Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Pemakaman Dokter Aryo 1


__ADS_3

Bab 66


"Jodoh Tak Salah Memilih "


Hampir 2 jam proses autopsi di lakukan, setelah selesai jenazah dokter Aryo pun segera di bawa ke rumah duka, yaitu rumah dokter Alan.


Saat mereka keluar dari rumah sakit, tampak sesosok wanita yang setengah berlari menghampiri mereka.


"Dokter Alan.."Panggil wanita itu dengan napas tersengal-sengal, saat sudah berada di dekat mereka.


"Suster Eva..."Jawab dokter Alan, menatap wanita yang ternyata suster Eva asisten nya.


"Dokter maaf, saya baru mendengar kabar tentang dokter Aryo, saya turut berdukacita dok.."Suster Eva berkata lirih,sambil mengulurkan tangan nya, dan dengan mata berkaca-kaca.


Dokter Alan tidak menerima uluran tangan suster Eva, tapi justru dokter Alan langsung memeluk suster Eva.


Suster Eva agak terkejut, tampak punggung dokter Alan terlihat terguncang, menandakan jika dokter Alan kini sedang menangis.


Dengan ragu, suster Eva mengusap lembut punggung dokter Alan, air mata yang dia tahan pun kini sudah mengalir di sudut mata nya.


Fidy dan Ana yang melihat dokter Alan menangis, membuat mereka ikut larut dalam kesedihan.


Sosok dokter Alan yang sangat terkenal berwibawa, kini terlihat begitu rapuh saat harus kehilangan putra satu-satunya.


Putera yang sangat di banggakan nya, yang telah mengikuti jejak nya sebagai seorang dokter.


"Maaf kan saya suster, saya terlalu terbawa emosi.."Ucap dokter Alan dengan suara parau, sambil melepaskan pelukan nya dan menyeka air mata nya.


"Iya Dok, tidak apa-apa saya mengerti..."Suster Eva berkata dengan wajah memerah, dan segera menyeka air mata nya.


Wajah nya memerah karena jantung nya berdetak kencang saat dokter Alan memeluk nya, di tambah aksi saling peluk mereka di lakukan di depan Fidy Eka Sakti, bersama istri nya yang menurut nya sangat cantik dan sempurna.


"Dokter Alan, ambulance sudah siap..."Salah.satu petugas polisi memberitahu kan.


"Oh, iya pak..."Jawab dokter Alan yang juga merasa gugup, karena baru saja dia berani memeluk suster Eva.


"Mas, lebih baik aku tidak usah ikut ke rumah duka, karena di sana pasti nya banyak kumpulan orang mas, belum lagi awak media..." Ana berkata sambil membungkuk kan badan nya ke telinga Fidy.


"Tenang saja, semua pasti baik-baik saja.."Bisik Fidy sambil mengelus lembut lengan Ana.


"Lebih baik om ikut mobil kami saja, jangan menyetir sendirian berbahaya.."Ucap Fidy.


"Kamu tenang saja, suster Eva akan menemani om.."Ucap dokter Alan berusaha tersenyum.


Fidy menatap sekilas ke arah suster Eva, seketika suster Eva menunduk, tidak berani melihat ke arah Fidy, apa lagi tadi siang Fidy sempat membentak nya, karena dokter Alan meminta dia untuk merawat Fidy.


"Kalau begitu jaga om Alan, karena dia sedang berduka.."Fidy berkata dengan suara datar, dengan tatapan dingin nya ke arah suster Eva.

__ADS_1


Perkataan Fidy membuat Ana dan suster Eva saling melempar pandang.


"Kamu tenang saja, aku akan sampai selamat sampai rumah dengan suster Eva..."Dokter Alan berkata sambil menepuk pelan pundak Fidy.


"Baik lah, ayo kita berangkat sekarang..."Ucap Fidy.


Ana pun segera mendorong kursi roda Fidy.


"Jangan di masukkan ke hati suster, sebenarnya Fidy mempunyai hati yang baik.."Dokter Alan berkata sambil meraih jemari tangan suster Eva, dan mengajak nya mengikuti Fidy dan Ana.


Tentu saja perlakuan dokter Alan, membuat jantung suster Eva kembali berdetak kencang.


Tapi buru-buru suster Eva membuang pikiran nya yang sudah berharap lebih.


"Dokter Alan, pasti hanya membutuhkan seseorang untuk menjadi sandaran nya saat ini..."Tepis suster Eva dalam hati.


