
Pagi hari sudah menyapa, namun sinar matari nampaknya masih terlihat malu-malu. Terlihat dari kabut yang lebih mendominasi, dan tentu saja udara dingin yang menusuk hingga ke tulang.
"Lo udah bangun!" Jessy yang pagi itu sudah memakai celana training dan hoodie. Ia akan bersiap melakukan rutinitasnya semenjak kandungnya semakin besar, berjalan kaki berkeliling di sekitar rumah.
Meili yang baru saja keluar kamar itu terlihat begitu berantakan, wajahnya sedikit pucat. Bawa matanya terlihat jelas sedikit menghitam, semalam ia sama sekali tidak bisa tidur.
Tentu saja itu di sebabkan oleh status barunya bersama Raka, hingga rasa bahagianya justru tidak bisa tidur. Di dalam kamar ia hanya menggulingkan tubuhnya, tapi matanya sama sekali tidak mau terpejam.
Meili menganggukkan kepalanya. "Iya," dustanya. "Kamu mau kemana?"
"Jalan-jalan pagi, mau ikut?" tawar Jessy.
"Boleh, ayo." sahut Meili.
Jessy melihat Meili yang hanya mengenakan baju tidur bermotif hello kitty warna pink, berlengan pendek dan celana pendek. "Nggak ganti baju dulu! Di luar dingin."
"Nggak usah, gini aja." Meili merasa malas jika harus berganti.
*
*
Meili dan Jessy kini menyusuri jalan setapak, mulai dari perkebunan hingga melewati beberapa rumah warga sekitar.
Di sepanjang jalan tidak sedikit yang menyapa mereka, ternyata penduduk di sana sangat ramah dengan pendatang baru.
"Gimana hubungan lo sama Raka?" tanya Jessy.
Mendengar pertanyaan itu, seketika membuat pipi Meili merona. Padahal udara dingin sudah membuat pipinya sedikit memerah dan kini tampak semakin memerah.
Senyum cantiknya pun terbit begitu saja, dadanya tiba-tiba saja berdebar. Mengingat kejadian tadi malam, seseorang yang pernah ia perjuangkan dan ia pun yang hampir menyerah kini semuanya berbuah manis. Cintanya kini tidak bertepuk sebelah tangan lagi.
__ADS_1
Jessy menoleh ke arah Meili, ketika gadis itu tak kunjung menjawabnya. Dan lihatlah, sahabatnya itu tersenyum sendiri tanpa ada penyebabnya.
Plak.
Jessy begitu saja menepuk lengan Meili. "Meili, sadar! Jangan sampek lo ketempelan di sini ya!" Ia bergidik ngeri. Apalagi melihat kabut masih saja cukup tebal.
Mata Meili langsung saja melotot. "Dari tadi juga sadar Jessy," sungutnya.
"Apanya yang sadar! Orang tadi gue lihat lo senyum-senyum sendiri." kata Jessy.
"Benarkah?" Meili baru menyadari. Senyum itu lalu terlihat kembali.
"Nah kan, nah kan. Lo senyum lagi," Jessy memastikan.
"Masak sih!" Meili menutupi pipinya dengan kedua tangannya, namun senyum itu semakin mengembang.
Jessy memutar bola matanya malas melihat itu.
*
*
Raka pagi itu terbangun lebih dulu, dan melihat Nathan yang baru saja keluar dari dapur. Ia tadi sempat mencari kekasihnya di sekitar rumah, namun tidak menemukannya. Ia tau jika Meili terbiasa bangun pagi.
Beberapa bulan tinggal sendiri membuatnya menjadi gadis yang mandiri, padahal sebelumnya kebutuhannya selalu di siapkan oleh asisten rumah tangga.
"Lihat Meili?" Raka memutuskan bertanya pada Nathan.
"Apa di sudah bangun?" Nathan justru kembali bertanya.
"Dia terbiasa bangun pagi," jawab Raka.
__ADS_1
Nathan tersenyum tipis. "Jadi kalian sudah sedekat itu!"
Nathan tahu jika sahabatnya itu sebelas duabelas belas dengannya, tidak mau ikut campur dengan kehidupan orang lain. Dan jika Raka sudah tahu kebiasaan Meili bagaiaman, sudah bisa di pastikan jika Raka memang benar menyukai Meili.
Raka tidak menjawabnya, tapi bisa di lihat jika ia sedikit salah tingkah.
"Aden mencari Non Jessy?" Bibi yang di pekerjakan Nathan itu baru saja tiba. Sepertinya ia baru saja dari pasar, terlihat di keranjang yang ia bawa ada beberapa sayur, lauk pauk dan juga buah.
Kedua lelaki itu sontak saja mengalihkan perhatian mereka pada Bibi.
"Bibi tadi ketemu Non Jessy sama temennya lagi jalan-jalan." Beritahunya. Ia tadi sempat berpapasan ketika Bibi sudah selesai berbelanja.
"Terima kasih Bi," sahut Nathan. Ia lalu menoleh pada Raka. "Pacar lo lagi sama istri gue," ujarnya sembari mengulum senyum.
Raka hanya berdehem mendengar ucapan Nathan.
"Ya sudah Den, Bibi mau masak dulu." Pamit Bibi yang lalu pergi menuju dapur.
Ternyata tidak lama kepergian Bibi, terdengat suara seseorang yang mengobrol di depan rumah.
Raka dan Nathan pun segera keluar rumah, rupanya itu adalah Jessy dan Meili juga beberapa pemuda.
Mata Raka seketika memudar, tentu saja itu karena melihat pakaian Meili yang menurutnya terlalu minim. Bahkan paha mulusnya sedikit terlihat.
Tanpa pikir panjang ia berjalan menuju ke arah Meili.
"Ehm," Raka berdehem yang membuat semuanya menoleh ke arahnya. Ia lalu menoleh ke arah Meili. "Masuklah, di luar masih sangat dingin."
...----------------...
...Waduh, posesif banget Bang Raka 😁...
__ADS_1