
Bab 89
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
Ana terus menangis di pelukan Fidy.
"Aku ingin melihat mamah untuk terakhir kali nya mas..."Ucap Ana lirih, dengan suara parau.
Fidy melepaskan pelukan nya, dia menatap dalam wajah sendu Ana, wajah nya terlihat pucat dengan mata yang sembab, rasa bersalah kembali menghantui Fidy, dada nya terasa sesak.
Karena dendam dan rasa cinta nya yang sangat dalam, justru membuat wanita yang di kasihi nya menderita.
Fidy bertekad dalam hati, dia sudah tidak peduli jika harus kehilangan uang, harta dan kekuasaan, bagi nya kebahagiaan Ana jauh lebih penting dari apa pun.
"Iya sayang, aku akan menemani mu dan selalu berada di samping mu..."Fidy berkata, sambil menghapus air mata Ana.
Ana tidak menjawab, dia hanya menatap nanar ke arah Fidy.
Fidy pun membantu Ana bangun dari tempat tidur.
Akhir nya mereka berdua keluar dari kamar, menuju ruang keluarga di mana jasad Rima berada.
Terdengar suara orang-orang membaca kan Yasin dan mendo'akan Rima, alunan suara orang mengaji begitu merdu terdengar, tapi sangat menyayat hati Ana.
Fidy terus memeluk Ana, dia ingin memberikan kekuatan untuk Ana, yang kini terlihat benar-benar terpukul dan rapuh dengan kepergian Rima.
Ana bersimpuh di samping jenazah Rima, dia membuka penutup wajah Rima, terlihat wajah Rima begitu tenang, seperti orang yang sedang tertidur pulas, ada ukiran senyum di bibir nya.
"Mamah sangat mencintai papah, pasti sekarang mamah sangat bahagia bisa bertemu papah di sana..."Ucap Ana lirih, sambil membelai lembut wajah Rima yang terasa dingin
Fidy tidak mampu berkata apa-apa, dia hanya bisa mengelus lembut pundak Fidy dan sesekali mencium puncak kepala Ana.
"Tuan, jika sudah tidak ada lagi yang di tunggu, jenazah akan segera kita mandikan, dan shalat kan, karena sudah waktu adzan ashar..."Ucap salah satu pemuka agama yang berada di lingkungan perumahan Fidy.
Fidy mengangguk.
"Sayang, mamah harus segera di mandi kan dan di shalat kan..."Ucap Fidy lembut di telinga Ana.
Ana pun terdiam sesaat menatap wajah Rima, dengan tatapan sendu Ana pun mengangguk, sambil mengusap air mata nya.
Jenazah Rima pun segera di mandi kan, setelah proses memandikan jenazah selesai, kemudian jenazah di bawa ke masjid untuk di shalat kan.
Setelah semua proses selesai, jenazah Rima pun langsung di bawa ke pemakaman umum XX, tempat dimana Adrian di kebumikan.
Suasa duka menghiasi proses pemakaman, Ana yang berusaha ikhlas dan kuat, tidak mampu membendung air mata nya.
Dada nya terasa sesak, saat melihat tubuh Rima yang sudah masuk ke liang lahat, dan sedang di timbun dengan tanah merah.
Fidy terus memeluk Ana, mencoba memberikan kekuatan kepada wanita yang di kasihi nya ini.
Ana menatap nanar dua gundukan tanah merah di depan nya.
"Cinta mu kepada papah, benar-benar cinta sejati mah.."Ana berkata dalam hati, sambil memejamkan mata nya.
Fidy kembali mengusap lembut pundak Ana, dan semakin erat memeluk Ana, air mata masih terus mengalir membasahi wajah Ana, dia hanya mampu menyadarkan kepala nya di dada bidang Fidy, dengan terus terisak.
__ADS_1
Prosesi pemakaman pun selesai, setelah di tutup dengan do'a.
Mereka semua meninggalkan pemakaman, Fidy terus memeluk Ana hingga sampai di parkiran pemakaman.
