Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Pagi Yang Panas


__ADS_3

Hari-hari Meili berlalu begitu saja, keadaannya pun menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. Karena kegigihannya ia mampu berjalan meskipun masih tertatih.


Tapi di balik itu semua masih tersimpan kesedihan, di mana papa nya masih belum sadarkan diri.


Di dalam hati Meili ia masih berharap jika papa nya suatu saat akan sadar kembali dan berkumpul bersamanya.


Dan untuk mamanya, Dena masih mengunjunginya beberapa kali. Ia sudah tidak mempermasalahkan itu, baginya keluarganya yang sekarang mampu mengobati rasa kehilangan keluarga yang dulu ia rasakan.


"Nanti kuliah siang?" Raka tengah bersiap, hari ini ia mendapatkan kuliah pagi.


"Hm," sahut Meili. Matanya masih terfokus dengan tangannya yang mengancingkan kancing kemeja suaminya.


Sejak ia bisa berjalan, ia mulai melakukan tugasnya menjadi istri. Seperti menyiapkan keperluan Raka.


"Nanti tunggu aku pulang saja, biar aku yang antar." katanya. Ia menatap lekat wajah istrinya yang semakin hari rasanya semakin membuatnya jatuh cinta.


"Ok," jawab Meili. "Baiklah sudah selesai," ia mengusap di bagian dada Raka seolah takut jika kemeja suaminya itu kusut. "Ayo kita sarapan!" ajaknya kemudian.


"Tunggu!" Raka merangkul pinggang Meili agar istrinya itu tetap berada di tempatnya.


"Apa Kakak membutuhkan sesuatu?" tanya Meili.


Namun Raka menggelengkan kepalanya. "Tidak hanya saja--" Ia tidak meneruskan perkataannya, tapi justru menelusuri wajah istrinya.


"Apa?" Meili yang menunggu.


"Ini!" Raka lalu mendaratkan bibirnya begitu saja di bibir istrinya. Paginya seakan tidak lengkap jika belum merasakan manisnya bibir Meili.


Mata Meili membulat, tetapi ia tidak berusaha menolak. Karena sejujurnya ia juga menyukainya, hanya saja suaminya itu terkadang lupa waktu jika melakukannya.

__ADS_1


Dan sering kali, bibirnya akan terlihat sedikit membengkak setelah suaminya itu puas menyesapnya.


Suasana pagi itu menambah kesyahduan bagi pasangan suami istri itu, hawa dingin yang tersisa tadi malam semakin terasa lengkap.


Meili perlahan memejamkan matanya, tanpa ia sadari tangannya pun terangkat untuk ia kalungkan di leher suaminya.


Entah apa yang di rasakan Raka pagi ini, ia semakin mempererat rangkulannya pada pinggang istrinya. Memeluknya erat hingga tidak ada jarak di antara mereka.


Tautan bibir mereka semakin lama semakin dalam, Raka yang sedikit demi sedikit di kuasai hasrat tanpa sadar salah satu tangannya menelusuri lekuk tubuh Meili.


Mulai dari punggung hingga kini tangan kokoh itu mulai ke pinggang ramping Meili, dan terus berlanjut menyusuri hingga tangannya menemukan salah satu bulatan yang selama ini menggodanya namun ia tahan.


Biasanya Raka masih mampu untuk menjaga kesadarannya agar tidak berbuat lebih, tapi mungkin kali ini ia tidak akan bisa.


Tanpa sadar Raka meremasnya dengan perlahan, merasakan bulatan itu terasa pas di tangan. Dan begitu nyaman di tangannya.


Meili seketika kembali ke alam sadarnya, tubuhnya langsung menegang saat merasakan bagian salah satu sensitif dari tubuhnya di jamah oleh suaminya.


Tapi Raka terlalu nyaman hingga tidak mau menyudahinya.


Meili semakin di buat gelisah, saat ia merasakan kembali remasan pada salah satu bulatan nya.


Tok.


Tok.


"Sayang ayo sarapan!" Anita yang berteriak dari luar kamar Raka.


"Kak!" Meili di sela cumbuan suaminya, ia bahkan menepuk bahu Raka. "Di panggil Mama."

__ADS_1


Namun Raka bergeming.


Hingga beberapa saat kemudian, Anita kembali berteriak saat anak dan menantunya tak kunjung keluar. "Raka nanti kamu terlambat kuliah kalau tidak cepat bangun." teriaknya lagi.


Dan itu langsung membuat Raka tersadar, hingga ia seketika menghentikan aktifitasnya.


Nafas keduanya memburu, mereka berlomba-lomba untuk meraup udara sebanyak banyaknya.


"Iya Ma," sahut Raka dari dalam kamar begitu ia sudah lebih tenang. Namun matanya tak lepas dari wajah Meili yang sekarang pipinya begitu merona.


Sedangkan Meili ia berusaha menenangkan debaran jantungnya yang beberapa saat lalu sempat meningkat tajam.


Raka membawa Meili ke dalam pelukannya, agar istrinya itu tau jika jantungnya juga berdebar dengan cepat sama seperti dirinya.


*


*


"Nanti Jessy kemari!" Beritahu Meili saat ia mengantar Raka hingga ke mobil.


"Sendiri?" Raka menghentikan langkahnya, tapi sepertinya ia sedang was-was.


"Paling dengan Al," Meili yang juga ikut berhenti.


Benar saja raut wajah Raka berubah.


"Kak Raka kenapa?" tanya Meili, tapi kemudian ia mengarahkan pandangannya ke tempat lain. Ia masih belum berani menatap wajah suaminya sejak kejadian tadi pagi.


"Tidak," Raka mengelak. "Ya sudah kalau begitu, aku berangkat dulu." ia memberikan kecupan di pucuk kepala Meili setelahnya ia masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


...----------------...


...Sedikit dulu gengs, besok di sambung lagi 🤭...


__ADS_2