Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Bi Minah


__ADS_3

Bab 37


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "


Pagi ini tampak Ana sedang kembali sibuk di dapur, kali ini dia tidak mau membuat menu kesukaan Fidy atau makanan favorit Satria.


Karena Ana merasa jika Fidy tidak menghargai masakan nya, sedang kan Satria jangan kan untuk mencicipi makanan nya, untuk mereka bertemu kembali saja sudah tidak mungkin.


Ana menghela napas , bagaimana pun dia sadar jika status nya hanya istri siri seorang CEO terkenal dan banyak orang yang mengagumi nya, terutama kaum hawa.


" Laura,wanita sempurna yang sangat serasi bersanding dengan seorang CEO seperti Fidy.."Gumam Ana sambil menyiapkan bumbu-bumbu untuk membuat bakso kuah


Entahlah tiba-tiba Ana ingin makan yang berkuah dan asam pedas, dia ingin sekali makan bakso, menu makanan favorit nya dari kecil,tapi itu tidak mungkin, selain tidak mempunyai uang, Fidy tidak mungkin mengijinkan nya untuk keluar rumah.


Untung bi Minah tidak pernah membiarkan stok bahan-bahan masakan di dapur menipis apa lagi sampai habis.


Dengan lincah dan tangan yang lihai,melihat ada nya persediaan daging, Ana pun dengan gesit membuat adonan bakso, beserta kuah kaldu dan bahan - bahan pelengkap lain nya yang sangat menggugah selera.


"Harum sekali, Nyonya masak apa..?"Tanya bi Minah saat mencium harum nya kaldu sapi.


"Aku buat bakso bi, tiba-tiba aku ingin makan bakso, biasa nya aku selalu di ajak Satria bi...?"Ana langsung menjawab tanpa sadar menyebut nama Satria.


"Apa lelaki itu sangat berarti dalam hidup Nyonya..??"Tanya bi Minah menatap sendu wajah Ana.


Ana yang sedang mengaduk kuah bakso, tidak menjawab pertanyaannya bi Minah, wajah nya yang tadi sumringah penuh semangat seketika berubah murung.


"Apa aku harus melupakan nya bi...??"Tanya Ana sambil meracik bakso ke dalam beberapa mangkok.


"Itu semua tidak akan terlupakan sampai kapan pun...."Jawab bi Minah dengan tatapan nanar nya


"Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk di kepala ku bi..."Ana menatap dalam wajah bi Minah.


"Dengan berjalannya waktu, semua pertanyaan Nyonya pasti akan terjawab.."Jawab bi Minah sambil menuangkan kuah ke dalam mangkok bakso.


"Ayo kita bawa mangkok-mangkok bakso ini keluar bi.."Ana berkata sambil menyusun mangkok bakso yang sudah lengkap isi nya ke dalam nampan.


"Maksud Nyonya kita akan makan di depan..??"Tanya bi Minah dengan tatapan tidak mengerti.


"Iya,,pagi ini aku ingin menikmati sarapan bakso di taman, bareng mang Ujang, pak Tarjo dan Wira dan pasti nya dengan bi Minah..."Ucap Ana dengan senyum bahagia nya.


"T..tapi.."Ucap bi Minah ragu.


"Tapi kenapa bi..??"Tanya Ana mengerutkan alisnya.


"Tuan masih di dalam kamar Nyonya.."Jawab bi Minah.


"Apa..??"Maksud bibi tuan Fidy..??"Tanya Ana tak percaya.


"Iya Nyonya, memang siapa lagi tuan di sini..?"Bi Minah berkata sambil menggelengkan kepala nya.


"Dari kapan dia pulang bi..??"Tanya Ana lemas.


"Semalam Tuan pulang Nyonya.."Jawab bi Minah dengan ekspresi wajah memberikan peringatan kepada Ana.


"Iya,,Tuan Fidy..!!"Ucap Ana dengan nada ketus.


"Kenapa dia harus pulang kesini sie..??"Gerutu Ana.

__ADS_1


"Nyonya...!!"Kembali bi Minah mengingatkan kata-kata Ana.


