
Bab 56
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
Fidy menarik napas dan membuang nya kasar, dia membayangkan wajah lembut Ana pasti sedang menangis merasakan kekecewaan kepada nya.
"Maaf kan aku Ana...."Gumam Fidy, sambil mengacak rambut nya frustasi.
Mang Ujang sesekali melihat Fidy dari spion mobil yang berada di depan kemudi.
"Baru pertama kali melihat tuan Fidy seperti ini, ternyata cinta mampu membuat seorang tuan Fidy rapuh..."Ucap mang Ujang dalam hati.
Tak lama mobil pun sampai di rumah mewah Fidy.
Saat mobil sampai di halaman rumah, Fidy segera turun, dan langsung berlari ke dalam rumah mewah nya.
"Ternyata cinta bisa bikin orang di luar kendali..."Gumam mang Ujang sambil menggelengkan kepala nya, menatap tubuh Fidy yang melesat cepat ke dalam rumah nya.
Setengah berlari Fidy memasuki rumah nya, saat mendekati kamar Ana, tampak bi Minah sedang mondar mandir di depan kamar Ana.
Fidy pun segera menghampiri bi Minah.
"Bi...!!"Panggil Fidy cemas.
"T..tuan, nyonya..."Ucap bi Minah gugup dengan wajah penuh khawatir.
"Kenapa Ana..???"Tanya Fidy dengan suara meninggi sambil mencengkram bahu bi Minah.
"Tadi saya mendengar suara tangisan nyonya, tapi setelah itu..."Ucap bi Minah dengan wajah pucat.
"Tapi apa bi..."Tanya Fidy dengan wajah gusar.
Karena tidak sabar dengan jawaban bi Minah, Fidy pun segera mengedor pintu kamar Ana.
"An..Ana buka pintu nya..."Panggil Fidy sambil mengedor pintu kamar Ana dengan keras.
"Apa tuan tidak punya kunci cadangan..??"Tanya bi Minah mengingat kan Fidy.
"Kunci cadangan..??"Gumam Fidy dan langsung berlari menuju kamar nya.
Tak butuh waktu lama, Fidy pun sudah kembali dengan napas yang memburu, karena rasa khawatir yang teramat sangat.
Di sana sudah tampak Wira, mang Ujang dan pak Tarjo yang mendengar ada keributan di dalam rumah, dan melihat sikap cemas tuan mereka.
Tanpa menghiraukan kehadiran para pekerja nya, Fidy langsung memasukkan kunci dan memutar nya, pintu pun terbuka.
"Jangan ada yang masuk ke dalam, kecuali aku dan bi Minah.."Perintah Fidy sambil menatap tajam ke arah mereka.
Kemeja putih Fidy yang terbalut kan jas sudah penuh dengan keringat, begitu juga dengan wajah nya, tampak keringat menetes di dahi nya, membasahi wajah tampan nya.
Padahal Ac begitu terasa sejuk di kediaman Fidy, karena kecemasan yang sangat berlebih membuat nya begitu panas dan berkeringat.
Mang Ujang dan pak Tarjo mengangguk, kecuali Wira yang menatap tajam ke arah Fidy, seolah protes dengan perintah nya.
Fidy langsung menerobos masuk ke dalam kamar Ana yang di ikuti bi Minah.
Tampak suasana kamar sangat sepi, Ana tidak berada di tempat tidur nya, begitu juga di kamar mandi.
Saat Fidy melangkah mendekati sofa bed, tampak sosok mungil yang sedang tidur sambil meringkuk, dengan kedua kaki dan tangan hampir menyatu.
"Ana.."Panggil Fidy cemas, langsung mendekati Ana, bi Minah pun menghampiri sofa bed
"Ana, kamu baik-baik saja..??"Tanya Fidy sambil memegang tangan Ana.
Fidy tersentak kaget, dia merasakan suhu tubuh Ana sangat panas, bibir dan wajah Ana pun terlihat sangat pucat.
Walaupun dengan keadaan terpejam, Fidy menyadari jika Ana habis menangis, terlihat dari mata nya yang sembab.
Fidy segera mengambil ponselnya.
__ADS_1
"Hallo Om,, cepat kesini..!! Saya sangat membutuhkan bantuan om...!!"Ucap Fidy saat telepon tersambung.
