
Pagi harinya, Meili terlihat begitu kacau. Bahkan di sekitar matanya terlihat menghitam, menandakan ia kekurangan tidur semalam.
Semalam, ketika ia akan tidur. Ia baru menyadari akan suatu hal, yaitu restu dari orang tuanya. Sedangkan hubungan mereka kini sedang tidak baik-baik saja.
Meili menghembuskan nafasnya kasar, ia menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. "Siti, aku harus bagaimana?" rasanya ia sungguh frustasi.
Ia bukan takut untuk meminta restu, melainkan takut jika hubungannya tidak di setujui oleh papa nya.
Meow.
Siti yang sedang menikmati sarapannya, menyempatkan menjawab pertanyaan Meili.
Sedangkan Meili sendiri ia sudah tidak berselera sarapan, makanan yang tadi ia masak pun masih utuh di meja makan.
Hingga tak lama, mobil memasuki halaman rumah. Yang ia tau itu adalah mobil milik kekasihnya.
"Sayang!" Anita yang ternyata lebih dulu turun dari mobil, membuat Meili terkejut.
Karena Raka sebelumnya tidak memberitahu jika Anita akan datang.
Meili tentu saja beranjak dari duduknya untuk menyambut kedatangan Anita. "Ma!"
"Calon mantu Mama." Anita memeluk Meili erat.
Semalam ia begitu bahagia setelah mendengar kabar dari putranya jika mereka telah siap menikah. Dan tak sabar untuk menemui Meili.
__ADS_1
Pipi Meili rasanya memanas begitu saja, ia begitu bahagia mendengar perkataan Anita.
"Mama minta untuk datang kemari." Raka yang baru saja datang, hingga membuat pelukan kedua wanita itu terlepas.
Meili melihat Anita dan Raka bergantian. "Kenapa tidak memberitahu dulu, jadi aku bisa menyiapkan sesuatu." katanya pada Raka.
"Ah, tidak usah repot-repot. Mama hanya ingin berkunjung." jelas Anita.
"Ya sudah kalau begitu, aku berangkat dulu." pamit Raka. Karena hari ini ia ada kelas pagi. Ia menoleh kepada Anita. "Mama nanti mau nunggu aku jemput, atau bagai mana?"
"Itu gampang, lihat nanti saja. Ya sudah, kamu berangkat sana." Anita tidak ambil pusing.
Raka memutar bola matanya malas, Mamanya semenjak bertemu dangan kekasih nya seperti mendapat mainan baru. "Ya sudah aku pergi."
"Maaf Ma, rumahnya berantakan." Begitu mereka sudah di dalam rumah. Padahal rumah itu masih terlihat begitu rapi.
"Tidak berantakan kok, ini malah cukup rapi." Kata Anita, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Dan rasanya cukup nyaman.
"Mama mau teh? Atau yang lainnya!" tawar Meili.
"Ehm,... terserah kamu deh."
"Oh ya, Mama udah sarapan. Hari ini Meili masak cukup banyak."
Anita mengikuti Meili yang berjalan menuju dapur.
__ADS_1
Meili kemudian membuka tudung saji yang berada di meja makan, yang posisinya di samping dapur. "Mungkin Mama mau mencicipi?"
Anita melihat makanan di meja makan masih utuh. "Boleh, kita sarapan bersama."
Keduanya akhirnya memutuskan untuk sarapan bersama, sembari mengobrol halal kecil.
*
*
Kini keduanya sedang bersantai di halaman belakang. Sembari menikmati teh hangat dan beberapa potongan buah.
"Hari ini kamu tidak kuliah?" Anita memulai obrolannya.
"Kuliah Ma, masuk siang."
"Rumah kamu enak, banyak tanamannya." Anita yang mulai nyaman.
Meili tersenyum mendengar itu. "Ini bukan rumah Meili Ma, Meili hanya menumpang." Meili mencoba untuk jujur dengan keadaannya yang sebenarnya.
Anita menoleh ke arah Meili, namun raut wajahnya terlihat biasa. Karena Raka sebelumnya sudah memberitahu keadaan Meili yang tinggal di rumah sahabatnya.
...----------------...
...Nanti malam up lagi, ok 👌ðŸ¤...
__ADS_1