Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Kekesalan Ariel


__ADS_3

Meeting belum selesai, tapi Meili begitu gelisah. Sedari matanya tak lepas dari jam tangannya.


Meeting kedua ini terasa lebih lama dari pada yang pertama, pikirannya mulai melayang jauh. Dan setiap apa yang di lihat rasanya berubah menjadi bakso aci.


*


*


Setelah meeting selesai, ia langsung kembali ke ruangannya. Ia ingin merebahkan punggungnya uang terasa kaku.


"Ran, tolong nanti suruh OB buatkan es jeruk ya." Pesannya sebelum benar-benar masuk kedalam ruangan.


Meili setelah itu merebahkan dirinya di kamar yang berada dalam ruang kerjanya.


Ting.


Sebuah pesan masuk dalam ponselnya.


Senyum Meili mengembang dengan sempurna, mengetahui jika yang mengirim pesan adalah Ariel.


Ariel mengabarkan jika ia sebentar lagi akan sampai di perusahaannya.


"A... aku nggak sabar rasanya!" katanya dengan semangat.


Jadi ia segera menyuruh OB untuk sekalian membawakan beberapa mangkok jika mengantar es jeruk miliknya.


Beberapa saat kemudian, Ariel sudah sampai di kantor Meili dan berada di ruangannya.


"Ni pesanan--"


"Kakak lama deh!" Meili lebih dulu menyela ucapan Ariel, hingga membuat pemuda itu mendelik.


"Ya lo aja yang gila, Bandung Jakarta minta cepet. Emangnya jaraknya cuma dua kilo dari sini," Ariel menggerutu.


Namun Meili tak memperdulikan nya, ia sibuk menuang bakso yang kuahnya di pisah. Ia lalu menghangatkan nya sebentar.


Setelah itu Meili segera mencicipi kuah bakso yang masih mengepulkan asap. "Hm... enak." Katanya sembari memejamkan mata, seolah itu adalah makanan terenak yang pernah ia coba.


Ariel menggelengkan kepala melihat kelakuan istri sahabatnya itu.


Beberapa suap sudah masuk ke dalam mulutnya, namun seperti ada yang kurang. Padahal ia sudah menambahkan saus, kecap, sambal juga jeruk nipis. "Kurang apa ya?"


Ariel memutar bola matanya malas.


Meili mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang. Dan beberapa saat panggilan itu tersambung.

__ADS_1


"Sayang... !" sapa nya begitu wajah Raka tampil di layar ponselnya.


Raka yang berada di seberang sana tersenyum melihat itu.


Ariel semakin berdecak kesal, ia seolah tidak di anggap. Padahal ia sudah jauh-jauh membawakan bakso aci juga es oyen.


"Kakak sudah makan?" Meili bertanya.


"Baru saja aku selesai makan."


"Aku sedang makan bakso aci dan es oyen, Kak Ariel yang membawakan dari bandung." Meili bercerita, ia menunjukkan makanan juga sekilas wajah Ariel yang tampak kesal.


"Membawakan! Bukannya tadi memaksa untuk di bawakan?" Ariel menggerutu.


"Benarkah?"


"Hm... " Meili menganggukkan kepalanya.


"Tapi kamu jangan duduk terlalu dekat dengannya!"


"Ok," Meili segera menggeser duduknya lebih jauh. Padahal sebenarnya duduknya tidak terlalu dekat.


"Astaga!" Ariel tidak menyangka dengan kelakuan sepasang suami istri itu.


"Sayang... !" panggil Meili lagi. Namun kini dengan nada yang berbeda.


"Aku... kangen!" kata Meili. Bahkan pipinya merona mengucapkan itu.


"Aku juga kangen!" Raka menimpali dari seberang sana.


Ariel rasanya ingin muntah, mendengar percakapan itu. Ia tidak menyangka para sahabatnya yang dulunya terkenal bad boy kini jadi bucin setelah menikah.


Hingga beberapa saat kemudian, percakapan itu berakhir.


Bakso aci itu hampir habis, dan Meili baru menyadari jika yang makan hanya dirinya. "Loh, Kakak tadi nggak beli bakso?"


"Nggak, orang di sini banyak yang jual. Ngapain jauh-jauh beli di Bandung."


"Tapi ini Kakak bawa baksonya dari bandung." Meili menunjukkan mangkok yang telah habis isinya.


"Karena lo maksa."


"Aku cuma nitip Kak."


Ariel mendengus mendengarnya.

__ADS_1


Meili kemudian menuang es untuk menyegarkan tenggorokannya. Dan Ariel melakukan hal yang sama.


Sebenarnya es itu sudah tidak terlalu dingin karena baru es nya sudah mencair di perjalanan.


"Ah... seger." Begitu es oyen mengaliri tenggorokan Meili. "Kakak mau es?" tawarnya.


"Nggak." jawab Ariel cepat. Untuk apa ia meminta milik Meili jika ia sendiri juga membelinya.


Klek.


"Meili!" Jessy yang baru datang, bersama putranya yang masih memakai seragam sekolah.


"Jessy!" Meili langsung menyambut kedatangan sahabatnya. Setelah memeluk Jessy ia beralih pada Alex. "Sayang, baru pulang sekolah ya?"


"Iya."


"Loh ada di sini juga?" Jessy baru menyadari keberadaan Ariel.


"Mampir bawain ini." Ariel memperlihatkan dua mangkok es oyen dan satu mangkok kosong.


"Tumben baik bener."


Ariel menghembuskan nafasnya kasar, tadi berhadapan dengan Meili sudah membuatnya sedikit frustasi. Sekarang bertambah satu lagi, pasti akan membuatnya benar-benar frustasi.


"Ayo duduk." Ajak Meili. "Mau es oyen? Kebetulan Kak Ariel nggak mau."


Padahal Ariel sudah memegang sendok dan bersiap memakan es oyen miliknya. Matanya mendelik mendengar itu.


"Boleh," sahut Jessy.


Meili segera menggeser mangkok es milik Ariel ke hadapan Jessy.


Mulut Ariel menganga di buatnya.


"Om nggak kerja?" tanya Alex yang duduk di sebelah Ariel. Muka polosnya sangat berbanding terbalik dengan wajah kesal Ariel.


"Kerja." cetus Ariel.


"Tapi kenapa di sini? Itu namanya pengangguran." sahut Alex.


"Astaga! Ini anak perpaduan emak sama bapaknya banget." Ariel menggerutu.


"Kata Mommy, orang pengangguran itu orang malas." kata Alex lagi.


Tanpa menjawab pertanyaan Alex, Ariel beranjak dari duduknya. "Gue pergi." tanpa menunggu sahutan dari Jessy dan Meili, ia begitu saja keluar dari sana. "Gue bisa gila beneran kalau lama-lama sama mereka." ia yang terus menggerutu.

__ADS_1


...----------------...


...Sabar Kang, itu masih berhadapan sama istri orang. Gimana kalau sama istri sendiri 🤭...


__ADS_2