
Bab 94
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
"Ka Ana, kenapa kalian tidak tidur sekamar sie..??"Tanya Febi, yang langsung merebahkan tubuh nya di samping Ana.
"Entah lah, mungkin mamas mu belum mau menyentuh kakak.."Jawab Ana dengan tersenyum.
"Masa sie.."Jawab Febi tidak percaya.
"Mungkin dengan menyentuh kakak, mamas mu akan merasa bersalah dengan kak Laura.."Jawab Ana lirih, ada sesak dan kesedihan di hati nya.
"Kata siapa, justru mamas itu tidak pernah menyentuh kak Laura, bahkan mamas sangat marah jika kak Laura menyentuh nya.."Jawab Febi santai.
Ana hanya terdiam dengan penuturan Febi. karena waktu pertama kali dia bertemu dengan Laura di meja makan, terlihat mereka sedang berciuman dengan mesra sekali.
"Apa ciuman itu, bukan berarti sentuhan Feb.??."Tanya Ana sambil bangkit dari tidur, dan duduk menghadap tubuh Febi yang masih terbaring.
Febi pun, ikut mendudukkan tubuh nya sambil bersandar di sandaran tempat tidur.
"Apa kakak pernah melihat mamas berciuman dengan kak Laura..??"Tanya Febi, menatap wajah Ana.
Ana mengangguk.
"Iya, waktu pertama kali bertemu dengan nyonya Laura, aku melihat mereka berciuman sangat mesra di meja makan.."Jawab Ana lirih, tiba-tiba wajah nya menjadi sendu, tampak ada kesedihan di bola mata nya.
"Apa kak Ana cemburu..??"Tanya Febi, penuh selidik.
"Cemburu .??"Tentu saja tidak Feb.."Jawab Ana dengan wajah bersemu merah.
"Yakin kak..??"Tanya Febi, dengan wajah dan senyum jahil nya.
"Febi..!!"Teriak Ana, dengan wajah semakin memerah.
Febi tertawa lepas, melihat wajah Ana yang semakin memerah, seperti kepiting rebus.
"Feb.."Ana memanggil Febi, dengan mimik wajah serius.
Febi pun, langsung menghentikan tawa nya
"Ada apa kak..??"Tanya Febi, menatap Ana yang tampak wajah nya berubah menjadi serius dan tegang.
"Apa kamu tahu, kenapa keluarga Aksa Sakti sangat membenci keluarga ku..??"Tanya Ana, menatap lekat wajah Febi.
Febi menelan saliva nya, dia merasakan tenggorokan nya tiba-tiba terasa kering.
Febi bingung mau menjawab apa, harus kah dia jujur kepada Ana, tapi dia takut kejujuran nya menjadi masalah yang semakin besar.
Sebenar nya Febi tidak tega dengan Ana, walaupun baru beberapa jam bertemu, dia merasakan chemistry yang sangat kuat terhadap kakak ipar nya ini.
"Feb.."Ana memanggil Febi yang terdiam, sambil menyentuh lengan nya
"Eee..i..iya..kak.."Febi tersentak kaget, dari kebingungan nya.
__ADS_1
"Jika kamu berat untuk bercerita, tidak usah di cerita kan Feb.. "Ucap Ana lirih, dengan wajah yang terlihat sendu.
"Kak.."Panggil Febi lirih, sambil menggenggam lembut jemari tangan Ana.
"Bukan aku tidak mau bercerita, aku juga tidak terlalu paham dengan yang terjadi di masa lalu dengan keluarga kita.."Ana berkata, sambil menghela napas.
"Yang aku tahu, keluarga ku terutama ayah ku, mempunyai dendam yang aku juga kurang paham penyebab nya, mungkin kakak bisa bertanya kepada mamas langsung, karena dia tahu semua nya.."Febi berkata, dengan wajah yang ikut sendu menatap Ana.
Ana mengangguk.
"Aku juga ingin tahu Feb, apakah orang tua aku masih hidup atau sudah meninggal..??"Ana berkata, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Febi semakin tidak tega melihat Ana, tapi dia juga tidak mungkin memberitahu kenyataan sebenar nya.
"Jangan menangis kak, aku jadi ikut sedih, nanti aku akan bantu kak Ana untuk mencari informasi melalui mamas.."Ucap Febi tersenyum, mencoba menghibur Ana.
"Sekarang lebih baik kita tidur, kakak pasti lelah,karena seharian mengurusi pemakaman dan tahlilan tante Rima.."Ucap Febi, mencoba tersenyum.
"Baik lah, terimakasih Feb, maaf jika pertanyaan aku menjadi beban untuk mu.."Ana berkata, sambil menghapus buliran hangat yang akan mengaliri pipi nya.
"Tidak perlu sungkan kak, kita saudara walaupun tidak sedarah.."Ucap Febi lembut, sambil semakin erat menggenggam jemari tangan Ana.
"Terimakasih Feb.."Ucap Ana tersenyum.
"Sama-sama kakak ipar ku yang super duper cantik.."Febi berkata, sambil tersenyum dan memeluk Ana.
