Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Kecelakaan


__ADS_3

Bab 128


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "


"Apa..!!"Tidak..!!"Kak Laura tidak mungkin meninggal.."Teriak Ana histeris, langsung mendorong kursi roda nya, dan langsung memeluk tubuh Laura, yang sudah terlepas dari alat-alat medis.


Fidy menyadar kan tubuh nya di tembok, menjambak kasar rambut nya, dada nya terasa sesak. Febi mendekati Fidy, dan memeluk tubuh sang kakak.


Berlahan, Satria mendekati Ana, dengan ragu, dia menyentuh lembut pundak Ana.


"Ikhlas kan An, biar jalan kak Laura mudah.."Satria menatap nanar Ana, yang sedang memeluk tubuh kaku Laura.


"Satria, kenapa orang-orang yang bersama ku, harus pergi meninggalkan ku satu persatu..??"Suara Ana yang di sertai tangisan, terdengar sangat menyedihkan.


"Jangan pernah bertanya kenapa, setiap insan yang bernyawa, sudah ada garis takdir hidup nya masing-masing, tergantung keikhlasan dan kesabaran kita untuk menjalani nya.."Satria semakin erat memeluk Ana, dengan lembut dan penuh kasih sayang, mencium puncak kepala Ana.


"Maaf tuan, nyonya, apa jenazah nyonya Laura mau langsung di bawa ke rumah duka..??"Tanya seorang perawat.


"Iya suster, jenazah akan segera kami bawa ke rumah duka.."Jawab Fidy.


Fidy pun menelpon Bramantyo dan dokter Jimmy, serta Robert untuk membantu menyiapkan proses pemakaman Laura.


"Ana, kami akan membawa jenazah Laura ke Mansion,.."Fidy menghela napas, menatap Ana yang berada dalam pelukan Satria.


Ana nenjawab dengan mengangguk lemah.


Fidy dan Febi, segera mengikuti langkah perawat, yang membawa jenazah Laura ke luar dari ruangan menuju ambulans.


"Ayo An.."Ajak Satria, menghapus air mata Ana, dan mendorong kursi roda mengikuti langkah Fidy dan Febi.


*************


Tak lama, ambulans dan mobil mereka sampai di mansion.


Tampak suasana sudah ramai, banyak para tetangga, kerabat dan sahabat yang berkumpul dengan suasana haru.


Mereka mengucapkan belasungkawa yang mendalam atas kepergian Laura.


Setelah selesai di mandikan, di kafani dan di shalat kan, jenazah Laura pun ssgera di bawa ke TPU ( Tempat Pemakaman Umum ).


Proses pemakaman pun berjalan dengan khusyuk dan khidmat.


Selesai bsrdo'a, para pelayat pun satu persatu meninggalkan pemakaman.


"Ana, kamu harus istirahat, wajah mu tampak pucat.."Ucap Satria, sambil menyentuh wajah Ana.


"Aku tidak apa-apa.."Jawab Ana, dengan suara pelan.


"Satria, aku ingin kembali ke rumah sakit.."Ucap Ana, sambil memegang lengan Satria.


"Tapi An.."


"Aku ingin melihat bu Minah, kalau kamu tidak mau, aku akan pergi sendiri.."Ana berkata, sambil mendorong kursi roda nya.


"Baik An, aku akan mengantar mu.."Ucap Satria mengalah.


"Tapi, kamu harus berjanji, setelah melihat bu Minah, kamu harus istirahat, aku akan membawa mu ke rumah ku, pasti ayah dan ibu ku sangat bahagia, saat membawa mu kembali kepada mereka.."Satria berkata, dengan senyum dan tatapan hangat nya.


Tatapan mata yang setajam elang, tapi begitu meneduh kan, dan memberikan kenyamanan, tentu saja selalu membuat Ana jatuh cinta kepada nya.

__ADS_1


Ana tersenyum dan mengangguk.


Setelah pamitan dengan Fidy, Satria segera mendorong kursi roda Ana, meninggal kan pemakaman.


Fidy menatap punggung Satria dan Ana, dengan tatapan nanar, tiba-tiba dia merasakan firasat yang tidak enak.


************


Mobil Satria melaju membelah jalan raya, Ana hanya diam, menatap lurus ke jalan raya.


"An.."Panggil Satria, dengan tangan kiri menggenggam jemari tangan Ana, sedang kan tangan kanan nya memegang setir.


"Aku akan selalu menjaga mu An,.."Satria berkata, saat Ana menoleh ke arah nya.


Ana membalas dengan senyuman.


"Kamu tahu An, hari-hari yang membuat ku bahagia, adalah di saat kamu berada di sisi ku.."Ucap Satria lagi.


Satria tersenyum, kemudian membawa tangan Ana dan mencium nya.


Saat Ana ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba...


Derrrrr..


Bummmmn....


Akhhhhhh......