Tampak sebuah mobil mewah, sedang menatap mereka, di sana sepasang mata milik seorang laki-laki menatap tajam dengan senyum smirk nya, sedangkan sepasang mata milik seorang wanita, menatap tajam ke arah mereka dengan penuh amarah.
"Aku akan memberikan pelajaran kepada wanita si*l*n itu.."Geram wanita, yang menatap nyalang ke arah mereka, terutama ke arah Ana.
"Kenapa wanita si*l*n itu, tidak di bunuh saja saat lahir, biar ikut bersama kedua orang tua nya ke neraka..."Wanita itu berkata, dengan mata penuh amarah, dan tangan mengepal kuat.
"Tenang sayang ku, hidup nya pasti akan seperti mayat hidup, karena kita akan menyiksa psikis nya, yang tentu saja mempengaruhi fisik nya.."Lelaki itu berkata, dengan senyum smirk nya lagi.
Mobil itu pun segera melaju pergi, saat mobil Fidy dan Ana juga melaju pergi membelah jalan raya.
Saat semua orang sudah meninggal kan pemakaman, tiba-tiba dari balik pohon muncul lah sosok seorang laki-laki muda, dengan langkah gontai nya, dia menghampiri makam Adrian dan Rima.
Lelaki itu langsung bersimpuh dengan air mata yang mengalir dari kedua sudut mata nya.
"Maaf kan aku..."Ucap lelaki muda itu lirih.
***********
Mobil Fidy pun sudah sampai di halaman rumah, tampak bi Minah, pak Tarjo, mang Ujang, dan di bantu beberapa orang tetangga sedang mempersiapkan acara tahlilan selepas magrib nanti.
"Nyonya..."Ucap bi Minah, yang langsung menghampiri Ana dan Fidy yang sudah berada di depan rumah.
"Tolong bantu Ana untuk membersihkan diri bi, saya juga mau membersih kan diri dulu..."Fidy berkata, sambil melepaskan pelukannya pada pundak Ana dengan hati-hati.
"Baik tuan.."Ucap bi Minah sambil mengangguk.
"Terimakasih mas..."Jawab Ana lirih.
"Hai, berterima kasih untuk apa sayang .."Jawab Fidy, sambil menatap hangat bola mata Ana yang terlihat sayu.
"Untuk semua nya.."Ucap Ana lagi, sambil menggigit bibir bawah nya yang terlihat pucat.
Fidy tersenyum, walaupun penampilan Ana dalam keadaan kacau, tapi sikap Ana membuat Fidy begitu gemas.
Seperti apa pun keadaan Ana, tapi bagi Fidy aura kecantikan Ana begitu terpancar.
Bagi nya Ana bagaikan berlian, seperti apa pun penampilan nya dan di mana pun dia tetap bersinar.
"Kamu istri ku, duka mu duka ku, sedih ku sedih mu, aku akan selalu bersama mu, karena aku mencintaimu..."Fidy berkata, di iringi dengan sebuah senyuman, tampak pancaran cinta begitu terlihat di mata Fidy.
Mata Ana pun mulai berkaca-kaca, dia tidak menyangka seorang laki-laki saat pertama melihat nya, tampak begitu angkuh, kasar dan kejam, tapi ternyata sangat dalam dan tulus mencintai nya.
"Aku janji ini adalah air mata terakhir mu sayang, aku akan segera mengembalikan kebahagiaan mu yang terenggut.."Fidy berkata, sambil menangkup wajah Ana.
Menatap bola mata yang kini sudah mulai berembun, dan embun itu pun mulai mencair membasahi wajah cantik yang tampak pucat itu.
"Aku sangat menyayangi dan mencintai mu An.."Ucap Fidy lagi, sambil membawa Ana dalam pelukan nya.
Mereka lupa jika adegan kasih sayang, menjadi tontonan orang-orang yang sedang berada di sana.
