
Meili mengusap matanya yang sedikit buram karena air matanya yang bercampur hujan, memastikan lelaki yang berdiri di depannya adalah Raka.
Sedangkan Raka sendiri tubuhnya mulai sedikit basah karena, karena payung yang ia bawa juga ia gunakan untuk Meili.
Ia melihat bibir gadis itu yang mulai menggigil, namun yang pasti ia juga melihat jika gadis itu tengah menangis.
Meili seketika berdiri, tanpa pikir panjang ia lalu berhambur memeluk Raka. Sungguh saat ini ia butuh sandaran. Ia bahkan tidak memperdulikan tubuh Raka yang ikut basah karenanya.
Raka yang masih tidak tau kejadian yang sebenarnya, membiarkan Meili memeluk dirinya. Baru kali ini ia melihat gadis yang biasanya penuh dengan keceriaan kini dalam keadaan terisak. Tanpa sadar tangannya terangkat untuk mengusap lembut punggung gadis itu.
Raka sendiri tadi sebenarnya tidak sengaja melintas di jalan itu, setelah keluar bersama Ariel dan Reza.
"Kenapa semua orang pergi meninggalkan Meili?" Meili yang masih memeluk Raka. "Selama ini Meili sudah berusaha untuk berbesar hati menerima keadaan ini, tapi kenapa semua orang masih saja egois."
"Jika semuanya tidak ada yang memperdulikan Meili, kenapa mereka dari dulu tidak membuang Meili saja sekalian."
Deg.
Hati Raka rasanya ikut terluka mendengar perkataan Meili, meskipun ia tidak tau masalah apa yang terjadi. Tapi ia bisa menebak jika ini adalah masalah keluarga.
"Jangan bicara seperti itu," Raka yang kemudian mendekap tubuh Meili. "Semua masalah pasti ada jalan keluarnya."
Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Tapi semuanya memang benar-benar sudah hancur."
Beberapa saat kemudian mereka sekarang berada di dalam mobil Raka. Air mata gadis itu masih saja terus mengalir meski tidak sederas tadi, bahkan teh hangat yang di belikan Raka ia biarkan hingga dingin.
Raka yang berada di sampingnya tidak tahu harus memulai dari mana, sebelumnya ia tidak pernah mengalami situasi seperti ini.
"Kak!" Meili menatap ke arah Raka yang sekarang lelaki itu juga sedang menatapnya. "Terima kasih," ucapnya.
Raka menganggukkan kepalanya, ia lalu mengambil jaketnya yang berada di kursi belakang. "Biar nggak masuk angin," ia memakaikannya pada Meili.
Meili yang melihat itu hanya bisa terdiam, matanya tidak lepas dari wajah tampan Raka yang sekarang jaraknya begitu dekat dengannya.
Raka yang menyadari jika sedang di tatap oleh Meili tanpa sadar ia juga menatap gadis itu, untuk beberapa saat pandangan mereka terkunci.
Tanpa mereka sadari ada desiran halus di dalam hati mereka.
__ADS_1
Sesaat kemudian mereka sama-sama tersadar hingga memberikan jarak.
Meili sendiri ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.
*
*
Mobil Raka akhirnya sampai di halaman rumah Mariam, seperti yang di pinta Meili tadi. Ia akan menginap di sini, ia tidak mungkin akan pulang ke rumahnya. Suasana hatinya tidak memungkinkan jika harus bertemu dengan Papa nya.
Keadaan yang sudah larut malam, membuat Meili membunyikan bel beberapa kali batu pintu itu terbuka oleh penghuninya.
Klek.
Ternyata yang membuka pintu adalah Nathan. Ia sedikit bingung dengan kedatangan Meili dan Raka, apalagi dengan keadaan Meili yang basah.
"Maaf kak mengganggu," ujar Meili merasa tidak enak. "Meili malam ini mau menginap di sini, boleh?"
Nathan yang masih tidak mengerti hanya bisa menganggukkan kepalanya, ia lalu membuka pintu lebih lebar untuk mempersilahkan mereka berdua masuk.
Nathan, dengan terpaksa akhirnya membangunkan istrinya agar meminjamkan bajunya pada Meili.