Teriak Satria dan Ana bersamaan.


***************


Ana berteriak meminta tolong, berharap ada seseorang yang datang menolong nya di lorong gelap itu.


Tiba-tiba muncul sebuah cahaya, yang membuat suasana lorong menjadi terang benderang.


Ana memicingkan mata nya, menyesuaikan cahaya yang ada dengan Indra penglihatan nya.


Di kejauhan terlihat kumpulan cahaya, yang sangat terang, seperti nya itu lah pusat cahaya di lorong itu.


Berlahan, Ana melangkah kan kaki nya menuju pusat cahaya itu.


Semakin dekat cahaya itu, semakin terang, dan tepat saat Ana sampai, tampak sosok lelaki yang tidak asing bagi nya, dengan pakaian serba putih, terlihat tersenyum ke arah nya, dengan mata elang yang sangat meneduh kan.


Ana, semakin menajam kan penglihatan nya, sambil tersenyum sosok lelaki itu, mengulur kan tangan nya.


"Satria.."Panggil Ana lirih.


Sosok lelaki itu tersenyum dan mengangguk.


Dengan senyum merekah, Ana menerima uluran tangan lelaki yang di panggil nya Satria.


Tangan mereka, kini saling menggenggam, saat mereka akan melangkah pergi, tiba-tiba ada sebuah tangan yang mencekal kuat pergelangan tangan Ana, seolah-olah menahan nya untuk pergi.


"Jangan pergi An, banyak orang yang menyayangi dan merindukan mu di sini.."Sebuah suara bariton yang tidak asing di telinga Ana.


Saat menoleh, Ana terkejut, sosok laki-laki dingin, dengan wajah sempurna bak dewa Yunani, menatap nya penuh harap, dan sorot mata nya memohon untuk Ana tidak pergi.


"Mas Fidy.."Panggil Ana lirih.

__ADS_1


"Pulang lah bersama ku, An..:"Kembali sosok laki-laki yang bernama Fidy itu berkata, dengan tatapan memohon.


Ana terpaku, menatap dua sosok laki-laki yang meminta Ana untuk ikut dengan salah satu di antara mereka.


Sampai akhir nya, sosok lelaki yang berpakaian putih itu, berlahan melepas tangan Ana, kesedihan sangat jelas terlihat di bola mata nya.


Ana menatap sedih, kepada lelaki yang di panggil nya Satria, terasa berat sekali saat tangan mereka terlepas.


"Ana.."Sebuah panggilan, dengan suara bariton, kembali menyadarkan Ana.


Ana menoleh, dan kembali menatap laki-laki itu.


"Ayo Ana, kita pulang sekarang.."Ajak lelaki itu, sambil menarik tangan Ana, untuk menjauh.


Lelaki berpakaian putih itu terus menatap Ana, begitu juga dengan Ana yang terus menatap ke arah nya, walaupun langkah Ana terus menjauh.


Sampai akhir nya, sosok lelaki berpakaian putih itu, melambaikan tangan dan menghilang.


************


Berlahan, Ana membuka mata nya, seberkas sinar putih menyilaukan mata nya.


"Ana, kamu sudah sadar nak .??"Sebuah suara lembut, terdengar jelas di telinga Ana.


Ana memicingkan mata nya, menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke dalam kornea mata nya.


Saat Ana menoleh, tampak seraut wajah wanita setengah baya, sedang duduk di kursi roda, tersenyum hangat menatap nya.


Ana mencoba mengumpulkan ingatan nya.


"Bu Minah.."Panggil Ana lirih.


"Iya, sayang ini ibu.."Wanita setengah baya yang tak lain adalah bi Minah, tersenyum sambil membelai lembut rambut Ana.


"Aku di mana..??"Tanya Ana, sambil memperhatikan semua ruangan yang bernuansa putih.


"Kamu, di rumah sakit nak."Jawab bi Minah lembut.


"Rumah sakit..??"Ana, mencoba mengumpulkan kembali ingatan nya.


Saat itu, Ana ingat sedang di pemakaman Laura, dan dia meminta kepada Satria untuk mengantarkan nya ke rumah sakit.


Saat di dalam mobil, tiba-tiba mobil yang di tumpangi mereka, seperti ada yang mendorong kuat, sehingga mobil pun menabrak pembantas jalan.


Saat itu, dia melihat Satria yang berada di samping nya sudah berlumuran dar*h, ingin sekali dia menyentuh dan memanggil Satria tapi semua menjadi gelap.


"Satria.. Satria, dimana Satria.."


*********


Alhamdulillah, sudah mau masuk di bab akhir.


Jangan ada yang nangis ya, untuk baca bab ini☺️.


Kalau ga ngantuk, aurhor lanjut🤭


Happy New Year 2023.


Semoga tahun besok, jauh lebih baik dari tahun kemarin ya, Aamiin 🤲

__ADS_1


__ADS_2