
Bab 85
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
Fidy telah sampai di pemakaman, tak lama mobil Robert juga sampai.
Fidy langsung menghampiri Ana, membantu nya memapah Rima yang terlihat sangat syock,. dia hanya mampu menatap nanar, kepada kedua wajah wanita yang terlihat di penuhi dengan duka.
Proses pemakaman pun di mulai, dengan di iringi oleh isak tangis Ana dan Rima
Saat proses pemakaman selesai dan mereka akan melakukan do'a bersama, tiba-tiba sosok Aksa dan Laura hadir di tengah-tengah mereka.
Tampak raut muka kebencian terlihat di wajah Rima, Ana yang menyadari itu, langsung memeluk Rima dan mengusap lembut punggung nya.
Fidy menatap tajam ke arah Aksa dan Laura, dia mencoba sekuat mungkin mengendalikan emosi nya, karena situasi mereka yang berada di pemakaman dan sedang khusyuk berdo'a.
Selesai berdo'a, pelayat pun berpamitan meninggalkan pemakaman, termasuk pak ustadz yang memimpin do'a.
Tinggal lah Fidy, Ana, Rima, Aksa, Laura, Robert dan beberapa petugas kepolisian.
Rima yang berada dalam pelukan Ana pun, mengusap kasar air mata nya, melepaskan pelukan nya, dan langsung melangkah menuju Aksa yang sedang berdiri angkuh di samping Laura.
Semua orang teroeranjat kaget.
"Puas kamu, menghancurkan kami tuan Aksa Sakti.!!"Teriak Rima penuh marah.
"Kamu lihat, suami ku sudah terbujur kaku di bawah gundukan tanah itu..!!"Teriak Rima lagi, sambil menatap tajam penuh kebencian kepada Aksa, air mata terus membasahi wajah nya.
"Mah.."Ana langsung memeluk tubuh Rima, sambil mencoba menenangkan.
"Kamu manusia kejam, kamu manusia berhati iblis..!!"Teriak Rima histeris.
"Kamu pembunuh, tangkap dia pak, dia yang sudah membunuh suami saya...!!"Rima kembali berteriak histeris.
Tiba-tiba Rima langsung melepaskan pelukan Ana dengan kasar, dan langsung menerjang Aksa, dan memukul dengan sekuat tenaga nya.
Semua orang semain terkejut, sedang kan Aksa terlihat tenang, dan hanya terlihat senyum smirk nya.
Ana dan Fidy mencoba menenangkan Rima, mereka berusaha melepaskan tangan Rima yang sedang menarik kasar jas Aksa, polisi pun ikut membantu suasana yang menegangkan itu.
"Cepat pergi dari sini.."Ucap Fidy penuh penekanan, dengan sorot mata tajam penuh kebencian nya ke arah Aksa.
"Fidy Eka Sakti, demi wanita seperti ini, kamu rela menghancurkan hidup mu.."Aksa berkata sambil menggelengkan kepala nya, dengan senyum penuh ejekan.
Fidy tidak menjawab, hanya sorot mata kebencian yang dia berikan kepada Aksa.
__ADS_1
"Mas Fidy.."Panggil Laura lirih, menatap ke arah Fidy yang berada tanpa jarak di samping Ana.
Fidy membalas panggilan Laura, dengan tatapan penuh kebencian, seperti tatapan nya kepada Aksa.
Tampak mata Laura berkaca-kaca, dia menatap tajam wajah Ana.
Ana hanya menunduk, sambil terus menenangkan Rima.
"Maaf tuan Aksa dan nyonya Laura, suasana tidak kondusif, silahkan tuan dan nyonya pergi dari sini..."Ucap Robert sopan sambil mengangguk.
Aksa tidak menjawab, dengan senyum smirk nya, dia langsung menarik tangan Laura, dan melangkah pergi meninggalkan pemakaman.
"Tuan Fidy, Kami akan terus melakukan penyelidikan kasus ini.. ."Ucap salah satu polisi.
"Dan beberapa anggota kami juga, akan tetap berjaga-jaga di sekitar rumah tuan.."Ucap polisi lagi
"Terimakasih banyak pak..."Ucap Fidy sambil mengangguk.
"Kalau begitu, kami permisi dulu pak.."Ucap polusi itu sambil mengangguk hormat.
"Mari pak Robert..."Pamit polisi sambil mengangguk ke arah Robert.
Lelaki bertubuh kekar, dan berambut gondrong itu mengangguk dan sedikit menyunggingkan senyuman.
