
Bab 86
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih"
Tampak Laura menggeram penuh amarah, seketika wajah nya memerah, ingin sekali dia turun dari mobil untuk menghampiri Fidy dan Ana, tapi tangan Aksa menahan nya.
"Biar kan saja, sebentar lagi kehancuran menghampiri mereka..."Aksa berkata dengan seringai tawa nya.
"Tapi aku tidak rela, jika Fidy bersama wanita itu.."Laura berkata dengan tatapan penuh kebencian, ke arah Ana dan Fidy.
"Kalau aku tidak bisa memiliki Fidy, maka tidak ada satu pun wanita yang bisa memiliki nya..."Laura berkata lagi, dengan sorot mata penuh kebencian, kembali melihat ke arah Fidy dan Ana.
"Tenang saja sayang, aku jamin mereka tidak akan bersatu..."Aksa berkata sambil merangkul pundak Laura.
"Jalan kan mobil nya sekarang, ikuti mereka...!!"Perintah Aksa pada anak buah nya, saat mobil Fidy terlihat melaju membelah jalan raya.
Tak lama mereka pun sampai di sebuah rumah sakit jiwa.
"Kenapa mamah harus d bawa ke sini mas, mamah tidak gila..."Ucap Ana dengan suara cukup tinggi, menatap Fidy, dengan wajah kecewa.
"Tenang sayang, kita akan memeriksa kan mamah pada seorang psikiater..."Jawab Fidy, mencoba menenangkan Ana.
"Ke psikiater bukan berarti harus ke rumah sakit jiwa mas..."Jawab Ana ketus, sambil melepaskan kasar pelukan Fidy.
Ana pun langsung membuka pintu mobil dan bergegas turun, Fidy segera ikut turun dari mobil, dan mengikuti langkah Ana.
Ana langsung berlari, ke arah Rima yang terus meronta dan berteriak, saat Rima sudah sampai di satu ruangan, tampak seorang laki-laki memakai jas putih langsung menyuntikkan sesuatu ke tubuh Rima.
Seketika Rima histeris dan berteriak, dia pun langsung lemas.
"Pembunuh..."Lirih Rima, sebelum menutup mata dan kehilangan kesadaran nya.
"Mamah..!!"Teriak Ana, dengan air mata yang membasahi pipi nya, sambil memeluk tubuh Rima yang sudah tak sadar kan diri.
"Tenang nyonya, mamah anda tidak apa-apa, kami hanya memberikan obat penenang.."Jelas lelaki berjas putih yang tak lain adalah dokter kejiwaan, sekaligus psikiater.
"Mamah saya tidak gila dok..."Jawab Ana ketus, dengan tatapan tidak bersahabat.
Sang dokter hanya tertawa kecil.
"Pasien yang di bawa kesini, belum tentu semua nya gila nyonya, karena suatu keadaan atau tekanan itu bisa membuat emosi seseorang di luar kendali, dan tentu itu belum tentu di nyatakan gila nyonya..."Jelas dokter, dengan sopan.
"An, perkenalkan ini adalah dokter Efendi sahabat ku, kita akan mempercaya kan pengobatan mamah pada nya..."Ucap Fidy, sambil menyentuh lembut pundak Ana.
Ana hanya diam tidak menjawab, hanya sekilas dia melihat wajah dokter Efendi, selanjutnya tatapan nya hanya fokus ke arah Rima yang berbaring tak sadar kan diri.
__ADS_1
Ana mengelus lembut rambut Rima, kemudian mencium kening nya, sambil sesekali menyeka air mata nya.
Fidy menghela napas, hati nya terasa semakin pedih melihat air mata dan kesedihan di wajah Ana.
Dokter Efendi hanya tersenyum, dan menepuk pelan pundak Fidy.
Selama bersahabat dengan Fidy, baru kali ini dokter Efendi melihat kesedihan dan kekhawatiran di wajah Fidy kepada seorang wanita selain mamah nya.
"Bagaimana menurut mu keadaan mamah ku....??"Tanya Fidy, dengan tatapan nanar ke wajah dokter Efendi.
"Mamah mu harus di rawat di sini dulu, dalam jangka waktu yang belum bisa di tentukan..."Jawab dokter Efendi.
"Aku tidak mau mamah di rawat di sini mas, mamah ku tidak gila...!!"Sentak Ana, dengan tatapan tajam nya ke arah Fidy, dan dokter Efendi.
