mengangguk.


"Ayo, tuan Fidy.."Lelaki itu berkata, sambil mengajak Fidy duduk di bangku yang tersedia di ruang tunggu.


Fidy pun mengikuti langkah lelaki tinggi besar itu.


"Berdasarkan penyelidikan yang kami di TKP, seperti nya pelaku sudah mengetahui seluk beluk keadaan rumah yang di tempati korban..."Ucap poiisi, saat mereka sudah duduk berhadapan.


Fidy mengerutkan kening nya, mendengar perkataan polisi itu.


"Ini salah satu bukti yang kami temukan.." Polisi itu berkata, sambil menyerahkan bukti sebuah jam tangan yang terbungkus plastik.


Fidy pun mengambil plastik yang berisi jam tangan, sambil memperhatikan dengan seksama.


"Apa tuan Fidy mengenali jam tangan itu..??"Tanya polisi menatap tajam Fidy.


"Seperti orang itu terburu-buru, sehingga tidak sadar jika jam tangan nya terlepas.."Ucap polisi masih menunggu jawaban Fidy, dengan tatapan penuh selidik.


Fidy menghela napas, dia mencoba mengingat di mana dia melihat jam tangan itu.


"Mohon maaf pak, seperti nya saya pernah melihat jam tangan ini, tapi saya agak lupa dan tidak yakin.."Fidy berkata sambil memijit pelipis nya.


"Saya meminta waktu, untuk membantu mencari bukti nya pak, tapi setelah selesai prosesi pemakaman.."Ucap Fidy, kembali menghela napas.


"Baik lah tuan Fidy, kami juga masih melakukan penyidikan sambil mengumpulkan bukti-bukti.."Polisi berkata sambil mengangguk.


"Boleh saya foto dulu jam tangan ini pak..??"Untuk mencocokkan dalam mencari bukti.."Tanya Fidy.


"Silah kan.."Jawab polisi.


Fidy pun meraih ponsel nya, kemudian mengambil foto jam tangan itu beberapa kali.

__ADS_1


"Terimakasih pak.."Fidy berkata, sambil mengembalikan plastik berisi barang bukti jam tangan itu kepada polisi


"Baik lah pak, sekali kami turut berdukacita atas meninggalnya tuan Adrian, semoga penyidikan ini berjalan lancar, dan kita bisa segera menemukan pelaku nya..."Polisi berkata, sambil mengambil dan mengaman kan jam tangan itu.


"Terimakasih atas bantuan nya pak.."Ucap Fidy.


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu tuan Fidy. beberapa polisi akan mengawal pemakaman tuan Adrian.."Polisi berkata sambil beranjak dari duduk nya.


"Sekali lagi terimakasih pak.."Fidy berkata sambil ikut berdiri.


Polisi itu mengangguk, kemudian melangkah pergi meninggalkan Fidy, yang di ikuti oleh beberapa polisi yang juga berpakaian preman.


Setelah polisi berlalu, Fidy pun menghempas kan pantat nya kembali ke kursi, dan menyadarkan kepala nya di sandaran kursi.


"Apa aku harus melepaskan mu An..."Ucap Fidy dalam hati sambil memejamkan mata nya.


Dada Fidy terasa sesak, bertahun-tahun dia menanti hidup bersama Ana, memiliki diri Ana seutuh nya, membangun rumah tangga yang kecil dan bahagia.


Tapi ternyata bersama nya, membuat hidup Ana menderita, membuat hati Ana terluka, hanya kesedihan dan air mata yang terus dia berikan untuk Ana.


"Wiana Maharani, mungkin hanya Satria yang terbaik untuk mu.."Fidy kembali berucap dalam hati, dengan dengan dada yang terasa nyeri bagai tertancap belati yang sangat tajam.


"Tuan Fidy.."Suara lembut memanggil Fidy.


Fidy pun membuka mata nya, dan menoleh ke arah suara yang memanggil nya.


"Mohon maaf tuan Fidy, proses autopsi sudah selesai, apakah jenazah mau langsung di bawa ke pemakaman atau ke rumah duka..??"Tanya perawat, dengan sopan dan hormat.


"Langsung menuju ke pemakaman XX saja suster.."Ucap Fidy langsung bangkit dari duduk nya.


"Baik tuan, jenazah akan segera kami bawa ke ambulans.."Ucap perawat, sambil mengangguk hormat, dan segera berlalu meninggalkan Fidy.