Beberapa polisi pergi meninggalkan pemakaman, sedang kan beberapa polisi lain bertugas untuk mengawal mobil Fidy dan bertugas menjaga rumah Fidy.
Fidy mengangguk.
"Ayo Ana, mah kita pulang..."Ucap Fidy lembut, sambil memegang lengan Ana.
Ana mengangguk dan membawa Rima pergi meninggalkan pemakaman.
Tapi baru beberapa langkah, Rima langsung berteriak histeris, dan kembali melepas kan kasar pelukan Ana.
"Mas Adrian, jangan tinggalkan aku, aku mau ikut bersama mu..!!!"Teriak Rima sambil berlari kembali ke makam Adrian.
Rima langsung memeluk gundukan tanah merah, tempat jasad Adrian di ke bumi kan, dia terus meraung-raung dan terus memanggil nama Adrian, tangan nya mulai menggali gundukan tanah merah itu.
Ana menangis tersedu-sedu menatap Rima, dia tidak menyangka jika nasib malang menimpa kedua orang yang sudah merawat dan membesarkan nya.
Saat Ana ingin mendekati Rima, Fidy segera meraih tubuh Ana dan memeluk nya erat.
"Lepas kan mas..."Ucap Ana lirih di sela sedu sedan tangisan nya.
"Kita akan membawa mamah ke psikiater..."Ucap Fidy dengan pelukan nya yang semakin erat di tibuh Ana.
__ADS_1
"Maksud mas..??"Tanya Ana dengan mata yang terus berlinang, sambil menatap Fidy penuh tanya.
"Mamah sangat terpukul dengan kematian papah.."Jawab Fidy.
"Maksud mas, mamah aku gila ..??"Tanya Ana lagi dengan tajam, tanda tidak suka nya dengan perkataan Fidy.
"Bukan begitu sayang, kamu tidak ingin mamah kenapa-kenapa khan...?-?"Tanya Fidy, menatap lembut mata Ana yang tampak terlihat marah.
"Aku janji, aku akan menjaga kalian, dan aku akan mengusut tuntas kematian papah, walaupun nyawa aku menjadi taruhan nya..."Fidy berkata, dengan tatapan yang dalam, mencoba menyakinkan Ana.
Berlahan tatapan Ana pun menjadi sendu.
"Tolong bantu mamah ku, aku tidak mau terjadi apa-apa pada nya..."Ana berkata sambil kembali terisak.
"Aku sangat menyayangi nya, hanya dia yang aku punya sekarang.."Ucap Ana dengan suara bergetar, di sela isak tangis nya.
"Tentu sayang, kita sama-sama akan menjaga mamah..."Fidy berkata, sambil membelai lembut punggung Ana, dan mencium kepala Ana.
Kemudian Fidy memberi kode kepada Robert dan beberapa polisi, mereka pun segera mendekati Rima yang masih menangis dan berteriak histeris, sambil berusaha menggali makam Adrian dengan kedua tangan nya.
Rima semakin berteriak histeris, saat tubuh nya di tarik paksa menjauhi dan meninggalkan makam.
Ana memejamkan mata, dia tidak tega melihat Rima yang terus menangis dan berteriak, sambil menendang dan memukul para polisi yang membawa nya pergi.
Walaupun Adrian dan Rima bukan orang tua kandung nya, dan hanya membesarkan nya karena suatu misi, tapi jauh dari lubuk hati nya, dia sangat menyayangi mereka, meskipun kenyataan pahit tentang mereka, pernah dirasakan Ana.
Fidy pun membawa Ana yang menangis dan memejamkan mata nya di pelukan nya.
Saat mereka sudah berada di parkiran makam, tampak di dalam sebuah mobil mewah, sosok Aksa tertawa penuh kemenangan dan kelicikan, saat melihat tubuh Rima yang mengamuk dan meronta.
Sedangkan Laura menatap penuh amarah dan kebencian, melihat Fidy dengan penuh kasih sayang dan kehangatan memeluk tubuh Ana dan membawa nya masuk ke dalam mobil.
************
Apa yang akan terjadi pada Rima..???
Akan kah Rima mengalami depresi karena kepergian Adrian..??
Bagaimana nasib Ana selanjut nya...??
Mampu kah Fidy melindungi Ana...???
Ikuti terus kelanjutan nya, di jamin semakin seru.
Jangan lewat kan novel seru yang satu ini, hasil karya author👇
__ADS_1