
Bab 88
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
Ana ikut terlelap sambil memeluk tubuh Rima, haru nya merasakan damai sekali, bibir nya tersenyum bahagia, merasakan kehangatan tubuh yang sangat dirindukan nya.
Di lain tempat, tampak dua orang wanita cantik beda generasi memakai gaun putih sedang bersenda gurau penuh kebahagiaan, tangan mereka saling berpegangan erat seperti tidak bisa di pisah kan.
Canda tawa dan pelukan hangat tercipta di antara mereka, tapi tiba-tiba segumpal kabut putih muncul di hadapan mereka, membuat perhatian mereka teralihkan ke kabut itu.
Berlahan kabut putih itu pun berbah menjadi sosok laki-laki setengah baya dengan pakaian berwarna putih, wajah nya erlihat dingin dan angkuh, tapi memancar kan kehangatan kala bola mata itu menatap dua wanita di hadapan nya.
Berlahan lelaki setengah baya itu tersenyum menatap mereka, dia pun mengulurkan tangan nya kepada salah satu wanita bergaun putih itu.
Sebelum meraih tangan lelaki setengah baya itu, wanita itu pun menoleh kearah wanita yang berada di samping nya, wanita yang berada di samping itu, hanya bisa menatap nanar ke arah mereka berdua.
Wanita itu tersenyum hangat, dan dengan lembut membelai wajah dan rambut wanita itu, kemudian menatap wajah nya, seolah berkata jaga diri baik-baik, kamu bisa melewati nya.
Berlahan wanita itu melepaskan tangan nya, dari wanita yang kini sedang menatap nanar kepada nya, seolah berkata jangan tinggal kan aku.
Pegangan tangan itu pun terlepas, berlahan tapi pasti wanita itu pun membalikkan badan nya, dan melangkah kan kaki nya mendekati laki-laki setengah baya berbaju putih yang sudah menunggu nya.
Lelaki itu tersenyum hangat dengan tangan yang masih terulur, wanita itu pun meraih uluran tangan nya, mereka pun saling menatap dan tersenyum, kemudian mereka menatap ke arah wanita yang kini sedang terpaku menatap mereka dengan mata berkaca-kaca.
Mereka terlihat tersenyum dan mengangguk, seolah memberikan kekuatan kepada wanita yang kini sedang berdiri sendiri, dengan buliran bening membasahi wajah nya.
Tiba-tiba tubuh lelaki dan wanita itu seperti melayang ke udara, sambil melambaikan tangan mereka, tubuh mereka pun semakin menjauh dari wanita yang masih menangis dalam diam, sampai akhir nya tubuh kedua laki-laki dan wanita itu menghilang.
Deg....
Ana pun terbangun, dengan air mata yang sudah membasahi wajah nya, tiba-tiba hati nya terasa kosong, dada nya terasa sesak seperti ada yang hilang dari hidup nya.
Ana mulai mengumpulkan ingatan nya, dia pun teringat jika dia sedang tertidur di samping Rima, sambil menyeka air mata nya, Ana pun menoleh ke arah Rima yang sedang tertidur pulas.
Wajah nya begitu tenang sambil tersenyum, Ana pun ikut tersenyum melihat wanita yang sudah merawat dan membesarkan nya, dengan lembut dia pun menyentuh lembut wajah Rima.
Tapi dia tersentak kaget, saat menyentuh wajah Rima, terasa dingin sekali, padahal AC di kamar tidak menyala.
"Mah..."Panggil Ana lirih, dengan jantung berdetak kencang.
Ana langsung menyentuh tangan Rima yang terasa dingin dan sedikit kaku, tentu saja membuat Ana panik.
__ADS_1
"Mah...!!"Ana mulai berteriak memanggil Rima, sambil mencoba membangun kan Rima, tapi nihil, tubuh Rima sama sekali tidak merespon.
"Mah, mamah bangun, mamah...!!"Ana terus berteriak memanggil, sambil mengguncang kan tubuh Rima.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, tampak dokter Efendi, dua orang perawat dan bi Minah masuk ke dalam kamar.
"Nyonya.."Panggil bi Minah.
"Biar saya periksa keadaan nyonya Rima dulu.."Ucap dokter Efendi.
