Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Ada Cinta Segi Empat


__ADS_3

Bab 121


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "


Dokter Jimmy, hanya menghela napas, melihat Febi dengan agresif nya menyuapi Satria.


"Kak Jimmy.."Panggil Bramantyo.


Semua mata menoleh ke arah dokter Jimmy, tak kecuali Satria, dengan wajah tak enak, dia menahan tangan Febi yang ingin kembali menyuapi nya.


Sedang kan, Febi sendiri enggan untuk menoleh sedikit pun ke arah dokter Jimmy.


"Kemarilah, duduk di sini Jim, kita makan bersama.."Ucap Fidy, sambil menepuk tempat yang masih kosong di samping nya.


Dokter Jimmy, segera duduk di samping Fidy.


"Makan lah, persediaan makanan dan lauk masih sangat cukup untuk menambah orang.."Ucap Fidy, sambil melirik ke arah dokter Jimmy yang terlihat sangat kusut hari ini.


"Thank sob.."Jawab dokter Jimmy singkat, langsung meraih piring, mengambil nasi dan lauk pauk nya.


Ana, sekilas menatap Febi, yang terihat tidak suka dengan kehadiran dokter Jimmy, sedang kan wajah frustasi dan kecewa tergambar jelas di wajah dokter Jimmy.


Saat tidak sengaja, tatapan nya bertemu dengan sepasang mata elang, yang selalu hadir di hari-hari indah nya, tampak ada kerinduan dari sorot mata nya.


Tiba-tiba, ada sebuah tangan yang menyentuh lembut pipi nya, dan tangan itu membawa wajah Ana untuk melihat ke arah nya.


Tampak Fidy memberikan sebuah senyuman, tapi dengan tatapan yang sangat tajam.


"Tidak baik, wanita yang bersuami menatap laki-laki lain, apa lagi di hadapan suami nya sendiri.."Bisik Fidy lembut, tapi seperti ujung belati tajam yang menyentuh dada Ana.


Mata Ana terbelalak menatap Fidy. karena kini wajah mereka nyaris tanpa jarak, tampak sekali senyum Fidy yang siap menghunus jantung nya.


"Cepat, habis kan makan mu, bukan kah kamu sangat mengkhawatirkan keadaan ibu mu..!!"Ucapan Fidy, bagaikan perintah tak terpatah kan.


Ana pun segera memalingkan wajah nya, dan langsung melahap makanan nya.


"Pelan-pelan makan nya sayang.."Fidy berkata, sambil membelai lembut rambut Ana, dengan tatapan dan senyuman sinis ke arah Satria.


Untuk menghindari, sesuatu yang tidak di ingin kan, dengan terpaksa, Satria pun meladeni Febi, mereka sekarang makan dengan saling menyuapi.


Sedang kan dokter Jimmy dengan hati yang bergejolak, berusaha tenang, dan dengan susah payah, berusaha juga menelan makanan nya.


Bramantyo, yang sadar ada cinta segi empat di antara mereka, hanya menggelengkan kepala nya, sambil kembali melahap makanan nya.


Mereka pun kembali makan dalam diam.


Beberapa menit kemudian, acara makan pun selesai.


"Aku dan Ana, akan segera kembali ke rumah sakit, karena sudah terlalu lama kami meninggalkan bu Minah ."Ucap Fidy dengan suara dingin, dan wajah datar.


"Aku ikut, dengan kalian, ada yang harus aku kerjakan di rumah sakit.."Dokter Jimmy berkata, sambil bangkit dari duduk nya.


Fidy mengangguk, dia pun mengajak Ana untuk bangkit.

__ADS_1


"Biar aku saja, yang membayar makanan nya kak."Ucap Bramantyo, saat Fidy ingin mengeluarkan dompet nya.


"Kamu yakin..??!"Tanya Fidy, pura-pura tak percaya, dia menatap Bramantyo sambil mengerutkan kening nya.


"Hai, jangan remeh kan aku, Bramantyo yang sekarang ini adalah seorang laki-laki dewasa yang tangguh, yang siap menghadapi keras nya kehidupan, dan aku adalah salah satu pelukis terkenal di kota Bali, dan banyak gadis Bali yang mengejar aku.."Jawab Bramantyo bangga, sambil terkekeh.


Febi hanya mencibirkan bibir nya, mendengar celotehan adik nya.


"Oh ya, apa pesona mu mampu mengalahkan pesona Pramudya ku di Bali..??"Tanya Febi, yang lagi-lagi bergelayut manja di lengan Fidy, bahkan kini kepala nya sedikit bersandar di bahu Fidy.


"Tentu saja.."Jawab Bramantyo sombong.


"Itu karena Pram tidak tinggal di Bali, seandai nya dia menetap di sana, pasti kamu salah saing lah.."Jawab Febi, tak mau kalah.


Satria dan Ana tersenyum, mendengar adu debat kakak beradik yang sudah lama tak bertemu sekian tahun.


Tanpa sadar netra mereka bertemu, di kala senyum sedang merekah di antara mereka.


Senyum yang selalu hadir di setiap detik kebersamaan mereka, tapi saat ini, ada ketakutan di saat mereka melempar senyum.


