
Bab 77
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih"
Ana berdiri dan menatap lekat lukisan itu, lukisan diri nya berbalut pakaian wisuda lengkap dengan toga, sedang tersenyum sambil memegang sebuah buket berbentuk hati.
Lukisan itu benar-benar seperti di buat penuh penjiwaan.
"Lukisan ini begitu indah, bahkan aku tidak menyangka jika diri ku yang berada dalam lukisan ini..."Gumam Ana.
"Tentu saja lukisan ini begitu indah, karena di buat dengan penuh perasaan, rindu, kasih sayang dan cinta.."Tiba-tiba suara Rima terdengar sangat dekat di telinga Ana.
Ana tersentak kaget, dia baru menyadari jika Rima sudah berada di belakang nya, karena begitu fokus dan terkesima nya Ana pada lukisan diri nya, sehingga dia tidak menyadari kehadiran Rima.
Ana memutar tubuh nya menghadap Rima, jarak mereka sekarang begitu dekat, dan seketika netra mereka pun bertemu.
Kini Ana bisa melihat dengan jelas penampilan wanita yang berada di hadapan nya.
Wajah tanpa make up dengan pakaian yang sangat sederhana, dengan tubuh terlihat lebih kurus, walaupun masih terlihat aura kecantikan nya.
Rima hanya tersenyum melihat Ana, dia tahu pasti banyak pertanyaan di kepala Ana, tentang keadaan dia dan Adrian.
"Kamu sangat cantik di lukisan ini An.."Rima berkata sambil tersenyum, kemudian mata nya menatap lukisan bergambar Ana.
Ana pun kembali menatap gambar diri nya dalam lukisan itu.
"Kamu tahu siapa yang membuat lukisan itu nak...?"Tanya Rima, sambil memegang lembut pundak Ana dengan kedua tangan nya.
Ana merasakan kehangatan yang menjalar di hati nya, saat tangan lembut Rima menyentuh pundak nya.
Ana hanya bisa menggeleng pelan, tanpa membuka suara nya.
Rima kembali tersenyum hangat.
"Duduk lah nak..."Rima berkata sambil menyuruh Ana untuk duduk di kursi sebelah ranjang Adrian, sedang kan dia duduk di tepi tempat tidur di samping Adrian.
"Kamu benar-benar tidak tahu siapa yang membuat lukisan itu..??"Tanya Rima lembut, dengan tatapan penuh kerinduan dan kehangatan.
Ana menatap lekat wajah Rima, kemudian menatap lukisan itu kembali, dia teringat dengan kejadian di galery lukisan waktu itu, di setiap goresan pena dan kuas dari lukisan itu seperti mengandung sebuah arti.
Ana memang tidak mengetahui tentang lukisan, tapi perasaan Ana begitu kuat.
"Satria..."Ucap Ana lirih.
"Ikatan batin kalian memang kuat..."Ucap Rima.
Ana segera menoleh ke arah Rima, menyipitkan mata nya menatap Rima.
"Apa benar, ini hasil karya Satria..??"Tanya Ana.
Rima menghela napas.
"Satria membuat nya sebelum keberangkatan nya ke Jerman..."Jawab Rima, dengan tatapan sendu nya.
__ADS_1
"Jerman..???"Tanya Ana tidak percaya.
"Berarti, sekarang Satria sedang berada di Jerman..???"Tanya Ana lagi, menatap lekat wajah Rima
"Satria mendapatkan pekerjaan di sana An.."Jawab Rima.
"Benar kah..??"Tanya Ana lagi tak percaya.
Rima mengangguk.
Wajah Ana tampak berubah murung dan sedih.
"Apa kamu sudah tidak menyimpan nomor Satria nak..??"Tanya Rima lembut, sambil mengusap rambut Ana.
"Semenjak aku harus menerima semua kenyataan pahit, aku sudah tidak peduli dengan ponsel ku.."Jawab Ana lemah, dengan wajah yang semakin sendu.
"Maaf kan kami sayang, yang telah membuat hidup mu menderita.."Ucap Rima sambil membawa tubuh Ana kepelukan nya, tangis pun pecah di antara mereka.
Adrian yang dari tadi hanya menjadi pendengar mereka, ikut meneteskan air mata, terlihat pundak nya yang naik turun karena terisak.
Sesaat mereka larut dalam kesedihan, Ana dan Rima pun tersadar dengan keadaan Adrian.
Karena kesedihan yang sangat dalam, dan penyesalan yang tiada tara, membuat Adrian merasakan sesak di dada nya.
"Mas...!!"
"Papah..!!!"
Teriak Ana dan Rima bersamaan.
