Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Kepergian Adrian


__ADS_3

Bab 83


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih"


.


Fidy hanya senyum-senyum melihat ke arah Rima dan Ana yang menatap nya heran.


"Kenapa..??"Ga pernah lihat cowok cool, teriak ya..."Tanya Fidy sambil mengedipkan sebelah mata nya ke Ana.


"Ih, alay banget sie..."Gerutu Ana, sambil menggelengkan kepala nya.


"Sudah, lebih baik kalian temui papah.."Ucap Rima lembut.


"Ana mau bantu mamah dulu, seperti nya papah masih tidur.."Jawab Ana, dengan cekatan dia langsung meraih kertas minyak untuk membungkus nasi.


"Aku juga mau membantu.."Ucap Fidy yang langsung mendekati Ana dan Rima.


"Emang nya bisa..??."Tanya Ana dengan tatapan tak percaya.


"Apa sie, yang tidak bisa di lakukan seorang Fidy Eka Sakti..."Jawab Fidy santai, dengan senyum yang mengembang


Tentu saja para kaum hawa yang ada di sana berteriak histeris.


"Saya mau dong abang ganteng, satu bungkus ayam bakar nya..."Teriak dari salah satu ibu yang ada di kerumunan.


"Iya kakak arjuna, aku juga mau satu porsi, tapi pakai ikan goreng saja.."Ucap salah satu cewek ABG sambil tersenyum genit.


"Ko arjuna sie...??"Tanya wanita di samping nya.


"Ya Arjuna, soal nya mas nya ganteng banget mirip banget kayak arjuna..."Jawab cewek ABG, sambil terus menatap Fidy tanpa berkedip.


"Si teteh juga cantik dan sempurna banget, persis dewi Sinta..."Celetuk lelaki ABG, yang bertubuh cungkring.


Semua orang-orang heboh, selain antri mendapatkan nasi bungkus, mereka juga mengagumi ketampanan Fidy, dan kecantikan Ana, ada juga beberapa lelaki yang sudah berumur melirik Rima.


Fidy, Ana dan Rima hanya tersenyum dan menggeleng kan kepala mereka, kadang wajah Ana cemberut jika ada di antara wanita-wanita itu yang menggoda Fidy.


Di saat suasana sedang ramai, tiba-tiba terdengar suara, benda yang jatuh dari dalam rumah, dengan suara yang sangat kuat dan kencang.


Bugggg....


Seketika semua orang terdiam.


Fidy, Ana dan Rima saling tatap.


"Papah...!!"Teriak Ana histeris, langsung berlari ke dalam rumah, dan langsung di ikuti Fidy dan Rima.


Semua orang-orang yang berada di warung pun kaget, dan mereka ikut masuk ke dalam rumah, ingin tahu apa yang terjadi.


Ana setengah berlari memasuki rumah, saat sampai di depan pintu kamar Adrian dan Rima, tampak tubuh Adrian yang sudah terjatuh dari tempat tidur nya,


Dan terlihat tubuh nya yang sudah tergeletak bersimbah darah.


Semua orang kaget dan berteriak.

__ADS_1


"Papahhhh..."Ana berteriak histeris, dan langsung memeluk tubuh Adrian.


Rima tampak sangat syock, tungkai kaki nya langsung lemas, tenaga nya hilang seketika, tubuh nya seperti melayang, pandangan nya menjadi gelap dan Rima pun tak sadar kan diri.


Fidy dengan sigap langsung memegang tubuh Rima, dia langsung membawa tubuh Rima ke sofa, dan meminta bantuan ibu-ibu di sana, untuk menjaga Rima.


Fidy segera meraih ponsel untuk menghubungi polisi.


Ana masih terus menangis dan berteriak, memanggil nama Adrian yang berada dalam pelukan nya.


Pakaian, tangan dan wajah nya sudah penuh oleh darah Adrian.


Fidy segera memeriksa kamar, terlihat gorden jendela kamar yang bergerak, dia segera melihat ke arah jendala, yang kebetulan di samping kamar yang di tempati kamar Adrian adalah tanah kosong.


"Sia**n..!!"Umpat Fidy geram.


Tiba-tiba ponsel Fidy berbunyi.


"Cepat datang kesini..."Jawab Fidy saat panggilan tersambung, dan langsung menutup telpon nya.


Fidy langsung mendekati Ana.


"Sayang..."Ucap Fidy lirih, sambil memegang pundak Fidy.


"Siapa yang tega melakukan ini sama papah mas..??"Tanya Ana dengan suara parau, dengan air mata yang terus membasahi pipi nya.


Hati Fidy terasa teriris, melihat kesedihan dan air mata Ana, dia mengutuki diri nya sendiri.