"Iya,,bibi sayang...!!!"Jawab Ana dengan wajah cemberut.


"Bukan nya mansion itu lebih mewah dan di sana juga ada istri sah nya yang cantik, bahkan istri nya itu baru keluar dari rumah sakit...???"Ana bertanya seperti orang yang sedang cemburu, karena dia juga bingung dan tidak mengerti.


Bi Minah tidak menjawab, dia hanya tersenyum menatap Ana.


"Ngapain bibi senyum-senyum..??"Tanya Ana dengan wajah memerah.


"Lebih baik Nyonya bangunkan Tuan Fidy untuk sarapan bersama,,biar semua bibi siap kan di taman..."Bi Minah berkata sambil meneruskan menyiapkan bakso.


"Apa bi..???"Aku harus membangunkan dia..?? Berarti aku harus ke kamar nya....???"Teriak Ana.


Bi Minah yang mendengar Ana berteriak sedikit kaget dan takut jika Fidy mendengar kata-kata Ana.


"Nyonya, jangan teriak-teriak nanti tuan dengar..."Ucap bi Minah dengan mata hampir melotot karena kaget.


"Aku tidak mau ke kamar nya, bibi saja yang membangunkan nya.."Ucap Ana dengan malas.


"Bibi hanya pembantu, yang istri nya khan Nyonya...!!"Ucap bi Minah dengan sedikit kesal karena sifat keras Ana.


"Aku hanya istri yang tidak di anggap, kapan saja bisa di tinggal dan di cerai kan.."Ucap Ana datar.


"Allah itu memberikan sesuatu sesuai dengan perkataan dan prasangka kita Nyonya, saya yakin Nyonya paham dengan kata-kata itu...!!"Ucap bi Minah dengan penuh penekanan.


Ana tidak menjawab, dia menatap bi Minah kesal, dengan langkah malas Ana pun meninggalkan dapur dan segera menuju ke kamar Fidy.


Sesampainya di kamar Fidy, dengan ragu Ana mengetuk pintu.


Tok..tok..tok.


Sunyi tak ada jawaban.


"Tuan....!!"Teriak Ana sambil terus mengetuk pintu dengan kencang.


Tak lama pintu pun terbuka, tampak wajah bantal Fidy, walaupun rambut nya sedikit berantakan dan wajah baru bangun tidur, justru Fidy terlihat begitu mempesona,.apalagi Fidy bertelanjang dada dan hanya memakai boxer, memperlihatkan roti sobek di perut nya.


Ana menelan Saliva nya, baru kali ini dia melihat laki-laki bertelanjang dada di depan nya, dia tidak pernah melihat Adrian lelaki yang selama ini di anggap nya ayah bertelanjang dada, Satria juga tidak pernah berpenampilan seperti Fidy.


"Ada apa..??"Kenapa menatap ku seperti itu..??"Tanya Fidy ketus dengan tatapan tajam nya.


"M..maaf tuan, saya hanya ingin mengajak tuan sarapan.."Ucap Ama gugup sambil menunduk dan menggigit bibir bawah nya.


Fidy menarik napas dalam-dalam dan membuang nya kasar, seandainya hubungan mereka normal,mungkin pagi ini Ana sudah menjadi sarapan pembuka untuk Fidy.


"Apa begitu cara mu membangun kan suami...???"Fidy berkata sambil melangkah mendekati Ana.


Seketika Ana pun langsung mundur, tapi terlambat tangan Fidy sudah terlebih dahulu meraih pinggang ramping nya.


Ana terkejut dan menjerit saat tubuh mereka menempel begitu dekat nyaris tak ada jarak ,Ana pun langsung memejamkan mata nya tidak berani menatap wajah Fidy, bahkan hembusan napas Fidy pun sangat terasa di wajah Ana.


"Buka mata mu,,kamu pikir aku hantu.."Bisik Fidy tepat di telinga Ana.


Dengan dada berdegup kencang, berlahan Ana membuka mata nya, wajah yang begitu sempurna dan tatapan mata yang begitu tajam hampir menyentuh wajah nya.