Tentu saja ini tidak luput dari tatapan Fidy.


"Terimakasih Bram atas traktiran nya, kami harus pergi sekarang.."Fidy berkata, sambil menarik kasar lengan Ana.


Ana yang berjalan di samping Fidy, sedikit meringis kesakitan karena cengkeraman kuat tangan Fidy di lengan nya, sedang kan dokter Jimmy mengekor mereka dari belakang.


Febi, Satria dan Bramantyo terdiam sesaat, mereka hanya menatap punggung Fidy, Ana dan dokter Jimmy, yang menghilang dari balik pintu masuk resto.


"Pram, apa kamu tidak ingin beristirahat..??"Tanya Febi lembut, memecah keheningan.


"A.. aku..".


Belum sempat Satria menerus kan perkataan nya, tapi Febi sudah memotong nya.


"Bram, lebih baik kamu ajak Pram ku untuk beristirahat, karena aku juga seperti nya lelah ingin segera istirahat.."Ucap Febi, yang semakin dalam menyandarkan kepala nya di pundak Satria.


Bagi Febi, sikap nya dengan Satria masih sangat di batas normal, karena sudah lama tinggal di Jerman, hal seperti ini sudah menjadi kebiasaan di depan umum, bahkan banyak yang melakukan lebih dari yang dia lakukan.


"Baik lah kak, aku juga ingin istirahat sejenak.."Jawab Bramantyo.


"Kita beristirahat di mansion saja.."Ucap Febi.


Bramantyo mengangguk, dia pun memanggil pramusaji untuk meminta bill.


Setelah selesai urusan membayar, mereka pun pergi meninggalkan resto.


**********


Tak lama Fidy, Ana dan dokter Jimmy sudah sampai di rumah sakit, dokter Jimmy pamit untuk segera menuju ruang obgyn.


Fidy terus mencengkram lengan Ana, sampai akhir nya mereka sampai di ruang perawatan Laura.


Fidy menoleh ke arah Ana, yang tampak menahan sedikit sakit di lengan nya. Dia pun tersadar, dan segera melepas cengkeraman nya.

__ADS_1


Spontan Ana langsung mengelus lengan putih nya, yang tampak memerah.


"Sayang, maaf kan aku.."Ucap Fidy, dengan wajah khawatir.


Dia pun segera meraih lengan Ana. Tampak Ana menahan sakit, sambil menggigit bibir bawah nya.


"Maaf kan, aku tidak bermaksud menyakiti mu An.."Fidy berkata, dengan wajah yang terlihat panik.


"Kita harus segera ke dokter sayang, untuk memeriksa luka di tangan mu."Terdengar kepanikan dan kekhawatiran di suara Fidy.


"Aku tidak luka mas, hanya sedikit merah dan perih saja.."Jawab Ana lembut, sambil memegang pundak Fidy, yang menunduk mengamati lengan nya.


Fidy mengangkat wajah nya, menatap wajah Ana, yang sedang menatap nya dengan tersenyum.


Seketika Fidy, merasakan sesak di dada nya, saat melihat tatapan Ana.


Tatapan mata Fidy yang biasa membuat orang-orang bergidik ngeri, kini mata itu tidak kuasa untuk membalas tatapan Ana.


"Apa kah,naku mampu untuk melepaskan mu An."Fidy berkata dalam hati, kembali rasa sesak terasa menghimpit dada nya.


"Maaf mengganggu tuan Fidy, nyonya Ana."Sebuah suara mengagetkan Fidy dan Ana.


Tampak, lelaki setengah baya memakai kaca mata dan jas putih keluar dari ruang perawatan Laura.


"Oh, tidak kok Dok.."Jawab Ana gugup, mencoba melepaskan tangan nya dari Fidy.


Karena Fidy tahu, tangan Ana yang sedang sakit karena ulah nya, dia pun terpaksa membiarkan nya.


"Begini tuan, nyonya, kondisi nyonya Minah semakin drop, kita harus segera melakukan pencangkokan ginjal, karena di rumah sakit tidak ada persediaan ginjal.."Dokter memberikan penjelasan.


Penjelasan dokter, membuat Ana mengerutkan kening nya.


"Bukan kah kakak saya, yang akan mendonorkan ginjal nya..??"Tanya Ana, tak mengerti.


Dokter pun menatap bergantian Fidy dan Ana.


"Apa tuan Fidy, tidak memberitahu nyonya, jika nyonya Laura tidak mungkin mendonorkan ginjal nya..??"Tanya dokter, kembali menatap bergantian Fidy dan Ana.


Tentu saja pertanyaan dokter, membuat Ana terperanjat kaget.


**********


Kenapa, Laura tidak bisa mendonorkan ginjal kepada ibu kandung nya sendiri..??


Bagaimana akhir dari cinta segi empat di antara mereka..??


Author ingin setiap hari update, tapi apa daya, maaf kan🙏


Terimakasih yang setia dengan cerita novel ini, Insya Allah novel ini akan segera tamat.


Jangan lewat kan juga dua novel author, yang bisa menguras emosi dan air mata👇


__ADS_1



__ADS_2