"Maaf kan aku An, aku tidak pernah bisa memberikan mu kebahagiaan, aku hanya bisa memberikan duka dan kesedihan dalam hidup mu.."Ucap Fidy dalam hati, dada nya begitu sesak seperti ada batu besar yang terasa menghimpit di dada nya.


Tak lama polisi pun datang, bertepatan dengan kedatangan Robert dan ambulans, tampak suasana yang begitu panik dan mencekam, semua warga pun di suruh keluar oleh aparat, mereka hanya bisa melihat dari kejauhan.


Para polisi dan Robert pun langsung menuju kamar Adrian, memeriksa jenazah dan seluruh sudut kamar, memeriksa semua bagian rumah, dan memberikan police line di sekitar rumah.


Ana yang tadi nya tidak mau melepaskan pelukan nya dari tubuh Adrian, kini terkulai lemas di pelukan Fidy, dengan isakan tangis tiada henti.


Berlahan Rima pun membuka mata nya.


"Ana.."Panggil Rima lirih, saat melihat Ana yang sedang menangis dalam pelukan Fidy.


"Mamah.."Ana pun kembali menangis histeris, dan langsung memeluk tubuh lemah Rima.


Tangisan pun pecah di antara mereka, tangisan pilu yang sangat menyayat hati.


Tak terasa mata Fidy berkaca-kaca, tampak wajah yang memerah penuh amarah, tangan nya mengepal kuat, sambil menatap tubuh Adrian yang sudah di masukkan ke dalam plastik jenazah menuju ambulans untuk di lakukan otopsi.


"Papah.."


"Mas..."


Teriak histeris Rima dan Ana bersamaan, saat melihat jenazah Adrian yang sedang di bawa di dalam plastik jenazah.


Ana dan Rima langsung berdiri dari duduk mereka, dan hendak menyusul keluar, tapi Fidy mencegah mereka.


"Maaf An, tante, kalian jangan ikut ke rumah sakit, sebaik nya kalian tunggu di rumah saya.."Ucap Fidy sambil berdiri di depan Ana dan Rima.

__ADS_1


"Di sana lebih aman, Robert dan anak buah nya akan mengantar dan menjaga kalian di sana, nanti kita akan bertemu di pemakaman..."Ucap Fidy lagi sambil menatap nanar kedua wanita di hadapan nya.


"Tapi kami ingin melihat papah mas.."Ucap Ana lirih dengan isakan tangis nya, sambil memeluk Rima.


"Aku tahu perasaan kalian, tapi ini yang terbaik, demi keamanan kalian, karena yang kita hadapi sekarang adalah pembunuh berdarah dingin.."Ucap Fidy meyakinkan.


"Benar nyonya Ana dan nyonya Rima, ini semua demi keamanan kalian, saya akan menjaga kalian.."Ucap Robert meyakinkan.


Akhir nya Ana mengangguk, sambil menyeka air mata nya.


Fidy pun tersenyum lega.


"Kalian akan aman bersama Robert, aku akan pergi ke rumah sakit.."Ucap Fidy lembut, sambil mengusap air mata Ana.


Ana mengangguk.


"Hati-hati mas.."Ucap Ana lirih, menatap nanar Fidy dengan mata yang masih berkaca-kaca.


Fidy mengangguk dan tersenyum, kemudian mencium lembut kening Ana.


"Jaga mamah.."Ucap Fidy, sambil mengelus lembut rambut Ana.


"Aku pergi.."Ucap Fidy lagi.


"Beberapa anak buah saya akan menemani tuan.."Ucap Robert.


Fidy mengangguk.


"Jaga mereka.."Ucap Fidy, sambil menatap Robert.


"Siap tuan.."Robert berkata sambil mengangguk hormat.


Fidy pun kembali mengangguk, dan sekilas kembali menatap Ana, yang sedang menatap nya.


Netra mereka bertemu, dan Fidy pun segera melangkah menuju mobil nya, di ikuti oleh beberapa polisi.


Dengan air mata yang masih terus membasahi pipi nya, Ana menatap nanar punggung Fidy yang sudah masuk ke dalam mobil dan melaju pergi menuju rumah sakit.


"Ayo nyonya, kita pergi sekarang.."Robert berkata dengan penuh hormat.


Ana pun mengikuti langkah Robert, sambil membimbing Rima dalam pelukan nya


************


Siapa kah yang telah tega membunuh Adrian, dalam keadaan stroke,dengan cara yang sadis..???


Sampai kapan kah masalah dan penderitaan Ana akan berakhir..???


Ikuti terus di setiap cerita nya.


Dukung author, untuk menyajikan cerita-cerita yang seru di setiap bab nya


Jangan lupa mampir ke novel author yang ga kalah seru juga, pasti nya sudah tamat 👇


__ADS_1


__ADS_2