Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Kekecewaan Fidy


__ADS_3

Bab 57


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "


"Satria..."Panggil Ana lirih, dengan mata masih terpejam.


Deg....


Seketika hati Fidy terasa sangat sakit, di saat ketidak sadaran nya, nama Satria terucap di bibir Ana.


"Apa kamu merindukan nya An...??"Tanya Fidy lirih, sambil menatap sendu wajah Ana, dengan tangan yang masih menggenggam jemari Ana.


Tampak terlihat gurat kesedihan dan kekecewaan di wajah lelah nya.


Berlahan Fidy memegang dahi Ana, memastikan suhu tubuh Ana, terasa tubuh Ana sudah tidak panas lagi.


Fidy mengambil ponsel nya, dan langsung menghubungi bi Minah.


"Datang lah ke kamar Ana bi, bawakan bubur nya..!!"Perintah nya saat telpon terhubung.


Fidy pun menutup telpon nya, dengan tatapan nanar dia menatap wajah Ana yang masih belum sadar dan terlihat pucat.


Tak lama terdengar ketukan pintu.


"Masuk lah bi..."Ucap Fidy.


Bi Minah pun muncul di balik pintu, dengan membawa nampan yang berisi semangkuk bubur dan air putih.


"Tolong jaga dia bi.."Ucap Fidy sambil bangkit dari duduk nya.


"Sebentar lagi dia akan sadar, tolong berikan obat dan vitamin, setelah makan bubur nya..."Ucap Fidy lagi sambil menjelaskan obat dan vitamin yang harus di minum Ana.


"Baik tuan..."Ucap bi Minah mengerti.


"Aku mau keluar sebentar ada urusan, aku percaya kan dia pada mu, jaga dia bi..."Fidy berkata sambil menghela napas dan menatap nanar wajah Ana.


"Ternyata mencintai itu sangat menyakit kan.."Fidy berkata dalam hati, sambil menghela napas terus menatap wajah Ana, wajah wanita yang telah lama bertahta di hati nya.


Semenjak melihat Ana memakai seragam putih biru, yang begitu imut, cantik dan menggemaskan, sehingga tidak ada wanita yang semenarik Ana di hati Fidy, termasuk Laura istri cantik dan sah nya.


"Pasti tuan, saya akan menjaga nyonya Ana seperti menjaga putri saya sendiri..."Bi Minah berkata sambil menatap penuh kasih ke wajah Ana.


Tampak ada kerinduan dan kesedihan yang sangat mendalam di mata tua nya.


Fidy menatap bi Minah dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Aku pergi bi.."Ucap Fidy sambil merapikan jas nya, dan melangkah keluar dari kamar Ana.


Fidy tidak langsung melangkah keluar, tapi dia lebih dulu melangkah ke taman untuk menemui seseorang.


Tampak sosok Wira sedang duduk melamun di gazebo, sambil memandang kosong ke depan.

__ADS_1


"Wira...!!!"Panggil Fidy dengan suara bariton nya yang khas.


Wira yang sedang melamun pun tersentak kaget.


"T..tuan .."Ucap Wira gugup.


"Apa kamu tertarik dengan istri ku...???"Tanya Fidy dingin, dengan tatapan tajam yang sangat menusuk setiap orang yang menatap nya.


"Mana saya berani tuan..."Ucap Wira lirih sambil menundukkan wajah nya.


Fidy tersenyum sinis menatap Wira, dia pun melangkah mendekati Wira, sehingga mereka nyaris tak berjarak.


"Jadi benar, jika kamu menyukai istri ku...???"Tanya Fidy sambil mencengkram kerah kaos Wira.


"Nyonya Ana wanita yang sempurna, jaga lah diri dan hati nya tuan..."Ucap Wira parau, sambil menatap sendu ke wajah Fidy.


Bug....


Fidy langsung memberikan pukulan ke wajah Wira, sehingga membuat tubuh Wira tersungkur ke tanah, tampak wajah Wira yang membiru bekas pukulan, dan darah keluar dari sudut bibir nya.


"Dengar, mulai detik ini kamu aku pecat, dan sekarang juga angkat kaki dari sini....!!"Geram Fidy sambil berjongkok dan mencengkeram rahang wajah Wira.


"Tolong jangan pecat saya tuan, saya ingin menjaga nya..."Iba Wira dengan tatapan memohon sambil memegang tangan Fidy yang sedang mencengkeram kuat rahang wajah nya.


Fidy memicingkan mata nya, dan mengerutkan dahi nya mendengar perkataan Wira.


