
Bab 70
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
"Di mana Wira...???"Tanya bi Minah.
"Wira..."Belum sempat mang Ujang menerus kan jawaban nya, bi Minah sudah menerobos masuk ke dalam paviliun.
Mang Ujang dan pak Tarjo saling melempar pandang, mereka pun langsung mengikuti langkah bi Minah masuk ke dalam paviliun.
"Wira...!!"Panggil bi Minah dengan berteriak.
Pak Tarjo dan mang Ujang tampak heran dengan sikap bi Minah, yang mereka tahu, bi Minah adalah sosok wanita yang lemah lembut, jangan kan berteriak untuk berkata dengan nada tinggi pun tidak pernah.
Bi Minah juga sangat di kenal dengan wanita yang penyabar, tangguh dan kuat, tapi pagi ini pak Tarjo melihat nya menangis sampai terisak.
Bi Minah terus mencari Wira ke kamar nya, ke kamar mandi, ke sudut-sudut paviliun sambil berteriak memanggil nama Wira, tapi nihil tidak terlihat keberadaan Wira sama sekali.
"Mang Ujang, di mana Wira..???"Tanya bi Minah dengan suara meninggi, tampak wajah dan mata nya memerah, sangat berbeda dengan sosok bi Minah yang di kenal sehari-hari oleh mereka.
"Saya tidak tahu bi, kalian khan tahu, kalau saya baru terbangun saat kalian datang barusan.."Elak mang Ujang, merasa tidak nyaman dengan pertanyaan dan tatapan bi Minah kepada nya.
"Lebih baik kita cek CCTV saja..."Ucap pak Tarjo menengahi.
Tanpa menunggu jawaban dari bi Minah dan mang Ujang, pak Tarjo langsung keluar dari paviliun, menuju pos penjagaan.
Bi Minah dan pak Tarjo pun segera mengikuti langkah pak Tarjo, mereka berjalan tergesa-gesa tanpa ada yang saling betbicara, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sesampainya di pos penjagaan, pak Tarjo langsung membuka CCTV, dari mulai pos penjagaan, halaman, taman, paviliun, gudang, setiap bagian dalam rumah, dapur, kecuali CCTV yang berada dalam kamar, hanya Fidy yang bisa melihat nya.
Tidak ada gerakan yang mencurigakan, selain aktivitas semua orang yang berada di rumah ini.
Termasuk aktivitas dari Wira yang terakhir terlihat saat adzan magrib masuk ke dalam paviliun, begitu juga Ana, setelah makan malam, terlihat Ana langsung memasuki kamar nya untuk istirahat.
Bi Minah pun mengiyakan, karena Ana berpamitan dengan nya untuk ke kamar setelah makan malam.
Di malam hari saat semua sudah terbuai mimpi, tidak ada juga hal-hal yang mencurigakan, dan tidak terlihat satu orang pun melakukan aktivitas di malam hari.
"Sekarang, Kita harus bagaimana pak...???"Tanya bi Minah lirih.
"Saya sudah coba menghubungi Wira, tapi ponsel nya tidak aktif..."Ucap mang Ujang sambil kembali mencoba menghubungi Wira.
"Wira benar-benar gegabah, mau nyari mati seperti nya dia...!!"Geram bi Minah, dengan wajah memerah dan tangan mengepal kencang.
Lagi-lagi pak Tarjo dan Mang Ujang, di buat terperangah dengan sikap dan ucapan bi Minah.
"Apa bi Minah yakin, jika Wira yang menculik nyonya Ana...???"Tanya mang Ujang.
"Benar bi, apa bibi punya bukti nya jika Wira yang menculik...???"Timpal pak Tarjo.
Bi Minah membuang napas nya kasar.
__ADS_1
"Sekarang apa yang harus kita katakan pada tuan Fidy...??"Apa lagi tuan Fidy sedang berurusan dengan polisi karena kematian dokter Aryo..."Tanya bi Minah menatap tajam Mang Ujang dan pak Tarjo.
"Biar tidak di salah kan, kita harus melaporkan ini pada tuan Fidy.."Ucap pak Tarjo tegas.
Mang Ujang mengangguk, menyetujui pendapat pak Tarjo, mereka kemudian menatap bi Minah yang masih terdiam.
Bi Minah tidak menjawab, dia langsung meraih ponsel nya, dan menekan nomor Fidy.
"Hallo tuan, maaf mengganggu..."Ucap bi Minah saat ponsel terhubung.
"Maaf tuan ada sesuatu yang terjadi, Bisa kah tuan pulang sekarang...??"
"Baik tuan.."Ucap bi Minah menutup panggilan nya.
"Tuan Fidy akan segera kesini, jika urusan nya sudah selesai.."Bi Minah berkata sambil menatap nanar mang Ujang dan pak Tarjo.
Pak Tarjo dan mang Ujang hanya saling melempar pandang, mereka menghela napas bersamaan.
