
Pagi hari keadaan Meili sudah lebih baik, bahkan Dokter sudah melepas infusnya. Hanya tinggal menghabiskan obatnya saja. "Jangan memakan makanan terlalu pedas, nanti efeknya akan lebih parah dari yang sekarang." Nasehat Dokter sebelum pulang.
"Iya," sahut Meili dengan tersenyum kaku. Kalau saja waktu itu hatinya tidak kacau, mana mungkin ia akan memakan makanan yang membuatnya seperti ini.
Raka mengantarkan Dokter itu keluar dari apartemennya.
"Ingat jangan macam-macam, kalian hanya berdua di apartemen. Apalagi kalian masih sekolah." Pamannya itu kembali memberi pesan kepada Raka seperti kemarin malam.
"Iya," sahut Raka. "Dan Raka harap paman tidak menceritakan ini pada Papa dan Mama." Orang tuanya yang tinggal di luar negri.
"Jika kamu bisa menjaga diri kamu, paman tidak akan menceritakan masalah ini." Setelah itu paman Raka pergi dari sana.
Raka kembali berjalan menuju kamarnya, ia menarik salah satu kemejanya. Kemudian ia menghampiri Meili. "Jika kamu ingin membersihkan diri, pakailah ini buat ganti." Raka menaruh kemeja yang ia bawa di atas nakas setelah itu keluar dari kamar Meili.
Meili memang masih belum mau berbicara banyak kepada Raka, ia takut jika hatinya tidak bisa ia kendalikan. Mengembalikan rasa yang pernah ada untuk Raka, namun telah hilang sebagian.
Ia melirik kemeja Raka, sejujurnya ia ingin sekali membersihkan diri. Badannya sudah terasa lengket, bahkan sejak kemarin ia masih memakai seragam sekolah. Tapi yang benar saja jika ia harus memakai kemeja Raka!
Setelah mempertimbangkan beberapa saat, Meili akhirnya memilih untuk mandi.
Hingga 20 menit kemudian, Meili sudah menyelesaikan ritual mandinya. Kemeja milik Raka menjadi seperti dress di tubuh Meili karena menutupi sampai lututnya, itu semua karena tubuh Meili yang begitu mungil tidak seperti Jessy.
Ia keluar kamar, sejenak ia mengerutkan dahinya. "Sepertinya ini bukan di rumah?" karena Meili baru menyadari jika ia seperti sedang berada di apartemen. "Pantas saja di sini sangat sepi."
Meili sendiri sempat berpikir, apa orang tua Raka tidak marah anaknya membawa gadis pulang ke rumah. Tapi mulai dari kemarin ia tidak mendengar suara orang lain yang tinggal di sini kecuali Raka.
Kaki Meili menuntunnya ke suatu tempat, saat hidungnya mencium aroma wangi masakan.
Di sinilah, ia melihat Raka yang berkutat di dapur. Dia seperti sedang memasak sesuatu.
Tanpa sadar Meili memegang dadanya di mana letak jantungnya berada. Lagi-lagi ia merasakan jantungnya yang berdebar dengan cepat, pemandangan di depannya mengembalikan rasa yang sempat menghilang.
Setelah masakannya selesai, Raka menatanya di dua piring. Saat ia berbalik, matanya menangkap keberadaan Meili yang tidak jauh darinya. Sejenak ia tertegun melihat tampilan Meili, gadis itu terlihat berbeda dari biasanya.
"Duduklah, kita sarapan." Ia berjalan ke arah meja makan dan meletakkan makannya di sana. Tapi ketika akan duduk, ia melihat Meili masih tetap dalam posisinya.
"Mobilku ada di mana? Aku mau pulang saja!" Meili rasanya sudah tidak tahan berada dalam satu ruangan bersama Raka. Ia takut hatinya akan goyah kembali.
"Ada di parkiran bawah," jawab Raka. "Makan lah dulu nanti gue antar pulang."
__ADS_1
"Nggak usah, aku pulang saja sendiri." tolaknya.
Raka menghembuskan nafasnya pelan, kenapa gadis di depannya ini sangat keras kepala. "Habis sarapan gue antar pulang." tegasnya dan tidak bisa di ganggu gugat.
Meili rasanya ingin sekali mencakar wajah Raka. Dulu saat ia yang mengejarnya, dia sangat cuek. Giliran ia ingin menjauh, tiba-tiba saja memberi perhatian yang tidak Meili duga.
Meili berlalu begitu saja ke kamar, ia mencari ponselnya untuk menghubungi seseorang.
