Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Hari Berdarah Di Pabrik Bata


__ADS_3

105


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "


Fidy menerima pesan dari Robert, jika dia sudah bersama Ayu, dan sedang menuju ke tempat penculikan bi Minah.


Mereka sampai hampir bersamaan, di sebuah tempat terpencil, jauh dari pemukiman warga, di sebuah bekas pabrik batu bata.


Saat sampai, mereka di sambut beberapa orang yang bertubuh kekar dan tinggi besar. Mereka pun langsung di bawa masuk ke dalam, saat sudah memastikan jika mereka hanya datang bertiga, tidak di ikuti oleh polisi.


Setelah sampai di ruangan utama yang besar, terlihat Aksa dan Laura sudah berada di ruangan itu.


Aksa terlihat sedang duduk di kursi satu-satu nya yang berada di ruangan itu, sambil menyilang kan kaki, dan tampak Laura berdiri di samping nya.


Aksa tersenyum smirk, melihat kedatangan Fidy, Robert dan Ayu.


Kemudian Aksa berdiri, mendekati mereka di ikuti oleh Laura.


Tatapan Laura begitu sendu menatap Fidy, seolah-olah ingin mengisyarat kan sesuatu.


"Dasar anak tidak tahu di untung, aku meminta mu untuk datang sendiri, kenapa kamu justru membawa mereka..??!!"Aksa berkata, sambil menatap nyalang ke arah Ayu, kemudian menatap Fidy dan Robert, dengan senyuman mengejek.


"Di mana ibu ku..??"Tanya Ayu, dengan berteriak.


"Dia bukan ibu mu, kenapa kamu sangat membela nya..??"Tanya Aksa, dengan senyum sinis nya.


"Karena dia aku bisa hidup.."Jawab Ayu


Aksa tertawa mendengar perkataan Ayu.


"Itu karena ibu mu yang bo**h itu, lebih memilih tinggal di rumah sakit jiwa, dari pada bersama ku.."Aksa berkata, dengan wajah yang memerah karena amarah, mengingat penolakan Ranti terus menerus, walau pun waktu itu dia sedang mengandung anak nya.


"Kalau aku jadi mama Ranti, aku juga tidak sudi menikah dengan mu, seorang laki-laki licik, pemerk*sa pembu**h..!!"Teriak Ayu.


"Kamu yang telah membun*h suami bu Minah tapi kamu menuduh om Alex, lalu kamu memperk*sa mamah ku, sehingga mamah ku hamil dan depresi, dan itu yang menyebab kan om Alex bunuh diri..!!"Teriak Ayu lagi, sambil terisak.


Laura yang dari tadi menunggu waktu yang tepat, kini hanya diam membisu, mendengar ucapan Ayu, walau pun ada kebenaran yang sudah di ketahui nya, tapi dia tidak menyangka dengan semua kejahatan Aksa.


Lelaki yang dia pikir, dewa penolong nya setelah kematian kedua orang tua angkat nya.


"Dan kamu juga yang telah membunuh kak Wira, padahal dia sudah menuruti kemauan mu untuk membunuh tuan Adrian..!!"Ayu kembali histeris, dengan air mata yang berlinang.


Fidy dan Robert saling menatap, ada seulas senyum yang terukir di bibir mereka.


Deg .


"Dari mana, anak ini tahu semua nya.??"Tanya Aksa dalam hati.


"Hai, anak kurang aj*r, berani kamu bicara seperti itu kepada ayah mu..??"Bentak Aksa, menatap tajam Ayu.


"Aku tidak pernah menganggap mu ayah, karena aku tahu almarhumah ibu ku tidak sudi mengandung ku, benih dari lelaki seperti mu..!!!"Teriak Ayu, tepat di depan wajah Aksa.

__ADS_1


Seketika tangan Aksa langsung melayang ke udara, dan saat tangan itu ingin menyentuh pipi mulus Ayu, tangan kekar Fidy pun menahan nya, mencengkeram lengan Aksa dengan kuat.


Tentu saja membuat anak buah Aksa segera bertindak, tapi di halangi oleh Robert, saat mereka ingin mengha**r Robert, Aksa melarang nya dengan sebuah isyarat dari tangan satu nya.


Buggg...


Tapi dengan begitu kuat, Aksa meninju wajah Fidy, yang membuat tubuh Fidy terhuyung ke belakang, karena diri nya belum siap untuk menerima pukulan.


Robert ingin membantu Fidy, tapi tangan nya langsung di pegangi oleh dua orang anak buah Aksa, begitu juga dengan Ayu, tangan nya juga di pegang kuat oleh salah satu anak buah Aksa.


"Mas Fidy.."Teriak Laura histeris.


"Diam, di tempat mu..!!"Perintah Aksa, sambil mencekal pergelangan tangan Laura, yang ingin berlari mendekati Fidy.


