Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Kesedihan dan Tangisan


__ADS_3

Bab 76


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "


Ana tidak percaya apa yang di lihat nya, wanita yang selama ini di anggap mamah kandung nya, kini sedang menangis tersedu-sedu di sebuah bangku tapat di samping ranjang, dengan kepala tertunduk.


Tampak ada sesosok tubuh di ranjang itu.


"Mas, Ana masih sangat membenci aku.."Ucap lirih wanita yang tak lain Rima di sela isak tangis nya, wanita yang sudah merawat dan membesarkan Ana dari lahir.


Hati Ana terasa di remas, mendengar tangis Rima, dia melihat tangan lelaki itu seperti ingin bergerak tapi terlihat sangat sult,.dan terdengar lelaki itu bersuara tapi sangat tidak terdengar jelas.


Ana sekuat mungkin menahan air mata, dengan mata berkaca-kaca, berlahan dia membuka pintu itu lebih lebar, dan dengan di hantui rasa penasaran, dia pun melangkah masuk ke dalam.


Karena Rima terlaru larut dengan kesedihan dan air mata nya, sampai dia tidak menyadari jika Ana sudah masuk ke dalam kamar, dan kini sudah ada tepat di belakang nya.


Seketika mata Ana terbelalak kaget, dan langsung menutup mulut dengan telapak tangan nya.


Air mata pun langsung mengalir deras membasahi pipi nya, dia menggeleng kan kepala nya, benar-benar tidak percaya dengan apa yang di lihat di depan nya.


Lelaki yang sedang terbaring itu melihat ke arah Ana, mata mereka saling menatap, tampak keterkejutan di wajah lelaki itu, tapi keterjejutan itu berubah menjadi tatapan penuh kerinduan ke arah Ana.


Mata nya pun tampak berkaca-kaca, dan air mata pun keluar dari sudut mata nya.


"A..a..na..."Panggil lelaki itu dengan susah payah.


Rima yang mendengar nya terperanjat kaget, dia melihat ke wajah lelaki yang berada di depan nya, kemudian mengikuti arah pandang lelaki itu.


"Ana...!!"Seru Rima kaget, saat memutar tubuh, melihat Ana yang sudah berada di hadapan nya.


"Apa yang terjadi..??"Kenapa papah seperti ini..??"Tanya Ana dengan bibir dan tangan bergetar, tenggorokan nya seperti tercekik, dia terus menggelengkan kepala nya, benar-benar tidak percaya dengan apa yang di lihat nya.


"A..a..a..na.."Ucap lelaki yang sedang terbaring lemah, yang tak lain adalah Adrian.


Jari-jari Adrian bergerak, memanggil Ana untuk mendekat.


Sedangkan Rima tak mampu lagi berkata-kata, air mata terus mengalir di wajah nya, dia hanya bisa menatap Ana dan Andrian secara bergantian.


Berlahan Ana pun melangkah mendekati Adrian, setelah tepat berada di sebelah Adrian, dia pun semakin shock melihat keadaan Adrian, laki-laki yang selalu menunjuk kan wajah angkuh dan dingin nya, dengan aura kharismatik, laki-laki yang menjadi cinta pertama nya.


Sosok angkuh yang selalu memberikan kasih sayang dan kehangatan untuk nya, tapi sekarang sosok itu terbaring lemah tak berdaya dengan fisik yang tidak sempurna.


Tubuh nya terlihat sangat kurus, tak ada lagi wajah tegas dan tatapan tajam di sana, Ana merasakan hati nya bagaikan tertusuk sembilu, melihat sosok yang menjadi idola nya, sekarang keadaan nya sangat memilukan.


"Papah..."Teriak Ana yang sudah tidak tahan lagi melihat keadaan Adrian.

__ADS_1


Tangisan Ana pun pecah, dan langsung memeluk Adrian, Rima pun ikut menangis.


"Kenapa keadaan papah seperti ini..???"Tanya Ana dengan tangis yang memilukan, dengan memeluk lebih erat tubuh tak berdaya Adrian.


"Ana..."Panggil Rima dengan suara parau, sambil menyentuh lembut pundak Ana.


"Apa yang terjadi dengan papah..?"Tanya Ana lirih sambil membalas tatapan mata Adrian yang sayu, dengan air mata yang membasahi pipi nya, dengan tangan nya yang tak mampu untuk menghapus nya.


Dengan lembut, dan sambil terisak, Ana mengusap air mata Adrian, tangis nya semakin pecah saat melihat bibir Adrian yang tidak sempurna, untuk di buat berbicara saja sulit.