"Aku bahagia sekali, mamas memang tidak salah memilih kak Ana sebagai kakak ipar kami, pasti si Bram juga senang, dari pada punya kakak ipar seperti wanita itu.."Ucap Febi.
"Hai, tidak boleh berbicara seperti itu.."Ana berkata sambil melepaskan pelukan Febi, kemudian tersenyum dan menatap hangat Febi.
"Siap kakak ipar.."Febi berkata dengan gaya konyol nya, dan langsung merebah kan kembali tubuh nya.
Ana tersenyum sambil menggelengkan kepala nya, melihat tingkah adik ipar yang baru di kenal nya beberapa jam yang lalu.
Ana pun beranjak dari tempat tidur, dan langsung menuju kamar mandi.
Saat Ana masuk ke kamar mandi, Febi langsung membuka mata nya kembali, dan segera beranjak dari tempat tidur.
Setelah memastikan jika Ana benar-benar sudah masuk ke dalam kamar mandi, Febi pun buru-buru meraih ponsel nya.
Kemudian mengirim kan pesan ke seseorang.
[ Benar dugaan ku, jika kakak ipar mengajak aku tidur di kamar nya, karena dia ingin mengorek informasi ].
Pesan pun terkirim.
Febi pun kembali menaruh ponsel nya, dan langsung ke posisi semula, merebah kan diri nya.
***********
Di dalam kamar nya, Fidy juga masih terjaga, dia sedang membuka lap top nya, mempelajari kembali file-file yang di kirim kan Robert tadi saat dia bersama dokter Jimmy.
Sambil ber balas chat dengan Robert.
__ADS_1
Tiba-tiba pesan kembali masuk ke ponsel Fidy, dia pikir itu chat yang di kirim kan Robert kenbali, ternyata itu sebuah pesan dari Febi.
Fidy pun mulai membuka isi pesan itu.
Fidy menarik napas dalam-dalam, kemudian membuang nya kasar, saat membaca isi pesan yang di kirim kan Febi.
"Sepenting itu kah masa lalu mu An..??"Ucap Fidy lirih.
"Apakah kamu sanggup menerima kenyataan yang sebenar nya..??"Tanya Fidy pada diri nya sendiri.
***********
Sedangkan tampak di dalam kapal besar di sebuah dermaga, sesosok seorang laki-laki muda yang sedang di siksa, wajah nya sudah penuh luka dan lebam, tubuh lemah nya sudah terlihat tak berdaya.
"Bo*oh, kenapa barang bukti itu sampai tertinggal, hah .!!"Teriak seorang laki-laki, dengan tatapan bengis, sambil mencengkram rahang lelaki muda, yang benar-benar sudah tak berdaya, bahkan sudah kehilangan kesadaran nya.
"Berikan pada ku..!!"Perintah lelaki kepada seorang lelaki berbadan tinggi besar.
Lelaki tinggi besar itu pun, memberikan sebuah sarung tangan kepada sosok laki-laki yang sorot mata nya begitu bengis.
Dengan senyum smirk nya, lelaki bermata bengis itu pun memakai sarung tangan, kemudian mengambil belati yang berada di samping nya.
Tampak sebuah seringai jahat terlihat dari bibir nya, dengan sorot mata kejam, lelaki itu pun menghujam kan belati nya, beberapa kali ke arah perut dan jantung nya.
Lelaki muda yang sudah tak berdaya itu, hanya berteriak lemah, sebelum menghembus kan napas terakhir nya.
"Ini lah hukuman untuk orang yang berniat berkhianat.."Lelaki itu berkata dengan senyum smirk nya, sambil melepaskan pisau dan sarung tangan nya yang berlumuran darah.
"Cepat urus mayat nya, jangan sampai ada barang bukti yang tertinggal.."Lelaki itu berkata sambil membetulkan kerah kemeja nya, dan melangkah pasti meninggalkan kapal itu, dengan langkah santai, seperti tidak terjadi apa-apa.
"Baik tuan.."Ucap beberapa laki-laki bertubuh besar.
Dengan sigap mereka langsung membersihkan ruangan yang di pakai untuk mengeksekusi lelaki muda itu.
Mereka juga mengikat batu besar pada mayat lelaki muda itu, kemudian membawa mayat lelaki muda itu ke daerah dermaga yang sepi dan yang air nya lebih dalam.
Dan saat berada di tengah-tengah dermaga, mayat lelaki muda itu pun langsung di lempar sampai ke dasar dermaga beserta sarung tangan dan pisau yang di gunakan oleh lelaki kejam bermata bengis tadi.
**************
Akan kah Fidy memberitahu kan Ana tentang dendam masa lalu keluarga mereka.??
Kenyataan apa dari masa lalu yang akan menyakiti hati Ana..??
Siapa laki-laki muda yang di siksa dan di bunuh secara sadis..??
Dan siapa lelaki kejam bermata bengis itu...-??
Cerita yang semakin seru, dengan fakta yang semakin terkuak.
Jangan lewat kan novel tamat dan novel new author👇👇
__ADS_1