Dokter Efendi tidak bisa berkata apa-apa, jika ini bukan istri yang sangat di cintai sahabat nya ini, ingin sekali dia memberikan penjelasan dengan sedikit tekanan, tapi yang di lakukan nya sekarang, hanya menatap bergantian Fidy dan Ana.
"Dokter Efendi akan melakukan observasi kepada mamah dulu An..."Jawab Fidy dengan suara lembut.
"Aku tetap tidak mau mamah di rawat di sini..!!"Tegas Ana.
"Aku bisa merawat nya sendiri..."Ucap Ana lirih sambil kembali terisak.
Fidy dan dokter Efendi saling tatap, kemudian dokter Efendi tersenyum dan menganggukkan ke arah Fidy.
"Benar kah...??"Tanya Ana, dengan mata berbinar walaupun wajah nya sudah sembab karena terlalu banyak menangis.
Fidy mengangguk dan tersenyum.
Ana pun langsung memeluk Fidi dengan penuh perasaan bahagia.
Fidi membalas pelukan Ana dengan tersenyum bahagia.
"Terima kasih mas..."Ana berkata, sambil terus memeluk Fidy, bahkan tanpa di sadari nya Pelukan nya semakin kuat.
"Iya sayang sama-sama.." ucap Fidy sambil mengelus lembut punggung Ana.
Dokter Effendi hanya tersenyum, dan menatap tidak percaya dengan perlakuan Fidi.
Yang dia tahu Fidy adalah seorang laki-laki yang dingin dan cuek, terutama pada lawan jenis.
Perlakuan Fidy kepada Ana membuat dokter Effendi merasa kagum, karena hanya seorang Ana yang mampu menaklukkan hati seorang Fidy.
"Maafkan saya dok, karena saya sempat berbicara kasar dengan dokter..."ucap Ana, tidak berani menatap dokter Effendi.
"Tidak apa-apa nyonya saya mengerti...."ucap dokter Efendi sambil tersenyum.
__ADS_1
"Jangan memanggil saya nyonya dok, panggil saya ana saja, seperti dokter memanggil suami saya dengan sebutan nama.."Ucap Ana, sambil tersenyum.
Deg....
Tentu saja perkataan Ana, membuat Fidy terkejut, dia tidak menyangka kalau Ana memanggilnya dengan sebutan suami.
"Coba ulangi sayang..." ucap Fidi dengan senyum bahagia dan menggoda.
"Ulangi apa...??"Ana berkata sambil mengerutkan keningnya, menatap tidak mengerti ke arah Fidy.
"Suami..."Bisik Fidy lembut, di telinga Ana.
"Mas..."Ucap Ana dengan wajah memerah, karena di sana selain mereka dan dokter Efendi, ada dua orang perawat yang sedang senyum-senyum, dan beberapa petugas polisi yang berjaga di luar kamar.
"Dokter, sebenar nya mamah saya kenapa..?"Tanya Ana, mengalihkan pertanyaan Fidy.
"Begini nyonya, maksud nya Ana, kehilangan seseorang yang sangat kita sayangi adalah pukulan terhebat buat orang yang di tinggalkan..."Jelas dokter Efendi.
"Nyonya Rima mengalami syock yang sangat hebat, dia tidak percaya dengan kenyataan yang terjadi, terlebih tuan Adrian meninggal dengan cara terbunuh..."Dokter Efendi menjelaskan dengan penuh hati-hati.
"Apa lagi ada seseorang yang di curigai nyonya Rima, sebagai pembunuh tuan Adrian, sehingga membuat nyonya Rima depresi..."Jelas dokter Efendi.
"Tapi mamah saya bisa sembuh khan dok...??"Tanya Ana, menatap penuh harap ke dokter Efendi.
"Kami akan berusaha semampu kami, kamu juga sebagai anak yang di sayangi nya sangat berperan penting untuk kesembuhan nya..."Ucap dokter Efendi, sambil menatap bergantian Ana dan Fidy.
Ana tidak menjawab, dia kembali menatap nanar Rima, membelai wajah nya penuh kasih.
"Ana akan selalu bersama mamah, apa pun yang terjadi.." Ana berkata, sambil menggenggam tangan Rima dan mencium nya. buliran kristal kembali membasahi wajah nya.
**********
Akan kah Rima sembuh dari depresi nya..???
Bagaimana Ana melewati hari-hari nya yang terasa berat...??
Simak terus di setiap bab nya.
Melimpir ke novel, yang menguras emosi dan air mata juga.
"
.
__ADS_1