
Di salah satu bangunan menjulang tinggi yang tepatnya adalah di sebuah bangunan apartemen, salah satu penghuninya sedang menggerutu. Ariel.
Ia kesal karena merasa tidurnya telah terganggu oleh dering ponsel yang sedari tadi berbunyi, tadi ia sempat melihat sang penelpon dan ternyata itu adalah nomer dari salah satu sahabatnya yaitu Raka.
Ia tidak berniat mengangkatnya karena rasa ngantuk yang masih mendera, pukul dua dini hari ia baru tidur dan jam setengah lima sahabatnya itu menghubunginya. Hal yang tidak biasa di lakukan oleh sahabatnya.
Apalagi jika mengingat kelakuan istri sahabatnya yang sangat menyebalkan itu.
Tidak lama terdengar bel apartemen nya berbunyi. "Arrrgghh... astaga, siapa yang bertamu sepagi ini?" Ariel melihat jam di ponselnya masih jam lima lebih lima belas menit.
Dengan kesadaran yang masih belum terkumpul sempurna Ariel berjalan menuju pintu, ia melihat dari monitor kecil untuk mengetahui siapa yang bertamu.
"Kenapa rasanya gue lihat bakso aci!" Matanya yang masih buram, ia sepertinya melihat Meili yang berada di luar pintu apartemennya.
Tapi tak urung juga ia membukakan pintu.
Klek.
Mata Ariel yang tadinya rabun segera ia usap dengan kedua tangannya, dan seketika ia menyesal telah membukakan pintu. "Ck," ia berdecak.
Sedangkan Meili yang tadinya tidak sabar untuk bertamu kini matanya membulat melihat penampilan Ariel, di mana lelaki itu hanya mengenakan bo xer. "Wow!"
__ADS_1
Raka langsung menutup mata istrinya, ia menatap tidak suka pada sahabatnya. "Lo sengaja!"
"Ya ampun!!" Ariel mengusap wajahnya kasar. Ia lalu kembali ke kamar sembari mulutnya yang terus menggerutu terhadap pasutri itu.
*
*
Meili dan Raka rupanya sudah duduk bersantai di dalam apartemen Ariel, meskipun sang pemilik tadi belum mempersilahkan.
Meili mengedarkan pandangannya, ternyata apartemen Ariel tidak jauh berbeda dengan milik suaminya. Mungkin para lelaki seleranya hampir sama tentang dekorasi.
"Sayang... " panggil Meili. Membuat suaminya menoleh ke arahnya. "Kok ngantuk ya?"
Terlihat mata Meili yang memerah dan sedikit berair, juga yang sesekali menguap.
*
*
Ariel keluar dari kamarnya sudah dalam keadaan segar, namun ada yang aneh. Ia tidak melihat pasangan pasutri itu ada di apartemen nya. "Apa mereka sudah pulang ya?"
__ADS_1
Ia mencoba mencari di beberapa ruangan, dan masih tidak menemukannya. Namun ketika ia melewati kamar tamu, pintunya sedikit terbuka.
Ia yakin betul jika biasanya kamar itu selalu tertutup, karena memang tidak ada yang menempati nya.
Matanya membulat begitu ia membuka pintu kamar, ternyata pasutri yang di sangka nya telah pulang rupanya sedang terlelap.
Rasanya Ariel ingin sekali melempari mereka dengan petasan. "Ya ampun ... pagi-pagi membangunkan orang, rupanya cuma mau numpang tidur." sungutnya.
Tapi Ariel memilih pergi dari sana, ia berpikir ulang. Jika ia membangunkannya, bisa saja pasutri itu akan lebih membuat rusuh di apartemennya.
Ia sendiri sudah terlanjur bangun, dan sebelumnya tidak mempunyai rencana untuk pergi.
"Sudahlah nanti di pikirkan di jalan saja!" Ariel memutuskan untuk keluar.
Klek.
Baru saja ia membuka pintu, matanya seketika membulat. Sahabatnya yang lain sudah berdiri di sana, juga dengan istri dan anaknya.
"Om mau pergi?" Alex bertanya dengan wajah polosnya.
"Astaga ... apa lagi ini!" Ariel frustasi.
__ADS_1
...----------------...