
Beberapa bulan berlalu.
Hari-hari Meili menjadi mahasiswa ternyata cukup menyenangkan bagi gadis itu, ia mengambil jurusan yang berhubungan dengan kesukaannya memasak, yaitu tata boga.
"Jessy kamu nggak kesini?"
Meili melakukan video call bersama sahabatnya. Pipi Jessy yang sekarang terlihat sedikit tembem memenuhi layar ponsel.
Jessy memutar matanya malas. "Meili, baru juga kemarin gue ke sana!" sahut Jessy dari sebrang sana. Tepatnya satu minggu yang lalu ia berkunjung.
"Benarkah! Tapi rasanya sudah sangat lama," kata Meili.
"Halah, pasti lo juga ada maunya." tebak Jessy.
Meili hanya menunjukkan deretan giginya yang putih.
"Kenapa? Raka masih juga belum nembak?"
"Ih... apaan sih!" Seketika saja pipi Meili bersemu merah.
Memang benar Raka dan Meili sudah cukup dekat, namun kedekatan mereka masih belum ada status pasti selain hanya berteman.
"Kenapa nggak lo aja yang nembak duluan?" Sudah berulang kali Jessy menyarankan itu pada Meili. "Nanti keburu di patok ayam."
__ADS_1
"Di patok ayam! Emangnya dia itu nasi sisa." Sungut Meili, namun itu justru membuat Jessy tertawa di seberang sana.
"Lalu lo maunya gimana? Dari pada tidak ada kepastian."
"Entahlah!" Meili yang seketika lesu.
Keduanya meneruskan obrolan hingga larut malam, seolah mereka melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu.
*
*
Pagi harinya, Meili seperti biasa akan mengecek keadaan warung makan. Apalagi hari ini jam kuliahnya sedikit siang hingga membuatnya sedikit lebih santai.
"Ini Non, bahan-bahan yang hampir habis persediaannya." Salah satu pegawai rumah makan yang menyerahkan selembar kertas berisi beberapa catatan tentang apa saja yang harus Meili beli.
"Iya Bi, Terima kasih." Meili yang menerimannya. Ia lalu menelpon su player yang biasa memasok bahan-bahan di rumah makan.
Setiap hari rumah makan yang ia kelola semakin ramai, ia sama sekali tidak merubah apa yang sudah di rancang Mariam. Hanya saja ia memberikan tambahan dekorasi juga beberapa menu baru.
Di siang harinya, Meili sudah menyelesaikan mata kuliah nya. Di tangannya terdapat satu kotak bekal.
Hari ini adalah waktunya ia praktek, dan tentu saja di dalam bekal itu adalah hasil karya masakannya.
__ADS_1
Ia berniat akan memberikannya kepada Raka, karena sebelumnya ia sudah mencicipi dan rasanya cukup memuaskan.
Ketika berangkat tadi, ia sempat melihat Raka yang kebetulan juga memiliki jam kuliah siang.
Kaki Meili membawanya menuju kantin, sesampainya di sana ternyata cukup ramai.
Senyumnya terbit begitu mengetahui keberadaan Raka bersama Ariel dan Reza berada di sana.
Dengan semangat, ia lalu menuju ke arah mereka. Namun di saat hanya tinggal beberapa langkah saja, ia seketika berhenti.
Ia melihat dua orang gadis yang ia ketahui sebagai seniornya ternyata lebih dulu menghampiri Raka. Bukan hanya sekali ia melihat pemandangan ini, tapi untuk ke sekian kalinya.
Meskipun ia bisa melihat jika Raka terlihat datar, tetap saja ia tidak suka melihatnya. Meili bisa melihat pandangan salah satu dari mereka, jika menatap Raka berbeda dari yang lain.
"Kecil!" Panggil Rian yang ternyata juga berada di kantin.
Meili seketika tersadar dari lamunannya.
Rian berjalan menghampiri Meili. "Praktek lagi?" Ia melihat kotak bekal di tangan Meili. Ia ingat jika ada kotak bekal, berarti gadis itu baru saja ada praktek memasak.
"Hm," sahut Meili sembari tersenyum. "Kakak mau?" tawarnya. Ia lebih memilih memberikannya ke Rian dari pada harus ia bawa pulang.
"Boleh," sahut Rian. "Ya udah ayo." Ia lalu menarik tangan Meili mengajak ke tempat ia duduk bersama beberapa sahabatnya.
__ADS_1
...----------------...
...Setelah ini ada perkembangan gengs buat hubungan mereka. Gimana ya seseorang yang datar seperti Raka kalau pacaran 🤔ðŸ¤...