
Mobil Nathan tiba di pekarangan rumah Mariam lebih lama dari yang seharusnya, arus lalu lintas sore itu nyatanya begitu macet di dominasi oleh orang-orang yang baru menyelesaikan liburan seperti mereka.
"Terimah kasih," ujar Meili kepada Nathan sebelum keluar dari mobil. Hanya bibirnya yang berucap namun tidak melihat ke arah orangnya.
Tidak ada basa-basi untuk perpisahan. Bagaimana tidak, yang sekarang ia rasakan hanya rasa malu yang sampai ke ubun-ubun. Di sepanjang jalan duo upin ipin yang tidak lain dan tidak bukan Ariel juga Reza terus saja mengungkit kejadian antara dirinya dan Raka di dalam mobil.
"Hm!" sahut Nathan.
Namun belum juga Meili menutup pintu mobil ternyata Raka juga ikut keluar membawa tasnya.
"Loh! Kakak ngapain?" Meili yang terheran.
Raka tidak menanggapi pertanyaan Meili. "Gue turun sini aja!" katanya pada sahabatnya, lalu ia yang menutup pintu mobilnya.
Sebelum mobil Nathan beranjak pergi, rupanya Ariel menurunkan kaca mobilnya. "Wah kalian mau lanjut ya?"
Raka hanya memutar bola matanya malas, sedangkan Meili ia sudah melarikan dari sana dengan lebih dulu masuk ke dalam rumah.
"He! Ingat ya jangan berduaan. Nanti yang ke tiga setan," Ariel mengingatkan. "Nanti ponakan gue hadir duluan sebelum ke pelaminan." Setelah mengatakan itu ia terkikik sendiri membayangkannya.
"Dasar gila!" Raka yang kemudian pergi dari sana, dan Nathan yang juga melajukan mobilnya.
Ketika Raka baru saja sampai di teras, Meili lansung keluar dari persembunyiannya. Sebenarnya tadi ia hanya bersembunyi di ruang tamu di balik gorden. "Mereka sudah pulang?"
"Hm," sahut Raka.
Meili seketika menghembuskan nafasnya lega. "Kakak mau masuk?" Setelah mengucapkan itu rasanya ia sungguh menyesalinya. Bagaimana jika Raka menilainya yang tidak-tidak karena memasukkan pria ke dalam rumah.
"Tidak usah, gue langsung aja," tolak Raka.
"Ha!" Meili pikir Raka akan menghabiskan waktu bersamanya sebentar, lalu kenapa ia ikut turun tadi?
__ADS_1
"Udah malam, nggak enak sama tetangga." jelas Raka. Ia sepertinya bisa menebak apa yang ada di pikiran Meili.
"Oh," sepertinya Meili sedikit kecewa. Tapi apa yang di bilang pacarnya itu benar juga, mungkin kalau ia tinggal di apartemen atau di kawasan daerah rumah mewah seperti rumahnya dulu akan lain ceritanya. Bukankah tetangga adalah CCTV yang tidak terkalahkan ðŸ¤. "Terus Kakak mau pesan taksi online?"
"Hm." Raka mulai mengotak atik ponselnya untuk mencari aplikasinya.
"Tunggu Kak!" Meili kemudian berlari ke dalam rumah, tidak lama kemudian ia membawa kunci mobilnya. "Kakak bawa aja mobil aku, sayang uangnya bisa buat yang lain." Katanya.
Ia mulai mengerti bagaimana menghemat pengeluaran, sejak ia merasakan bagaimana lelahnya bekerja.
Raka tidak langsung mengambil kunci dari tangan Meili. "Terus kuliah besok?"
"Aku ada jam siang," jawab Meili. "Ya udah Kakak ambil aja," Meili mengambil tangan Raka lalu ia berikan kunci mobil itu.
Di detik berikutnya, matanya membulat menyadari dengan apa yang ia lakukan. "Ya ampun aku pegang Kak Raka!" batin Meili. Reflek ia lalu melepaskannya. "Maaf," ucapnya sambil tersenyum kaku.
Padahal sebenarnya tidak ada yang aneh jika hanya memegang tangan, tapi jika itu orang lain. Tapi ini adalah tangan kekasihnya, tentu saja itu rasanya seperti ada aliran listrik yang mengaliri tangannya.
"Ehm," Raka berdehem. "Ya sudah gue pulang dulu," pamitnya.
*
*
Setelah sampai di apartemen, Raka langsung berjalan menuju kamarnya. Tubuhnya terasa lelah setelah duduk beberapa jam di dalam mobil.
Hampir saja ia masuk ke dalam unit nya, namun terdengar seseorang memanggilnya.
"Raka!" Rosi berlari keluar dari lift. "Tadi gue panggil waktu di parkiran." tuturnya.
"Oh, sorry. Gue nggak denger, ada apa?"
__ADS_1
"Mobil lo ganti?" Rosi melihat Raka memakai mobil yang berbeda, dan itu bisa ia gunakan sebagai topik untuk berbasa basi.
"Hm."
"Lo darimana, sejak kemarin nggak keliatan?"
"Liburan."
"Sama siapa? Sesekali boleh --"
"Sorry, gue mau istirahat. Apa ada sesuatu yang penting," pungkas Raka.
"Oh, nggak." sahut Rosi terpaksa.
"Ya sudah kalau begitu." Raka lalu masuk kedalam unit nya.
Sedangkan Rosi hanya tersenyum kecut sembari memandang pintu unit Raka yang sudah tertutup rapat, sebenarnya ia sudah mendengar kabar burung tentang kedekatan Raka dengan Meili. Namun ia berharap jika kabar itu tidaklah benar.
*
*
"Hhaa!" Meili menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Ia memandang tangannya. "Baru kali ini aku megang tangan Kak Raka!"
Senyumnya kembali mengembang jika mengingat kejadian beberapa saat lalu itu, karena biasanya Raka yang lebih dulu menggandengnya.
"Oh ya ampun hape!" Ia lalu beranjak untuk mengisih daya ponselnya. Bahkan rasanya ia sedikit mengalami tremor.
Ketika pengisi daya itu terhubung, Meili lalu menghidupkan nya. Benar saja, seketika masuk retetan pesan dari no Rian. Yang menanyakan keberadaannya.
"Oh iya, Kak Rian kemarin mau ngomong apa ya?" Ia yang baru teringat.
__ADS_1
...----------------...
...Ya ampun Rosi masih usaha aja ðŸ¤...