
Bab 102
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
Ayu berdiri di samping Febi, kini mereka berdua sama-sama berdiri di depan cermin.
Febi menatap lekat wajah Ayu dari pantulan cermin, sedang kan Ayu tidak berani menatap pantulan Febi di cermin.
"Hai Yu, coba kamu perhatikan wajah kita.."Febi berkata, sambil terus fokus menatap wajah mereka di cermin.
Dengan terpaksa, Ayu pun menatap pantulan wajah mereka di cermin.
Ayu menahan napas, benar yang di ucap kan Febi, jika wajah mereka, hampir memiliki garis wajah yang sama.
Bentuk alis, mata dan hidung mereka pun hampir sama, hanya bibir mereka yang berbeda.
Ayu mempunyai bibir yang mungil, sedang kan bentuk bibir Febi sedikit tebal dan terlihat sensual.
"Nona, eh kak Febi, tidak mungkin wajah kita sama, tentu saja kakak jauh lebih cantik dan lebih sempurna di banding kan aku.."Sangkal Ayu, dada nya mulai berdebar, dia takut jika Febi mencurigai sesuatu.
"Alis, bibir dan hidung kita mirip Yu, dan kamu tahu kalau semua itu mirip dengan..."Febi menghela napas, tidak melanjut kan perkataan nya.
"Mirip dengan siapa kak..??"Tanya Ayu, dengan dada kembali berdebar.
Febi menghela napas, wajah nya berubah menjadi muram, dia langsung merasa kan bad mood, saat mengingat wajah orang itu.
"Bukan siapa-siapa, lebih baik kamu mandi, aku mau keluar dulu.."Ucap Febi, langsung melangkah keluar dari kamar bi Minah, tanpa menoleh sedikit pun ke arah Ayu.
Saat Febi sudah melangkah keluar, Ayu memejam kan mata nya, buliran bening dan hangat pun kembali membasahi pipi nya.
Hidup bertahun-tahun sebagai anak panti, dan menjadi seorang pelayan di rumah orang yang harus nya bertanggung jawab dengan kehidupan nya dari bayi.
**********
Febi duduk termenung di sebuah gazebo yang berada di taman.
Dia menatap ikan-ikan cantik yang berlari-lari di kolam, persis berada di samping gazebo.
"Enak sekali sie jadi kalian, bisa berlari-lari tanpa beban, tanpa peduli siapa orang tua kalian.."Gumam Febi dengan wajah murung.
Dia berusaha untuk tidak menangis, saat dia mendengar sebuah kenyataan yang sangat tidak di percayai dan di sangka nya.
Kenyataan itu, bagai kan petir yang menyambar nya, tangis nya tidak pernah berhenti, sampai dia berjanji pada diri nya, kalau dia tidak akan mengeluar kan air mata nya lagi.
Saat dia sedang sibuk dengan lamunan nya, tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundak nya.
Febi pun tersentak kaget, dan menoleh ke belakang nya.
__ADS_1
"Mamas.."Panggil Febi kaget, dan segera menyeka air mata nya.
"Jika ingin mengeluarkan air mata, keluar kan saja, tidak perlu menahan nya.."Ucap Fidy dingin, dengan wajah datar.
Dia pun langsung duduk di samping Fidy, ikut menatap ke arah kolam ikan.
"Apa aku boleh, meminjam bahu mu untuk menangis..??"Tanya Febi, dengan suara yang terdengar parau.
Fidy tidak menjawab, dia menoleh ke arah Febi, tersenyum kecil, kemudian mengacak pelan puncak kepala Febi, dan membawa Febi untuk bersandar di bahu nya.
Tangisan Febi pun langsung pecah, saat bersandar di punggung kekar Fidy.
"Aku kangen mamah, mas.."Ucap Febi, di sela tangis nya.
Fidy tidak menjawab, hanya tangan nya yang mengelus lembut rambut Febi, sedang kan tatapan dan tubuh nya tetap lurus menatap kolam ikan.
Di kejauhan, tampak Ayu menatap nanar ke arah Fidy dan Febi, dia menundukkan wajah nya.
.
