Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Ingin Sekali Memeluk nya.


__ADS_3

115


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "


"Hah.."Bramantyo terperanjat kaget, mendengar pertanyaan dokter Jimmy.


"Kenapa, kaget.??"Tanya dokter Jimmy santai, tanpa menoleh sedikit pun ke arah Bramantyo.


"Apa mas Fidy, mengetahui nya.??"Tanya Bramantyo, dengan suara lemas, badan dab tatapan nya kembali lurus ke depan.


"Justru aku tahu, dari mas mu lah.."Jawab dokter Jimmy, dengan santai nya.


Bramantyo menarik napas, dan membuang nya kasar, dia pun menggaruk kepala nya yang tak gatal.


Dokter Jimmy, melirik Bramantyo sambil tersenyum penuh arti.


Bramantyo tidak berbicara lagi, mereka hanya terdiam, sepanjang perjalanan ke rumah sakit, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


*********


Hampir 45 menit, mereka pun sampai di parkiran rumah sakit.


Tampak Fidy menggandeng tangan Ana untuk segera masuk ke dalam rumah sakit, Febi tampak tidak melepas kan gandengan nya di lengan Satria, yang juga bergegas masuk ke rumah sakit mengikuti langkah Fidy dan Ana.


Dokter Jimmy, dan Bramantyo, bergegas turun dari mobil, dan segera menyusul langkah mereka.


Kebetulan hari ini dokter Jimmy, sedang mengambil cuti seminggu, jadi hari ini dia bebas tugas.


Sesampai nya di depan ruang ICU bi Minah, Fidy dan Ana segera masuk ke dalam, setelah Fidy berbicara dengan salah satu petugas rumah sakit.


Satria, Febi, dan Bramantyo menunggu di luar, sedang kan dokter Jimmy pamit untuk ke ruang obigyn, ada sesuatu yang ingin di urus nya.


Tampak, dokter dan beberapa perawat masih sibuk memeriksa keadaan bi Minah.


"Apa yang terjadi pada ibu saya, dok..??"Tanya Ana, dengan wajah panik, tatapan nya langsung tertuju pada bi Minah yang terbaring lemah, dengan beberapa alat medis.


"Sayang.."Panggil Fidy, sambil mengusap lembut pundak Ana.


"Maaf kan kami tuan, nyonya, seperti nya ada reaksi di tubuh pasien setelah melakukan cuci darah.."Jawab dokter, dengan wajah menyesal.


"Lalu, apa yang harus di lakukan untuk menyelamatkan ibu kami dok..??"Tanya Fidy, dengan wajah khawatir, apa lagi melihat Ana yang terus menangis.


"Kita, harus segera mendapatkan donor ginjal.."Jawab dokter.


"Kalau begitu, kita harus segera menemui kak Laura mas.."Ucap Ana, sambil menyeka air mata nya.


"Iya, sayang.."Jawab Fidy, sambil mengelus lembut pundak Ana.


"Ayo mas, kita menemui kak Laura.."Ajak Ana antusias.

__ADS_1


"Aku sudah di sini.."Tiba-tiba di ambang pintu Laura muncul, dengan kursi roda nya, bersama perawat.


Laura meminta perawat, untuk mendorong kursi roda nya ke arah ranjang bi Minah, dimana Fidy dan Ana berada.


Saat sampai di depan ranjang bi Minah, sesaat Laura menatap nanar ke arah Fidy dan Ana, dan buliran air mata nya langsung mengalir deras di wajah nya.


"Robert, sudah memberitahu semua nya.."Ucap Laura, menatap Fidy dan Ana bergantian.


Kemudian, dia menatap nanar tubuh bi Minah yang terbaring tak berdaya.


"Bu.."Panggil Laura lirih, sambil menggenggam jemari bi Minah.


"Dokter, tolong periksa ginjal saya, selamat kan ibu saya.."Laura berkata lagi, dengan menatap penuh harap ke arah dokter.


"Baik lah, kita akan segera melakukan pemeriksaan.."Jawab dokter, sambil mengangguk.


Laura mengusap air mata nya, sambil tersenyum. Dengan penuh kasih, dia mencium lembut punggung tangan bi Minah.


Dia pun menoleh ke arah Ana.


"Ana, maaf kan aku.."Laura berkata, sambil meraih jemari tangan Ana dan menatap lekat wajah Ana.


