Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Kita Menikah


__ADS_3

*


*


Raka terdiam di tempat yang tidak jauh dari Meili dan Anita berada.


Lihatlah kedua wanita berbeda generasi itu, mereka tampak begitu akrab. Terlihat tawa dari keduanya, entah apa yang mereka bicarakan.


Tadi ia berniat mengajak Meili pulang, ia takut jika kekasihnya itu merasa tidak nyaman. Mengingat ketika datang tadi, dia begitu gugup dan gelisah.


Tapi kini nampaknya semua itu telah hilang, ia memutuskan untuk kembali ketempat di mana sangat Papa berada.


*


*


"Sayang, kamu merasa nggak kalau kita pernah bertemu?" Anita bertanya pada Meili.


"Benarkah!" Yang di angguki Anita. "Tapi sebenarnya Meili juga merasa pernah bertemu dengan Mama, tapi Meili lupa."


Keduanya terdiam.


Mereka mencoba mengingat satu potongan kejadian, yang membuat mereka bertemu.


Hingga di detik berikutnya, mata mereka berdua membulat saat menemukan tentang kejadian yang hampir dua tahun berlalu.


"Begal!!" Kata keduanya kompak.


Iya, mereka berdua di pertemukan saat kejadian Anita yang akan di begal. Dan Meili yang waktu itu kebetulan lewat langsung menghubungi pihak berwajib.

__ADS_1


"Ya ampun! Mama nggak nyangka kalau akan bertemu kamu lagi. Karena waktu di kantor polisi Mama lupa tanya nama sama no telepon kamu, Mama waktu itu masih begitu terkejut dengan kejadian itu." jelas Anita.


Meili tersenyum mendengar itu. "Meskipun waktu itu bukan Meili yang lewat, pasti juga akan melakukan hal yang sama."


Anita menganggukkan kepala. "Iya, dan Tuhan mengirimkan kamu untuk menolong Mama. Ya ampun sayang terima kasih," ia lalu beranjak dan memeluk Meili.


Ia waktu itu begitu menyesal karena belum sempat mengucapkan apa-apa, bahkan hanya sekedar ucapan terima kasih.


Meili tersenyum seraya membalas pelukan Anita, pelukan yang begitu hangat. "Mungkin itu cara Tuhan mempertemukan kita Ma."


*


*


"Apa ada sesuatu yang menyenangkan?" tanya Raka.


"Ha!" Meili merespon. Ia menoleh ke arah Raka, dan lagi-lagi ia tersenyum. "Hmm!"


"Ternyata Mama begitu menyenangkan!" Karena ia takut jika Anita akan sama dengan calon mertua di sinetron yang kejam terhadap calon menantu.


Raka tersenyum tipis. "Bagus kalau begitu!"


Tapi beberapa saat kemudian, Tiba-tiba senyum Meili hilang begitu saja. Ia teringat saat tadi Anita menyuruhnya untuk cepat-cepat menikah dengan putranya, karena Anita yakin jika Meili sudah menjadi pilihan terbaik bagi putranya.


Namun Meili tidak biasa menjanjikan apa-apa, karena ia takut Raka tidak setuju untuk menikah mudah.


"Kak!" panggil Meili ragu.


"Iya!" sahut Raka, bertepatan mobilnya yang sudah sampai di halaman rumah Mariam.

__ADS_1


"Tadi... Mama bicara soal pernikahan lagi." jelasnya.


"Jangan di pikirkan, nanti aku akan bicara dengan Ma--"


"Kita menikah saja!" potong Meili. Setelah mengatakan itu, ia hanya bisa meremas tangannya yang saling bertautan.


Entah setelah ini apa yang akan terjadi, jika Raka tidak setuju pasti hubungan mereka tidak akan baik-baik saja.


Raka terdiam.


Ia menatap lekat kekasihnya yang hanya menundukkan pandangannya. "Hei!" katanya lembut sembari menggapai tangan Meili untuk ia genggam. Tapi sayangnya Meili masih tidak mau melihatnya. "Apa kamu terbebani dengan permintaan Mama? Karena pernikahan adalah sebuah ikatan yang tidak bisa di jalani atas dasar keterpaksaan. Aku tidak mau kamu merasakan itu, dan akhirnya akan menyesalinya kemudian."


Meili langsung mengangkat pandangannya, hingga kini pandangan mereka bersitatap. Meili menggelengkan kepalanya. "Aku sama sekali tidak terpaksa, bahkan terbebani. Aku hanya mengikuti kata hati aku yang juga menginginkan pernikahan dengan Kakak. Apa Kakak merasa terpaksa?" Kini giliran Meili yang terlihat sendu.


Untuk beberapa saat Raka hanya diam dan memperhatikan mata Meili yang kini mulai memanas. Hingga di detik berikutnya ada senyuman yang terbit di bibirnya. "Baiklah, kita menikah."


Tanpa bisa di bendung, air mata Meili mengalir begitu derasnya. "Apa Kakak, becanda?"


Raka menggelengkan kepalanya. "Tidak!"


"Tapi waktu itu Kakak bilang tidak usah memperdulikan permintaan Mama yang menyuruh kita menikah." tanya Meili di sela-sela tangisnya.


Raka lalu membawa Meili kedalam pelukannya. "Karena sesungguhnya aku takut jika kamu yang sebenarnya keberatan." jujurnya.


Tangis Meili rasanya semakin tidak dapat ia bendung mendengar ucapan Raka.


...----------------...


Cie cie, ada yang mau naik pelaminan nih 🤭, tapi gimana ya Bang Raka meminta restunya pada calon ayah mertua 😁

__ADS_1


__ADS_2