Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Kritis


__ADS_3

Bab 127


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "


Febi menatap lekat Satria dan Ana, dengan perasaan bercampur aduk.


"Maaf kan aku Feb, aku tidak bermaksud menyakiti mu."Satria berkata, sambil mendekati Febi.


"Kamu bilang, kita akan mencoba Pram, tapi apa bukti nya.."Febi berkata dengan suara bergetar, air mata kembali mengalir di wajah nya.


"Maaf sekali lagi, Ana lebih membutuhkan ku."Ucap Satria, dengan penuh sesal.


"Kamu pikir, aku tidak membutuhkan mu Pram.."Ucap Febi, di sela isak tangis nya.


"Posisi kalian berbeda, aku dan Ana saling mencintai, 10 tahun kami menjalin kasih, dan harus berpisah karena keegoisan kakak mu, dan rencana licik ayah mu..!!"Ucap Satria, yang mulai meninggi kan suara nya.


"Satria, hentikan bicara mu..!!"Bentak Ana.


"Biar dia tahu An, kalau kita berpisah itu karena suatu keadaan yang memaksa.."Jawab Satria, sambil menjambak frustasi rambut nya.


"Sekali lagi, maaf kan aku Feb, pertemuan kita hanya baru beberapa bulan, dan aku tidak pernah menjanjikan apa pun untuk mu.."Satria berkata, dengan intonasi suara yang mulai turun.


"Febi, aku minta maaf, aku tidak tahu jika lelaki yang kamu cintai adalah Satria.."Ana berkata lirih, dan hendak turun dari tempat tidur.


"Hati-hati An, kamu masih lemah."Dengan perasaan khawatir, Satria langsung merangkul tubuh Ana, membantu nya untuk turun.


Febi tertegun, menatap mereka, terlihat sekali rasa cinta Satria untuk Ana.


"Benar, kata mas Fidy, salah satu kebahagiaan itu, melihat seorang yang kita cintai juga bahagia.."Ucap Febi dalam hati.


"Aku harus membuka hati untuk orang lain, aku juga ingin hidup dengan seseorang yang mencintai ku dengan tulus."Febi berkata lagi dalam hati, sambil memejam kan mata nya.


"Febi.."Panggil Ana lembut, menyentuh pundak Febi.


Febi tersentak, sambil membuka mata nya.


"Maaf kan, aku sekali lagi Feb.."Ana memeluk tubuh Febi.


"Kak Ana, tidak salah, aku yang salah karena sudah mencintai lelaki yang tidak mencintai ku.."Jawab Febi, membalas pelukan Ana.


"Cinta itu tidak pernah salah, rasa itu akan datang tiba-tiba tanpa memilih waktu, dan siapa orang yang membuat kita jatuh cinta.."Ana berkata, dengan suara bergetar, dia sendiri sekarang bingung dengan perasaannya.


Satria tertegun mendengar ucapan Ana, dia yakin jika hati Ana tidak sepenuh nya lagi untuk nya.


"Iya kak, aku akan belajar ikhlas, aku tidak menyangka di usia 22 tahun, aku baru merasakan jatuh cinta sekaligus merasakan bagaimana rasa nya patah hati.."Jawab Febi, kembali terisak .


"Aku bahagia, mempunyai kakak ipar seperti kak Ana, tapi.."Febi tidak melanjutkan ucapan nya, dia menatap nanar wajah Satria, yang sedang menatap mereka.


"Walaupun, aku sudah bukan kakak ipar mu, tapi kita masih bisa menjadi sahabat.."Ana melepas kan pelukan nya, sambil menatap hangat wajah Febi.


"Terimakasih kak, aku ingin belajar banyak dari kak Ana, menjadi wanita yang sangat di cintai dua lelaki hebat."Febi tersenyum, kembali melirik ke arah Satria.


Rasa gundah menghinggapi hati Satria.


"Apa benar, cinta mu sudah terbagi An..??"Tanya Satria dalam hati.


"Kak, aku ingin melihat kak Laura.."Ucap Febi, melepaskan tangan Ana, dari tubuh nya.


"Kak Laura adalah kakak kandung ku, jadi aku juga ingin melihat keadaan nya.."Ucap Ana.


"Kalau begitu, kita lihat kak Laura bersama.."Ajak Febi, dengan senyum yang menghiasi bibir nya, mencoba ikhlas ternyata bisa menghilangkan rasa sakit hati nya.

__ADS_1


"Satria, aku ingin ikut Febi melihat kak Laura.."Ana menatap lekat Satria, terlihat kegelisahan di wajah nya.


"Apa, kamu baik-baik saja Sat..??"Tanya Ana, dengan terus menatap wajah Satria.


"A..aku baik-baik saja An, aku akan menemani mu.."Satria bergegas, mengambil kursi roda dan membawa nya ke depan Ana.


"Ayo sayang, aku bantu.."Ucap Satria lembut, dengan tatapan penuh cinta.


"Terimakasih Sat.."Jawab Ana, dengan senyum manis nya.


"Sama-sama sayang.."Satria berkata, sambil membelai rambut Ana.


"Betapa bahagia nya, menjadi wanita yang di cintai.."Batin Febi.


"Ayo Feb.."Ajak Ana.


Febi tersenyum dan mengangguk. Mereka pun segera menuju kamar perawatan Laura.


**************


Tak lama, mereka sampai di depan kamar perawatan Laura.


Tampak Fidy, sedang duduk di depan kursi tunggu, dengan kedua tangan yang menangkup wajah nya.