**************
Sementara di Mansion mewah keluarga Aksa Sakti, tampak penghuni nya sedang menikmati sarapan bersama.
"Aku bahagia sekali, kita bisa menikmati sarapan bersama lagi.."Laura berkata dengan wajah berbinar bahagia, menatap bergantian Fidy dan Aksa.
"Apa kamu bahagia nak..."Ucap Aksa lembut, menatap Laura.
"Iya pah, aku bahagia sekali bisa di tengah-tengah kalian lagi..."Laura berkata sambil menatap hangat Fidy, yang terlihat tidak berminat ikut bergabung dalam obrolan 2 orang di depan nya.
"Iya polisi juga tadi menghubungi ku.."Fidy berkata dengan suara datar, tanpa menoleh ke arah Laura, tetap fokus pada menu sarapan nya.
"Kita akan ke kantor polisi bersama, setelah itu kita akan ke rumah sakit bersama, check up kepala sama kaki mu sayang..."Laura berkata sambil terus mengelus lengan Fidy.
Fidy menghela napas.
"Lebih baik cepat habiskan sarapan mu, sarapan ku sebentar lagi habis.."Fidy berkata sambil terus menyantap sarapan, sambil melirik piring yang berada di depan Laura.
"Oke sayang..."Ucap Laura sambil tersenyum bahagia ke arah Fidy dan Aksa, dia pun langsung menyantap sarapan nya dengan semangat.
Tiba-tiba ponsel Fidy berbunyi, tampak nama bi Minah tertera di layar ponsel nya.
Fidy segera memutar kursi roda nya, menjauh kan diri nya dari meja makan, sedangkan Laura dan Aksa saling melempar pandang.
"Hallo.."Jawab Fidy saat telepon terhubung.
"Apa..??"
"Setelah urusan selesai, saya segera pulang..."
Fidy menutup telpon nya dengan wajah terlihat geram, tapi tergambar ke khawatiran di mata nya.
Dia langsung mengirimkan pesan pada Albert.
__ADS_1
( Ana menghilang tadi malam )
Albert
( Segera saya selidiki )
Fidy pun mengatur napas nya, mencoba setenang mungkin, agar Aksa dan Laura tidak curiga.
"Aku mau berangkat sekarang..."Fidy berkata saat kembali ke meja makan, sambil menghabiskan jus jeruk nya
Laura tersentak kaget, saat melihat Fidy yang langsung mendorong cepat kursi roda nya, meninggalkan meja makan.
"Mas tunggu aku dong ."Laura berkata sambil memegang kursi roda Fidy.
Fidy tidak menjawab, saat lift sudah sampai di lantai dasar rumah, dia dengan cepat menuju mobil yang biasa di pakai nya, tapi kali ini Fidy di bantu supir karena keadaan nya yang belum memungkinkan untuk mengendarai sendiri.
Saat Fidy ingin masuk ke dalam mobil, Laura mencoba membantu nya, tapi Fidy langsung menepis tangan Laura.
Laura hanya tersenyum kecut, tapi dia berusaha mengendalikan emosi nya, dan segera masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Fidy.
Tak lama mereka pun sampai di kantor polisi, mereka langsung menuju ruangan penyidik, tampak Aksa sudah sampai terlebih dahulu.
Dokter Alan juga sudah hadir, duduk di samping Aksa.
Fidy menyalami dokter Alan, tapi tidak dengan Aksa.
Seperti biasa mereka berdua hanya saling diam, jangan kan untuk saling senyum dan menyapa, hanya tatapan dingin di antara mereka.
"Silah kan pak Fidy, bu Laura.."Penyidik berkata, sambil tersenyum dan menunjukkan sofa untuk di duduki mereka.
"Setelah melakukan penyidikan sejauh ini, kami tidak menemukan sidik jari di tubuh korban, Cctv di dalam apartemen korban seperti nya di rusak..."Ucap penyidik menatap bergantian, Fidy, Laura, Aksa dan dokter Alan.
"Tapi kami sudah cek semua Cctv sekitar apartemen, dan coba bapak-bapak dan ibu perhatikan, apa kalian ada yang kenal dengan lelaki yang ber wajah bule, dan memakai kaos hitam dengan membawa tas ransel ini..."Penyidik berkata, sambil memperlihatkan rekaman Cctv seorang lelaki berwajah bule memakai kaos hitam dan tmembawa tas ransel di bahu nya.
Fidy menaut kan kedua alis nya yang tebal, saat melihat layar Cctv, kemudian menatap tajam Laura.
"Dia ..."
***************
Siapa kah lelaki yang memakai kaos hitam itu..??
Apa hubungan nya dengan kematian dokter Aryo..??
Bagaimana nasib Ana..???
Jangan pernah lewat kan setiap up nya.
Jangan lupa juga novel seru, tentang cinta, dendam dan masa lalu 👇
__ADS_1