
Di dalam mobil keduanya tidak ada yang berbicara.
Di kepala Raka masih teringat jelas ia memanggil Meili dengan sebutan sayang, sejujurnya tadi ia hanya menunjukkan siapa pemilik Meili sekarang. Dengan begitu ia yakin jika Rian akan paham.
"Kak!" panggil Meili, membuat Raka menoleh sekilas ke arahnya. "Sebenarnya Kak Rian tadi--"
"Gue udah tau!" sela Raka.
"Kakak nggak marah?"
"Untuk apa marah, lo kan nggak nerima dia." sahut Raka.
Menurut Meili kejujuran dalam sebuah hubungan sangat penting, jadi dia lebih memilih untuk bercerita. "Dan untuk yang tadi!" Meili menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, ia belum bertanya saja pipinya sudah merona. "Kakak panggil aku sa-sayang?"
"Ehm," Tenggorokan Raka rasanya tercekat. "Untuk itu... " wajah Raka rasanya memanas.
"Aku senang mendengarnya," ujar Meili cepat. Tapi di sedetik kemudian, ia mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil.
Tanpa di sadari bibir Raka tertarik ke atas membentuk senyuman.
Beberapa saat kemudian mobil yang mereka tumpangi berhenti di parkiran kampus. "Kakak ada kuliah siang?" tanya Meili sebelum turun dari mobil.
"Tidak, sudah tadi pagi." jawab Raka.
"Oh," Meili menanggapi. Tapi di dalam lubuk hatinya ia merasa senang. "Ya sudah kalau begitu, aku masuk dulu."
__ADS_1
"Hm."
Namun baru Meili akan membuka pintu mobilnya, ia kembali menoleh kepada Raka. "Kak, boleh minta sesuatu?"
Raka hanya terus memandangnya, mengisyaratkan jika memperbolehkan.
"Boleh tidak kalau mulai sekarang kakak manggilnya aku-kamu aja, biar tidak terasa kaku. Soalnya kita kan--"
"Ok," Raka menyanggupinya dengan cepat. Membuat senyum Meili terbit di wajah cantiknya.
"Terima kasih," ucap Meili lalu ia segera keluar dari mobil.
*
*
Hubungan Meili dengan Raka berjalan lancar tanpa hambatan, mereka berpacaran seperti pada umumnya.
Mengantarkan jemput Meili jika Raka ada waktu, meluangkan waktu untuk berkomunikasi walau sebentar. Dan menemani salah satunya jika ada yang mempunyai waktu senggang.
Dan Meili lah yang lebih sering menemui Raka, karena semakin hari waktu Raka semakin tersita oleh kuliahnya. Tugas Raka yang kian hari kian menumpuk, hingga membuat Meili sering menemaninya untuk mencari buku atau menemani nya belajar di apartemen walau sebentar.
Tapi, yang sedikit berubah adalah Rian. Meskipun hubungannya dengan Meili masih baik-baik saja, namun sudah tidak sedekat dulu lagi. Di antara mereka seperti terbentang jarak setelah kejadian waktu itu.
Mungkin Rian melakukan itu karena ia menghargai hubungan Meili dan Raka, jangan sampai ia di katakan orang ketiga dalam hubungan sepasang kekasih itu.
__ADS_1
Malam harinya Meili memutuskan untuk datang ke apartemen Raka, terlihat ia membawa sesuatu di paperbag. Beberapa kali ia membawakan Raka makanan yang ia masak sendiri, dan anggap saja itu adalah salah satu kencan sederhana mereka.
Keluar dari lift, dari jauh Meili melihat seorang perempuan berdiri di depan unit Raka. Ia mengenali gadis itu sebagai Rosi kakak kampusnya juga sebagai teman Rian.
Sudah beberapa kali ia melihat Rosi berdiri di depan unit Raka, dan itu rasanya aneh. Meskipun ia tau jika Rosi adalah tetangga Raka, tapi ia tetap merasa aneh.
Sebagai sesama perempuan, ia merasa jika Rosi menaruh hati terhadap kekasihnya. Dan sinyal tanda kepemilikan seketika berbunyi.
"Permisi," Begitu Meili sampai di depan umum unit Raka. Hal itu membuat Rosi sedikit terkejut.
Rosi sendiri sudah mengetahui hubungan Raka dan Meili, tapi ia berharap semoga masih ada kesempatan untuknya.
"Apa Kakak mencari Kak Raka?" tanya Meili.
Rosi tersenyum kaku. "Tidak, kebetulan hanya lewat." dusta nya. Padahal ia sudah memakai seribu cara agar bisa mengobrol dengan Raka, namun Raka terlalu sulit untuk di dekati. Apalagi jika ia ingin bertamu di apartemen Raka, sepertinya itu hanya ada dalam angan-angannya saja.
Tidak lama, pintu unit Raka terbuka. Terlihat Raka yang begitu segar, sepertinya ia baru saja mandi. "Sayang!" sapa nya pada Meili. Panggilan itu rasanya kini sudah nyaman bersarang di mulutnya.
Senyum tampannya pun kian terlihat, tapi tentu saja itu hanya untuk Meili. Tadi ia sebenarnya membuka pintu karena ingin melihat kekasihnya itu sudah sampai atau belum. Karena tadi Meili mengatakan sudah sampai di parkiran namun beberapa saat ia menunggu Meili belum juga sampai.
Raka yang menyadari keberadaan Rosi, tentu saja ia kembali datar seperti biasanya. Ia tidak berniat untuk menyapa Rosi.
"Ayo masuk!" ajaknya pada Meili, kemudian ia kembali masuk ke dalam unitnya lebih dulu.
Meili lalu berpamitan kepada Rosi sebelum menyusul Raka. "Aku masuk dulu Kak." Yang di balas Rosi dengan senyuman.
__ADS_1
...----------------...
...Sperti biasa ya, jangan lupa dukungannya 😊...