"Kak Laura.."Jawab Ana, dengan suara bergetar.


"Ternyata, kamu adik kandung ku An.."Laura berkata, sambil terisak.


"Kak Laura.."Ana langsung memeluk tubuh Laura.


Mereka berpelukan dalam tangis.


Fidy menatap nanar ke arah mereka, dia menelan saliva, tenggorokan nya terasa kering, dia tidak menyangka jika dua wanita yang di nikahi nya, ternyata kakak beradik.


"Maaf nyonya, pemeriksaan bisa kita lakukan sekarang.."Ucap dokter.


"Baik dok.."Jaeab Laura, melepas kan pelukan nya.


"Aku, akan menemani kak Laura.."Ucap Ana.


"Tidak usah An, kamu di sini saja tunggu ibu.."Jawab Laura, sambil tersenyum.


"Biar aku saja, yang mengantar Laura melakukan pemeriksaan.."Fidy berkata, sambil memegang pundak Ana.


Laura menatap nanar wajah Fidy.


Ada sebersit rasa tidak rela di hati Ana, saat mendengar perkataan Fidy.


"Tidak mas, kamu temani Ana saja.."Laura berkata, sambil tersenyum dan menggeleng kan kepala nya.


"Tidak apa-apa kak Laura, saat ini kamu lebih membutuhkan mas Fidy di samping mu, aku akan menemani ibu di sini.."Ucap Ana, berusaha menepis perasaan cemburu nya.

__ADS_1


"Baik lah.."Ucap Laura tersenyum.


"Sayang, aku antar Laura dulu ya.."Fidy berkata, sambil mengelus lembut rambut Ana, dan mencium kening nya.


Laura menatap sendu mereka, mencoba menenangkan hati nya, menepis rasa cemburu nya yang selalu hadir, setiap melihat sikap mesra dan lembut Fidy terhadap Ana.


Ana mengangguk dan tersenyum.


Fidy pun mengambil alih pegangan kursi roda Laura dari perawat, berlahan Fidy mendorong kursi roda Laura keluar, di ikuti oleh dokter dan perawat.


Ana, menatap punggung mereka, sampai tubuh mereka menghilang dari balik pintu.


Pikiran Ana bercampur aduk, di tatap nya tubuh renta bi Minah yang terbaring lemah, masih tak sadar kan diri.


Dia pun menghampiri tubuh bi Minah, duduk di sisi nya, meraih jemari bi Minah dan mencium nya.


Tiba-tiba dia teringat kehadiran Satria.


"Satria."Panggil Ana.


Dan pintu kamar terbuka, Ana menoleh dan tampak wajah Satria dan Febi muncul dari balik pintu.


Ana menatap ke arah mereka, ingin sekali dia berlari ke pelukan Satria, menumpah kan semua kesedihan nya, tapi dia sadar jika semua tidak mungkin, apa lagi Febi terus memegang lengan Satria.


"Kak Ana, bagaimana keadaan bi Minah..??"Tanya Febi, saat mereka sudah berada di dekat Ana.


"Masih tak sadar kan diri, ibu harus segera harus mendapatkan donor ginjal.."Jawab Ana lirih.


"Kak Laura, sedang di antar mas Fidy melakukan pemeriksaan, semoga ginjal kak Laura cocok.."Jawab Ana lagi, menatap nanar tubuh bi Minah.


"Iya kak Ana, semoga ginjal Laura cocok dengan bi Minah.."Jawab Febi.


Sementara Satria, dia hanya bisa menatap wajah Ana, kembali dia ingin sekali menarik tubuh Ana ke dalam pelukan nya. Menanyakan apa sebenar nya yang sudah terjadi pada nya.


Ana menyadari jika Satria sedang menatap nya, tatapan yang selalu memberikan kehangatan dan kenyamanan. Dia berusaha untuk menghindari tatapan Satria.


Febi tertegun, melirik Satria yang sedang menatap lekat Ana, dan melihat sikap Ana yang berusaha menghindar dari tatapan Satria.


"Kenapa perasaan ku, mengatakan jika ada sesuatu di antara mereka, aku harus mencari tahu.."


************


Apakah ginjal Laura, cocok dengan bi Minah. ?


Akan kah Febi tahu, hubungan Satria dan Ana..??


Jangan lewat kan, setiap keseruan cerita nya.


Mampir yuk ke novel lain nya 👇👇

__ADS_1




__ADS_2