'Mas Fidy, Kenapa kamu di luar..??"Tanya Febi, dengan wajah heran.


Fidy terhenyak, dia menatap Febi, Ana dan Satria, dengan wajah yang terlihat gelisah.


"Ada apa mas..??"Tanya Febi, memegang lengan Febi.


"Laura.."Jawab Fidy, menatap lekat wajah Ana, tampak penyesalan di wajah nya.


"Kenapa kak Laura mas..???"Tanya Ana khawatir.


Deg..


"Aku, tidak boleh cemburu, Ana bukan istri ku lagi.."Ucap Fidy dalam hati.


"Mas Fidy, apa yang terjadi dengan kak Laura..???"Teriak Ana, karena melihat Fidy yang diam membisu.


Teriakan Ana, menyadarkan Fidy, tapi belum sempat Fidy menjawab, pintu ruang perawatan pun terbuka.


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya..??"Fidy langsung menghampiri dokter, dengan wajah tegang.


Tentu saja Ana, Satria dan Febi pun ikut menegang, menunggu jawaban dokter.


"Mohon maaf tuan, kanker serviks nyonya Laura sudah menyebar, dan sekarang keadaan nya kritis..".


Perkataan dokter, bagaikan petir yang menyambar di siang hari, Fidy langsung berlari masuk ke dalam ruangan, di ikuti oleh Satria, Ana dan Febi.


Air mata sudah membasahi wajah Ana, Satria terus memeluk Ana yang berada di kursi roda.


Tampak Laura yang sedang berbaring tak berdaya, dengan oksigen di mulut nya, dan beberapa alat medis di tubuh dan tangan nya. Dan layar monitor ICU di samping tempat tidur nya.


"Laura bangun, ini aku Fidy.."Fidy memegang tangan dan wajah Laura.


"Kak Laura ."Tangis Ana semakin kencang, melihat keadaan Laura.


"Apakah, aku harus kehilangan anggota keluarga ku lagi..??"Pertanyaan itu, berputar di otak Ana.


Berlahan Laura membuka mata nya, menatap sendu wajah Fidy yang terlihat menangis.

__ADS_1


Di tengah kesusahan nya untuk bernapas, Laura berusaha tersenyum.


Dengan susah payah, Laura berusaha untuk bicara.


"M.mas.."Panggil Laura, dengan suara lemah.


"Iya, Laura.."Fidy semakin mendekat kan telinga nya di bibir Laura.


"A..ana, d..di mana..??"Tanya Laura, dengan suara terbata, dan napas yang sesak.


Fidy menoleh ke arah Ana, dan memberikan kode agar dia mendekat.


Satria segera mendorong kursi roda Ana, mendekati ranjang.


"Kak Laura.."Panggil Ana, sambil menangis tersedu-sedu.


"A..Ana.., m..maaf kan a..aku.."Terlihat tangan Laura bergerak ingin menyentuh Ana.


Ana pun, langsung meraih tangan Laura, dan menggenggam jemari nya.


"Kak Laura tidak pernah punya salah kepada ku, kak Laura harus sembuh, kita akan hidup bersama ibu kak.."Suara Ana terdengar bergetar di ikuti dengan tangis yang menyayat hati.


Laura tersenyum, dengan lemah dia mencoba meraih tangan Fidy, dan membawa nya bersatu dengan tangan Ana.


Tentu saja, membuat semua terkejut, Fidy dan Ana saling tatap, sedang kan Satria menatap nanar ke arah tangan mereka. Febi hanya diam membisu.


"J..jadi kan..A.. ana..i..istri..s..sah mu mas."Laura berusaha berkata, di tengah napas nya yang semakin sesak.


"Laura, sudah jangan bicara terus, aku akan membawa mu ke Jerman untuk berobat.."Fidy berkata, dengan suara parau.


Laura menggeleng lemah.


"Ber..jan..jilah,..k.. kalian u..ntuk..hi..dup..ber..sama.."Laura berkata, dengan napas yang semakin berat.


"Iya kak, kami berjanji akan menikah lagi dan hidup bersama, tapi kakak juga harus janji, kalau kakak akan sembuh.."Ana berkata dengan suara tegas.


Hening..


Seketika, Satria melepaskan tangan nya dari kursi roda Ana, Fidy menatap lekat wajah Ana dari samping, tidak percaya dengan perkataan Ana, dengan wajah terkejut, Febi hanya mampu menatap nanar mereka.


Laura kembali tersenyum.


"S..sa..lam..m..maaf.u..ntuk i..bu"Napas Laura semakin sesak, terlihat dada nya yang naik turun, dengan mulut terbuka, sangat sulit untuk bernapas, mata nya semakin sayu, dan suara nyaring layar monitor ICU pun, mulai terdengar.


Suasana histeris dan tegang pun semakin terasa.


"Dokter tolong.."Teriak Fidy.


Dokter dan perawat pun segera masuk, dan dengan cepat mengecek kondisi Laura.


Ana, semakin menangis tersedu-sedu, Febi langsung memeluk tubuh Ana, Fidy terlihat sangat tegang, mata nya memerah menahan air mata. Sedangkan Satria, ingin sekali dia membawa Ana ke dalam pelukan nya, tapi janji yang di ucapkan Ana baru saja, membuat hati nya luluh lantak.


"Maaf kan kami, nyonya Laura sudah meninggal dunia."


*************


Malam tahun baru, lagi ngejar tamat, semoga bisa ya☺️.


Tetap promosi 2 novel author, sambil menunggu author nulis lagi 👇👇


__ADS_1



__ADS_2