Rima pun segera membantu Adrian untuk membuka mulut nya, dan langsung menyemprotkan obat sesak itu ke dalam mulut Adrian.
Setelah beberapa saat, napas Adrian yang tadi sesak pun, berlahan-lahan membaik.
"Apa papah sering mengalami sesak napas..??"Tanya Ana dengan wajah khawatir,.air mata sudah membanjiri wajah nya.
"Jika emosi tidak stabil nak.."Jawab Rima lirih, di sela isak tangis nya.
"Pah.."Ana memeluk Adrian begitu erat, menciumi pipi Adrian.
"M..m..maaf.."Suara Adrian dengan terbata-bata dan pelo.
"Ana sudah memaafkan papah, Ana sayang papah.."Ucap Ana masih terus menangis, dan mengusap air mata di wajah Adrian.
"Sebenar nya apa yang sudah terjadi pada kalian..??"Tanya Ana menatap nanar Adrian kemudian Rima.
"Setelah pernikahan di rumah sakit itu, banyak sekali perubahan yang terjadi dalam hidup kami..."Rima berkata, dengan wajah mulai sendu dan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Tuan Aksa Sakti menyuruh kami untuk pergi jauh dari kota ini, tapi papah mu menolak nya, tuan Aksa sangat marah, dan dia membuat papah mu langsung bangkrut.."Rima berkata, sambil sekali-kali mengusap air mata nya.
"Sejak perusahaan bangkrut, dan kami sudah tidak punya apa-apa, tiba-tiba.."Rima tidak meneruskan kata-kata nya, dia hanya terus terisak.
Ana yang sedang memeluk Adrian, melepaskan pelukan nya dan membalikkan tubuh menghadap Ana.
__ADS_1
"Mah.."Panggil Ana lirih, sambil menyentuh lembut bahu Rima.
Rima pun langsung memeluk Ana.
"Papah mu begitu shock di tambah memikirkan mu, rasa bersalah yang sangat dalam, sehingga papah mu terkena serangan jantung, dan akhir nya mengalami stroke.."Rima bercerita dengan tangis yang begitu pilu.
"Karena biaya perawatan yang besar, akhir nya rumah, tabungan dan barang berharga pun habis terjual, sampai kami tidak punya tempat tinggal.."Rima semakin terisak.
Ana merasakan sesak di dada nya, awal nya dia berpikir jika kedua orang yang sangat di benci nya itu akan hidup bahagia, karena sudah berhasil membesarkan nya dengan baik, dan sudah berhasil menyerahkan pada keluarga Aksa Sakti.
Tapi kenyataannya, hidup mereka lebih menderita dari pada diri nya, berlahan Ana membalas pelukan Rima, dan mengelus lembut punggung orang yang dia pikir sudah melahirkan nya.
"Dan kamu tahu, siapa yang sudah menolong kami An..??"Tanya Rima melepaskan pelukan nya, dan menatap nanar wajah Ana.
Ana tidak menjawab, dia hanya membalas tatapan Rima.
"Pak Anton dan bu Mirna.."Ucap Rima tersenyum, sambil menghapus air mata nya.
"Orang tua Satria..???"Tanya Ana, sambil menghapus air mata nya.
Rima mengangguk.
"Mereka yang sudah memberikan kami tempat tinggal, kamu tahu rumah yang kami tempati ini rumah siapa..??"Tanya Rima kembali.
Ana mengerutkan dahi nya.
"Ini adalah rumah Satria.."Ucap Rima, dengan senyum hangat nya.
Ana terperanjat kaget.
"Rumah ini memang sangat sederhana, tapi Satria membeli nya dari hasil jerih payah nya menjual lukisan.."Jelas Rima sambil menatap Ana.
"Jadi rumah ini..??"Tanya Ana tidak melanjutkan perkataannya.
Rima hanya mengangguk, Ana tersenyum dan mengusap air mata nya.
Ana pun teringat dengan kejadian beberapa bulan yang lalu, saat dia di ajak menghadiri pameran lukisan oleh Laura.
"Kalau begitu, lukisan pemandangan waktu itu adalah hasil tangan Satria... "Ucap Ana dalam hati.
Saat itu, dia belum sempat bertanya, tapi Fidy sudah memberikan bogem mentah pada wajah Satria.
Ana merasakan sesak di hati nya kembali, mengingat kejadian-kejadian yang telah di alami nya, dan membuat Ana sadar, jika sekarang dia sudah menjadi seorang istri.
***********
Apa kah Ana akan bertemu kembali dengan Satria..???
Bagaimana perasaan Ana yang mulai tumbuh benih-benih kepada Fidy..
Setia terus ya di setiap bab nya.
Jangan lupa mampir ke novel author 👇
__ADS_1