
Bab 44
" Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
Wajah Aksa memerah dan tangan nya mengepal keras, sebisa mungkin dia menahan emosi nya di depan tuan Huong sebagai tamu bisnis nya.
"Seperti nya tuan Fidy sangat mencintai istri nya ...??"Tanya tuan Huong yang ikut menatap punggung Fidy.
"Ya pasti nya tuan Huong.."Jawab Aksa mencoba setenang mungkin.
"Pasti nyonya Laura adalah wanita yang sangat cantik dan istimewa..???"Tanya tuan Huong dengan senyum penuh misteri.
"Tentu saja, dia wanita yang sangat cantik dan istimewa..."Jawab Aksa dengan penuh kebanggaan.
"Silahkan tuan Huong, staf kami akan mengantar tuan ke hotel untuk istirahat, jam 7 kami akan menjemput tuan untuk makan malam..."Aksa berkata sambil mempersilahkan tuan Huong mengikuti staf nya.
"Terimakasih banyak tuan Aksa, sampai bertemu nanti malam.."Tuan Huong berkata sambil membungkukkan sedikit badan nya, di balas anggukan oleh Aksa.
Tuan Huong pun berlalu dari hadapan Aksa.
"Anak si*l*n..."Ucap Aksa geram, setelah tuan Huong masuk ke dalam lift.
"Cari tahu, di restoran mana mereka akan makan malam...!!"Perintah Aksa pada salah satu anak buah nya.
"Baik tuan..."Ucap anak buah Aksa, dan segera pergi menjalankan tugas nya.
"Awas kamu Fidy...."Ucap Aksa geram, sambil meraih ponsel nya.
"Hallo, siapkan diri untuk makan malam...!!!"Perintah Aksa saat ponsel terhubung.
"Ajak saja dia, kalau memang kalian sudah ada janji...!!"Aksa berkata sambil menutup telepon nya.
Aksa menarik napas panjang dan membuang nya kasar, dia pun pergi meninggalkan ruangan kantor nya, di ikuti oleh beberapa bodyguard nya.
*********
Tepat pukul 6 sore Fidy sampai di rumah mewah nya, Fidy langsung memarkirkan mobil nya, saat dia turun pak Tarjo langsung menyambut nya.
"Ada kabar apa dari mang Ujang pak..??"Tanya Fidy saat berhadapan dengan pak Tarjo.
"Mang Ujang bilang, besok siang dia sudah bisa kembali kesini.."Ucap pak Tarjo sambil menunduk.
"Apa istri nya sudah sehat..???"Tanya Fidy lagi sambil melangkah ke dalam rumah di ikuti oleh Pak Tarjo.
"Mang Ujang bilang sudah membaik tuan.."Jawab pak Tarjo yang terus mengikuti langkah Fidy.
"Syukurlah, kasi tahu mang Ujang jika saya sudah transfer.."Ucap Fidy sambil terus melangkah masuk.
"Baik tuan.."Jawab pak Tarjo sambil membungkukkan badan nya.
Fidy mengibaskan tangan nya, menandakan jika dia sudah selesai bicara, dan pak Tarjo sudah boleh pergi.
Pak Tarjo pun membungkuk dan pergi meninggalkan Fidy, sedangkan Fidy terus melangkah ke kamar nya.
Begitu lah cara Fidy memperhatikan pekerja di rumah nya, jika ada pekerja nya yang sakit atau terkena musibah,dia tidak akan bertanya langsung kepada yang bersangkutan, apa lagi langsung memberitahukan bantuan nya.
Semua pekerja nya sudah paham dengan sikap dan sifat Fidy, mungkin hanya Ana yang belum mengenal dan paham seorang Fidy Eka Sakti
Saat melintasi kamar Ana, Fidy berhenti dan tersenyum menatap pintu kamar Ana.
"Sedang apa dia sekarang..??"Gumam Fidy sambil membayangkan wajah Ana yang menggemaskan.
"Si*l, kenapa si Satria berengsek itu yang jadi cinta pertama nya..."Ucap Fidy lagi dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah penuh emosi.
