
Bab 53
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
Bi Minah buru-buru menyeka air mata nya, mengatur napas, berusaha bersikap setenang mungkin, dan langsung menghampiri Ana yang sedang sibuk dengan kegiatan nya di dapur.
"Nyonya, mau masak makan siang...??"Tanya bi Minah selembut mungkin, saat berada di samping Ana.
"Iya bi.."Ucap Ana penuh semangat, sambil menoleh dan tersenyum kepada bi Minah.
"Hari ini aku ingin buat ikan asem padeh bi.."Ucap Ana sambil sibuk mencuci ikan.
"Soal nya dulu aku sering masak menu ikan asam padeh, karena papah sangat menyukai nya..." Ana berkata dengan penuh semangat.
Dengan mata berbinar bahagia dan tersenyum, membayangkan bagaimana seseorang Adrian makan dengan lahap sampai bisa nambah dua piring, tentu nya di sertai dengan pujian untuk Ana yang keluar dari bibir nya.
"Dan bibi tahu ga..?kalau yang mengajarkan aku masak itu ibu Mirna mamah nya Satria, kalau mamah Rima jangankan mengajar kan aku masak, masak mie saja mamah ga bisa...."Bisik Ana di telinga bi Minah penuh antusias, sambil tertawa membayangkan wajah Rima yang panik, saat memasak mie, karena busa telur, air di wadah nya meluap.
Tiba-tiba Ana terdiam dan menghela napas.
"Terimakasih, buat kalian yang sudah memberikan kebahagiaan dan warna di hari-hari ku..."Ana berkata dalam hati, sambil menggigit bibir nya, menahan sesak di hati nya.
Seikhlas apa pun diri nya, kenangan dan orang-orang yang pernah hadir dalam hidup nya tidak bisa dia hilangkan, karena mereka sangat berperan penting dalam kehidupan nya.
Bi Minah menatap nanar Ana, dia bingung Ana sangat semangat masak untuk Fidy, apa lagi nyonya nya baru bercerita tentang masa lalu yang pasti nya sangat membuat nya kecewa dan terluka.
"Apa tuan Fidy mau makan siang di rumah, nyonya..??"Tanya bi Minah lembut, dan dengan hati-hati.
Ana diam, kemudian menoleh ke bi Minah.
"Apa menurut bibi, mas Fidy tidak akan pulang makan siang...??"Tanya Ana menatap bi Minah.
"Hhh..."Bi Minah ragu untuk menjawab.
Ana menghela napas.
"Apa mas Fidy, menghubungi bibi..??"Tanya Ana, sambil mengerutkan kening nya, dan menatap bi Minah penuh selidik.
"Boleh saya pinjam ponsel bibi..??"Tanya Ana.
"Untuk apa nyonya..??"Tanya bi Minah mulai was-was.
"Ya untuk menghubungi suami ku bi, masa menghubungi Wira...."Ana berkata sambil tertawa lepas.
Bi Minah tersenyum kikuk, ada kebahagiaan saat Ana memanggil Fidy dengan sebutan suami, tapi bi Minah takut jika tahu kenyataan nya Ana kecewa, dan Fidy pasti memarahi nya.
"Bi....!!!"Seru Ana sambil memberikan tangan nya, kode untuk bi Minah segera memberikan ponsel nya.
Bi Minah pun langsung mengambil ponsel dari kantong gamis nya.
__ADS_1
"Ini nyonya..."Bi Minah menyerahkan ponsel nya.
"Terimakasih bi..."Ucap Ana tersenyum dan langsung mengambil ponsel bi Minah.
Ana membuka aplikasi WhatsApp dan langsung menemukan nomor Fidy.
Saat Ana melakukan panggilan, tiba-tiba pesan Fidy masuk.
( Ana lagi apa bi? )
Ana tersenyum bahagia, kemudian Ana membuka pesan itu, tapi seketika wajah Ana menjadi sendu.
( Mungkin hari ini saya tidak pulang untuk makan siang/malam )
( Saya sedang bersama Laura )
( Tapi jangan katakan pada Ana, jika saya sedang bersama Laura ).
Ana menatap bi Minah dengan tatapan sendu, sambil menutup layar WhatsApp.
"Tidak peelu di telepon bi, saya sudah tahu jawaban nya..."Ucap Ana dengan wajah sendu, sambil mengembalikan ponsel bi Minah.
"Nyonya baik-baik saja..??"Tanya bi Minah khawatir.
Ana menarik napas berlahan, kemudian menghembuskan nya
"Ya sudah, saya mau lanjut masak ikan padeh nya, sudah lama juga saya tidak makan dan masak menu ini..."Ucap Ana riang, berusaha menutupi kesedihan.
