Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Kata Talak


__ADS_3

Bab 126


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih"


Dokter, memeriksa keadaan Ana.


"Syukur lah, keadaan nyonya Ana sudah membaik, nyonya Ana hanya butuh istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran.."Dokter berkata, sambil memberikan satu lembar kertas.


"Ini, resep vitamin yang harus di tebus tuan."Jelas dokter.


"Terimakasih dok.."Ucap Satria, sambil menerima resep.


"Apa, saya sudah bisa pulang dok..??"Tanya Ana lirih.


"Tentu nyonya.."Jawab dokter ramah.


"Kalau begitu saya permisi dulu, setelah 5-7 hari, nyonya bisa datang kembali untuk chek up."Ucap Dokter ramah.


"Baik dok, sekali lagi terimakasih.."Jawab Satria.


Dokter membalas dengan tersenyum dn mengangguk, melangkah pergi meninggal kan Satria dan Ana.


Setelah kepergian dokter, Satria menatap lekat Ana, sambil tersenyum.


"Aku, akan mengantarkan mu pulang An.."Satria berkata, sambil mendekati Ana.


Ana yang sedang duduk di tepi ranjang, hanya menatap nanar Satria.


"Aku tidak tahu, harus pulang kemana Sat.."Jawab Ana lirih.


Satria juga bingung, dia ingin sekali mengajak Ana pulang ke rumah nya, tapi bagaimana pun status Ana masih sebagai istri Fidy, karena belum ada kata-kata talak yang di keluarkan dari bibir Fidy.


"Apa, kamu ingin menghubungi suami mu..??"Tanya Satria, dengan perasaan ragu dan berat untuk mengucapkan kata-kata itu.


Ana terhenyak, dia menatap nanar Satria, tampak kumpulan kristal bening pun, sudah bermuara di kelopak mata nya.


"Ana, maaf kan aku.."Satria, merengkuh tubuh Ana, dan terdengar lah isak tangis Ana.


"Katakan kepada ku An, jika kamu tidak ingin meneruskan pernikahan ini.."Satria, berkata sambil mengelus lembut rambut Ana.


"Kembalil lah kepada ku, jika kamu tidak bahagia An.."Ucap Satria lirih.


"Apa kalian sudah tidak bisa menahan nya, sampai harus berpelukan seperti ini..?!"Sebuah suara bariton, yang mengejutkan Satria dan Ana.


Terlihat Fidy yang sudah berada di ambang pintu.


Ana langsung melepas kan diri, dari pelukan Satria.


"Ini rumah sakit, tempat umum, dan wanita yang kamu peluk itu masih mempunyai suami.."Fidy berkata, dengan wajah dingin, menatap Satria dan Ana bergantian.

__ADS_1


Fidy melangkah masuk ke dalam, di ikuti Febi, yang benar-benar baru percaya, jika ada sesuatu antara Satria dan Ana.


Febi yang berada si samping Fidy, hanya diam menatap nanar Satria dan Ana. Tampak mata nya yang sembab, karena terlalu banyak menangis.


Wajah Ana memerah, dia langsung menunduk tidak berani menatap Fidy dan Febi, firasat Ana mengatakan jika mereka sudah tahu tentang hubungan dia dan Satria yang sebenarnya.


"Ternyata, kak Ana wanita yang sudah mengisi hati mu, Pram.."Febi berkata, dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa, aku bisa secepat ini jatuh cinta kepada mu Pram..??:"Tanya Febi, yang mulai terisak.


Seketika, Ana mengangkat wajah nya,menatap Febi. Dia tidak percaya jika cinta Febi kepada Satria begitu dalam.


Tidak bisa di cegah, kumpulan kristal bening pun, kembali jatuh mengalir membasahi pipi nya.


Tidak sengaja, tatapan Ana beradu dengan netra Fidy, yang saat itu sedang menatap nya tajam.


Ada sesak di dada nya, saat melihat Fidy menatap sinis ke arah nya.


"Maaf kan aku Feb, Ana adalah wanita yang selama ini aku cari, dan wanita yang akan menemani ku untuk merajut masa depan.."Satria berkata, sambil menggenggam jemari Ana.


Pernyataan Satria, membuat mereka terhenyak.


Sakit, itu lah yang di rasakan Febi, sampai dia memejam kan mata nya, menahan sakit di hati nya.


Sedangkan Ana, menatap nanar ke arah Fidy, entah lah, dia merasa takut dan khawatir, jika pernyataan dan sikap Satria, membuat Fidy cemburu.


Fidy menghela napas, dia berusaha menenangkan hati nya, dari gemuruh amarah yang membuncah di dada nya.


Satria mengetahui, jika Fidy terbakar api cemburu, karena terlihat raut kegusaran dari tatapan mata nya.


Berlahan, Ana melepaskan genggaman tangan Satria, yang membuat Satria tersentak kaget.


Dia menoleh ke arah Ana, tapi Ana langsung memalingkan wajah nya, sambil mengigit bibir bawah nya.