"Ini semua gara-gara rencana si tua bangka itu..."Geram Fidy sambil mengepalkan tangan nya.
"Tuan..."Sebuah panggilan lembut membuyarkan kekesalan Fidy.
"Bi Minah..."Ucap Fidy.
"Nyonya seperti nya sedang menyiapkan diri untuk keluar makan malam bersama tuan..."Ucap bi Minah dengan tatapan mata yang teduh menatap Fidy.
"Oh iya bi.."Jawab Fidy kikuk.
"Nanti jika ada MUA yang datang langsung di ajak menemui Ana dan jangan lupa gaun untuk nya.."Ucap Fidy.
"Baik tuan, apa ada yang bisa saya bantu lagi tuan..?"Tanya bi Minah lembut sambil tersenyum.
"Tidak bi itu saja terimakasih, saya juga mau siap-siap..."Jawab Fidy langsung melangkah menuju kamar nya.
Bi Minah tersenyum menatap punggung Fidy, kemudian menatap pintu kamar Ana, tampak ada guratan kesedihan di wajah setengah baya nya yang masih menunjukkan kecantikan nya.
Tatapan seperti penuh kerinduan, bi Minah melangkah ke belakang menuju ke dapur menyiapkan makan malam untuk diri nya, pak Tarjo dan Wira.
Di dalam kamar, selesai mandi dan shalat magrib, Ana mulai memulai memilih pakaian mana yang cocok untuk di pakai nya.
"Hai Ana, apa yang kamu pikir kan..??"Kenapa kamu segugup ini...???"Tanya Ana dalam hati.
Dia merasa bingung dengan diri nya sendiri, kenapa dia jadi gugup dan bingung untuk memilih pakaian, padahal dia terkenal cewek yang simpel dan sederhana.
Dulu waktu kencan pertama dengan Satria, dan setiap janjian dengan Satria, dia tidak pernah seheboh ini.
__ADS_1
Di tengah kekalutan nya, tiba-tiba terdengar sebuah ketukan, yang membuat Ana terperanjat kaget.
"Siapa ya..??"Ga mungkin dia khan janji nya jam 7.."Gumam Ana yang langsung menuju pintu.
Saat Ana membuka pintu, tampak wajah seorang wanita yang sangat cantik dengan tubuh proporsional nya tersenyum ramah menatap Ana, tampak bi Minah berdiri di samping nya dengan menenteng paper bag.
"Nyonya, ini mba Wulan, dia di perintahkan tuan Fidy untuk membantu nyonya menyiapkan diri..."Ucap bi Minah.
"Maksud nya bi.."Tanya Ana tak mengerti sambil menatap bergantian bi Minah dan wanita bernama Wulan.
"Hallo nyonya cantik, saya Wulan saya akan membantu nyonya untuk menjadi putri malam ini..."Ucap Wulan dengan nada genit dan suara perempuan di buat-buat.
Seketika Ana terbengong menatap Wulan tak percaya.
"Ya ampun, ternyata di balik kecantikan yang sempurna.."Batin Ana tak percaya sambil menatap Wulan dan bi Minah bergantian.
"Nyonya..."Panggil bi Minah sambil menyentuh lembut lengan Ana.
"Eh iya bi..."Ucap Ana kaget.
"Cepat lah nyonya, sebentar lagi jam 7, jangan sampai tuan Fidy yang lebih dulu rapi..."bi Minah berkata sambil menunjuk jam dinding yang berada di dinding kamar Ana.
"Iya bi.."Ucap Ana sambil melihat ke arah jam dinding juga.
Ana pun mempersilahkan Wulan dan bi Minah masuk kamar nya, Wulan pun langsung menyuruh Ana untuk duduk di kursi depan meja rias.
"Memang harus banget ya panggil tukang make up segala..??"Tanya Ana sambil cemberut.
"Aih nyonya, saya bukan tukang make up sembarangan, tapi saya ini dari MUA.."Wulan berkata dengan gaya centil nya sambil mulai memoles wajah Ana.
