
Bab 28
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
"M..mas.."
Tiba-tiba terdengar suara lirih dari ranjang Laura,,Fidy, Dokter dan perawat segera menghampiri Laura.
"M..mas Fidy.."Panggil Laura lagi dengan suara lirih tetapi dengan mata yang masih terpejam.
Tampak jemari Laura yang bergerak lemah ingin menggapai sesuatu,Fidy segera menggenggam tangan Laura.
"M.. mas Fidy.."Panggil Laura lagi dengan mata masih terpejam.
Dokter segera memeriksa keadaan Laura.
"Tuan Fidy, seperti nya kehadiran anda sangat berarti untuk kesembuhan Laura.."Dokter berkata setelah memeriksa keadaan Laura.
"Saya menyarankan untuk tuan Fidy selalu berada di samping Nyonya,dan terus mengajak nya berkomunikasi, karena dukungan orang terdekat bisa mempercepat kesembuhan pasien..."Dokter memberikan penjelasan.
"Iya dok, saya akan selalu berada di samping istri saya.."Ucap Fidy sambil menatap wajah pucat Laura, sedangkan tangan Laura tampak merespon genggaman tangan Fidy.
"Kalau kondisi Nyonya Laura sudah sadar dan membaik,kita akan memindahkan pasien ke ruang perawatan.."Dokter memberikan penjelasan lagi.
"Lakukan yang terbaik untuk istri saya Dok.."Ucap Fidy sambil menatap dokter.
"Pasti tuan,kami berusaha yang terbaik untuk Nyonya.."Jawab Dokter sambil tersenyum.
"Terimakasih Dok.."Ucap Fidy.
"Sama-sama tuan, kalau begitu saya permisi dulu.."Dokter berkata sambil mengangguk.
"Iya, silahkan dok.."Ucap Fidy sambil membalas anggukan sang Dokter.
Baru pertama kali dokter bertemu dengan Fidy,dia sering mendengar bagaimana sikap Aksa dan Fidy yang terlihat dingin dan angkuh,tapi dokter yang bernama Doni itu merasakan keramahan dari sikap Fidy.
Dokter Doni dan perawat pun meninggalkan ruangan ICU,kini hanya Fidy dan Laura,Fidy melihat tangan Laura yang masih menggenggam nya dengan erat.
Berlahan Fidy mengelus lembut wajah Laura,hal yang tidak pernah di lakukan nya selama hampir 4 tahun pernikahan mereka.
Fidy sendiri bingung, berkali-kali dia mencoba membuka hati untuk Laura tapi cinta itu tidak pernah bisa hadir di hati nya,dia juga merasakan jika rasa sayang nya pada Laura hanya karena rasa kasihan melihat nasib yang menimpa nya karena ulah Kelvin,,dan janji Aksa ayah nya kepada almarhum ayah nya Laura.
Bahkan selama pernikahan mereka,Fidy tidak bisa menyentuh Laura apa lagi melakukan hal yang lebih,bukan karena Laura pernah hidup bersama Kelvin, karena dia mempunyai prinsip tidak akan menyentuh seorang wanita jika dia tidak merasakan getaran apa-apa pada wanita itu.
Tidak ada satu orang pun yang menyangka jika seorang pengusaha sukses, berwajah tampan dan memiliki segalanya,Fidy Eka Sakti tidak pernah melakukan hubungan S** dengan satu wanita pun,bahkan untuk berciuman sampai seusia yang begitu matang Fidy belum pernah melakukan nya.
__ADS_1
Tapi jika dengan Ana,hanya melihat wajah merah nya saja yang menunduk karena rasa malu dan takut,ingin sekali Fidy memeluk nya,apa lagi jika Ana mulai dengan kebiasaan nya yang selalu menggigit bibir bawah nya,ingin rasa nya Fidy memiliki bibir itu seutuhnya.
Seketika Fidy teringat dengan Satria yang sudah lebih dulu memeluk dan merasakan bibir Ana.
Fidy merasakan gemuruh di dada nya.
"Si*l..awas kau Satria,, sampai berani sekali lagi menyentuh istri ku,,kamu akan menyesal seumur hidup..."Geram Fidy melepaskan tangan nya dari wajah Laura, tampak wajah nya memerah menahan kemarahan dan tangan nya tampak mengepal kencang,apa lagi jika dia ingat saat Satria sudah berani memeluk tubuh Ana di galeri lukisan waktu itu padahal Ana sudah berstatus sebagai istri nya.
"M..mas Fidy.."Laura kembali memanggil nama Fidy lirih yang membuat kaget Fidy yang sedang di landa kemarahan.
"Laura.."Panggil Fidy saat melihat Laura mengejapkan mata,dia pun langsung menekan tombol Panggilan darurat.
"Laura,,kamu sudah sadar..??"Tanya Fidy saat melihat mata Laura yang berlahan terbuka.