Ayu merasakan mata nya panas kembali, sebelum air mata nya tumpah, dia pun membalik kan tubuh nya.
Tapi saat membalik kan tubuh nya, Ayu terperanjat kaget, karena Ana sudah berada di belakang nya.
"K...kak Ana.."Ucap Ayu dengan suara tertahan, dia pun langsung menunduk kan wajah nya tidak berani menatap Ana.
"Pergi lah ke meja makan, makanan sudah siap, aku akan memanggil mas Fidy dan Febi.."Ucap Ana lagi, sambil melangkah meninggal kan Ayu, dan segera melangkah ke arah Fidy dan Febi.
Sambil menahan air mata nya, Ayu menatap nanar punggung Ana, kemudian membalik kan tubuh nya dan melangkah memasuki rumah.
Ana diam sesaat, saat melihat Febi yang masih terisak di punggung Fidy, wanita cantik yang selalu terlihat ceria, kini terlihat sangat rapuh.
"Apa yang sebenar nya terjadi pada Febi, kenapa dia seperti sesedih ini.??."Tanya Ana dalam hati.
"Semua rahasia ini, membuat aku pusing.."Gumam Ana pada diri sendiri, sambil memijit pelipis nya, sambil memejam kan mata sesaat.
"Kak Ana.."Panggil Febi, yang buru-buru mengusap air mata nya.
Fidy yang kaget dengan orang yang di panggil Febi, langsung membalik kan badan nya.
"Ana..."Panggil Fidy, langsung menghampiri Ana.
"Kamu kenapa..?-?"Tanya Fidy khawatir, sambil memegang tangan Ana yang sedang memijit pelipis nya.
"A..aku ga pa pa, hanya tiba-tiba sedikit pusing saja.."Ana berkata, sambil menatap bergantian Fidy dan Febi.
"Kalau begitu, biar aku panggil kan dokter.."Fidy berkata, sambil mengeluar kan ponsel nya.
__ADS_1
"Tidak usah mas, aku benaran ga pa pa, hanya butuh istirahat sebentar saja kok.."Ana langsung mencegah Fidy, dengan memegang lengan Fidy.
"Kamu yakin..??"Tanya Fidy, dengan wajah yang memperlihat kan ke khawatiran.
"Iya mas.."Jawab Ana sambil mengangguk.
Kemudian netra Ana menatap ke arah Febi.
"Febi, apa kamu baik-baik saja..??"Tanya Ana, dengan tatapan khawatir.
"Aku baik-baik saja kak, kalau tadi kakak melihat aku menangis, karena aku kangen sama mamah saja.."Jawab Febi meyakinkan Ana.
Ana menghela napas.
"Aku tahu, pasti banyak kenyataan dan kebenaran yang kalian sembunyi kan dari ku."Batin Ana.
"Ya sudah, aku kesini mau mengajak kalian makan, Ayu juga sudah menunggu di meja makan.."Ucap Ana, tanpa mau bertanya lagi.
"Iya sayang, cacing-cacing di perut aku juga sudah menjerit.."Fidy berkata, sambil menoel dagu Ana dengan gaya menggoda.
"Ish.."Ana berkata, sambil menjauh kan wajah nya, dari tangan jahil Fidy.
Fidy pun tertawa cukup kencang, bagi nya setiap ekspresi Ana saat di goda nya, itu sangat menggemas kan.
Febi pun ikut tertawa kecil, sehingga dia bisa melupakan dengan sesuatu yang baru saja membuat nya menangis.
"Ayo Feb, kita makan.."Ucap Ana, sambil menarik tangan Febi.
"Hai, aku ini suami mu, kenapa Febi yang di gandeng.??."Tanya Fidy, dengan berpura-pura memasang wajah masam.
Ana menarik napas dan membuang nya kasar, sikap Fidy membuat nya agak kesal, karena dia malu dengan Febi.
**********
Yes, Author bisa up 2 bab hari ini, semoga bisa setiap hari up ya.
Mirip siapa sebenar nya, garis wajah Febi dan Ayu..??
Apa hubungan darah antara Febi dan Ayu..??
Ikuti terus bab nya.
Ayo melimpir juga ke karya author 👇
__ADS_1