"Terimakasih om.."Ucap Fidy lagi sambil menutup panggilan nya.
"Tolong ambilkan air dan handuk bi, untuk mengompres.."Perintah Fidy sambil menggendong tubuh Ana ke tempat tidur.
"Baik tuan..."Jawab bi Minah, langsung berlari keluar kamar.
"Bi, apa yang terjadi...???"Tanya Wira saat melihat bi Minah berlari tergopoh-gopoh ke dapur.
"Nyonya Ana demam tinggi.."Jawab bi Minah segera berlalu.
Wira terpaku dengan wajah khawatir, kemudian dia langsung menerobos masuk ke kamar Ana, tanpa mempedulikan seruan mang Ujang dan pak Tarjo.
"Nyonya Ana, kenapa tuan ..??"Tanya Wira saat sudah sampai di depan tempat tidur Ana.
Fidy yang baru saja, membaringkan tubuh Ana dan membetulkan posisi nya, terperanjat kaget, dan langsung menuju sumber suara.
"Wira...!!" Ucap Fidy sambil menautkan alis nya.
Fidy merasa kesal dan heran, berani nya Wira masuk ke kamar istri nya tanpa ijin, padahal dia sudah memperingatkan jangan ada yang masuk kecuali dia dan bi Minah.
Pak Tarjo dan mang Ujang saja yang sudah mengabdi belasan tahun, tidak berani berlaku lancang seperti Wira yang belum genap setahun bekerja pada nya.
"Berani nya kamu masuk ke dalam kamar istri ku..!!"Bentak Fidy dengan wajah memerah, langsung menghampiri Wira dan mencengkeram kerah kaos nya.
"S..saya.."Ucap Wira gugup.
"Wira...!!"Teriak bi Minah sambil membawa baskom berisi air dan handuk untuk mengompres.
"Lancang sekali kamu...!!"Ucap Fidy geram.
Saat tangan nya sudah siap memberikan bogem mentah pada Wira, tiba-tiba terdengar rintihan dari Ana.
Seketika semua melihat ke arah Ana.
"Ingat, urusan kita belum selesai.."Hardik Fidy langsung membalikkan tubuh nya dari Wira.
"Bawa dia keluar bi.."Fidy berkata sambil mengambil baskom dan handuk di tangan bi Minah, dan segera melangkah mendekati Ana.
Bi Minah pun buru-buru membantu Wira berdiri, dan mengajak keluar dari kamar Ana.
Sekilas Wira menatap nanar menatap tubuh Ana yang tergolek lemah, tapi dia buru-buru menunduk saat mata elang Fidy menatap nya tajam.
Fidy langsung mengompres Ana, dengan lembut dan penuh kasih sayang, Fidy menggenggam jemari Ana, dan mengusap rambut Ana.
"Maaf kan aku sayang, bertahanlah sebentar lagi om Alan datang memeriksa mu..."Ucap Fidy lirih dengan suara parau.
Tidak terasa buliran bening bergulir turun di wajah tampan nya, air mata yang sudah puluhan tahun kering, kini kembali mengalir saat melihat tubuh seorang yang sangat di kasihi nya, terbaring tak berdaya.
Tok..tok..
Terdengar suara ketukan pintu, bi Minah sengaja menutup pintu kamar saat membawa Wira keluar, karena bi Minah tidak mau jika mata Wira terus menatap Ana.
Bi Minah juga tidak mau jika Fidy sampai memukul Wira, karena bagaimanapun bi Minah sangat menyayangi Wira.
"Tuan, dokter Alan sudah datang.."Terdengar suara bi Minah di belakang pintu.
Dokter Alan adalah dokter pribadi keluarga Aksa Sakti, selain dokter Jimmy yang sekarang sedang tidak berada di Jakarta, dan dokter Alan juga masih ada hubungan kerabat juga di antara mereka, adik dari mendiang mamah nya Fidy.
Dokter Alan juga ayah dari dokter Aryo, tapi Aryo lebih memilih menjadi dokter spesialis kandungan atau obgyn, sedang kan dokter Akan adalah dokter umum.
"Masuk bi.."Jawab Fidy.