*
*
Di luar aparteman Raka, sepasang pasutri baru itu berdebat. "Kamu kok tau kalau Meili ada di sini?" Kini Jessy dan Nathan berada tepat di depan pintu apartemen Raka. Tapi Jessy sedikit bingung kenapa, suaminya itu bisa yakin jika Meili berada di sini. Padahal tadi ia hanya menyebutkan alamat apartemennya, ketika ia akan menghubungi Meili untuk menanyakan no di unit berapa? Nathan bilang tidak usah.
Nathan hanya mengangkat kedua bahunya menanggapi pertanyaan istrinya, ia kemudian menekan bel apartemen.
Tidak membutuhkan waktu lama pintu itu terbuka.
Klek
Jessy hanya bisa tercengang ketika tau bahwa penghuni apartemen itu adalah Raka.
Tunggu!
Pikiran Jessy langsung mengarah ke hal yang tidak-tidak.
"Meili minta jemput istri gue," Nathan langsung memberi penjelasan. Ia tahu jika Raka sempat bingung karena ia datang bersama Jessy.
Raka langsung membuka pintu apartemennya lebih lebar mempersilahkan pasangan suami istri itu masuk.
Kini mereka berempat duduk di ruang tamu, suasana di sana cukup hening karena belum ada yang memulai untuk berbicara.
Sekarang Jessy bersendekap dan menatap tajam ke arah Meili juga Raka bergantian. Sedangkan Nathan hanya duduk dengan santai di sampingnya. Karena ia yakin jika sahabatnya itu tidak akan bertindak yang tidak-tidak dengan Meili, tapi entah kenapa sahabatnya itu berani membawa seorang gadis pulang ke apartemennya.
"Meili, lo nggak macem-macem kan?" tanya Jessy menyelidik. Sejujurnya ia hanya khawatir, bagaimana pun Meili sudah seperti adiknya sendiri. Apalagi Meili sekarang menggunakan pakaian milik Raka.
Mata Meili melotot mendengar pertanyaan Jessy. "Macem-macem apaan sih!" sungutnya. "Mentang-mentang udah nikah, itu pikiran mes*mnya jangan di samakan ke aku ya." omelnya.
Sekarang justru Jessy yang merasa kesal dengan apa yang di katakan Meili, enak saja ia di katakan piktor. Padahal baru otw ke sana. "Ya mungkin saja lo yang perk*sa Raka," ia tak mau kalah. Apalagi mengingat biasanya Meili yang selalu menempel pada Raka.
__ADS_1
Raka dan Nathan seketika tersedak ludah masing-masing, saat mendengar ucapan kedua sahabat itu yang semakin melantur.
*
*
Setelah menyelesaikan interogasinya, Jessy langsung mengantarkan Meili pulang ke rumahnya.
"Nggak mampir dulu?" tawar Meili setelah mobil Nathan sudah sampai di rumahnya.
Mobilnya terpaksa di tinggal di apartemen Raka karena Jessy yang menyuruhnya. Jessy menyuruhnya agar ikut bersama mobil mereka saja, sedangkan tadi Raka berniat untuk membawa mobil Meili tapi Meili menolaknya karena tidak mau merepotkan lebih banyak lagi.
"Lain kali saja," tolak Jessy. "Ingat, jangan makan cabai lagi."
Meili hanya tersenyum menampilkan deretan giginya yang putih. Karena dirinya sendiri pun tidak menyangka akan seperti ini jadinya. "Iya," sahutnya.
Setelah itu mobil Nathan mulai melaju untuk kembali pulang ke rumahnya.
"Apa Meili benar-benar menyukai Raka?" Jessy bertanya pada suaminya yang fokus menyetir.
"Sepertinya begitu." jawab Nathan dengan melirik sekilas istrinya yang sekarang duduk sambil menghadapnya.
"Tapi Raka sangat cuek!"
"Karena sikap Raka memang begitu."
"Iya, seperti kamu dulu."
Begitu Meili masuk ke dalam halaman rumahnya, ia langsung di hampiri mang Didin uang betulan berada di pos satpam. "Aduh Non, dari mana saja?" Supirnya itu tampak khawatir.
Meili hanya tersenyum. "Nginep di rumah teman Mang. Oh iya, Papa di rumah?"
Mang Didin menggelengkan kepalanya.
Meili dapat bernafas lega mendengar itu, setidaknya papa nya tidak akan bertanya macam-macam.
"Ya udah Mang, Meili ke kamar dulu. Masih ngantuk!" Ia lalu beranjak dari sana.
Mang Didin yang melihat Nona nya hanya menghembuskan nafasnya pelan, semakin hari hubungan anak dan ayah itu semakin renggang.
__ADS_1
...----------------...
...Pagi gengs 😊, selamat beraktivitas ya. Jangan lupa dukungannya 🥰...