Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Sosok Lelaki berkaos hitam


__ADS_3

Bab 71


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "


"Bukan kah dia Reynold, teman Aryo yang tinggal di Jerman...??"Dokter Alan berkata, sambil menajam kan mata, melihat lelaki berkaos hitam yang ada di layar CCTV yang di berikan penyidik.


"Kamu masih berhubungan dengan dia...??"Tanya Fidy menatap penuh selidik ke arah Laura.


Semua mata langsung menatap Laura, kecuali Aksa, seketika Laura pun menjadi gugup.


"Apa maksud pertanyaan mu Fidy...??"Tanya Aksa dingin, menatap tak suka atas pertanyaan Fidy pada Laura.


Fidy menghela napas.


"Bukan kah Reynold itu salah satu mantan Laura..???"Dan aku sangat mengetahui seberapa jauh hubungan mereka..."Jawab Fidy yang terus menatap Laura curiga.


"Dia memang mantan ku, lalu hubungan nya apa dengan ku mas...??"Tanya Laura dengan suara bergetar, menatap Fidy dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu sungguh keterlaluan Fidy, mencurigai istri mu sendiri..."Aksa menatap Fidy dengan sorot mata yang tajam.


"Baik lah, berarti titik terang kematian dokter Aryo sudah kita temukan, kami akan segera melakukan penyelidikan terhadap saudara Reynold ini..."Ucap penyidik, untuk menyudahi ketegangan antara Fidy dan Aksa.


"Apa kalian mengenal baik dengan saudara Reynold ini...??"Dan kapan kalian menjalin komunikasi dengan nya ..???"Tanya penyidik sambil menatap bergantian Fidy, Aksa, Laura dan dokter Alan.


"Saya cukup mengenal nya, karena dia dan almarhum putera saya cukup dekat..."Ucap dokter Alan.


"Tapi sudah beberapa bulan ini, saya tidak pernah melihat nya lagi, entahlah mungkin karena saya yang tidak terlalu memperhatikan..."Ucap dokter Alan lagi.


Penyidik yang bertanya pun hanya menganggukkan kepala nya, sedang kan penyidik yang satu lagi mencatat apa yang di katakan para saksi.


Kemudian penyidik menatap Fidy, Laura dan Aksa.


"Apa Nyonya Laura mengenal dekat saudara Reynold...??"Tanya penyidik.


"Kami pernah punya hubungan pak..."Jawab Laura dengan wajah malas.


"Tapi hubungan kami tidak berlangsung lama pak, karena..."Laura tidak menerus kan kata-kata nya, dia hanya menatap Fidy.


Fidy hanya menarik napas dan membuang nya kasar.


Penyidik menatap Laura, menunggu Laura meneruskan ucapan nya.


"Karena Reynold seorang biseks**l ..!!"Jawab Aksa tiba-tiba dengan wajah nya santai nya, sontak dokter Alan dan para penyidik pun kaget dengan ucapan Aksa.


Sedang kan Laura menundukkan wajah nya, mengingat betapa menyebal kan nya saat berpacaran dengan Reynold,.


Dia menerima cinta Reynold karena kekesalan nya kepada Fidy karena menolak nya, begitu juga alasan dia menikah dengan Kelvin, tapi sayang karena rasa cinta Kelvin yang teelalu besar pada nya, membuat rasa cemburu nya menyakit kan fisik Laura.

__ADS_1


Fidy hanya diam membisu mendengar perkataan Aksa.


"Maksud tuan Aksa...???"Tanya dokter Alan sambil mengerutkan kening nya


"Maaf kan saya dokter Alan, mungkin kenyataan ini akan menyakit kan anda..."Ucap Aksa menatap dokter Alan, dengan rasa kasihan.


"Katakan tuan Aksa, saya semakin tidak mengerti...???"Tanya Aksa penasaran.


Aksa menghela napas.


"Sebenar nya Reynold dan Aryo mempunyai hubungan yang spesial..."Ucap Aksa pasti.


"Apa...????"Apa maksud nya...???"Tanya dokter Alan kaget, dengan wajah memerah.


"Maaf dokter Alan, sebenarnya almarhum dokter Aryo, mengidap biseks**l sama seperti Reynold..."Jelas Laura.


"Apa...!!"Teriak dokter Alan.


"Kalian jangan menuduh putra saya yang macam-macam...!!"Teriak dokter Alan sambil berdiri dari duduk nya, dengan wajah memerah, dan sorot mata penuh amarah, sambil menunjuk ke arah Aksa dan Laura.


