
Bab 48
" Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
"Siapa kah wanita itu..??Apakah dia kekasih atau istri tuan Fidy...??"Kalau memang istri nya, bagaimana dengan nyonya Laura...??"Banyak nya pertanyaan di benak bapak pemilik kedai kopi, dengan menatap nanar punggung Fidy dan Ana.
"Jika tuan Aldo dan nyonya Ine masih ada, pasti mereka bangga dengan keberhasilan tuan Fidy mengelola perusahaan Aksa Sakti..."Ucap pemilik kedai lagi dengan menatap punggung Fidy dan Ana yang semakin menjauh.
*********
"Terimakasih untuk malam ini.."Ucap Fidy saat mereka sudah berada di dalam mobil, sambil menatap lekat wajah Ana yang berada di samping nya.
"Aku yang seharus nya yang terimakasih untuk makan malam nya yang enak sekali.."Jawab Ana dengan senyum manis nya.
"Membahagiakan seorang Wihana Maharani ternyata sangat sederhana, hanya mengajak ke kedai kopi, rona bahagia sudah sangat terpancar di wajah nya..."Batin Fidy sambil tersenyum menatap wajah wanita di samping nya, yang begitu mempesona bagi nya.
"Kamu tahu tidak apa yang menjadi kan menu sederhana itu menjadi spesial..."Tanya Ana membalas tatapan Fidy dengan senyum manis nya.
"Apa...???"Ucap Fidy dengan tersenyum menggoda, semakin mendekat kan wajah nya ke samping wajah Ana.
Saat ini Ana tidak berani menoleh sedikit pun, pandangan nya tetap lurus.
"Jantung kenapa berdegup kencang sekali sie..??"Batin Ana sambil memegang dada nya.
"Seperti anak ABG saja.."Umpat Ana dalam hati.
Ana tidak mengerti, 10 tahun menjalin kasih dengan Satria, dia tidak pernah merasakan detakan jantung yang luar biasa seperti ini.
"Hai.."Fidy menyentuh bahu Ana dan menggoyangkan nya, membuyarkan lamunan Ana.
Ana yang tersentak kaget , refleks langsung menoleh kan kepala nya, dan tak terhindari lagi wajah mereka tanpa jarak, membuat bibir mereka menyatu.
Kesempatan yang tidak di sia-sia kan Fidy, dengan lembut dia pun mencium bibir Ana.
Walaupun bukan pertama kali berciuman dengan Fidy, tapi degup jantung Ana begitu bergemuruh dengan hebat.
Beberapa menit mereka berciuman, dengan senyuman dan penuh kelembutan Fidy melepaskan ciuman nya, dan mengusap lembut bibir Ana yag yang basah.
Ana hanya bisa menunduk dengan wajah memerah.
"Sudah malam, apa kita bisa pulang sekarang...??"Ana berkata sambil mengalihkan pandangan nya dari wajah Fidy yang menatap nya dengan intens.
__ADS_1
"Tapi kamu belum menjawab pertanyaan ku An.."Fidy berkata sambil menyelipkan rambut di telinga Ana karena sedikit menutupi wajah Ana dari samping.
Ana menghela napas
Fidy mengelus lembut wajah Ana.
"Tuan..."Ucap Ana sambil mencoba menghindari tangan Fidy yang sedang mengelus pipi nya.
"Dermaga..."Ucap Ana dengan napas teesengal karena takut Fidy akan memberikan ciuman nya lagi.
"Ada apa dengan dermaga..??"Tanya Fidy dengan senyum nakal nya, sambil menautkan alis nya.
"Tempat dan makanan sederhana bisa di sulap menjadi makanan yang nikmat dan lezat, karena suasana yang mendukung, seperti pemandangan di dermaga ini.."Ucap Ana tersenyum tanpa berani menoleh Fidy.
"An..."Panggil Fidy lembut, sambil memutar tubuh Ana untuk menghadap nya, Ana tersentak kaget tanpa mampu menolak, netra mereka pun ketemu.
Fidy pun langsung membawa Ana ke dalam pelukan nya, tentu saja Ana di buat kaget lagi dengan perlakuan Fidy.
"Kamu tahu, setiap aku mengunjungi dermaga ini, dada ku sesak, hati ku terluka bagaikan di iris sembilu, rasa takut selalu menghantui ku,dan aku selalu menangis dalam diam.."Fidy berkata dengan suara yang mulai parau, sambil mengelus lembut rambut Ana.