Mereka semua terlihat baper, ada yang senyum-senyum sendiri, ada yang terlihat sangat sedih, bahkan ada yang sampai meneteskan air mata.
__ADS_1
"Maaf tuan, nyonya, di sini banyak orang.."Bi Minah berkata dengan suara pelan, untuk menyadarkan majikan nya.
Seketika Fidy dan Ana melepas kan pelukan mereka, Ana langsung menunduk dengan wajah memerah, tidak berani melihat ke sekeliling, walaupun dia tiba dalam keadaan terpuruk, tapi dia ingat, ada beberapa tetangga Fidy yang sedang membantu membereskan rumah.
Sedangkan Fidy pun langsung mengedarkan pandangannya, tampak seorang laki-laki setengah baya, yang merupakan seorang Rt di tempat nya, tersenyum dan mengangguk saat tatapan mereka bertemu.
Fidy pun membalas anggukan dan senyuman dengan salah tingkah, sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"A..aku ke kamar dulu mas..."Ucap Ana sambil menunduk, dan berlari kecil ke dalam rumah, di ikuti oleh bi Minah yang tersenyum melihat tingkah Ana dan Fidy.
"Pak Fidy, kami pamit pulang dulu, Insya Allah bada' magrib kami kesini lagi untuk tahlilan.."Ucap pak Rt mendekati Fidy.
"Iya pak Rt, bapak-bapak dan ibu-ibu terimakasih atas bantuannya..."Ucap Fidy mengangguk ke arah mereka.
"Sama-sama pak Fidy, ini kewajiban kita sebagai warga yang bertetangga..."Pak Rt berkata, di ikuti anggukan tetangga yang lain.
"Pak Fidy yang sabar ya.."Celetuk salah satu ibu, yang dari tadi tidak berkedip menatap Fidy.
"Hus,, mata mu tuh bu..."Hardik si bapak, yang berada di sebelah nya, yang ternyata suami ibu itu.
Semua orang menahan tawa, pak Rt menggeleng kan kepala nya, Fidy hanya tersenyum, kini dia sudah kembali dengan gaya cool nya.
"Baik lah pak Fidy, kami pamit.."Ucap pak Rt.
"Sekali lagi terimakasih.."Jawab Fidy sambil mengangguk.
Pak Rt dan beberapa warga pun, pergi meninggalkan rumah Fidy, ibu yang tadi menatap Fidy tanpa kedip melambaikan tangan nya ke arah Fidy, tapi langsung di tarik oleh suami nya.
Fidy hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala nya, dia bersyukur tinggal di lingkungan elit, tapi rasa kekeluargaan nya sangat erat, walau pun dia tidak pernah hadir, tapi dia selalu menyuruh salah satu antara mang Ujang, bi Minah atau pak Tarjo mewakili nya.
Kalau soal sumbangan jangan di tanya, Fidy selalu menjadi donatur terbesar walaupun tidak pernah hadir.
Fidy pun melangkah kan kaki menuju kamar nya.
Saat sampai di dalam kamar, Fidy duduk di sofa, memejamkan mata nya, menarik napas dan membuang nya kasar.
Fidy pun segera mengambil ponsel nya, dari saku celana, membuka kontak, dan menatap sebuah nama.
Dengan satu tarikan napas, Fidy pun langsung menghubungi salah satu nomor yang ada di kontak ponsel nya.
"Bisa kah kita bertemu...???"
**********
Ayo siapa yang sedang di hubungi Fidy...???
Siapa juga laki-laki muda, yang datang ke makam Adrian dan Rima, saat suasana di pemakaman sudah sepi...??
Kslau lelaki dan wanita yang di dalam mobil, pasti kalian tahu dong๐
Ikuti terus dong kelanjutan nya
Oo ya, author pengen bikin novel baru nie, semoga segera mendapatkan inspirasi yang bagus ๐๐๐คฒ๐คฒ.
Jangan lupa yang belum melimpir ke novel pertama author, silahkan mampir dan di kepoin ya, di jamin seru๐
__ADS_1