"Tenang dokter Alan..."Ucap penyidik, sambil mencoba menenangkan dokter Alan, dan meminta nya duduk kembali.


Dengan napas yang memburu karena emosi, dokter Alan pun duduk kembali, dengan mata yang terus menatap tajam Aksa.


"Dokter Alan, kita ini keluarga, aku sudah menganggap Aryo seperti putera ku sendiri, aku tidak mungkin menuduh apa lagi memfitnah nya..."Jelas Aksa, dengan wajah dingin nya.


Dokter Alan, yang mendengar nya hanya bisa memijit pelipis nya, dia tidak percaya dengan kenyataan tentang kelainan se* yang di derita putera nya.


"Tapi dokter Aryo dan Reynold mencintai mu Laura..."Sela Fidy, menatap Laura dengan senyum smirk.


Kembali dokter Alan dan para penyidik tercekat, menatap Laura dan Fidy.


"Tapi kamu tahu siapa yang aku cintai mas, kenapa kamu terus menyudutkan aku..??"Tanya Laura dengan suara parau, tampak dada nya naik turun menahan sesak, menatap nanar Fidy.


"Aku tidak menyudutkan mu Laura, itu hanya perasaan mu saja, aku hanya memberi info, siapa pun bisa menjadi tersangka di antara kita..."Jelas Fidy, sambil menggelengkan kepala nya.


"Baik lah tuan dan nyonya, dokter Alan, maaf kami sudah meminta kesaksian kalian secara bersamaan.."Ucap Penyidik, menatap bergantian orang-orang yang berstatus sosial tinggi di hadapan nya.


"Kami akan segera mencari bukti-bukti lagi, dan kami harap sikap kooperatif dari semua pihak.."Ucap penyidik lagi.


"Siap pak, seperti biasa kami siap kapan pun untuk di mintai keterangan.."Aksa berkata sambil berdiri dan menyalami para penyidik, di ikuti oleh Laura dan dokter Alan.


Fidy yang memakai kursi roda pun menyalami penyidik, saat dia ingin mendorong kursi roda nya, Laura dengan sigap membantu nya mendorong kursi roda nya.


"Aku bisa sendiri Laura..."Fidy berkata saat mereka sudah keluar dari kantor polisi, dan menuju parkir mobil.


"Aku akan mengantar mu ke rumah sakit mas..."Bisik Laura lembut.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku akan ke rumah sakit bersama dokter Alan.."Ucap Fidy sambil menatap dokter Alan.


Dokter Alan pun mengangguk.


"Tapi aku ingin menemani mas.."Rengek Laura manja.


"Sudah ada suster Eva yang menjaga ku.."Fidy berkata sambil memberi kode pada suster Eva.


Suster Eva pun langsung menghampiri Fidy.


"Maaf nyonya, kami harus berangkat sekarang..."Ucap suster Eva dengan sangat sopan.


Sebenarnya nyali suster Eva sangat ciut, saat Laura menatap nya dengan sorotan ke marahan.


Dengan pasrah, Laura pun membiarkan posisi nya di ganti suster Eva.


Suster Eva pun membawa Fidy menuju mobil dokter Alan, tentu saja di ikuti oleh dokter Alan di belakang mereka.


Laura mengepal kan tangan nya, wajah dan tatapan mata nya penuh amarah.


Di tengah kemarahan, sebuah tangan melingkar di pinggang nya.


"Kita pulang dulu, banyak rencana yang harus kita susun..."Ucap orang itu yang tak lain adalah Aksa.


Laura mengangguk.


Mereka pun segera pergi meninggalkan kan kantor polisi.


Di dalam mobil, Fidy tampak sedang memeriksa isi ponsel yang belum sempat di lihat nya dari tadi.


Banyak pesan yang masuk, tapi Fidy hanya tertarik pesan dari Robert , yang sudah pasti pesan tentang Ana.


( Nyonya Ana berada di tempat yang aman ) pesan singkat dari Robert.


( Oke, pantau terus, pasti kan jika istri ku dalam keadaan baik-baik saja ) Balas Fidy.


( Siap tuan ) Jawab Robert.


Fidy menghela napas lega, tampak seulas senyuman menghiasi sudut bibir Fidy.


"Ana, aku sangat merindukanmu..."Batin Fidy sambil mengusap kasar wajah nya.


**********


Maaf ya karena kesibukan author up nya kemalaman.


Jangan lewat kan juga novel karya ku, yang penuh dendam, cinta dan air mata.

__ADS_1



__ADS_2