"Setelah pernikahan mu di rumah sakit waktu itu, papah mu menjadi pemurung, dia mengutuk diri nya sendiri karena telah menghancurkan hidup mu nak..."Rima berkata sambil terus menangis.


"Sampai pada suatu hari, papah mu terkena serangan jantung .."Rima tidak mampu meneruskan kata-kata nya, pundak nya sampai terguncang karena isak tangis nya yang begitu menyayat hati.


Ana pun menatap tubuh Adrian, bibir, tangan dan yang sudah tidak sempurna.


"M..m..maaf.."Ucap Adrian terbata-bata, dengan tangan yang terlihat ingin meraih tangan Ana.


Ana pun langsung meraih tangan Adrian, menggenggam dan mencium nya.


"Ana yang minta maaf sama papah, karena sudah pernah membenci kalian.."Ana berkata sambil kembali mengusap lembut air mata Adrian.


Terlihat seulas senyum di bibir Adrian, tangan nya yang di genggam Ana, berusaha mengelus wajah Ana.


Ana membawa tangan Adrian ke wajah nya.


"Ana baik-baik saja pah, Ana sehat, papah tidak perlu khawatir..."Ana berkata, dengan memberikan sebuah senyuman untuk menyakin kan Adrian.


"Papah sudah makan .??"Tanya Ana lembut, sambil menghapus air mata nya.


Adrian menggeleng pelan.


"Kalau begitu biar Ana suapin ya .."Ucap Ana lembut.


Adrian mengangguk dan tersenyum.


Ana membalikkan tubuh nya, dan menatap sendu Rima.


"Apa mamah sudah masak untuk papah .???"Tanya Ana sedikit ragu, karena dia tahu seperti apa mamah nya jika berhubungan dengan masakan.


"Tentu saja sayang.."Ucap Rima dengan mata berbinar bahagia, dengan penuh semangat dan senyuman, Rima pun bergegas keluar kamar untuk mengambil makanan.


Ana menatap punggug Rima tak percaya.


"Mungkin mamah sudah mau belajar masak.."Ucap Ana dalam hati.

__ADS_1


Sepeninggal nya Rima, Ana membantu Adrian duduk di sandaran tempat tidur.


Sambil menunggu Rima, Ana mengajak ngobrol Adrian, walaupun Adrian tidak mampu berbicara lancar, tapi senyum kebahagiaan sangat terlihat di wajah nya.


Sinar kehidupan pun terlihat di bola mata nya, tak lama Rima pun datang membawa nampan berisi sepiring nasi lengkap dengan lauk nya dan segelas air.


Dengan tersenyum hangat, Rima memberikan nampan kepada Ana.


Ana pun menatap isi dari piring itu, kemudian menatap Rima dengan tersenyum.


"Wah, seperti masakan mamah sangat lezat pah.."Goda Ana sambil melirik Rima.


Rima hanya tersenyum, terlihat rona merah di wajah nya.


"Kalah dengan masakan mu An.."Ucap Rima sedikit malu.


"Tidak, masakan mamah sangat lezat, bukti nya semangkok bubur buatan mamah habis tanpa sisa.."Jawab Ana.


"Syukur lah nak.."Ucap Rima sambil tersenyum menatap Ana.


"Nanti mamah harus cerita, dari mana mamah belajar masak..."Ana berkata sambil tertawa kecil.


"Siap.."Ucap Rima tersenyum.


Adrian juga tampak tersenyum bshagia dan haru, melihat kedua wanita yang di sayangi nya sedang tersenyum bahagia


Kebahagiaan yang beberapa bulan menghilang, kini telah hadir kembali di antara mereka.


Berlahan Ana menyuapi Adrian dengan penuh kasih sayang, walaupun susah untuk mengunyah tapi Adrian begitu lahap menerima suapan demi suapan dari tangan Ana.


Sampai lah pada suapan terakhir, selesai makan, Rima meminta Ana untuk memberikan obat untuk di minum Adrian, dan Rima pun segera membawa piring dan gelas ke dapur.


Ana tersenyum hangat menatap Adrian, kemudian mata nya melihat ke semua penjuru kamar mereka.


Kamar yang sama besar dengan kamar yang tempati nya, cat putih nya pun sudah memudar, tampak di dalam kamar hanya ada sebuah tempat tidur, dan lemari pakaian yang hanya sedikit lebih besar dari lemari yang ada di kamar Ana.


Pandangan Ana terpaku pada satu lukisan yang berada di dinding kamar.


"I..i..t..tu..."Adrian tahu jika Ana sedang melihat lukisan diri nya sendiri.


******************


Lukisan siapa kah itu..???


Ikuti ya bab selanjut nya.

__ADS_1


Jangan lupa mampir kesini 👇



__ADS_2