
Bab 107
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
Fidy hanya mengangguk pelan, mendengar pertanyaan Ana.
Sambil menggeleng kan kepala nya, Ana tidak percaya, jika Laura adalah kakak kandung nya. buliran kristal pun turun bebas ke wajah nya.
Ana pun bangkit dari duduk nya.
"Kamu mau kemana An..??"
Fidy pun langsung bangkit dari duduk nya, dan langsung mengikuti langkah Ana yang setengah berlari.
"An, tunggu.."Panggil Fidy, sambil mencekal lengan Ana,
"Mas, lepasin aku mau melihat keadaan ibu ku..!"Teriak Ana, mencoba melepas kan tangan Fidy.
"Aku tahu di mana ruang perawatan ibu mu An.."Fidy berkata, dengan kedua tangan yang langsung memegang bahu Ana, mencoba menenang kan.
Ana langsung terdiam, menatap sendu Fidy, ada kehangatan yang menjalar di hati nya, saat Fidy memanggil bi Minah dengan sebutan ibu.
"Kamu tenang dulu An, aku akan menemani mu untuk menemui ibu kita."Ucap Fidy lembut, dengan tatapan tulus dan penuh kasih.
"Ibu kita..?"Tanya Ana, dengan wajah tak percaya.
"Iya, ibu mu adalah ibu ku juga.."Fidy berkata, sambil mengangguk dan tersenyum.
Mata Ana berkaca-kaca, haru dan bahagia kini menyatu di hati nya.
"Hai, kenapa menangis..??"Tanya Fidy dengan suara menggoda, sambil mengusap air mata Ana, yang sudah mengalir.
"Terimakasih mas, kamu sudah menerima ibu ku.."Ana langsung memeluk tubuh Fidy.
Fidy langsung membalas pelukan Ana, sambil mencium penuh kasih sayang puncak kepala Ana.
Pertama kali Ana merasakan, pelukan hangat Fidy sebagai seorang suami, apa lagi di saat seperti ini, di mana dia sangat membutuh kan kehadiran seseorang di samping nya.
"Ayo, kita lihat ibu.."Ajak Fidy lembut, melepas kan pelukan nya, sambil tangan nya mengusap pipi Ana, yang masih di aliri buliran bening.
Ana mengangguk dan tersenyum.
Sambil saling menggenggam, mereka pun melangkah ke ruang perawatan bi Minah.
Fidy meminta pihak rumah sakit dan kepolisian, untuk menempat kan bi Minah dan Ayu di ruang VIP.
Ana merasakan jantung nya berdegup kencang, saat kaki mereka sudah berada di dekat kamar perawatan bi Minah.
Ana terdiam sesaat.
"Kenapa.?"Tanya Fidy lembut, dengan tatapan hangat.
Ana tidak menjawab, dia hanya menarik napas dalam-dalam, kemudian membuang nya berlahan.
"A..aku.."Jawab Ana, yang tiba-tiba merasa gugup.
"Tenang lah, kamu akan bertemu ibu kandung mu, bukan bertemu seekor harimau.."Goda Fidy.
__ADS_1
"Ish, mas.."Ana mengerucut kan bibir nya, dengan wajah sebal.
Fidy tertawa melihat ekspresi wajah Ana.
"Ayo, sayang.."Fidy langsung merangkul pundak Ana, dan mereka pun melangkah kembali menuju kamar perawatan bi Minah.
Saat tiba di depan kamar perawatan, Fidy menghampiri polisi berpakaian preman yang sedang berjaga di depan kamar VIP bi Minah.
Mereka pun terlibat pembicaraan beberapa saat, sampai Fidy kembali menghampiri Ana, dan mengajak nya masuk ke dalam ruang perawatan.
Terlihat tubuh bi Minah yang terbaring lemah, mata nya tampak terpejam.
Hati Ana begitu miris, hampir 23 tahun Ana baru mengetahui siapa sosok ibu kandung nya, di saat sosok itu berbaring tak berdaya.
Ana tak tahan menahan rasa pilu di hati nya, buliran bening pun kembali meluncur bebas di pipi nya.
Fidy mengelus lembut pundak Ana, berusaha memberikan nya kekuatan.
Berlahan Ana mendekati ranjang, duduk di kursi yang tersedia di samping nya, dengan tatapan nanar dan air mata yang mengalir, dia meraih jemari tangan bi Minah.
Dengan lembut, dia mencium punggung tangan yang di rindukan nya selama ini.
Ana mengelus lembut wajah dan rambut bi Minah.
"Ibu, ini aku Ana, anak bungsu mu."Ana membuka suara, dengan isak tangis yang tak tertahan kan.
"Maaf kan Ana bu, Ana tidak tahu kalau selama ini, ibu adalah ibu kandung Ana.."Ucap Ana, dengan isak tangis yang semakin menyayat hati.