"Biar bibi bantu nyonya..."Bi Minah berkata dengan tatapan nanar nya, ada kesedihan di hati nya saat menatap Ana.
"Tentu dong bi..."Jawab Ana sambil mengangguk dan tersenyum.
Ana dan bi Minah pun sibuk dengan menu masakan makan siang mereka, yang seharusnya di siap kan spesial untuk Fidy.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang ssdang memperhatikan mereka, sepasang mata itu menatap penuh arti ke arah Ana.
**************
"Kenapa bi Minah belum membalas pesan ku..?"Gumam Fidy yang sibuk memperhatikan ponsel nya.
"Mungkin bi Minah sedang sibuk, tapi ini WA nya baru saja terlihat, apa aku coba telepon saja ya...?? Gumam Fidy lagi sambil memperhatikan aplikasi WhatsApp nya.
Padahal ratusan pesan menunggu di buka oleh Fidy, tapi Fidy hanya menunggu balasan pesan dari bi Minah, tentu saja karena berhubungan dengan Ana.
Baru saja Fidy akan menelpon bi Minah, tiba-tiba Laura keluar dari kamar pribadi Fidy, yang memang di sediakan di ruangan khusus pemilik perusahaan Aksa Sakti.
"Sayang, apa ada yang bisa aku bantu..??"Tanya Laura manja, sambil memeluk leher Fidy dari belakang.
"Tidak ada, jika kamu bosan pergi lah bersenang-senang.."Ucap Fidy malas, sambil melepaskan pelukan Laura.
__ADS_1
"Aku tidak mau, hari ini aku ingin terus bersama mu mas, sudah beberapa hari ini kita tidak bertemu.."Rajuk Laura.
"Kamu harus berlaku adil mas..."Rajuk Laura lagi, dengan wajah cemberut sambil menghempaskan pantat nya kasar di kursi yang berada di hadapan Fidy.
"Maksud kamu ..???"Tanya Fidy menatap tajam Laura, sambil menautkan alis nya.
"Ana...!!"Ucap Laura membalas tatapan tajam Fidy.
"Aku tahu bagaimana perlakuan mu terhadap nya, dan aku juga tahu kalau dia menempat kan rumah istimewa, yang khusus kamu berikan untuk orang yang spesial...."Ucap Laura dengan dada sesak, dan mata berembun menatap Fidy.
"Aku rasa kamu sudah tahu jawaban nya...!"Fidy berkata sambil menyandarkan punggung nya di kursi dengan tatapan tajam nya ke arah Laura.
"Iya aku tahu, karena kamu sangat mencintai nya, tapi apa kamu tidak bisa memperlakukan aku sedikit saja seperti layak nya seorang istri...!!?"Laura berkata dengan suara mulai meninggi, sampai wajah nya memerah, dan embun yang bersemayam di mata nya pun telah menjadi rintikan air yang membasahi wajah nya.
Fidy menghela napas, kemudian beranjak dari duduk nya, dan menghampiri Laura, membawa nya ke dalam pelukan nya.
"Dari kita kuliah, dari aku tahu kamu sangat mencintai ku, sampai sekarang 3 tahun lebih kita berumah tangga, aku selalu berusaha untuk mencintai mu..."Fidy berkata sambil mengelus lembut punggung Laura.
"Sedangkan Ana, semakin aku melepas bahkan melupakan nya, rasa ini semakin dalam.."Ucap Fidy lagi sambil menghela napas.
Laura semakin terisak, setiap mendengar pengakuan Fidy, tentang perasaan nya terhadap Ana.
"Perasaan tidak bisa di paksa Laura, seberapa keras kita mencoba mencintai seseorang, atau kita melupakan seseorang yang kita cintai..."Fidy berkata sambil melepas pelukan nya pada Laura, dan menghapus air mata Laura.
"Bersiap lah, kita akan jalan-jalan sebentar dan setelah itu kita akan makan siang bersama.."Ucap Fidy tersenyum.
"Benarkah...??"Tanya Laura dengan wajah berbinar bahagia, bertahun-tahun ini lah pertama kali Fidy mengajak nya.
Memang mereka sering hang out bersama, tapi baru kali ini seorang Fidy Eka Sakti mengajak nya lebih dulu, apa lagi dengan senyuman yang menghias wajah sempurna nya.
Benar-benar suatu keajaiban bagi Laura.
"Kalau begitu, aku siap-siap dulu.."Ucap Laura segera menuju ruang pribadi Fidy, untuk memperbaiki penampilan nya.
Tanpa Fidy sadari sebuah kamera mengintai kegiatan nya bersama Laura.
************
Hmm, apa yang di rencanakan Laura ya .??
Kepo...?
Ikuti terus kelanjutan nya.
Ayo dong melimpir juga ke novel author yang tamat, seru ko cerita nya.
He..he..he
__ADS_1