
Pagi harinya, sepasang pengantin baru itu terlihat masih nyenyak dalam tidurnya.
Dari luar kamar terdengar Anita yang mengetuk pintu kamar mereka. "Sayang, kalian sudah bangun? Ayo sarapan dulu."
Hingga di detik berikutnya penghuni kamar itu mulai terusik.
Meili menggeliat, namun karena keadaan kakinya yang sakit membuat hanya tubuh bagian atas saja yang ia renggangkan.
Tapi ia merasa aneh, karena ia merasakan tubuhnya yang sulit di gerakkan.
"Ehmm," Meili bergumam sembari membuka matannya. Terlihat seseorang yang tidur tak berjarak dengannya, dan tangan seseorang itu bertengger nyaman di atas perutnya.
Jelas saja itu membuat Meili seketika terkejut. "Astaga!" rupanya ia melupakan status siapa dirinya sekarang.
Hal itu akhirnya juga membuat Raka terusik dari tidurnya, entah kenapa dirinya yang terbiasa bangun pagi untuk olahraga terlebih dahulu kini masih terlelap.
Malam ini ia merasakan tidur yang begitu nyaman, hingga membuat nya berat membuka mata.
Meili di buat merinding saat merasakan Raka semakin menyerukan wajahnya ke lehernya, nafas hangat begitu ia rasakan menerpa kulitnya dan itu membuatnya diam tak bergerak.
"Kak!" Meili mencoba membangunkan suaminya.
"Hm..." sahut Raka dengan mata yang masih terpejam, rasanya sekarang ia begitu nyaman.
__ADS_1
"Kakak nggak mau bangun?" Padahal hari ini adalah hari terakhir Raka ujian.
"Bangun?" gumam Raka.
"Raka ayo bangun, nanti kamu telat kuliahnya." Anita yang lebih keras berteriak dari luar.
Mata Raka seketika terbuka, dan pandangan pertamanya menangkap wajah istrinya yang begitu dekat.
Sunyi.
Mata mereka berdua seolah terkunci hingga tidak mau lagi terarah pada apapun.
Kemudian di detik berikutnya, Raka segera turun dari ranjang ketika kesadarannya mulai terkumpul.
Ia lalu menuju ke kamar mandi dengan detak jantungnya yang berdebar kencang. "Astaga...!" Ia menyentuh dadanya.
Butuh waktu cukup lama Raka berada di kamar mandi, karena ia lupa mengambil baju gantinya. Biasanya ia hanya melilitkan handuk sebatas pinggang, tapi kini keadaannya berbeda. Ada istrinya yang juga berada di dalam kamarnya, yang akhirnya membuat ia mengenakan kembali pakaian yang tadi ia kenakan untuk tidur.
Hanya butuh waktu sepuluh menit Raka sudah terlihat tampan seperti biasanya. Ia berjalan menghampiri istrinya yang masih di atas ranjang. "Mau mandi?"
"Ha!" Meili terkejut dengan tawaran suaminya.
"Emm," Raka baru menyadari ucapannya dan membuatnya salah tingkah. "Maksudku, akan ku panggilkan Mama." Ia segera bergegas keluar kamar. Meninggalkan Meili yang sekarang pipinya merona.
__ADS_1
Meskipun selama di rumah sakit Raka yang menjaganya, tapi akan ada perawat yang membantu untuk membersihkan tubuh Meili dan urusan ke kamar kecil.
Keduanya hanya saja masih belum terbiasa jika untuk urusan kontak fisik lebih dekat.
Raka langsung menuju ke dapur, ia yakin jika Anita berada di sana. Dan benar saja ia melihat mama nya yang telah membantu menyiapkan sarapan. "Ma!" panggilnya begitu saja.
"Astaga!" Anita terkejut melihat Raka sudah berada di dapur. "Kamu mengagetkan Mama," Anita bersungut-sungut.
Raka menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal menanggapi itu. "Ma," Raka sembari melihat bibi yang hampir pergi dari dapur. "Meili mau mandi," katanya pelan.
Mama nya itu mengulum senyum mendengar itu. "Iya tinggal kamu gendong ke kamar mandi, terus kamu buka bajunya." sahut Anita.
Namun di dalam hatinya ia senang sekali sedang menggoda putranya.
Hingga tak lama, bibi kembali ke dapur untuk mengambil makanan lainnya yang akan ia bawa ke meja makan.
"Setelah kamu lepaskan pakaiannya, kamu basahi tubuhnya dengan air. Kemudian kamu usap pakai sabun, dari pundak lalu turun ke--"
"Mama!" Raka memotong ucapan Anita yang sedang memberi tutorial. Tanpa di sadari kini wajahnya mulai memerah. "Bu-bukan itu maksud Raka, tolong Mama saja yang bantu istri Raka." Ia lalu pergi dari sana.
Sedangkan di dapur Anita tertawa melihat kelakuan putranya. "Sekarang aja masih per jaka minta tolong Mama yang mandiin Meili, tapi kalau udah tau bentuk dan rasanya boro-boro minta tolong. Pasti di sikat juga di kamar mandi," celetuknya.
Kemudian ia juga menyusul Raka yang kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Bibi yang mendengarkan hanya bisa menggelengkan kepalanya, majikannya itu memang masih terasa jiwa muda nya.
...----------------...