"Wah, nyonya benar-benar cantik, kulit nya halus sekali, tidak memerlukan make up tebal sudah bikin pangling...."Ucap Wulan gemas dengan gaya centil nya.
"Ih bisa saja tante ini.."Ucap Ana sambil tersenyum.
"Aduhhh,.ko panggil tante sie..."Teriak Wulan dengan wajah cemberut.
Ana pun menahan tawa, sementara itu bi Minah, terlihat fokus memperhatikan cara Wulan merias wajah Ana.
"Seandai nya teagedi itu tidak terjadi, pasti aku sudah mengelola sebuah MUA.."Ucap bi Minah dalam hati yang membuat wajah nya berubah sendu.
Ana yang tahu perubahan di wajah bi Minah merasa heran.
"Bi Minah.."panggil Ana lembut.
"I..iya nyonya..."Jawab bi Minah kaget.
"Bibi kenapa...??"Tanya Ana sambil mengerutkan kening nya.
"Maaf nyonya bibi permisi dulu,mau menyiapkan makan malam, nanti mba Wulan makan malam di sini saja, bibi sudah masak banyak...."Ucap bi Minah lagi.
"Wah, tidak usah bi, merepotkan..."Ucap Wulan malu-malu.
"Ga pa pa mba Wulan.."Jawab Ana.
"Sebenarnya sie tidak enak hati, tapi kalau di paksa mauuu..."Ucap Wulan sambil tertawa di iringi suara bariton nya.
Ana dan bi Minah saling tatap.
"Maaf nyonya, maklum dech kalau yang ketawa itu Waluyo..."Ucap Wulan
"Waluyo...???"Tanya Ana sambil mengernyitkan dahi nya.
"Waluyo itu nama waktu macho.."Jawab Wulan sambil tertawa lepas.
Ana hanya bisa nyengir sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal, sedang kan bi Minah tersenyum kecil mendengar candaan Wulan.
"Sebentar lagi selesai, nanti saja ke dapur nya bi..."Cegah Ana sambil menahan lengan bi Minah yang akan melangkah pergi.
Perasaan bi Minah terasa begitu hangat saat Ana menyentuh lengan nya.
Bi Minah mengangguk sambil tersenyum dan menatap lembut Ana.
Tepat jam 7, Ana pun sudah selesai di make up dengan gaun yang di bawa bi Minah dari Fidy.
"Sempurna.."Ucap Wulan penuh kepuasan.
"Kecantikan nyonya benar-benar sempurna..."Puji bi Minah dengan mata terkagum melihat penampilan Ana.
Ana menatap diri nya di cermin, make up tipis dan natural mampu membuat penampilan nya berbeda.
Tatanan rambut yang di buat Wulan pun begitu pas dengan wajah nya, di tambah gaun yang tidak mewah tapi terlihat elagan sangat pas di tubuh ramping Ana.
"Kira-kira siapa yang membelikan gaun ini ya bi..???"Tanya Ana yang merasa heran kenapa Fidy sangat tahu semua ukuran dan selera nya.
"Tentu tuan nyonya.."Jawab bi Minah sambil tersenyum.
"Tapi.."
Belum sempat Ana meneruskan perkataan nya, terdengar ketukan pintu.
Bi Minah pun bergegas membuka pintu.
__ADS_1
"Nyonya Ana sudah di tunggu tuan bi..."Ucap Wira.
"Iya, tunggu sebentar..."bi Minah berkata sambil langsung menghampiri Ana.
"Nyonya, tuan sudah menunggu.."bi Minah berkata sambil tersenyum menatap Ana.
"I..iya bi..."Jawab Ana yang tiba-tiba merasa gugup, seperti mau ikut sebuah kompetisi.
Ana merasakan jantung nya berdegup 2 kali lipat dari biasa nya.
Ana menarik napas, kemudian membuang nya berlahan untuk menetralisir debaran yang sangat kuat di hati nya.
Bi Minah dan Wulan saling tatap dan tersenyum.