Satria menyadari, jika jauh di lubuk hati Ana, sudah terukir nama Fidy di sana, mungkin Ana sekarang belum menyadari nya.


Fidy menarik napas, dan membuang nya berlahan, sebelum mengucapkan suatu keputusan yang tetberat dalam hidup nya.


"Wiana Maharani, hari ini aku jatuh kan talak untuk mu, dan mulai saat ini kita sudah bukan suami istri lagi..!!!"Ucap Fidy dengan suara tegas, dan wajah dingin, tapi sorot mata kesedihan tidak mampu di tutupi nya.


Ana memejam kan mata nya, saat kata talak terucap dari bibir Fidy, buliran-buliran kristal semakin deras membasahi wajah nya.


"Kenapa sesakit ini..??"Bukan kah ini yang aku ingin kan..?"Bahkan di samping ku, ada seseorang yang selama ini aku rindukan, apa yang sebenar nya yang sudah terjadi kepada hati ku..??"Pertanyaan-pertanyaan, mulai berputar di kepala Ana.


"Kita berdua sudah bukan suami istri lagi, kamu bebas menentukan jalan mu.."Terdengar suara Fidy, yang sedikit parau.


"Aku akan fokus pada kesembuhan Laura, dan kasus hukum yang sedang di hadapi nya, soal bu Minah, kamu tidak perlu khawatir, aku akan memberikan pengobatan yang terbaik untuk nya, karena dia tetap ibu mertua ku.."Ucap Fidy lagi.


Ana menoleh ke arah Fidy, sambil mengusap air mata nya, netra mereka kembali bertemu, desiran aneh dan rasa sakit, semakin di rasakan Ana. Imgin sekali dia berlari memeluk Fidy.

__ADS_1


"Bagaimana, dengan keadaan ibu dan kakak ku..??"Tanya Ana, dengan suara bergetar.


"Bu Minah, sudah mendapatkan donor ginjal yang cocok, besok akan di lakukan transplantasi ginjal, sedang kan Laura aku sedang mengurus ijin kepolisian untuk membawa nya ke Jerman untuk pengobatan nya, aku yang akan menjadi jaminan nya.."Jelas Fidy.


Ana menatap Fidy, rasa bahagia karena sebentar lagi, ibu nya akan melakukan transplantasi ginjal, dan Fidy mau berjuang mengobati penyakit kanker serviks kakak nya Laura.


Tapi, ssbuah perasaan cemburu, tiba-tiba menyeruak di hati nya, tatkala dia mendengar pernyataan Fidy yang sangat memperjuangkan Laura.


"Aku harus pergi, Ana mu sudah kembali, jagalah dia, ini vitamin yang di resep kan dokter, dan untuk administrasi semua sudah beres.."Fidy berkata, sambil menyerah kan kepada Satria plastik yang berisi vitamin.


Satria pun menerima plastik itu.


"Terimakasih, untuk semua nya mas.."Ucap Ana lirih.


Fidy hanya tersenyum dan mengangguk.


"Jangan sakiti dia, atau aku akan mengambil nya kembali dari mu.."Fidy berkata, dengan suara tegas, sambil menepuk pelan pundak Satria.


"Aku pasti menjaga nya, dan tidak akan pernah melepaskan nya lagi.."Satria berkata, dengan penuh penegasan juga.


Sekuat tenaga, Fidy berusaha menangkan hati nya, tidak boleh ada satu pun yang tahu betapa dia begitu terluka.


"Aku akan ke tempat Laura, apa kamu ingin ikut bersama ku Feb..??"Fidy menatap lekat Febi, terlihat sekali hati Febi yang terluka.


Perasaan sedih pun, di rasakan nya sebagai seorang kakak, karena dia tahu jika Febi belum pernah menjalin hubungan dengan lelaki mana pun, karena Aksa melarang setiap lelaki yang mendekati nya. Sehingga dia memutuskan untuk tidak mau jatuh cinta, termasuk kepada dokter Jimmy, yang bertahun-tahun memendam perasaan nya.


Siapa sangka, justru di Jerman dia menemukan lelaki asal Indonesia, yang telah membuat nya jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi seribu sayang, hati lelaki itu sudah terpatri kepada wanita lain, yang ternyata kakak ipar nya sendiri.


"Ada yang ingin aku bicarakan dulu pada Pramudya, maksud ku Satria.."Ucap Febi, menatap Satria dan Ana.


Fidy menghela napas.


"Kalau sudah selesai, susul aku di kamar Laura.."Fidy berkata, sambil menepuk pelan pundak Febi.


Melihat sekilas ke arah Satria dan Ana, dan melangkah pergi meninggalkan mereka.


Ada rasa sedih dan kehilangan di hati Ana, saat punggung Fidy menghilang dari balik pintu.


***************


Siapa kah, sebenar nya yang di cintai dan di ingin kan Ana..??"


Apa yang akan di bicarakan Febi..??"


Pengen tamat hari ini, bisakah☺️😁.


Melimpir kesini 👇👇


__ADS_1



__ADS_2