
Bab 50
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
Setelah mobil Aksa menghilang, Fidy memutar tubuh nya dan melangkah masuk ke dalam.
Mang Ujang dan pak Tarjo kembali ke tugas masing-masing, mereka tidak berani bertanya apa pun, yang mereka tahu hubungan antara ayah dan anak ini memang tidak baik.
Saat Fidy akan melangkah menuju kamar nya, ternyata Ana sudah duduk menunggu di ruang keluarga.
"Tuan..."Ucap Ana lirih, langsung berdiri saat melihat kehadiran Fidy.
"Kenapa kamu belum bersih-bersih..?-?" seharus nya kamu sudah istirahat...!!"Fidy berkata sambil memindai penampilan Ana yang masih menggunakan pakaian yang sama, dengan jas Fidy di tangan nya.
"M..maaf tuan, tapi kita harus bicara..."Ucap Ana gugup sambil menggigit bibir nya, dan memainkan jari nya yang sedang memegang jas Fidy.
Fidy menghela napas, kemudian mendekati Ana.
"Kita akan bicarakan ini nanti..."Ucap Fidy dengan kedua tangan yang memegang bahu Ana.
"T..tapi...." Belum sempat Ana meneruskan ucapan nya, dengan lembut Fidy mendarat kan ciuman nya di bibir Ana.
Ciuman yang begitu lembut penuh kasih sayang, tanpa ada suatu tuntutan.
"Tidur lah, malam hampir larut..."Ucap Fidy saat mengakhiri ciuman nya.
Mengusap lembut bibir dan rambut Ana, kemudian mencium kening nya.
Ana seperti terhipnotis, dengan patuh dia pun melangkah menuju kamar yang letak nya dekat dengan ruang keluarga.
Jas Fidy pun masih berada di tangan Ana, saat akan masuk ke dalam kamar, Ana melihat ke arah Fidy yang sedang menatap nya dengan tatapan nanar.
Fidy mengangguk dan tersenyum, Ana pun membalas senyuman Fidy dan menutup pintu kamar nya.
Saat pintu kamar Ana sudah tertutup, Fidy pun melangkah kan kaki nya menuju kamar nya.
Saat sampai di dalam kamar, sambil menghela napas dan mengusap wajah nya kasar, Fidy pun melangkah kan kaki nya menuju kamar mandi.
Fidy mengisi bath up dengan air hangat, beserta sabun cair dan aroma therapi yang aroma nya begitu maskulin dan menenangkan.
Masuk ke dalam bath up, memejamkan mata nya, mencoba mengusir kegundahan dan gemuruh kemarahan di dada nya karena ulah Aksa.
Fidy tidak mengerti apa yang di pikirkan laki-laki itu, kenapa dia tidak membuang atau membunuh waktu dia kecil dulu, kenapa harus membiarkan dia hidup dan membesarkan nya.
Lagi-lagi Fidy menghela napas.
45 menit Fidy melakukan ritual mandi, tubuh nya menjadi segar begitu juga pikiran nya, setelah selesai memakai kaos oblong dan celana boxer, dia pun segera naik ke tempat tidur nya yang berukuran king size.
Fidy meraih ponsel nya, dan menekan nomor seseorang.
"Hallo..."Ucap Fidy saat sambungan telepon terhubung.
"Bagaimana kinerja dia di sana...??"Tanya Fidy.
"Aku harap kamu bisa secepat nya kembali kesini..."Ucap Fidy.
"Bajingan itu seperti nya ingin segera unjuk gigi.."Ucap Fidy dengan ekspresi kesal.
"Oke, good job man..."Fidy menutup telepon nya.
Kemudian meraih laptop, membaca email yang masuk, dan sedikit mengecek laporan.
***************
__ADS_1
Keesokan pagi nya, dengan wajah ceria dan penuh semangat, selepas shalat subuh Ana sudah berperang dengan alat-alat dapur.
Apron yang di pakai nya, dengan rambut di ikat tinggi, sehingga memperlihatkan leher jenjang nya, menambah pesona seorang Ana.
Fidy keluar dari kamar nya sudah berpakaian kantor rapi dan lengkap, tiba-tiba kaki nya bergerak menuju dapur, karena hati nya berkata jika ada bidadari di dapur nya.
Fidy menatap takjub melihat pemandangan di depan nya, dia seperti melihat seorang bidadari yang sedang sibuk di dapur nya.
Fidy menyandarkan tubuh nya di tembok, dengan kedua tangan di lipat di dada nya.
Mata nya menatap lekat sosok Ana yang tidak menyadari kehadiran nya.
Bi Minah yang hendak melangkah ke dapur mengurungkan niat nya, saat melihat kehadiran Fidy yang sedang berada di dapur dan memperhatikan Ana
Bi Minah tersenyum kecil, kemudian mundur teratur dengan langkah pelan, memutar tubuh nya.
Saat akan berjalan ke samping rumah, bi Minah bertemu Wira yang akan menuju arah dapur.
"Kamu mau kemana Wira...???"Tanya bi Minah saat berpapasan dengan Wira.
"Aku ingin membuat kopi bi, semalam aku tidak bisa tidur, jadi pagi jni aku mengantuk sekali..."Jawab Wira santai.
"Nanti biar bibi saja yang buat kan, kamu tunggu saja dulu.."Bi Minah berkata sambil memegang lembut pundak Wira.
"Tapi bi..."Wira tidak meneruskan ucapan nya karena bi Minah segera mendorong tubuh Wira membawa nya menjauh dari dapur.
Sementara itu Fidy terus menatap Ana dengan senyum yang mengembang, Fidy melangkah pelan mendekati Ana yang belum sadar atas kehadiran nya.
"Akkhh..."Teriak Ana saat merasakan tubuh nya ada yang memeluk dari belakang.