Pintu pun terbuka muncullah dokter Alan, dan saat dokter Alan masuk bi Minah menutup pintu kembali.
"Hai Fid, ada apa..??"seperti nya kamu panik sekali.."Tanya dokter Alan langsung menghampiri Fidy.
"Iya om, tolong cepat periksa Ana, tubuh nya panas sekali dan wajah nya pucat, saya sudah mengompres tapi panas nya belum juga turun..."Fidy memberikan penjelasan dengan wajah khawatir.
__ADS_1
Dokter Alan tersenyum penuh arti, kemudian menatap wajah Ana, dan segera melakukan pemeriksaan.
"Oh, ini yang nama nya Ana..."Gumam dokter Alan sambil menatap Ana.
"Cepat memberikan pengobatan om.."Ucap Fidy dengan wajah terlihat sangat cemas dan tidak sabar.
Dokter Alan hanya bisa menghela napas, dia langsung memeriksa keadaan Ana.
"Seperti nya demam tinggi ini di picu karena terlalu stress, dan apa dia belum makan..??."Tanya dokter Alan setelah beberapa saat memeriksa kondisi Ana, kemudian menatap Fidy.
Fidy menautkan alis nya.
"Belum makan..."Gumam Fidy.
"Berikan makanan yang lembut dulu seperti bubur...:Ucap dokter Alan.
"Sementara ini, Om akan memberikan suntikan untuk menurunkan demam nya.."Ucap dokter Alan sambil membuka tas kerja nya, dan mengambil kotak obat yang dalam keadaan steril.
"Tunggu om.."Cegah Fidy saat dokter Alan ingin memberikan Ana suntikan.
Dokter Alan mengerut kan dahi nya menatap Fidy heran.
"Apakah suntikan itu tidak membahayakan nyawa Ana...??"Tanya Fidy khawatir.
Dokter Alan menghela napas lagi.
"Aku ini dokter, sudah berapa lama kamu mengenal ku Fidy Eka Sakti...???"Tanya dokter Alan menatap Fidy, tidak habis pikir kenapa Fidy bisa mencurigai nya.
"M..maaf om, aku terlalu khawatir..."Ucap Fidy sambil menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"Dasar bucin..."Ucap dokter Alan sambil menggelengkan kepala nya.
Fidy hanya terbengong mendengar perkataan dokter Alan, yang sedang memberikan suntikan kepada Ana.
"Demam nya sebentar lagi akan turun, jangan lupa segera berikan bubur saat dia sudah sadar..."Ucap dokter Alan.
"Dan ini beberapa obat dan vitamin untuk nya, ingat dia tidak boleh telat makan, karena ada sedikit gangguan di lambung nya..."Jelas dokter Alan sambil memberikan beberapa obat dan vitamin kepada Fidy.
Fidy mengangguk.
"Terimakasih banyak om, nanti seperti biasa, saya transfer.."Ucap Fidy saat menerima obat dan vitamin.
"Gampang itu, oh ya jangan terlalu bucin..."Ucap dokter Alan sambil menepuk pelan pundak Fidy.
Seketika wajah Fidy memerah, dokter Alan hanya tertawa kecil, melihat perubahan wajah keponakan nya Fidy.
Sambil menggelengkan kepala nya, Dokter Alan pun melangkah pergi meninggalkan kamar Ana dengan tersenyum bahagia.
"Akhir nya kamu menemui sesuatu yang sudah lama kamu cari Fidy.."Ucap dokter Alan dalam hati.
Sepeninggal dokter Alan, Fidy langsung menyuruh bi Minah membuatkan bubur untuk Ana.
Fidy duduk di sebelah Ana yang belum sadarkan diri, di tatap nya wajah Ana penuh cinta, di pegang nya dahi Ana, panas nya sudah mulai menurun.
Tiba-tiba jemari Ana yang berada dalam genggaman nya bergerak, Fidy pun tersentak kaget.
"An.."Panggil Fidy lirih.
"Sat..Satria.."
Deg..
***********
Gimana seru ga bab ini..??
Kita tunggu ya, bagaimana perjuangan babang Fidy yang dingin dan sombong untuk mendapatkan cinta nya Ana.
Mampir juga ya ke novel "Darah Daging Yang D Benci"
__ADS_1