"Aku tidak suka memaksa wanita yang tidak menginginkan ku..."Ucap Fidy dengan wajah yang hampir menempel dengan wajah Ana.

__ADS_1


"Tuan, hari ini kita akan sarapan di taman..."Ana berkata dengan menahan napas nya, dada nya semakin sesak saat tangan Fidy dengan lembut menyentuh wajah nya.


"Aku sudah bilang, aku akan melakukan lebih saat kamu yang meminta sendiri.."Bisik Fidy lembut di telinga Ana, yang membuat bulu-bulu halus Ana berdiri.


"Sekarang pergilah, aku akan menyusul ke taman.."Fidy berkata sambil melepaskan tangan nya di pinggang Ana.


Dengan senyum penuh arti, Fidy segera menutup pintu kamar nya, dan Ana hanya terpaku menatap pintu kamar Fidy yang sudah tertutup.


"Lelaki aneh,, bukan kah dia dan istri nya meminta aku menjadi Surrogate Mother..??'"Tanya Ana sambil menggelengkan kepala nya dan berlalu dari pintu kamar mandi.


"Tuan sudah bangun kah Nyonya..??"Tanya bi Minah saat Ana sampai di dapur.


"Mungkin sedang mandi, aku sudah bilang kalau kita akan sarapan di taman.."Ucap Ana sambil membantu bi Minah membuat jus jeruk.


"Biar saya saja bibi yang mengurus, lebih baik Nyonya siap-siap.."Ucap bi Minah mengambil gelas yang di pegang Ana.


"Maksud nya bi..??"Tanya Ana sambil mengerutkan alis nya, tanda tidak mengerti.


"Jika seorang perempuan yang sudah bersuami, dia harus selalu tampil cantik, agar suami nya betah di rumah.."Jelas bi Minah.


"Apa lagi Tuan Fidy salah satu pemilik perusahaan terbesar, pasti banyak wanita-wanita cantik dari kalangan atas sampai bawah yang menginginkan tuan Fidy..."Jelas bi Minah lagi.


"Ya bagus jika seperti itu bi, biar tuan Fidy menceraikan aku...!!"Sungut Ana.


"Nyonya...!!!"Bentak bi Minah membuat Ana terlonjak kaget.


Dengan mata melotot bi Minah menatap tajam Ana, tetapi dia merasa tatapan marah bi Minah, bagaikan tatapan seorang ibu yang kesal dengan perlakuan dan perkataan anak nya.


Dan aneh, Ana tidak merasa tersinggung dengan sikap bi Minah, dia merasa sedang di marahi oleh ibu nya sendiri.


Ana teringat dengan sosok Rima, dia wanita yang terlalu lembut dan tidak pernah berkata kasar kepada Ana, hanya kadang tatapan sinis di dapati Ana, ketika diri nya bermanja dengan Adrian.


Sekarang Ana sadar, kalau tatapan sinis Rima itu menandakan kecemburuan nya karena sesungguhnya Ana dan Adrian tidak ada hubungan darah.


"Nyonya ko melamun..?."Bi Minah berkata dengan nada yang lembut dan penuh penyesalan ,sambil menyentuh lengan Ana.


Ana tersentak kaget dari lamunan nya, menatap nanar bi Minah.


"Maaf kan saya Nyonya, sudah berani membentak Nyonya..."Ucap bi Minah lirih sambil menunduk.


Ana yang menatap nanar bi Minah, tiba-tiba tidak bisa menahan kesedihan, tanpa di sadari nya air mata pun mengalir di pipi mulus nya.


"Bi...."Ana berkata dengan lirih sambil memegang pundak bi Minah.


Bi Minah mengangkat wajah nya, dan Ana pun bisa melihat jelas wajah bi Minah yang kini berada sangat dekat dengan wajah nya.


Deg


"Wajah ini..."


***************


Ada apa dengan wajah bi Minah sampai membuat Ana Terkejut....????


Ikuti bab selanjutnya ya


Semoga Author selalu di berikan semangat untuk menulis setiap bab nya.

__ADS_1


Jangan lupa untuk mampir dan memberikan dukungan pada novel pertama author



__ADS_2