Suster Eva mengangguk sambil tersenyum.


Akhir nya Fidy dan Ana bersama mang Ujang, segera berangkat menuju rumah duka, yang merupakan rumah kediaman dokter Alan.


Sebenarnya rumah ini memang sudah di rencanakan untuk di waris kan ke dokter Aryo, apa lagi dokter Aryo anak tunggal.


Tak berselang lama, mobil mereka pun sudah sampai di rumah duka, di ikuti oleh mobil yang di tumpangi oleh dokter Alan dan suster Eva.


Sedang kan ambulans yang membawa jenazah dokter Aryo sudah sampai terlebih dahulu.


Karangan bunga pun sudah memenuhi halaman rumah dokter Alan, di tambah lagi awak media ysng sudah datang untuk mencari berita.


Sorot mata orang-orang yang hadir dan sorot kamera, segera fokus dengan kedatangan mereka.


Semua menghampiri dokter Alan dan memberikan ucapan bela sungkawa.


Sepanjang mendorong kursi roda Fidy, Ana hanya menunduk tidak berani menatap orang-orang yang menatap nya penuh dengan tanda tanya.


"Dokter Alan, apa masih ada keluarga yang di tunggu..??"Tanya pak Ustadz.


"Tidak ada yang di tunggu pak Ustadz...:"Jawab dokter Alan lirih.


"Kalau begitu jenazah harus segera di mandikan dan di shalat kan pak, dan harus segera di makam kan.."Jelas Ustadz, sambil menatap penuh empati pada dokter Alan.


"Ya pak ustadz, lebih cepat lebih baik.."Ucap dokter Alan sambil menghela napas dan mengusap kasar wajah nya.


"Kita akan memakamkan jenazah selepas magrib, mengingat waktu sebentar lagi akan berkumandang adzan magrib..."Jelas pak ustadz lagi.


"Iya pak ustadz..."Ucap dokter Alan sambil mengangguk.


Jenazah dokter Aryo pun segera di mandikan, dan shalat jenazah pun di lakukan setelah shalat magrib berjamaah di masjid di sekitar tempat tinggal dokter Alan.

__ADS_1


Walaupun di kursi roda, Fidy pun ikut dalam jamaah shalat, dia benar-benar ingin


ada untuk Aryo, sebelum jenazah nya di ke bumi kan.


"Aku akan ikut ke pemakaman..."Ucap Fidy pada Ana, yang kini sedang duduk di hadapan nya.


"Aku akan menemani mu..."Ucap Ana lembut, dengan tatapan hangat nya.


Fidy tersenyum.


"Kamu menemani suami ku, hanya sebagai perawat Ana tidak lebih..!!!"Ucap Laura pelan, tapi penuh penekanan.


Fidy dan Ana tersentak kaget, menatap ke arah Laura yang sudah berdiri di hadapan mereka, sambil melipat kedua tangan di dada nya.


"N..nyonya.."Ucap Laura gugup, dan langsung berdiri dari duduk nya.


"Bagus, kalau kamu masih memanggil ku dengan sebutan nyonya..."Ucap Laura sinis.


"Laura, ini tempat umum, jangan buat keributan.."Tegas Fidy.


Laura tertawa kecil.


"Kenapa..?-?"kamu malu mas..??"Tanya Laura dengan senyum mengejek.


"Kamu sudah berani datang bersama wanita ini, berarti kamu sudah tahu konsekuensi nya..."Tegas Laura, menatap tajam bergantian Fidy dan Ana.


Ana hanya menunduk, tidak berani menatap wajah Laura yang menatap nya begitu tajam.


"Mau kamu apa Laura...??"Tanya Fidy menatap tajam Laura.


"Aku punya banyak permintaan...!!"Ucap Laura.


"Katakan Laura..!!"Geram Fidy, sambil mengepal kan telapak tangan nya.


Lagi-lagi Laura tertawa kecil.


"Permintaan ku yang pertama, aku ingin wanita itu pergi dari sini sekarang juga..!!


**********


.Maaf ya kemalaman, baru sempet bikin☺️🙏


...Note \= Dalam Islam jenazah yang sudah meninggal harus segera di makam kan, kalau ingin mengetahui alasan nya, kalian bisa cari jawaban nya ya, di geogle juga pasti ada ...


Jangan lupa karya suthor yang satu nya👇


__ADS_1


__ADS_2