"Dan kamu tahu An...??"Fidy berkata sambil melepas kan pelukan nya, dan menatap nanar mata Ana.
"Tapi malam ini berbeda, saat aku mengunjungi dermaga ini bersama mu An..."Fidy berkata dengan tatapan yang semakin menatap sendu.
Ana yang awal nya tidak berani menatap Fidy, entah kenapa perasaan nya terenyuh seolah ikut merasakan kesedihan yang Fidy rasakan.
"Kebahagiaan puluhan tahun dulu yang telah hilang setiap kali mengunjungi dermaga ini, kini kebahagiaan itu aku rasakan lagi, aku seperti hidup kembali An..."Ucap Fidy lagi.
"Kamu benar-benar sudah memberikan warna yang berbeda untuk hidup ku..."Fidy kembali berkata-kata sambil meraih jemari tangan Ana.
Kilatan ketulusan dan kebahagiaan terpancar di mata hitam pekat Fidy.
"Wihana Maharani..."Panggil Fidy sambil mengatur napas dan tetap menggenggam jemari Ana.
Ana pun merasakan debaran yang semakin kencang di dada nya, dia seolah-olah terhipnotis dengan sorot mata tajam Fidy yang terlihat sendu, justru menambah sempurna aura ketampanan nya.
"I Love You..."Ucap Fidy dengan suara pelan nyaris tak terdengar.
Terlihat Fidy mengatur napas nya, buliran keringat pun terlihat di dahi Fidy, dan Ana juga merasakan telapak tangan Fidy yang berkeringat, padahal AC di dalam mobil menyala, di tambah cuaca malam di dermaga yang dingin, dengan hembusan angin malam nya.
Di tengah keterkejutan dan debaran di hati nya, Ana juga tidak mampu menahan senyum di bibir nya.
__ADS_1
"Kenapa tersenyum..??"...Apa ada yang lucu..???"Tanya Fidy dengan satu tangan mengusap keringat di dahi nya dan tangan yang satu masih tetap menggenggam tangan Ana.
"Apa AC di mobil ini tidak berfungsi sampai kamu berkeringat seperti ini..??"Tanya Ana lembut sambil mengambil tissue dan mengelap lembut keringat di dahi Fidy.
"An..."Ucap Fidy pelan sambil memegang tangan Ana yang berada di dahi nya.
"I Love You.."Ucap Fidy sekali lagi, kali ini dengan suara lantang dengan penuh keyakinan, dan penuh kelembutan menatap wajah Ana.
Ana tersenyum sambil menunduk dengan wajah memerah, pasti nya dengan menggigit bibir bawah nya.
"An, apa harus tiga kali aku mengatakan nya...??"Tanya Fidy sambil menangkup wajah Ana untuk melihat ke arah nya.
Ana menggelengkan kepala nya, sambil meletakkan jari telunjuk nya di bibir Ana
"Tidak perlu, aku sudah mendengar nya dua kali, aku tidak tahu bagaimana sekarang perasaan ku ini, jika di bilang cinta seperti nya terlalu cepat..."Ana berkata dengan tatapan nanar.
"Aku mengerti, ini terlalu cepat untuk mu, aku akan menunggu jawaban mu..."Fidy berkata sambil membelai lembut wajah Ana
"Terimakasih...:Ana berkata sambil menyandarkan kepala nya di dada Fidy.
Fidy pun kembali memeluk Ana, mengusap lembut rambut dan punggung Ana, terasa kehangatan, kenyamanan dan rasa aman menyeruak di kalbu Ana.
"Terimakasih untuk semua nya...."Ucap Fidy sambil mencium kening Ana.
Ana mengangguk pelan dan semakin mempererat pelukan nya.
************
Sementara di restoran mewah, tampak seorang pria yang tampak geram dengan wajah memerah dan tangan terkepal kuat, sehingga kuku-kuku nya terlihat memutih.
Tatapan tajam saat menerima pesan, gambar dan sebuah video yang membuat nya dada nya bergemuruh penuh amarah.
********
Mohon maaf, karena ada sesuatu sudah lewat 3 hari author baru update.
Semoga kalian tetap setia dengan karya-karya author.
Yang belum tahu novel pertama author, tidak pernah bosan buat promosi
__ADS_1