Fidy yang berada di belakang Ana, mencoba menenang kan dengan mengelus lembut punggung nya.
"Kak Laura, sedang menjalani operasi bu."Suara Ana terdengar bergetar, terlihat punggung nya terguncang.
"Mas, lihat jari ibu bergerak.."Ana berkata, dengan memperlihatkan jari bi Minah ke arah Fidy.
Fidy juga tersentak kaget.
"Ibuuu, bangun bu, ini Ana anak mu.!!"Ana berkata, sambil mengelus wajah bi Minah.
Bi Minah pun dengan berlahan membuka mata.
Tampak mata bi Minah berkaca-kaca, dia tidak percaya, saat pertama kali membuka mata wajah Ana yang di lihat nya.
"Ny..nyonya.."Kata bi Minah lirih.
"Kenapa masih memanggil ku nyonya..?".Bukan kah ibu sudah mengetahui kalau aku adalah darah daging mu.??"Tanya Ana, dengan air mata yang semakin deras.
Bi Minah tidak menjawab, dia hanya menangis pilu menatap Ana.
"M..maaf kan ibu nak, ibu tidak pernah bermaksud menjual mu.."Bi Minah berkata dengan suara parau, dengan air mata yang mengalir deras
Tatapan nya begitu nanar dan penuh kerinduan.
"Ibu tidak pernah salah, ini semua sudah takdir yang sudah dari yang Kuasa.."Ana menghapus air mata bi Minah.
Tapi air mata bi Minah bukan nya berhenti, terlihat semakin deras.
"Terimakasih nak.."Jawab bi Minah haru.
__ADS_1
"Aku sangat bersyukur, ternyata ibu kandung ku adalah wanita yang sangat baik, dan sangat kuat.."Ana terus mengusap air mata bi Minah.
"Ibu juga sangat bangga, ternyata kamu tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, dan baik hati.."Berlahan bi Minah berusaha mengangkat tangan nya, berusaha menggapai wajah Ana.
Ana langsung meraih tangan bi Minah, di tempel ke wajah nya.
Bi Minah langsung mengelus wajah Ana.
Ana memejam kan mata, merasakan kehangatan tangan bi Minah.
"Kamu cantik sekali nak, boleh ibu memeluk mu.."Pinta bi Minah, dengan sebuah senyum di bibir nya yang pucat.
"Tentu saja bu, aku juga ingin sekali di peluk ibu.."Ucap Ana lirih.
Ana pun langsung menghambur ke pelukan bi Minah yang sedang berbaring.
Dengan tangis kebahagiaan, bi Minah langsung membelai rambut hitam Ana, dia tidak menyangka putri yang sangat di rindukan nya, kini sedang berada dalam pelukan nya.
"Ibu bahagia nak, kamu tumbuh menjadi gadis yang sangat baik, Adrian dan Rima ternyata bisa mendidik mu nak.."Bi Minah berkata, masih terus membelai rambut Ana.
"Ya bu, almarhum papah dan mamah sangat baik pada ku, walau pun mereka ada perjanjian dengan almarhum tuan Aksa.."Jawab Ana, masih terus memeluk tubuh bi Minah
"An, boleh ibu meminta sesuatu..?"Tanya bi Minah.
Ana melepas kan pelukan nya.
"Apa yang ibu minta dari Ana..??"Tanya Ana, menatap bi Minah.
"Laura kakak mu nak.."Ucap bi Minah.
"Iya bu, Ana sudah tahu.."Ucap Ana tertunduk sedih.
"Kakak mu Laura sangat mencintai tuan Fidy, ibu tidak mau persaudaraan kalian terputus karena satu suami.."Bi Minah berkata, dengan suara bergetar seperti menahan sesuatu yang menyakit kan.
Ana dan Fidy hanya terdiam, mereka hanya saling tatap.
"Tuan.."Panggil bi Minah dengan parau.
"Jangan panggil saya tuan, saya adalah menantu ibu, jadi saya adalah anak ibu juga.."Ucap Fidy dengan tatapan dan senyum hangat nya.
Air mata bi Minah kembali mengalir, mendengar permintaan Fidy, dia tidak menyangka jika Fidy mau menerima nya sebagai mertua.
"Nak Fidy.."Panggil bi Minah lirih.
"Iya bu.."Jawab Fidy, sambil mendekat kan tubuh nya ke samping bi Minah
"Sebelum terlambat, ibu mohon, nak Fidy tetap bersama Laura, tolong jaga dia.."
Deg..
*********
Maaf baru up.
Apa maksud dari bi Minah, meminta Fidy untuk bersama Laura..??
Ikuti bab nya ya.
__ADS_1
Dan sebentar lagi, author akan menghadir kan sosok yang selama ini menghilang😊
Mampir ya di setiap karya suthor.