Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Keributan Di Makam


__ADS_3

Bab 97


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih"


"Jangan tinggal kan ibu nak..."Bi Minah, berkata sambil memeluk erat tubuh jenazah Wira.


Tentu saja itu membuat kaget Fidy, Ana dan Febi.


Febi menyeka air mata nya, dan langsung menghampiri bi Minah.


"Apa dia anak bibi.."Ucap Febi pelan, sambil memegang pundak bi Minah, mencoba menenang kan nya.


Bi Minah yang sedang meratapi jenazah Wira, langsung mengangkat wajah nya menatap Febi, kemudian beralih ke arah Fidy dan Ana.


Ana membalas dengan senyuman, dan tatapan teduh, tanpa intimidasi.


Sedang kan Fidy berusaha ikut tersenyum, kala Ana memegang erat jemari tangan nya, seolah-olah mengisyarat kan, jika untuk saat ini jangan banyak bertanya.


"T..tuan.."Ucap bi Minah dengan suara gugup dan parau, sambil menunduk kan wajah nya, tidak berani menatap Fidy.


Dan Ana mengangguk kan wajah nya kepada Fidy.


Fidy pun menghela napas.


"Saat ini, saya tidak akan bertanya apa-apa pada mu bi.."Jawab Fidy, sambil menggenggam erat jemari Ana.


Fidy pun menoleh ke arah Ana, tampak Ana menatap Fidy dengan penuh kekaguman, dan memberikan Fidy tsenyum termanis nya.


Seandai nya, tidak ada Ana di samping nya, pasti dari kemarin, Fidy tidak akan bisa mengendalikan emosi nya, apa lagi kabar kematian Wira, dan saat Wira menculik Ana.


Dari pertama kali Wira kerja di rumah nya, Fidy sudah menyuruh orang untuk mencari informasi tentang nya.


Saat itu di ketahui, jika Wira dan adik perempuan nya di besar kan di panti, dan ibu nya berada di rumah sakit jiwa.


Dan sekarang bi Minah mengaku sebagai ibu nya Wira.


Fidy pun mengeluarkan ponsel nya, dan segera mengirim pesan pada Robert.


[ Cari info yang lebih akurat lagi, tentang Wira dan bi Minah]


Pesan pun tekirim.


[ Siap tuan ]


Balas Robert.


"Lebih baik, kita segera mengurus jenazah Wira bi, kasihan.."Ana berkata, sambil menghampiri bi Minah, dan memeluk nya.


"I..iya, nyonya.."Jawab bi Minah, di sela-sela Isak tangis nya.


"Tuan, boleh saya meminta sesuatu.."Bi Minah berkata dengan suara bergetar, tidak berani menatap wajah Fidy.


"Apa yang bibi minta..??"Tanya Fidy.


"Maaf tuan, saya ingin jasad Wira di makam kan, di pemakaman XX, di samping orang tua nya.."Pinta bi Minah, dengan rasa takut.


Permintaan bi Minah, kembali membuat Fidy, Ana dan Febi terkejut.

__ADS_1


Mereka saling melempar pandang.


Ana yang sedang memeluk bi Minah, memberikan isyarat kepada Fidy dengan sebuah anggukan.


Fidy menghela napas.


"Baik lah, tapi setelah proses pemakaman sekesai, bibi berhutang penjelasan kepada kami.."Ucap Fidy tegas.


"Saya janji tuan, setelah proses pemakaman selesai, saya akan menceritakan semua nya..."Ucap bi Minah, sambil menyeka air mata nya.


"Oke, saya pegang kata-kata bibi.."Jawab Fidy.


Bi Minah mengangguk.


Akhir nya, setelah jenazah Wira selesai di mandi kan dan di shalat kan, langsung di bawa ke pemakaman sesuai permintaan bi Minah.


Saat tiba di pemakaman, bi Minah menatap nanar kepada kedua makam yang berada di sebelah lubang yang sudah di siap kan untuk mengubur jenazah Wira.


Fidy, Ana dan Febi juga ikut menatap ke arah tatapan bi Minah, satu makam terlihat sudah lama, sedang kan makam di sebelah nya terlihat seperti masih baru.


Lagi-lagi mereka hanya saling melempar pandang, tidak ada kata-kata atau pertanyaan yang keluar dari mulut mereka.


Proses pemakaman pun di lakukan dengan dan khidmat dan di iringi tangis dari bi Minah.


Ana dan Febi, selalu berada di samping bi Minah, sambil sesekali mengusap air mta mereka, mencoba memberikan kekuatan kepada wanita setengah baya itu yang terlihat rapuh.


Saat jasad Wira sudah di timbun tanah merah, dan do'a pun sudah selesai di panjat kan, tiba-tiba..


"Kak Wira..."Suara jeritan seorang wanita memanggil Wira.


Semua orang terkejut, menatap ke arah wanita yang sedang menangis dengan meraung-raung.