"Lepas kan, selama ini, aku selalu menuruti mu, aku rela menjadi boneka mu, agar aku bisa bersama Fidy, kenapa kamu sekarang menyakiti nya..??"Kamu juga sudah berjanji untuk tidak menyentuh apa lagi melukai nya..!!??"Teriak Laura, sambil meronta melepaskan cekalan Aksa.


"Bahkan kamu menyiksa ibu kandung ku, dan kelicikan mu, membuat aku membenci adik kandung ku sendiri.."Teriak Laura, dengan buliran bening membasahi pipi nya.


Fidy, Robert dan Ayu saling tatap, ternyata dia sudah mengetahui jika bi Minah adalah ibu kandung nya, dan Ana yang merupakan madu nya, adalah adik kandung nya.


"Bagus, jika kamu sudah mengetahui kenyataan sebenar nya.."Aksa berkata, sambil tertawa terbahak-bahak.


"Dasar licik, aku menyesal, telah membantu mu menghabisi dokter Aryo, dan dokter Alan..!!"Teriak Laura, dengan berteriak histeris.


"Diam..!!"Hari ini aku tidak akan membiar kan nya hidup.."Aksa berkata, sambil mengeluarkan pistol, dari saku celana nya.


"Jangan aku mohon.!!"Teriak Laura histeris, sambil menangis.


"Kalau kamu menembak nya, aku tidak akan meyerah kan semua barang bukti nya..!!"Teriak Ayu.


"Cepat, bawa wanita tua itu kesini.!!"Perintah Aksa, pada salah satu anak buah nya, yang berada di depan pintu sebuah ruangan seperti kamar.


"Baik tuan.."Jawab anak buah Aksa, yang masuk ke dalam ruangan.


Tak lama dia pun keluar bersama bi Minah, dengan keadaan lemah, setengah sadar.


"Ibu..!!"Teriak Ayu.


Sedang kan Laura, hanya mampu menatap tubuh tak berdaya bi Minah, dengan sebuah tangisan.


Dor...


Aksa pun menembak ke tembok ruangan.


"Siapa yang berani bergerak, maka peluru ini akan bersarang ke tubuh kalian..!!"Ancam Aksa, sambil mengarah kan pistol nya ke arah Fidy, Robert, Laura dan Ayu bergantian.


"Kalau kamu berani, bunuh saja aku..!!"Tantang Ayu, sambil menyeka air mata nya.


Berlahan, Ayu berjalan ke arah Aksa, menatap nya dengan tatapan penuh kebencian.


"Jangan macam-macam kamu Ayu, aku bisa menembak mu.!!"Ancam Aksa.

__ADS_1


Ayu tidak peduli, dia terus melangkah mendekati Aksa, saat Aksa ingin menarik pelatuk nya, tiba-tiba..


Akh...


Aksa mengerang kesakitan karena Laura menggigit lengan nya, di tengah kesakitan dan kekesalan nya, dia langsung menarik pelatuk pistol nya, dan..


Dor..


Brugg..


Tubuh Ayu pun roboh, ke lantai dengan dar*h yang keluar dari dada nya.


"Ayu .!!"Teriak Robert, dan seperti mempunyai kekuatan ber lipat-lipat, dia langsung menghajar para bodyguard Aksa, yang siap dengan senjata tajam dan pistol mereka.


Fidy segera menendang tangan, sehingga pistol di tangan nya terpental.


"Keterlaluan kamu Aksa, anak kandung sendiri pun kamu tembak..!!"Teriak Fidy.


Saat bersamaan anak buah Aksa, yang ingin menembak Fidy, langsung di tembak balik oleh Laura, yang sudah memegang pistol Aksa yang tadi ter lempar.


Dor..


Anak buah Aksa pun langsung tumbang, dengan dada yang mengeluar kan dar*h sama seperti Ayu.


"Laura.."Geram Aksa, penuh amarah..


"Diam semua di tempat, jangan ada yang ber gerak..!!" Suara polisi yang datang, mengejut kan semua orang yang berada di ruangan itu.


Polisi segera membekuk semua anak buah Aksa.


Robert di bantu oleh beberapa anggota lain nya, langsung membawa tubuh Ayu dan bi Minah, keluar dari pabrik itu menuju rumah sakit.


Fidy yang sedikit lengah, membuat Aksa lepas dari cengkeraman nya, dengan gesit Aksa langsung mengambil pistol dari tangan Laura, dan mendorong tubuh Laura, sehingga tersungkur ke lantai.


Aksa pun segera melepas kan tembakan ke arah Fidy.


Tapi tiba-tiba Laura langsung menerjang tubuh Aksa, sehingga tembakan meleset, dan tubuh mereka sama-sama terjatuh, dan ber guling bersama,.


Laura berusaha merebut pistol Aksa, saat Fidy dan polisi, mendekati mereka, tiba-tiba suara tembakan terdengar lagi.


Dor.....


****************


Tembak-tembakan nya sampai di sini dulu ya, author nya lagi sakit kepala 😁.


Siapa kah yang tertembak lagi..??


Tunggu bab berikut nya ya.


Jangan lupa melimpir ke sini 👇👇

__ADS_1




__ADS_2