"Tuan boleh memukul saya sepuas hati, tapi tolong jangan pecat saya..."Ucap Wira lagi dengan wajah mengiba.


"Suatu saat tuan akan tahu alasan saya, kenapa saya sangat peduli dengan nyonya Ana..."Jawab Wira sambil tertunduk sedih.


"Si*l..."Geram Fidy sambil melepaskan cengkraman nya dengan kasar, sehingga membuat Wira kembali tersungkur.


"Oke, kamu boleh tetap bekerja di sini karena aku sudah berjanji dengan bi Minah..."'Fidy berkata sambil bangkit berdiri, dan membenarkan jas nya.


"Istri ku yang baik hati dan lembut itu, pasti melarang aku untuk memecat mu..."Ucap Fidy masih dengan wajah memerah, penuh dengan rasa kesal.


"Tapi ingat, jangan pernah menatap apa lagi mendekati istri ku, jika kamu tidak mau menyesal.."Fidy berkata sambil berlalu dari hadapan Wira.


Setelah Fidy pergi, buliran kristal menetes di wajah tampan Wira, antara senang dan sedih atas keputusan Fidy.


Wira merasa senang karena dia masih boleh bekerja sehingga masih bisa satu atap dengan Ana, sedih jangan kan untuk berbicara dengan Ana, melihat nya pun tidak boleh.


Berlahan sambil menahan sakit di pipi nya, Wira pun bangkit berdiri, dan berjalan menuju dapur, sambil memegangi pipi nya yang bengkak dan sudut bibir nya yang terasa perih.


Saat sampai di dapur, tampak mang Ujang sedang memasak air, dan terlihat 2 cangkir yang berisi kopi yang akan di seduh.


"Lho, kamu kenapa Wir...??"Tanya mang Ujang kaget saat melihat kehadiran Wira dengan pipi lebam dan sudut bibir berdarah.


"Tidak sengaja, tadi aku terpeleset dekat kolam ikan mang, dan tidak sengaja membentur batu..."Ucap Wira berbohong, sambil menuju kulkas


Mang Ujang menarik napas, dia yakin jika Wira sedang berbohong.

__ADS_1


Mang Ujang mematikan dulu kompor, yang air nya terlihat belum mendidih, dia berniat ingin membantu mengobati luka Wira.


"Biar mamang saja yang mengobati luka mu.."Ucap Mang Ujang, sambil mengambil es batu di tangan Wira.


"Tapi kopi nya sudah di tunggu oleh pak Tarjo..."Tolak Wira karena takut merepotkan.


"Tidak baik menolak orang yang ingin membantu mu Wira.."Tegas mang Ujang sambil mengambil beberapa salep di kotak P3K.


"Duduk lah....!!"Perintah mang Ujang.


Wira pun duduk di kursi yang berada di dapur, mang Ujang segera mengompres pipi Wira yang bengkak, membersihkan darah di sudut bibir Wira, kemudian mengoleskan salep di sudut bibir dan pipi Wira.


Wira meringis, menahan sakit, mang Ujang hanya mengulas senyum.


"Anak muda, baru begini saja sudah payah..."Ejek mang Ujang sambil menggelengkan kepala nya.


Wira hanya menelan saliva nya, mendengar ejekan mang Ujang.


"Apa kamu mau minum kopi Wira, biar mamang buat kan sekalian..."Tanya mang Ujang sambil menyalakan kompor dan merajang air kembali.


"Iya mang, terimakasih banyak..."Jawab Wira dengan wajah sendu.


Mang Ujang mengangguk dan tersenyum.


**********


Sementara Fidy, lebih memilih mengendarai mobil nya sendiri tanpa mang Ujang.


Sesekali dia memukul setir dan mengacak rambut nya.


"Satriaaaa...kenapa nama itu yang selalu di hati mu An..!!"Teriak Fidy sambil memukul setir.


"Apa kurang aku menunjukkan rasa cinta ku kepada mu ..??"Teriak Fidy lagi, tanpa terasa buliran hangat pun keluar dari sudut mata Fidy.


"Aku mencintaimu An....""


Brukk......


***********


Apa sebenarnya yang di sembunyikan Wira ..???


Apa yang terjadi dengan Fidy selanjut nya...???


Ternyata Fidy dan Ana sama-sama merasa cemburu


Dan cemburu itu sangat menyakitkan.


Cinta memang tak ada logika ya, kayak lagu nya Agnes Mo...he..he.


Jangan lupa mampir ke novel Author.

__ADS_1



__ADS_2