Ana mengeryit kan dahi nya, dia menatap lekat ke arah wanita yang sedang menangis, seperti nya wajah nya sangat tidak asing bagi nya.


"Mas.."Bisik Ana, sambil menyentuh lembut lengan Fidy.


"Iya, itu Ayu.."Jawab Fidy pelan, sambil menatap tajam ke arah wanita yang bernama Ayu.


Seketika Ana kaget, tidak menyangka jika wanita itu adalah Ayu, yang pernah di tugas kan Fidy untuk menjadi asisten pribadi nya, saat dia harus tinggal di mansion mewah milik keluarga Aksa Sakti.


Sedang kan Febi hanya diam terpaku, karena dia sama sekali tidak mengenal Ayu, jauh sebelum Ayu masuk kerja di mansion, Febi sudah terlebih dahulu berangkat ke Jerman, dan menetap di sana.


Dengan langkah gontai, bi Minah melangkah mendekati Ayu, yang sedang memeluk nisan Wira.


"Ikhlas kan kepergian kakak mu nak.."Bi Minah berkata, sambil memegang pundak Ayu, dan membawa Ayu ke dalam pelukan nya.


"Kenapa, mereka tega melakukan ini pada kak Wira bu..??"Tanya Ayu, dengan air mata mengalir deras di wajah nya.


"Sabar nak, sebentar lagi mereka akan membayar semua nya.."Bi Minah berkata, sambil membelai lembut rambut Ayu.


Tampak kilatan marah di mata tua nya.


"Kamu akan membayar mahal semua ini, lelaki bajingan, nyawa harus di bayar dengan nyawa.."Ucap bi Minah dalam hati, dengan napas sesak karena di kuasai amarah.


Bertepatan dengan itu, tiba-tiba sosok Aksa dan Laura hadir di pemakaman.


Febi menatap kedatangan Aksa, netra mereka pun bertemu, tapi Febi buru-buru memaling kan wajah nya, dari laki-laki yang semua orang kira adalah ayah kandung nya.

__ADS_1


"Mas Fidy..."Panggil Laura, yang langsung memeluk tubuh Fidy.


Ana pun segera melepas kan genggaman nya dari tangan Fidy, dia pun ber niat melangkah ke arah Febi.


Tapi langkah nya terhenti, saat tangan Fidy mencekal tangan nya.


Seketika Ana menoleh ke arah Fidy.


"Tetap lah berada di samping ku, aku sangat membutuh kan mu.."Fidy berkata, dengan tatapan tulus dan memohon pada Ana, tanpa memperdulikan Laura yang sedang memeluk nya.


Laura pun melepas kan pelukan nya kepada Fidy, dan menatap tajam wajah Ana.


Ana menunduk kan wajah nya, tidak berani membalas tatapan Laura.


Dia sadar jika di sini posisi yang lemah sebagai istri ke dua, itu pun hanya menikah siri.


Ana merasa dri nya bagai kan seorang pelakor, padahal pernikahan nya dengan Fidy itu karena paksaan, bahkan saat melakukan pernikahan pun dia tidak tahu jika Fidy sudah beristri.


"Hebat sekali kamu Ana, sudah membuat suami ku benar-benar mencintai mu, apa yang sudah kamu berikan kepada nya, hah..??"Laura bertanya dengan suara yang keras, sehingga semua mata orang-orang yang hadir pun melihat ke arah mereka.


Tentu saja, hal itu membuat Ana sangat malu.


"Aku tahu, kamu pasti sudah memberikan tubuh mu untuk suami ku khan..??"Tanya Laura, penuh intimidasi.


Mendengar tuduhan dan hinaan, Ana pun mengangkat wajah nya, dan menatap wajah Laura yang berada di hadapan nya.


"Kenapa.??".Kamu mau marah..??."Atau kamu sudah menjual ke perawanan mu kepada suami ku ini, atau diri mu memang sudah tidak perawan..???"Laura berkata, dengan tatapan dan senyuman menghina Ana.


"Laura, cukup..!!"Bentak Fidy dengan wajah memerah, sambil merangkul pundak Ana.


"Kamu berani membentak ku mas, demi wanita yang akan kita sewa rahim nya ini..!!??"Teriak Laura histeris.


"Kamu..!!"Tampak tangan Fidy, hampir melayang ke wajah Laura, tapi Ana buru-buru memegang kuat tangan Fidy.


Di saat keadaan yang tampak tegang, tiba-tiba terdengar suara teriakan.


Akhhhh....


***************


Cerita semakin seru dan ruwet ya 😁


Sebenar nya siapa Ayu..??


Ada hubungan apa dengan bi Minah, termasuk dengan almarhum Wira..??


Apa yang akan di lakukan Laura terhadap Ana.


Siapa kah orang yang berteriak kesakitan..??


Simak terus kisah di novel ini 😁


Ayo melimpir ke novel author yang terbaru dan yang sudah tamat 👇👇



__ADS_1


__ADS_2