
Bab 72
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
Fidy menarik napas lega, kini dia tidak terlalu mengkhawatir kan keadaan Ana, walaupun sebenarnya dia sangat merindukan nya.
Kemudian Fidy langsung menulis pesan untuk bi Minah.
( Tak perlu khawatir, Ana baik-baik saja dan berada di tempat yang aman ).
( Alhamdulillah, syukur lah tuan..) Balas bi Minah
( Saya belum bisa kembali ke rumah, ada urusan yang saya harus selesai kan ) Pesan Fidy.
( Sampai kan pada pak Tarjo dan mang Ujang, harus lebih hati-hati ) Pesan Fidy lagi.
( Baik tuan, maaf kan atas kelalaian kami ) balas bi Minah.
Tak lama mobil dokter Alan pun memasuki halaman rumah sakit.
"Aku akan menemani untuk chek up dan therapy Fidy..."Dokter Alan berkata saat akan bersiap turun dari mobil.
"Apa om tidak ada pasien untuk hari ini...??"Tanya Fidy.
Dokter Alan menggelengkan kepala nya.
"Om ambil cuti untuk beberapa hari ini, om ingin fokus pada kasus kematian Aryo..."Ucap dokter Alan sambil menghela napas, terlihat duka yang mendalam di wajah nya.
"Om istirahat saja, saya bisa sendiri, tidak perlu khawatir..."Ucap Fidy menatap nanar dokter Alan.
Bagaimana pun, dokter Alan yang selalu menemani nya saat dia dalam masa-masa dulu, saat dia harus terpuruk dalam kesedihan.
Saat ibu nya harus meregang nyawa di depan mata nya, yang saat itu dia masih kecil, dan kenyataan pahit jika lelaki yang di anggap nya sebagai ayah kandung nya, ternyata tak ada hubungan darah sama sekali dengan nya.
Dokter Alan dan almarhumah istri nya yang selalu memberikan perhatian dan kasih sayang yang tulus kepada nya.
Saat istri dokter Alan menghembuskan napas terakhir nya, Fidy bersama dokter Aryo menangis bersamaan di atas tanah merah kuburan almarhumah.
Dokter Alan menggeleng kan kepala nya, menarik napas dalam-dalam dan membuang nya kasar.
"Om akan menunggu mu, setelah ini kita akan makan siang bersama.."Ucap dokter Alan lirih.
"Om ingin ngobrol dengan mu, sudah lama sekali kita tidak makan dan ngopi bersama..."Ucap dokter Alan lagi, dengan suara parau.
"Baiklah om..."Ucap Fidy sambil mengangguk.
"Kita periksa luka-luka mu sekarang..."Ucap dokter Alan, sambil membuka perban di kepala dan kaki Fidy, di bantu suster Eva.
"Seperti nya perban di kaki sudah bisa di lepas, hanya perban di kepala yang masih harus di pakai.."Ucap dokter Alan sambil memasang perban baru di kepala Fidy.
"Kamu harus sabar dengan pengobatan ini.."Ucap dokter Alan.
"Iya om, dari Ana aku banyak belajar.."Fidy berkata sambil tersenyum, membayangkan wajah dan senyum polos Ana.
"Sedang apa kamu Ana?, aku merindukan mu.."Ucap Fidy dalam hati.
__ADS_1
"Ana benar-benar memberikan aura positif kepada mu Fidy.."Ucap dokter Alan tersenyum, sambil menepuk pelan pundak Fidy.
Suster Eva pun tampak tersenyum, mendengar pembicaraan Fidy dan dokter Alan.
"Ana adalah wanita yang sempurna om.."Ucap Fidy tersenyum, sambil menatap dokter Alan.
Dokter Alan pun mengangguk dan tersenyum.
"Maaf dokter, ruang therapy untuk tuan Fidy sudah siap.."Ucap suster Eva, setelah mendapat telepon dari petugas ruang therapy.
"Ayo Fidy, kita ke ruang therapy..."Ucap dokter Alan, segera melangkah keluar dari ruangan nya.
Fidy mengangguk.
Suster Eva segera membantu Fidy mendorong kursi roda nya, dan berjalan di samping dokter Alan menuju ruang therapy.
2 Jam Fidy melakukan therapy, dan menurut dokter spesialis fisik dan fisioterapis, jika kaki Fidy sudah 70% membaik, dan hanya tinggal beberapa kali therapy akan segera pulih.
"Syukur lah, proses penyembuhan kaki mu tergolong cepat Fidy..."Dokter Alan tersenyum bahagia.
"Ya om, aku harus segera sembuh, karena aku ingin menyelesaikan semua masalah yang ada.."Ucap Fidy pasti.
Dokter Alan mengangguk.
"Suster Eva, kami akan makan siang, apakah kamu mau ikut..??"Tanya dokter Alan lembut, sambil menatap hangat ke arah suster Eva.
"Tidak dokter terimakasih, saya makan siang di sini saja.."Ucap suster Eva, sambil mengangguk.
Suster Eva merasa tidak enak dengan tatapan Fidy, seperti menyelidik.
"Kamu yakin..??"Tanya dokter Alan, seakan menginginkan suster Eva untuk menemani nya makan siang.
"I..iya dok.."Ucap suster Eva gugup, sambil menunduk.
