
Bab 45
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
Fidy melajukan mobil nya, tanpa mereka sadari sebuah mobil membuntuti mereka.
Sekilas Fidy melirik Ana, yang tatapan nya fokus keluar jendela.
Fidy tersenyum, kemudian mata nya menatap sekilas kaca spion mobil, dia melihat sebuah mobil avanza putih yang mencurigakan.
"Permainan di mulai...."Batin Fidy dengan senyuman licik menatap kaca spion mobil.
Tepat di sebuah pertigaan Fidy memutar arah secara tiba-tiba, membuat Ana terperanjat kaget, tubuh nya hampir terdorong ke depan, untung dia memakai safety belt.
Karena putaran Fidy yang tiba-tiba, membuat pengendara mobil avanza putih itu kehilangan jejak.
Dengan santai dan lihai Fidy mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi, sesekali mata nya melihat ke arah kaca spion, mobil avanza putih itu pun sudah tak terlihat.
Fidy melirik Ana yang terlihat ketakutan, wajah nya pucat dengan mata terpejam, tampak tangan nya mencengkeram kuat kursi mobil.
Dengan tiba-tiba Fidy pun mengerem mobil nya, yang membuat Ana kembali terkejut.
Ana menggigit bibir nya dengan kencang agar tidak menjerit, sedang kan mata nya masih terus terpejam.
Dengan cepat Fidy langsung membuka safety belt nya.
"Hai, apa yang kamu lakukan...??"Tanya Fidy panik, langsung membuka safety belt Ana, kemudian membalikkan tubuh Ana, dan menangkup dan menepuk pelan wajah Ana, agar segera melepaskan gigitan di bibir nya sendiri.
Ana membuka mata, tampak mata nya berkaca-kaca penuh ketakutan, dengan bibir yang bergetar hebat.
"Wihana, kamu kenapa..???"Tanya Fidy semakin panik.
Ana tidak menjawab, air mata terus mengalir di wajah cantik nya, tanpa mengeluarkan suara apa pun.
Fidy yang frustasi langsung membawa Ana ke dalam pelukan nya.
Dengan lembut dan penuh kasih sayang, Fidy mengusap punggung dan rambut Ana, perasaan yang dingin dan kosong, terasa begitu hangat saat Ana berada dalam pelukan nya.
"Jangan pernah ngebut lagi, aku takut..."Ucap Ana lirih dengan isak tangis yang mulai terdengar.
Fidy tertegun sesaat mendengar ucapan Ana.
"Iya, aku tidak akan ngebut lagi.."Jawab Fidy lembut sambil mengelus rambut Ana.
"Aku takut, kejadian itu terulang lagi.."Ana berkata sambil mempererat pelukan nya, seakan takut jika pelukan itu akan terlepas.
Fidy kembali tertegun dengan ucapan Ana.
"Aku takut kamu kritis lagi Sat..."Ucap Ana dengan tangis yang semakin terdengar.
__ADS_1
Deg...
"Ana sedang mengingat Satria..."Batin Fidy.
Fidy merasakan dada nya begitu sesak, dan hati nya tiba-tiba terasa sakit.
"Sebegitu berarti nya seorang Satria untuk mu Wihana Maharani..."Ucap Fidy parau dengan penuh penekanan.
Perkataan Fidy seketika menyadarkan Ana, dia langsung melepaskan pelukan nya, melihat Fidy yang sedang menatap nya dengan tatapan nanar, terlihat ada luka di mata nya yang tajam.
Tatapan elang yang mampu mematikan mangsa nya, kini terlihat sendu, Ana seolah tidak percaya dengan penglihatan nya.
"Maaf kan saya tuan, saya...".Belum sempat Ana meneruskan kata-katanya, Fidy sudah menutup dengan bibir nya.
Ana yang kaget mencoba mendorong tubuh Fidy sekuat tenaga.
Fidy yang sudah terluka, merasakan amarah saat Ana menolak ciuman nya.
Dengan rakus tanpa memberikan kesempatan Ana bernapas, dengan rakus dan penuh amarah Fidy terus ******* bibir Ana, menggigit nya agar lidah nya leluasa bermain di rongga mulut Ana.
Ana terus mencoba mendorong dan menyadarkan Fidy, tangisan nya semakin terisak saat ciuman itu sampai di leher nya.
Fidy pun tersadar dan menatap wajah Ana yang terus menangis.
"Maaf kan aku.."Fidy berkata sambil mengusap air mata Ana, merapikan rambut nya, dan kembali memasang kan safety belt Ana,
Fidy mengusap kasar wajah dan rambut nya, memasang safety belt nya kembali, dan segera melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang.