Fidy menggenggam tangan Laura dan tersenyum,,saat mata Laura menatap wajah nya.
Saat Laura akan berkata lagi.
"St,, jangan bicara dulu kamu baru sadar.."Ucap Fidy sambil menempelkan telunjuk nya di bibir pucat Laura.
Laura tersenyum dan tak terasa air mata mulai mengalir dari sudut mata nya.
"Hai,, kenapa menangis.??."Tanya Fidy lembut sambil mengusap air mata di wajah pucat Laura.
Tak lama dokter dan perawat pun memasuki ruang perawatan Laura dan segera memeriksa keadaan Laura.
"Sementara ini, keadaan Nyonya Laura akan kami pantau dulu,,jika semakin membaik,, kemungkinan besok Nyonya Laura akan kita pindahkan ke ruang perawatan.."Ucap Dokter lagi.
"Baik dok.."Ucap Fidy sambil mengangguk.
Dokter tersenyum dan berpamitan kembali.
"Terimakasih mas.."Ucap Laura lirih ketika hanya tinggal mereka berdua.
"Untuk..?"Tanya Fidy sambil mengusap lembut Laura.
"Sikap manis mu mas.."Ucap Laura masih dengan suara lirih.
"Istirahat lah,,jangan terlalu banyak bicara.."Ucap Fidy masih mengusap lembut rambut Laura.
Laura tersenyum bahagia dengan jemari yang semakin erat menggenggam jemari Fidy.
*********
Alarm mengagetkan Ana,dia pun segera bangun dari tempat tidur,menuju kamar mandi, membersihkan tubuh nya,, kemudian shalat subuh dan bersiap menuju dapur untuk menyiapkan sarapan yang sudah di pesan Fidy tadi malam.
__ADS_1
Sambil berdiri di depan cermin,Ana memakai sedikit krim di wajah nya yang putih mulus ,dan menyapukan tipis lip tint ke bibir mungil nya,serta mengikat rambut nya ke atas, memperlihatkan leher nya yang jenjang
"Sempurna.."Ucap Ana tersenyum menatap penampilan nya yang tampak segar dengan dress sederhana tapi terlihat cantik dan pas di tubuh Ana.
"Up,,aku khan hanya mau masak,, kenapa seperti ini sie..?Ana berkata sambil menutup mulut nya.
"Jantung ini,,kenapa jadi berdebar begini..??"Ucap Ana lagi.
"Tidak Ana lelaki itu menikahi mu hanya karena dendam yang belum kamu ketahui,,dan kamu juga belum mengetahui apa tujuan lelaki itu menikahi mu..."Ana berkata lagi,dan tiba-tiba merasakan sesak kembali di dada nya.
Kejadian yang membuat hati nya terluka kembali terbayang di pelupuk mata nya,, dan membuat mata Ana berkaca-kaca.
"Tidak,,aku tidak boleh lemah aku harus kuat.."Ucap Ana sambil memejamkan mata nya sesaat.
Dengan menarik napas dan membuangnya pelan,,Ana pun melangkah dengan pasti meninggalkan kamar nya menuju dapur.
Setiba nya di dapur,Ana melihat bi Minah yang sudah sibuk berperang dengan peralatan masak.
"Bi,,biar aku saja yang memasak.."Ucap Ana saat berada di samping bi Minah.
"Nyonya Ana cantik dan segar sekali pagi ini.."Bi Minah berkata sambil menatap Ana dengan senyuman.
"Bibi bisa saja,, walaupun di rumah kita harus tetap rapi bi.."Ucap Ana dengan senyum yang manis.
"Sini bi,biar saya saja yang masak.."Ana berkata lagi sambil mengambil sayuran yang berada di tangan bi Minah.
"Tidak usah Nyonya,,biar bibi saja.."Cegah bi Minah.
"Tapi tuan Fidy ingin saya yang membuatkan sarapan untuk nya.."Ucap Ana tak mau kalah.
"Oh,,i..itu.."Ucap bi Minah ragu.
"Kenapa bi..??"Tanya Ana penasaran.
"T..tuan Fidy tidak pulang Nyonya.."Jawab bi Minah tidak enak hati pada Ana.
"Lho,,memang nya tuan Fidy tidur di mana bi..??"Tanya Ana penuh selidik,, tiba-tiba Ana merasakan tidak enak di hati nya, mendengar Fidy tidak pulang.
************
Tanpa di sadari,apakah sudah ada benih-benih cinta pada Fidy...???
Apakah Fidy juga sudah mulai membuka hati untuk Laura..--??
Temui jawaban nya di setiap bab nya yang bikin kalian kepo.
__ADS_1
Author juga ga bosan-bosan nie untuk promosi novel karya tamat author "Darah Daging Yang Di Benci"