Ana pun melangkah kan kaki nya keluar dari kamar nya, sesampai nya di depan pintu, tampak Wira yang menatap Ana tanpa berkedip.
"Wira...???"Sapa Ana keheranan karena Wira berada di pintu kamar nya.
"Maaf nyonya, tadi Wira memberitahu jika tuan sudah menunggu.."Ucap bi Minah sambil melirik tajam ke arah Wira, seketika Wira langsung menundukkan wajah nya.
"Oke..."Ucap Ana sambil menarik napas dan menghembuskan nya berlahan, kemudian melangkah pergi menemui Fidy.
"Selepas makan malam kita harus bicara Wira..."Bisik bi Minah di telinga Wira.
Wira hanya membalas dengan anggukan.
"Ayo mba Wulan, makan malam nya sudah di siapkan.."Ajak bi Minah ramah.
"Asyiap bi..."Ucap Wulan dengan gaya yang di buat-buat, membuat bi Minah dan Wira tersenyum.
***********
Dengan hati berdebar, Ana melangkah mendekati Fidy yang sudah menunggu nya di ruang depan.
Tampak Fidy sedang menyandarkan tubuh nya di tembok sambil memainkan ponsel nya.
Ana mengatur napas nya kembali, mencoba menutupi kegugupan nya, dan melangkah semakin mendekati Fidy yang tidak sadar dengan kedatangan nya.
"Tuan..."Panggil Ana lembut.
Fidy tersentak kaget dan langsung menoleh ke arah Ana yang jarak nya sudah sangat dekat dengan nya.
Seketika kedua mata Fidy langsung tak berkedip menatap Ana, polesan yang natural dan lembut memancarkan aura kecantikan yang luar biasa, gaun mahal yang model nya sederhana yang elegan sangat indah di kenakan oleh Ana.
Ana semakin gugup melihat tatapan Fidy.
"Tuan..."Panggil Ana menyadarkan Fidy yang terus menatap Ana tanpa berkedip.
"M..maaf, kita berangkat sekarang, aku sudah lapar..."Fidy berkata dengan sedikit gugup dan segera menuju mobil nya di ikuti Ana.
"Silahkan...."Ucap Fidy sambil membukakan pintu untuk Ana.
"Terimakasih..."Ucap Ana tersenyum manis, dan langsung menunduk saat netra mereka bertemu.
Ana langsung masuk ke dalam mobil, karena dia merasakan jantung nya berdetak begitu kencang.
Sedangkan Fidy langsung menelan saliva nya, saat menutup pintu mobil.
Mengelap dahi nya yang tiba-tiba berkeringat, menggeleng kan kepala nya mencoba menetralkan hati nya.
Saat masuk ke dalam mobil, Fidy langsung memasang safety belt.
Fidy melirik Ana yang masih menunduk, menggigit bibir bawah nya, sambil memainkan jemari tangan nya.
Fidy menghela napas, berlahan mendekatkan tubuh nya ke tubuh Ana.
Ana terperanjat kaget dan mengangkat wajah nya, netra mereka kembali bertemu, Fidy semakin mendekat kan wajah nya, dan Ana pun langsung memejamkan mata nya.
"Pasang safety belt nya, dasar mesum..."Ucap Fidy sambil tersenyum dan memasang kan safety belt ke tubuh Ana.
Wajah Ana langsung memerah karena malu, dia pun memalingkan wajah nya menatap kaca mobil.
Fidy hanya tertawa kecil melihat kelakuan Ana, sedangkan Ana dalam hati mengutuki kebodohan nya.
Mobil pun segera di lajukan Fidy, saat mobil keluar dari halaman rumah, tanpa mereka sadari ada mobil yang mengikuti mereka.
**********
Siapa bi Minah sebenar nya...?
Apa yang terjadi pada masa lalu bi Minah...?
Bagaimana dengan makan malam Ana dan Fidy....??
Ikuti terus cerita nya ya, di jamin seru.
Mampir juga dong ke novel author yang satu ini, dan jangan lupa berikan dukungan nya.
.
__ADS_1