Tak lama mobil mereka pun sampai di sebuah dermaga, Fidy segera menepikan mobil nya.
"Dermaga.."Gumam Ana.
Fidy tidak menjawab, dia menatap lurus dari mobil nya ke arah dermaga, sambil menghela napas Fidy turun dari mobil nya tanpa sepatah kata pun.
Ana pun ikut turun, dan jalan di belakang Fidy, yang terus melangkah sampai tepat di depan dermaga.
"Berdiri lah di samping ku, jangan berdiri di belakang ku..."Fidy berkata dengan suara terdengar parau, seperti memendam sesuatu yang berat.
Ana pun menurut, dia berdiri di samping Fidy, melirik sekilas ke arah nya, kemudian mata nya ikut menatap air dermaga yang begitu tenang.
"Kamu lihat air itu, terlihat tenang.."Ucap Fidy sambil menunjuk ke arah yang terlihat begitu tenang di bawah sinar bulan.
" Tapi kamu tahu di balik ketenangan nya, kadang bisa menimbulkan suatu derita dan membuat kita kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup kita .." Ucap Fidy lagi sambil menarik napas dan menghembuskan nya dengan kasar.
"Keikhlasan dan kesabaran adalah kunci dari semua masalah dan penderitaan.."Jawab Ana dengan mata yang ikut menatap air yang tenang di dermaga.
Fidy menoleh ke arah Ana, dan menatap lekat wajah Ana yang berdiri di samping nya.
"Kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup kita, itu bukan akhir dari segala nya..." Ucap Ana lagi.
__ADS_1
"Marah, sakit hati, menangis, dan protes kita kepada sang Pencipta itu hal yang manusiawi, tapi di situlah letak kesabaran dan keikhlasan kita, dan yakin ada kebaikan dan hikmah dari sebuah kehilangan dan luka...."Ucap Ana dengan suara bergetar, karena mengingat kejadian yang menimpa hidup nya, dan angin malam yang berhembus memasuki pori-pori kulit nya.
Ana melipat kedua tangan nya di dada, untuk mengurangi sedikit hawa dingin yang menerpa tubuh nya.
Fidy yang sedang menatap lekat Ana, melepaskan jas nya, dan dengan berlahan di pakai kan ke pundak Ana.
Ana menatap jas di tubuh nya, kemudian menatap Fidy, yang berada sangat dekat dengan nya.
Netra mereka pun bertemu, sesaat mereka hanya saling tatap, sampai akhir nya Fidy meraih jemari tangan Ana.
"Ana, berjanjilah kepada ku, apa pun yang terjadi, berjalan lah di samping ku, jangan pernah berjalan di depan atau di belakang ku..."Pinta Fidy sambil menatap lekat kedua bola mata Ana.
Deg...
"Apa ini suatu pernyataan atau hanya karena dia sedang teringat dengan masa lalu nya....???"Tanya Ana dalam hati.
"Ingat Ana jangan kepedean, ada istri sah nya yang sangat cantik di luar sana..."Ana mencoba menepis semua perasaan nya.
"Ana.."Panggil Fidy saat melihat Ana yang diam mematung.
"I..iya..."Jawab Ana gugup.
"Jika kamu keberatan, aku tidak akan memaksa mu.."Fidy berkata hendak melepaskan jemari Ana.
"Aku mau..."Jawab Ana pasti, sambil menahan tangan Fidy agar tidak terlepas jemari nya.
"Boleh aku juga meminta sesuatu..??"Tanya Ana dengan wajah bersemu merah.
"Apa.??"Tanya Fidy pelan tepat di telinga Ana, hembusan napas Fidy begitu hangat menerpa wajah nya.
"Apa pun yang terjadi, hargai lah dan perlakukan lah aku dengan segala kebaikan mu, karena bagaimanapun status ku adalah istri mu..."Ana berkata sambil menatap Fidy.
Fidy tersenyum lebar, mendengar permintaan Ana, dengan perasaan bahagia Fidy mengangguk dan mencium kening Ana dan membawa ke dalam pelukan nya.
Di bawah cahaya bulan yang terang, di saksikan air dermaga yang begitu tenang, mereka berpelukan dengan perasaan bahagia, kehangatan memasuki relung hati mereka.
Di saat mereka berpelukan, ada dua pasang mata yang menatap mereka dari kejauhan.
***********
Apakah benih-benih cinta mulai tumbuh di hati Ana..???"
Bagaimana perasaan Ana kepada Satria...?
Siapakah dua pasang mata yang sedang memperhatikan mereka..???
Jangan beralih dari cerita Fidy dan Ana.
Mampir juga ke novel author, yang ga bosan-bosan nya author promosiin.
__ADS_1