Ia sendiri sekarang sedang duduk di ruang tamu bersama Nathan.
"Sebenarnya ada apa?" Nathan yang akhirnya bertanya pada sahabatnya.
Raka menghembuskan nafasnya pelan. "Gue tadi nggak sengaja ketemu Meili di jalan, keadaannya sangat kacau." jelasnya. Raka sebenarnya ragu dengan apa yang akan di tanyakan pada Nathan, tapi rasanya ia perlu tau tentang sesuatu. "Ehm," Raka berdehem untuk melegakan tenggorokannya. "Apa ada suatu masalah dalam keluarganya?"
Bibir Nathan tertarik sedikit ke atas membentuk sebuah senyuman, jarang sekali sahabatnya itu mau tau dengan urusan orang lain. Terkecuali jika Raka memang mulai peduli dengan Meili.
Nathan menganggukkan kepalanya. "Meili korban perceraian kedua orang tuanya," yang ia tahu dari kedua orang tuanya. "Dan ia sekarang hanya tinggal dengan papanya."
Kebenaran yang baru saja ia ketahui, membuatnya tidak menyangka. Di mana ia melihat kehidupan Meili yang baik-baik saja ternyata tidak dengan keadaan yang sesungguhnya.
"Lo peduli sama dia?" tebak Nathan. Meskipun sudah jelas terlihat dari sikap Raka yang sudah beberapa kali menolong Meili.
Raka hanya bisa diam, ia tidak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1
"Jika lo bener-bener peduli sama dia, gue harap lo serius jaga dia. Karena gue tahu nggak mudah menjalani hidup seperti Meili," nasehat Nathan.
Entah apa yang mendorong Raka, namun ia menganggukkan kepalanya sebagai kesanggupannya.
*
*
"Maaf Nek, jadi merepotkan!" Meili merasa tidak enak. Di acara sarapan pagi itu ia baru bertemu dengan Mariam.
Wanita tua itu tersenyum. "Tidak apa-apa, Nenek malah senang kamu mau tinggal di sini. Rumah ini jadi ramai."
"Iya Meili, anggap aja rumah sendiri." Jessy menimpali. Ia sendiri baru menyadari, di balik senyum yang selalu terlihat di wajah sahabatnya ternyata menyimpan banyak luka.
Sedangkan Nathan ia hanya diam saja menyimak percakapan para wanita itu.
Hingga siang hari tiba, Meili merasakan tubuhnya begitu dingin. Padahal di luar kamar matahari begitu terik, namun itu tidak membuatnya hangat.
Kepalanya semakin lama rasanya semakin berat, bahkan ketika ia menginjakkan kakinya di lantai. Lantai itu seperti sedang bergoyang di landa gempa.
Padahal tadi pagi ia sudah berencana pergi dengan Jessy untuk mencari gaun yang akan ia gunakan untuk acara prom night.
Meili akhirnya mendudukkan dirinya kembali ke ranjang.
Klek.
"Meili, ayo!" Jessy yang sudah terlihat rapi. "Kok belum siap?"
"Kepalaku rasanya pusing!" Meili menyentuh kepalanya yang rasanya berputar putar.
Jessy langsung mendekat ke arah Meili, lalu menempelkan punggung tangannya ke kening sahabatnya. Dan benar saja suhu badan Meili terasa panas. "Lo demam! Kita ke rumah sakit saja kalau begitu?"
Yang langsung mendapat penolakan dari Meili. "Nggak usah, buat istirahat saja. Nanti juga baikan."
Jessy berdecak kesal melihat itu, ternyata sahabatnya itu juga keras kepala seperti dirinya. "Ya udah tunggu sebentar." Jessy lalu ke luar dari kamarnya.
Dan tak berselang lama Jessy kembali membawa obat penurun panas juga segelas air hangat. "Ya udah kalau lo nggak mau ke rumah sakit, minum ini aja."
__ADS_1
Meili pun langsung meminumnya, hingga akhirnya rencana ke butik itu harus gagal. Dan Jessy yang akhirnya pergi sendiri.
...----------------...