Ana tidak menjawab, air mata sudah kembali membasahi wajah nya, bi Minah dan perawat membawa Ana untuk bangun dari tempat tidur, dan menjauhi Rima, membiarkan dokter Efendi melakukan pemeriksaan.
Beberapa saat, dokter Efendi memeriksa keadaan Rima, sampai akhir nya sang dokter menarik napas.
"Ada apa dengan mamah saya dok...??"Tanya Ana, yang semakin merasakan ketakutan di hati nya.
Dokter Efendi tidak langsung menjawab.
"Kata kan dok, apa yang terjadi kepada mamah saya...???"Tanya Ana, sambil berteriak, dan mencengkeram kencang lengan kemeja dokter Efendi, yang saat itu tidak memakai jas putih kebesaran nya.
Dokter Efendi kembali menghela napas.
"Kamu yang sabar An, saya turut berduka cita..."Ucap dokter Efendi, menatap sendu Ana.
"Apa ..???"Tidak, dokter pasti salah, mamah saya tidak mungkin meninggal..."Ana berkata sambil menggelengkan kepala nya tak percaya, air mata semakin deras membasahi wajah nya.
"Coba periksa sekali dok, tadi sebelum tidur mamah baik-baik saja, bahkan dia banyak bercerita kepada saya..."Teriak Ana histeris.
"Tenang dulu nyonya..:"Bi Minah mencoba menenangkan Ana.
"Maaf kan saya An..."Dokter Efendi berkata sambil menunduk kan wajah nya.
Seketika tubuh Ana terasa lemas bagai kan tak bertulang, dengan langkah gontai dia mendekati Rima, yang sudah berbaring tanpa nyawa.
Dengan isak tangis, dia memegang tangan Rima yang sudah dingin dan kaku, tampak pundak nya terlihat berguncang karena isak tangis nya, Ana merasa semua berputar, tubuh nya bagai kan melayang.
Mata nya yang sedang menatap wajah Rima, terasa seperti sinar putih yang menghitam, dan akhir nya menjadi gelap.
******************
"Sayang, kamu sudah sadar..."Suara bariton yang menemani hari-hari Ana saat ini, begitu terdengar jelas di telinga nya, saat dia membuka mata.
__ADS_1
Tampak wajah tampan dengan rahang tegas, dan alis yang tebal, sedang menatap nya penuh dengan rasa khawatir.
"Sayang..."Ucap laki-laki itu lagi yang tak lain adalah Fidy, sedang menggenggam dan mencium tangan Ana.
Ana mencoba mengumpulkan ingatan, dan dia berharap apa yang terjadi baru saja hanya sebagai mimpi buruk.
"M..mamah.."Ucap Ana lirih, menatap Fidy.
Fidy menatap Ana sendu, terlihat kesedihan di mata nya.
"Mamah mas..."Ucap Ana lagi, karena Fidy tidak mengucapkan apa-apa.
"Mamah sudah tenang sayang.."Fidy berkata dengan napas yang berat.
Ana mengerutkan kening nya, dia sadar jika semua yang terjadi adalah realita bukan sekedar mimpi.
"Kamu mau bilang juga, kalau mamah sudah meninggal mas...???"Tanya Ana dengan suara yang mulai parau, dan air mata yang mengalir deras.
"Sayang, semua sudah takdir..."Fidy berkata sambil membawa Ana ke dalam pelukan nya.
Ana memberontak, dia menepis kasar tangan Fidy yang sedang memeluk nya.
Tapi Fidy semakin erat memeluk Ana, dengan isak tangis nya Ana terus memberontak.
"Kamu masih ada aku, aku janji akan selalu bersama mu, kita akan menghadapi semua bersama sayang..."Fidy berkata sambil terus memeluk erat Ana.
Melihat keadaan Ana yang semakin rapuh, membuat rasa bersalah Fidy semakin dalam, hati nya terasa sakit sekali, melihat air mata Ana yang terus mengalir saat bersama nya.
Tanpa komando, air mata mulai keluar dari sudut mata seorang Fidy Eka Sakti.
************
Cobaan Ana bertubi-tubi sie thor..??
Ga kasihan sama Ana..??
Ga dong, khan cerita nya masih panjang😁
Maka nya jangan lewat kan setiap author update ya, sampai Ana mendapatkan kebahagiaan nya😊
Melimpir ke novel author yang satu ini ya 👇
__ADS_1