Sambil menarik napas dan membuang nya kasar, Fidy pun mengeluarkan ponsel nya, dan langsung melakukan panggilan.


"Hallo, bagaimana keadaan mereka..??"Tanya Fidy saat panggilan terhubung.


"Ajak mereka segera ke pemakaman XX, ambulans sedang menuju kesana.."Ucap Fidy lagi.


"Thanx Robert.."Fidy pun menutup ponsel nya, dan melangkah keluar dari rumah sakit menuju ke pemakaman.


*********


Sementara di rumah mewah Fidy.


"Pertama kali nya tuan Fidy mengucapkan terimakasih kepada ku.."Ucap Robert dalam hati, sambil menutup ponsel nya.


"Nyonya Ana, tuan Fidy benar-benar mencintai mu.."Gumam Robert sangat pelan, sambil menatap ke arah sofa, di mana Ana dan Rima sedang duduk di sofa, terlihat masih ter isak, tampak bi Minah menemani dan mencoba menenangkan mereka.


Kemudian Lelaki bertubuh kekar berotot, dengan rambut sedikit gondrong, melangkah kan kaki nya mendekati sofa.

__ADS_1


"Maaf nyonya Ana, nyonya Rima, kita harus segera berangkat ke pemakaman XX, karena jenazah tuan Adrian sudah di bawa ke sana..."Ucap Robert tegas, tapi dengan penuh hati-hati.


Ana dan Rima pun menatap Robert dan mengangguk, sambil menyeka air mata, mereka pun mengikuti langkah Robert.


Tenggorokan Ana dan Rima terasa tercekat, mereka tidak mampu mengucap kan sepatah kata pun, hanya air mata yang mampu bicara, mewakili hati mereka yang di selimuti rasa sedih dan duka.


Bi Minah pun mengantar sampai halaman, sebenar nya dia ingin ikut ke pemakaman, tapi jika dia ikut siapa yang menjaga rumah.


Pak Tarjo dan mang Ujang juga tidak ikut, karena Fidy menugaskan mereka untuk menjaga rumah, seperti hal nya bi Minah.


Setelah sampai halaman, anak buah Robert pun sudah siap menunggu.


"Nyonya, maaf kan bibi tidak bisa ikut dalam pemakaman.."Ucap bi Minah.


Ana hanya mengangguk, tampak mata nya yang bengkak, masih terus mengeluarkan air mata.


Mereka pun segera masuk ke dalam mobil, dan mobil mereka pun melaju membelah jalan raya menuju pemakaman.


Bi Minah, pak Tarjo dan mang Ujang menatap nanar kepergiaan mereka.


"Kasihan sekali nyonya Ana, setelah menghilang karena penculikan, kini pulang membawa berita duka.."Ucap pak Tarjo, dengan raut sedih.


"Nyonya Ana di culik Wira, untuk di pertemukan dengan kedua orang tua nya, maksud nya orang tua angkat nya.."Timpal mang Ujang.


"Apa benar Wira yang menculik nyonya Ana..??"Tanya pak Tarjo menatap penuh selidik ke arah bi Minah, yang di ikuti oleh tatapan mang Ujang ke arah nya.


Wajah bi Minah sedikit memucat mendengar pertanyaan dari mang Ujang dan pak Tarjo


"Wira tidak bermaksud jahat seperti yang kalian pikirkan, yang jelas Wira punya alasan sendiri.."Jawab bi Minah ketus, dengan wajah tak senang, menatap mang Ujang dan pak Tarjo.


Dengan kesal, bi Minah pun masuk ke dalam rumah.


Pak Tarjo dan mang Ujang, hanya mematung dan saling melenpar pandang, tidak percaya bi Minah bisa semarah itu merespon pertanyaan mereka.


Saat bi Minah sampai di dalam kamar nya, dia pun langsung meraih ponsel nya dan menelpon seseorang.


"Hallo, kenapa kamu sampai membunuh nya...???"Tanya bi Minah saat panggilan terhubung.


***************


Keputusan apa yang akan Fidy ambil, untuk hubungan nya dengan Ana..??


Apa hubungan Wira dan bi Minah, dengan semua yang terjadi..???


Jangan pernah lewat kan setiap bab nya.


Yuk melimpir ke novel yang menguras emosi dan air mata 👇


__ADS_1


__ADS_2