"Hai, suami tampan mu ini bukan hantu...!"Seru Fidy gemas sambil mencium pipi Ana yang memerah karena kaget dan malu.
"Tuan, membuat ku kaget..."Ucap Ana dengan wajah bersemu karena ciuman Fidy di pipi nya.
Fidy mengangkat wajah Ana yang menunduk untuk menatap nya, netra mereka pun saling bertemu.
"Seperti mimpi, ada bidadari sepagi ini di dapur ku.."Bisik Fidy lembut di telinga Ana.
"Mas..."Ucap Ana ragu.
"Mm.."Jawab Fidy dengan senyum dan mata menggoda.
"Sepagi ini kamu sudah siap berangkat kerja...??"Aku belum siap membuat sarapan..."Ucap Ana yang memindai penampilan Fidy.
"Buat kan kopi, kita sarapan roti saja lebih praktis..."Usul Fidy.
"Kebetulan aku ada urusan pagi-pagi..."Fdy tidak mengatakan yang sebenar nya, karena dia takut menyakiti hati Ana.
Seharusnya dia melakukan ini pada Laura, sebagai istri pertama dan istri sah nya.
Tapi entahlah, Fidy tidak bisa membohongi perasaannya, Laura memang istri sah yang sudah di nikahi nya selama 3 tahun, tapi Ana perempuan yang sudah di cintai nya selama bertahun-tahun, walaupun pernikahan mereka baru memasuki bulan ke tiga dan hanya pernikahan siri.
"Bagaimana aku bisa membuatkan kopi, jika keadaan ku seperti ini..??"Tanya Ana dengan senyum manis nya.
"Memang nya pelukan suami mu ini, menghalangi untuk mu bergerak.?-."Tanya Fidy sambil menautkan alis nya.
"Terserah, jika kamu tidak mau berangkat terlambat..."Jawab dengan senyum menggoda.
"Hmm..istri ku sudah mulai nakal ya.."Fidy berkata sambil menoel hidung Ana.
"Suami ku yang dingin juga sudah pintar merayu.."Ucap Ana sambil tertawa kecil, dan mengusap lembut wajah tegas Fidy.
Fidy pun semakin mendekat kan wajah nya ke wajah Ana, saat bibir mereka hampir menyatu, tiba-tiba ponsel Fidy berdering dan mereka tersentak kaget
__ADS_1
"Sebentar ya..."Ucap Fidy melepas kan pelukan nya, sambil meraih ponsel di saku celana nya.
Ana mengangguk.
"Aku buat kan kopi dulu ya..."Ucap Ana segera membuat kan kopi untuk Fidy.
Fidy mengangguk sambil tersenyum, kemudian langsung mengangkat ponsel nya.
"Iya sebentar lagi, aku akan berangkat ke sana.."Ucap Fidy saat panggilan tersambung.
"Aku pasti datang, tidak akan terlambat.."Ucap Fidy dengan suara yang sedikit meninggi dengan ekspresi wajah yang mulai gusar.
Sambil meletakkan gelas kopi di meja, Ana melirik Fidy yang baru saja menutup telepon nya.
Ana tersenyum manis , saat Fidy menghampiri nya.
"Maaf kan aku An, seperti nya untuk makan roti pun aku tidak sempat...."Ucap Fidy menatap nanar Ana
"Tidak apa-apa mas, minum lah kopi nya walaupun hanya sedikit.."Ucap Ana lembut.
Fidy tersenyum dan mengangguk, dia langsung menyeruput kopi buatan Ana.
"Nikmat sekali kopi buatan mu An..."Ucap Fidy sambil beberapa kali menyeruput kopi buatan Ana.
Ana tersenyum lebar, meihat Fidy yang sangat menikmati kopi buatan nya.
Setelah menghabiskan kopi buatan Ana, perasaan Fidy yang tadi gusar terasa jauh lebih baik.
"Terimakasih untuk coffe morning nya sayang .."Ucap Fidy dengan senyum puas.
"Terimakasih juga sudah menghabiskan kopi nya.."Ucap Ana dengan tersenyum menatap wajah Fidy.
"Maaf, aku harus berangkat sekarang sayang.."Ucap Fidy dengan wajah enggan meninggalkan Ana.
"Tidak apa-apa, aku akan mengantarkan mu sampai depan..."Ana berkata sambil melepaskan apron nya
Fidy tersenyum dan mengangguk, dengan lembut Fidy menggenggam jemari Ana, mereka pun melangkah meninggalkan dapur.
Saat sampai di depan rumah, tampak mang Ujang sudah menunggu di depan mobil.
"Aku berangkat, jaga diri mu baik-baik, jangan lupa sarapan dan makan siang, seperti nya aku akan sibuk hari ini..."Ucap Fidy sambil mengusap lembut rambut Ana.
"Iya mas kamu juga jangan lupa sarapan dan makan siang, hati-hati di jalan.."Jawab Ana sambil mencium punggung tangan Fidy.
"Tentu sayang, aku berangkat, Assalamualaikum..."Ucap Fidy sambil mencium kening Ana.
"Waalaikumsalam..."Jawab Ana lembut.
Fidy segea melangkah kan kaki ke mobil, mang Ujang pun segera membuka kan pintu mobil untuk Fidy.
Mang Ujang mengangguk hormat kepada Ana sebelum dia masuk ke dalam mobil.
Fidy pun melambaikan tangan nya sebelum mobil melaju, Ana membalas lambaian tangan Fidy dengan senyum bahagia.
Sementara itu, tampak Wira yang menatap nanar ke arah Fidy dan Ana.
**************
Semoga Author bisa up setiap hari ya ...
Jangan lupa untuk mampir ke karya author yang baru sedikit
__ADS_1