Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Ada Apa Dengan Hati Ku


__ADS_3

119


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "


Mobil melaju membelah jalan raya, hanya ada keheningan di antara mereka.


Sementara itu, di sebuah rumah makan yang cukup besar, tidak jauh dari rumah sakit, tampak Fidy dan Ana, sudah memilih tempat duduk.


Sedang kan Satria, yang tadi berniat mengikuti Fidy dan Ana berubah pikiran. Dia lebih memilih bertemu dengan Bramantyo, yang baru saja menghilang nya.


Awal nya Ana merasa heran, kenapa Satria dan Febi menghilang di belakang nya, tapi Fidy meyakinkan jika kemungkinan Satria dan Febi ingin menghabiskan waktu berdua saja.


Tentu saja, pernyataan yang membuat hati Ana gelisah dan sedih, terlihat dari pancaran wajah nya, bahkan dia sampai lupa untuk bertanya hasil pemeriksaan ginjal Laura.


Fidy tahu apa yang di pikir kan Ana, padahal dia sudah mendapat kan laporan dari anak buah Robert, jika ada keributan antara Satria, Febi dan dokter Jimmy. Dan dia juga tahu, jika Febi sedang bersama dokter Jimmy, Sedang kan Satria sendiri sedang bersama Bramantyo.


"Ternyata, perasaan mu tidak berubah terhadap nya An.."Fidy berkata dalam hati, sambil menghela napas.


"Sabar lah, setelah semua masalah selesai, aku akan melepas mu, dan membiarkan diri mu bahagia dengan laki-laki yang kamu cintai.."Fidy berkata lagi dalam hati, sambil terus menatap Ana, yang tidak bisa menyembunyikan kegundahan hati nya.


"Kamu mau makan apa, An..??"Tanya Fidy, dengan tatapan lekat terus menatap Ana.


"A..aku..mau.."Ana berkata dengan ragu-ragu.


"Mas saja dech yang pilih kan.."Jawab Ana gugup, sambil menelan saliva nya, tidak berani membalas tatapan Fidy.


Fidy menarik napas dan membuang nya kasar, dia pun segera memanggil pelayan untuk memesan kan beberapa makanan dan minuman untuk mereka.


Setelah pelayan pergi, Ana mengingat sesuatu.


"Oh iya mas, bagaimana hasil pemeriksaan kak Laura, apakah ginjal nya cocok dengan ibu..??"Tanya Ana, yang mulai menatap Fidy, tampak sorot mata yang bercampur aduk, dan terlihat ada kegelisahan di sana.


"Kita, akan membahas ini, setelah makan.."Jawab Fidy dingin, sambil memainkan ponsel nya.


"Apa mas Fidy, mengetahui tentang Satria..??"Tanya Ana dalam hati, tanpa mengalihkan tatapan nya dari wajah Fidy, yang sedang fokus menatap layar ponsel nya.


Dari ekor mata nya, Fidy mengetahui jika Ana sedang memperhatikan nya. Dia hanya tersenyum dalam hati.


"Mas.."Panggil Ana lirih.


"Hmm.."Jawab Fidy, yang tetap fokus pada layar ponsel nya.

__ADS_1


Ana tidak meneruskan ucapan nya, dia hanya menggigit bibir bawah nya, sambil sesekali mencuri pandang ke arah Fidy.


Tampak Ana memainkan jemari tangan nya di atas meja. Fidy segera menutup ponsel nya, dan dengan lembut meraih jemari tangan Ana.


Ana tersentak kaget, dia semakin gugup saat melihat senyum yang mengembang di bibir Fidy.


"Ada apa dengan hati ku, tatapan dan senyum nya, kenapa membuat hati ku bergetar..??"Tapi hati ku juga terasa sangat sakit, melihat kedekatan Satria dengan Febi.."Tanya Ana dalam hati.


"Aku tidak boleh egois.."Kembali Ana berkata dalam hati, sambil menggeleng kan kepala nya.


"Wiana Maharani.."Panggil Fidy lembut.


Ana terkesiap, saat wajah dan tubuh Fidy sudah berada di samping nya, bahkan tubuh mereka tanpa jarak.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, sampai tidak sadar jika aku sudah berada di samping mu.."Fidy berkata dengan berbisik di telinga Ana, sambil membelai lembut rambut Ana, dan berlahan menyelip kan rambut Ana di belakang telinga nya.


Fidy pun mengelus lembut wajah samping Ana, tentu saja perlakuan manis Fidy, membuat jantung nya berdebar kencang.


"Mas, malu di lihat orang.."Ucap Ana, yang merasakan wajah nya terasa memanas.


Di satu sisi, dia merasakan getaran yang aneh saat bersama Fidy, apa lagi perlakuan lembut Fidy sebagai suami, tapi rasa cinta nya untuk Satria pun masih bertahta indah di hati nya.