Dokter Alan menoleh ke arah Fidy, yang sedang menatap tajam suster Eva.
Dokter Alan hanya menggeleng kan kepala nya, sambil menyunggingkan senyum.
"Anak ini tidak pernah berubah, hanya Riska mendiang mamah nya, Mia mendiang istri ku, dan sekarang Ana, wanita yang bisa meluluhkan hati nya, dan mampu merubah tatapan dingin menjadi hangat seketika..."Kata dokter Alan dalam hati.
"Baik lah, kalau begitu kami berangkat dulu, pilih lah makanan yang sehat..."Ucap dokter Alan dengan senyum lembut.
"Iya dok.."Ucap suster Eva lembut, membalas senyum dokter Alan.
"Ayo Fidy, kita berangkat sekarang..."Dokter Alan berkata sambil segera mendorong kursi roda Fidy, dia tidak mau membuat suster Eva semakin tidak nyaman.
Fidy tidak menjawab, dia membiarkan dokter Alan mendorong kursi roda nya.
Dokter Alan ingin membicarakan banyak hal penting bersama Fidy, jadi dia memutuskan untuk mengendarai mobil nya sendiri, tanpa supir pribadi nya.
"Seperti nya suster itu sudah menarik perhatian om ku, yang kata nya cinta mati sama almarhumah istri nya tante Mia...??"Tanya Fidy dengan senyum smirk nya.
"Sudah berapa kali om bilang, bisakah kamu lebih lembut menatap orang, apa lagi dia seorang perempuan..."Ujar dokter Alan santai, sambil fokus menyetir.
"Fiks, ternyata suster itu sudah bertahta di hati mu..."Ucap Fidy sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
Dokter Alan tertawa kecil.
"Jangan bahas tentang hati dan wanita dulu, kita akan membahas hal yang berat, tapi tinggu kita isi perut dulu..."Ucap dokter Alan, sambil masuk, dan memarkir mobil nya di sebuah resto yang sederhana, tapi sangat nyaman tempat nya.
Setelah memarkirkan mobil, dokter Alan pun membantu Fidy turun dari mobil dan menaiki kursi roda nya.
Mereka memilih tempat duduk yang berada di dalam saung, dengan posisi menghadap kolam ikan, yang di sekitar nya di tumbuhi berbagai macam tanaman hias.
Tak berapa lama, makanan yang sudah mereka pesan pun datang, mereka segera menghabisi menu makan siang mereka.
Setelah makanan habis, mereka memesan kopi untuk teman mereka mengobrol.
Sambil menikmati secangkir kopi, mereka pun memulai obrolan.
"Om begitu terpukul dengan kematian Aryo, sampai saat ini om tidak percaya jika Aryo sudah meninggal, dengan di bunuh secara sadis..."Suara dokter Alan terdengar parau, seperti memendam sebuah luka yang begitu dalam.
Fidy menarik napas dan membuang nya kasar.
"Aku juga belum percaya, kalau Aryo pergi secepat ini..."Jawab Fidy, sambil menyesap kopi nya.
Dokter Alan menghela napas, kemudian menyesap kopi nya.
"Seperti nya polisi mencurigai Reynold, apa benar dia yang telah membunuh Fidy..??"Tanya dokter Alan, karena hati nya masih merasa ragu.
"Kalau di lihat dari hubungan Reynold dan Aryo, besar kemungkinan Reynold bisa saja membunuh Aryo.."Ucap Fidy.
"Mohon maaf om, apa yang di bilang Aksa, jika apa yang di rasakan Reynold, Aryo pun merasakan juga..."Ucap Fidy lagi sambil menatap lelaki setengah baya yang masih terlihat ketampanan dan kegagahan nya.
Dokter Alan mengusap wajah nya kasar.
"Sebenar nya om sudah curiga dari dulu, apa lagi saat hubungan Aryo dan Reynold yang semakin dekat.."Ucap dokter Alan, sambil memejamkan mata nya sesaat, mencoba menepis kenyataan tentang kelainan **** almarhum putra nya.
"Tapi kalau benar Aryo mengalami biseks**l, om tidak pernah mendapati nya sedikit pun dekat dengan wanita.."Dokter Alan berkata sambil mengerutkan dahi nya, menatap Fidy seolah minta jawaban.
"Aryo tertarik dengan wanita om..."Ucap Fidy dengan tersenyum sinis, karena dia sangat tahu siapa wanita yang sangat di cintai oleh sepupu nya Aryo.
Seandainya Aryo mau jujur dengan perasaan nya, tentu saja Fidy dengan ikhlas memberikan wanita itu kepada Aryo, walaupun dia bukan wanita yang baik.
"M..maksud kamu..??"Tanya dokter Alan, dengan semakin mengerutkan dahi nya.
Fidy tertawa kecil, kemudian menyesap kopi nya.
Setelah meletakkan gelas kopi nya di atas meja yang berada di depan mereka, Fidy pun mencodongkan tubuh nya ke arah dokter Alan.
"Apa om tahu, kenapa sore itu Laura datang ke apartemen ....??"
************
Kalian tahu ga, kenapa Laura sore itu datang ke apartemen dokter Aryo...???
Yang tahu komen ya di bawah ini👇☺️
Jangan lupa ikut ramai kan novel author yang sudah tamat.
__ADS_1