"Dari tadi, kita memang sudah menjadi pusat perhatian.."Bisik Fidy lembut, sambil mencium mesra pipi Ana.


Karena wajah Fidy yang berada sangat dekat di samping nya, dan tak bisa di hindari lagi, jika wajah mereka kini tanpa jarak.


Dada Ana semakin berdegup kencang, getaran-getaran aneh itu pun semakin terasa di hati nya.


"Perasaan apa ini..??"Ada apa dengan hati ku..??"Getaran ini, kenapa lebih hebat saat bersama nya, dari yang aku rasakan bersama Satria..??"Tanya Ana dalam hati, dengan tatapan yang tidak bisa beralih dari tatapan mata Fidy.


"Aku akan membuat mu jatuh cinta kepada ku, dan mencintai ku tulus dari lubuk hati mu.."Fidy berkata juga dalam hati, sambil lebih mendekat kan bibir nya ke bibir Ana.


Saat bibir mereka semakin dekat, tiba-tiba...


"Hmm, kalian mau makan atau mau bulan madu..?"


Tanya seseorang yang sudah berdiri di dekat mereka. Seketika mereka pun terkejut, Ana langsung menjauh kan tubuh nya dari tubuh Fidy.


Tampak wajah Ana memerah, apa lagi saat dia melihat ke arah asal suara.


Tubuh Ana langsung terasa lemas, apa lagi saat netra nya bertemu dengan netra yang berwarna hitam pekat, yang sedang menatap nya dengan penuh amarah dan kesedihan.

__ADS_1


"Kenapa, tidak memilih tempat makan yang ada ruang privasi nya sie mas..??"Tanya Bramantyo, sambil menggelengkan kepala nya, dan segera duduk di hadapan Ana dan Fidy.


Sedang kan Satria hanya diam membisu, dalam waktu yang hampir bersamaan, dia harus melihat wanita yang sangat di cintai nya bermesraan di depan mata kepala nya.


Sakit, hancur dan sedih, itu yang sangat di rasakan Satria, hati nya terasa luluh lantak saat mengetahui jika Ana sudah bersuami, bahkan dia harus melihat kemesraan mereka.


"Kami itu suami istri, tidak ada larangan untuk kami bermesraan, apa lagi usia pernikahan kami masih tergolong baru.."Jawab Fidy, sambil merangkul pundak Ana, sehingga tubuh mereka tak berjarak kembali.


Bramantyo memutar bola mata nya malas.


"Kak Ana, pakai rayuan apa sie, sampai seorang Fidy Eka Sakti, laki-laki sedingin kulkas bisa bucin begini..??"Tanya Bramantyo, yang di sambut tatapan tajam dari Fidy. Sedang kan Ana, hanya memberikan sebuah senyuman yang terpaksa.


"Mau ngapain kamu kesini..??"Tanya Fidy, dengan wajah dingin dan suara bariton nya.


"Mau makan lah mas, masa aku main kesini..??"Bramantyo menjawab, dengan santai.


"Tadi aku bertemu Satria di Cafe seberang sana, tapi ternyata perut aku keroncongan, jadi kami memutuskan kesini.."Jawab Bramantyo, dengan wajah sok lugu, tanpa merasa bersalah.


"Hai Sat, duduk sini, kenapa berdiri saja di situ.??"Bramantyo kembali berkata, sambil menepuk tempat duduk yang berada di sebelah nya.


Satria mengangguk, dan berusaha tenang, dia pun segera duduk di sebelah Bramantyo, tepat di hadapan Ana, karena tempat duduk yang di pilih Fidy berbentuk lesehan.


Sorot mata tajam Fidy, menatap Satria, seperti sebilah mata tajam yang siap menghunus jantung nya.


"Jangan tatap Satria seperti itu mas, dia tidak akan berani melirik kak Ana, apa lagi dia calon ipar kita.."Bramantyo berkata, sambil terkekeh.


Ana pun, mengangkat wajah nya dan menatap Satria, sorot mata nya seolah-olah bertanya kepada Satria tentang kebenaran ucapan Bramantyo.


"Apa kamu benar-benar mencintai adik ku, Satria Pramudya..???"


Deg.....


*************


Jawaban apa yang akan di berikan Satria, untuk menjawab pertanyaan Fidy..???


Apakah, rasa cinta Ana kepada Satria, kini sudah terbagi untuk Fidy..???


Kisah "Jodoh Tak Pernah Salah Memilih ", Insya Allah tinggal beberapa bab lagi. Semoga mendapat kan ending yang bisa memuaskan hati para pembaca.


Jangan lewat kan juga dua karya author👇👇

__ADS_1




__ADS_2